ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Bonchap 4 -- Tuhan Mempunyai Cara-Nya Sendiri


__ADS_3

Anindita memperhatikan Ricky yang sedang menggendong Arka yang kini berusia satu tahun duduk di atas pundaknya, berlari di atas pasir pantai menghindar dari kejaran Ramadhan. Karena saat ini Ricky mengambil cuti untuk berlibur bersama keluarga kecilnya.


Anindita mengulum senyuman melihat kedua anaknya itu terlihat gembira bermain dan berlari hingga tawa bocah laki-laki itu terdengar oleh Anindita. Dan setelah puas bermain, Ricky pun kemudian mendekat ke arah Anindita bersama ke dua anaknya.


" Tita, tolong bawa Rama dan Arka kembali ke villa. Mandikan mereka dulu, nanti kami menyusul ke villa." Ricky menyuruh Tita untuk memandikan Ramadhan dan Arka di villa milik Ricky yang pernah dijadikan tempat persembunyian Kirania saat dia culik dulu.


" Baik, Pak." Tita yang juga diajak berlibur oleh Ricky pun dengan cepat mengambil Arka dari tangan Ricky lalu menggandeng tangan Ramadhan untuk dia ajak kembali.


" Rama masih mau main pasir, Pa." Ramadhan terlihat keberatan disuruh untuk kembali ke Villa.


" Besok lagi main pasirnya, sekarang sudah sore, Rama harus mandi dulu." Ricky menjanjikan putranya itu untuk kembali bermain di pantai, hingga anaknya itu mau mengikuti apa yang diperintahkannya.


Setelah Tita membawa pergi Ramadhan dan Arka, Ricky langsung mengulurkan tangannya kepada Anindita yang masih terduduk.


Anindita menoleh ke arah Ricky saat tangan suaminya itu terulur ke arahnya hingga dia pun menerima ukuran tangan Ricky dan bangkit dari duduk.


" Kita jalan-jalan sebentar di pantai." Ricky lalu melingkarkan lengannya di pundak Anindita dan membawa Anindita melangkah menyusuri pantai Pangandaran.


" Apa kamu merasa senang berlibur kemari?" tanya Ricky kepada Anindita. Yang dijawab dengan Anggukan kepala wanita itu.


" Ingin naik perahu?" tanya Ricky menawarkan kepada istrinya. Kali ini Anindita menggeleng dengan cepat.


" Kenapa? Takut tenggelam?" Ricky terkekeh melihat wajah yang terlihat ketakutan saat dia mengajaknya menaiki perahu.


" Iya, aku nggak pandai berenang," sahut Anindita.


" Kau tidak perlu takut. Ada aku yang akan melindungimu." Ricky menghentikan langkahnya, dia lalu memutar tubuhnya hingga kini berhadapan dengan istrinya itu.


" Kau tahu, Anin. Aku pasti akan selalu melindungimu dalam hal apapun, jadi kau tidak perlu merasa khawatir karena kau bisa mengandalkanku." Ricky membelai kepala Anindita dengan pandangan menatap lekat wajah cantik istrinya itu.


Anindita yang dipandangi seperti itu segera menganggukkan kepala. Untuk hal menjaganya, dia memang tidak meragukan kemampuan pria itu.


" Tapi aku tetap nggak mau naik perahu!" tegas Anindita.

__ADS_1


" Kau tidak mau naik perahu? Kau inginnya naik apa? Naik di atas aku?" Ricky menyeringai membuat Anindita langsung terbelalak mendengar ucapan suaminya itu.


***


Malam harinya setelah Anindita menidurkan Arka dan juga Ramadhan, wanita itu ingin segera kembali ke kamarnya.


" Ma, belum tidur?" Anindita menengok Mama Arya terlebih dahulu sebelum kembali ke kamarnya. Karena mantan ibu mertuanya itupun dia ajak berlibur ke villa milik Ricky.


" Ini baru mau tidur, Anin." Mama Arya yang baru saja hendak merebahkan tubuhnya segera mengurungkan niatnya itu.


" Oh ya sudah silahkan tidur, Ma. Maaf Anin mengganggu." Anindita ingin menutup kembali pintu kamar di mana Mama Arya tempati.


" Masuklah, Anin. Mama juga belum terlalu mengantuk, kok. Ada apa?" tanya Mama Arya menyuruh Anindita masuk ke kamar.


" Anin senang Mama bisa ikut berlibur kemari, Ma." Bagaimanapun Anindita sudah menganggap Mama Arya sebagai orang tuanya sendiri karena dia memang sudah tidak mempunyai sanak saudara. Sedangkan Mama Arya yang masih mempunyai keluarga justru diasingkan di panti jompo. Suatu hal yang dibenci oleh mantan suaminya dulu, menelantarkan orang tua sendiri ke tempat berkumpulnya lansia yang sudah tidak punya sanak saudara atau yang sengaja dititipkan karena anak-anaknya tidak ingin mengurus atau juga tidak mempunyai waktu untuk mengurusnya.


" Mama juga senang bisa melihat kamu sekarang bahagia dengan pernikahan kamu, Nin. Tidak salah jika Arya menitipkanmu kepada Ricky. Dia memang laki-laki yang sangat bertanggung jawab." Ada nada sendu dari ucapan Mama Arya, dan Anindita menyadari apa yang membuat Mama Arya bersedih.


Tok tok tok


Anindita dan Mama Arya terperanjat saat mendengar suara pintu kamar diketuk.


" Anin sedang bicara sama Ibu, ya?" tanya Ricky yang sengaja menyusul ke bawah karena Anindita tak juga kembali ke kamarnya.


" Iya, Nak. Anin bilang ke Mama kalau dia senang Mama ikut liburan ke sini. Terima kasih ya, Nak. Sudah ijinkan Mama ikut kalian." Mama Arya tak lupa mengucapkan terima kasihnya kepada Ricky, karena dia merasa sangat diterima hangat oleh Ricky dan Anindita.


" Jangan bicara seperti itu, Ibu. Saya sudah bilang jika saya sudah menganggap ibu sebagai ibu saya sendiri. Sekarang ini saya dan Anin adalah anak-anak Ibu. Tentu saja kami akan mengajak Ibu ke mana pun kami pergi, selama Ibu masih mampu melalui perjalanan itu dan tidak kelelahan.


" Ya sudah, sebaiknya kalian kembali ke kamar kalian. Kalian juga pasti sangat lelah dan ingin beristirahat." Mama Arya yang sepertinya mengerti jika Ricky memang menyusul Anindita ke bawah langsung menyuruh pasangan suami itu untuk kembali ke kamarnya.


***


" Kau tahu, Anin? Di villa ini aku pernah menyembunyikan Nyonya Dirga dari Pak Dirga dan mantan tunangannya.

__ADS_1


Anindita yang baru saja masuk ke dalam kamar langsung terperanjat dan memutar tubuhnya saat Ricky mengatakan jika pria itu pernah menyembunyikan wanita yang kini menjadi istri bosnya itu di villa yang dia tempati ini.


" Bu Rania pernah tinggal di sini?" tanya Anindita masih dalam keterkejutannya. Dia memang sempat mendengar sedikit cerita dari Kirania tapi di tidak menyangka jika itu benar-benar dilakukan oleh suaminya itu.


" Benar, aku menculik Nyonya Dirga agar rencana pernikahan dengan calon tunangannya itu batal," ucap Ricky kemudian.


" Kenapa Mas mau melakukan hal itu? Apa Mas tidak kasihan dengan tunangannya Ibu Rania?" tanya Anindita. Tentu saja pertanyaan yang dia tanyakan, dia sendiri sudah tahu jawabannya. Ricky adalah asisten di perusahaan milik Dirga, tentu saja suaminya itu akan membela atasannya.


" Karena bukan tunangannya itu yang Nyonya Dirga cintai. Lagipula aku tidak ingin dipusingkan dengan keluhan-keluhan karyawan yang mengatakan sikap sewenang-wenang Pak Dirga." Ricky kemudian menceritakan bagaimana bos nya itu saat berpisah dari Kirania hingga menjadi seorang pimpinan yang tanpa ampun bertindak pada pegawainya yang melakukan kesalahan sekecil apapun.


Anindita membelalakkan matanya mendengar bagaimana seorang Dirgantara yang selama ini dia kenal sebagai seorang yang sangat konyol dengan tingkahnya walaupun sikap pemaksanya tidak pernah hilang, ternyata pernah bersikap keras dan dingin hanya karena kehilangan seorang wanita yang dicintainya.


" Selama enam tahun Pak Dirga merasa frustasi ditinggal oleh Nyonya Dirga." Ricky kemudian menatap Anindita, dia lalu mengusap wajah cantik Anindita.


" Kau tahu? Saat kau akan menikah dengan Pak Arya, Pak Dirga menyuruhku untuk membawamu kabur ke sini agar kau batal menikah dengan Pak Arya."


Kali ini Anindita semakin terbelalak mendengar pengakuan Ricky tentang ide yang dilontarkan bos dari suaminya.


" Kenapa Pak Dirga menyuruh seperti itu?" tanya Anindita penasaran.


" Karena dia ingin menjodohkan kita." Kini Ricky mengusap bibir ranum Anindita. " Tapi aku tidak perlu melakukan itu. Karena Tuhan mempunyai cara-Nya sendiri untuk menyatukan kita." Ricky langsung membenamkan kecupan lembut yang semakin lama semakin berhasrat, apalagi Anindita pun kini sudah bisa membalas apa yang dilakukan suaminya itu. Hingga kini lengan Ricky mengangkat tubuh Anindita tanpa melepas pagutan bibir mereka dan meletakan Anindita di sofa di kamar villa.


" Kenapa di sofa?" tanya Anindita saat permainan bibir mereka terhenti, karena Anindita merasa heran, kenapa Ricky tidak membawanya ke atas tempat tidur.


" Kita lakukan di sini saja." Ricky kembali menautkan bibirnya dengan bibir Anindita, sementara tangan dan jarinya begitu aktif bergantian memainkan kedua aset kembar dan bagian inti Anindita.


*


*


*


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2