ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Jika Kita Menikah Nanti


__ADS_3

Usia kehamilan Anindita kini sudah memasuki usia tiga puluh empat Minggu, perutnya pun sudah semakin besar. Anindita juga sudah tidak lagi bekerja di toko florist, karena tentu saja Ricky tidak memberikan ijin kepada Anindita terlalu lelah bekerja. Hanya sewaktu-waktu saja Anindita turun melihat-lihat toko jika dia merasa jenuh di apartemen.


Hari ini, Ricky dan Anindita membawa Koh Leo dan Sandra ke restoran yang sudah selesai direnovasi. Selama ini mereka memang tidak memberitahukan tentang rencana pemberian restoran itu kepada pasangan suami itu. Ricky memang ingin memberikan kejutan itu untuk Koh Leo dan Sandra.


" Kita ini mau ke mana sebenarnya, Nin?" tanya Sandra penasaran karena baik Anindita maupun Ricky tidak mengatakan akan membawa mereka ke mana.


" Nanti Cici akan lihat sendiri akan kita ajak ke mana?" Anindita nampak antusias, bahkan aura bahagia tak pernah lepas dari wajah cantik wanita itu.


" Duh, kok Cici jadi deg-degan gini, ya." Sandra memegangi dadanya karena dia pun merasa berdebar-debar karena tidak juga mendapatkan jawaban yang pasti dari Anindita.


" Kami akan memberikan kejutan kepada Tuan dan Nyonya Leo." Ricky yang sedang berada di belakang kemudi ikut menimpali.


" Ya ampun, Pi. Ini kenapa mereka main tebak-tebakan sama kita, ya?" Sandra berkata pada Koh Leo yang duduk di sampingnya.


" Kita nurut saja apa mau mereka, Mi." Koh Leo menggenggam erat jemari Sandra. Dia sendiri merasa yakin ke mana Anindita dan Ricky membawa mereka pastilah Anindita dan Ricky punya alasan yang kuat.


Beberapa menit kemudian mobil yang dikendarai Ricky sudah memasuki halaman depan restoran yang akan diberikan untuk Koh Leo dan Sandra.


" Kita sudah sampai," ucap Anindita, dia langsung membuka pintu dan Ricky sudah sigap berdiri membantu Anindita turun dari dalam mobil dengan memegangi lengannya. Bahkan Ricky pun membantu Koh Leo turun dari dalam mobil miliknya.


" Ini apa, Nin? Restoran? Kalian mau ajak kami makan di sini, ya? Tapi masih tutup gini restorannya," ujar Sandra yang merasa heran karena mereka berhenti di depan sebuah bangunan yang nampak baru di renovasi.


" Mari kita masuk dulu ke dalam." Ricky mengajak Koh Leo dan Sandra untuk masuk ke dalam bangunan restoran itu.


" Koh, Ci ... Pak Ricky ingin menghadiahkan restoran ini untuk Koko dan Cici. Cici 'kan dulu kepingin sekali punya restoran, sekarang restorannya sudah jadi, sudah bisa dipakai. Semua perabotannya juga sudah lengkap, pegawai-pegawainya juga sudah siap. Tinggal kasih nama restorannya saja terserah Cici mau kasih nama apa." Anindita bersemangat menjelaskan kepada Koh Leo dan Sandra.


" Ya ampun, Anin, Tuan Ricky. Kenapa kalian repot-repot seperti ini?" Sandra nampak terharu mengetahui jika restoran dia berada sekarang adalah hadiah yang diberikan untuknya.


" Tidak apa-apa, Nyonya. Selama ini Tuan dan Nyonya Leo sudah banyak membantu Anin dan Rama disaat seharusnya saya ada menemani mereka," sahut Ricky.


" I-ini sangat berlebihan untuk kami, Tuan." Koh Leo pun nampak keberatan menerima pemberian dari Ricky.


" Seberapa besar nilai yang saya berikan kepada Tuan dan Nyonya Leo tidak akan sebanding dengan kebaikan yang telah kalian berikan kepada anak dan ibu dari anak saya. Jasa kalian kepada kami sangat besar, saya tidak akan mengabaikannya begitu saja," lanjut Ricky.


" Cici 'kan dulu pernah ingin buka restoran sampai sering bawa teman-teman Cici demo masak di rumah. Sekarang keinginan Cici sudah terwujud tinggal Cici mengembangkannya saja agar restoran ini maju dan ramai pengunjung." Anindita merangkul pundak Sandra seraya mengusap punggung wanita itu.


" Tempat ini sangat strategis banyak gedung perkantoran di sini, saya harap ini bisa dimanfaatkan asal harganya bisa bersaing," sambung Ricky.


" Ya ampun, Nin. Cici nggak tahu mesti bilang apa? Jujur Cici nggak sangka akan dapat hadiah ini." Sandra langsung terisak menangis haru di pundak Anindita.


Tak beda jauh dengan istrinya, Koh Leo yang duduk di salah satu kursi yang disiapkan Ricky pun menitikan air mata merasa haru.


" Terima kasih, Anin, Tuan Ricky. Terima kasih atas pemberiannya kepada kami. Semoga Tuhan memberkati," ucap Koh Leo kemudian.


" Aamiin ..." Ricky dan Anindita menyahuti.


" Aku sama Pak Ricky sengaja belum kasih nama, takut nggak sesuai dengan keinginan Cici," ujar Anindita. " Semoga Cici suka dengan interiornya."

__ADS_1


" Ini sudah bagus sekali, Nin. Terkesan mewah malah," sahut Sandra.


" Iya, mungkin Pak Ricky ingin para eksekutif muda bisa berkunjung kemari agar menarik minat pengunjung yang lain datang kemari, Ci."


" Terima kasih ya, Nin. Cici doakan kamu selalu sehat, lancar persalinannya." Sandra mendoakan Anindita.


" Aamiin, Ci."


" Cici berharap kamu dan Pak Ricky juga bisa berjodoh dan langgeng," bisik Sandra di telinga Anindita membuat bias rona merah langsung menghiasi pipi Anindita.


" Ah, Cici ...."


" Kamu sudah menerima dia 'kan, Nin?" tanya Sandra kemudian.


" Saya mau fokus melahirkan dulu, Ci." ucap Anindita malu-malu.


" Kamu mesti siaga lho, Nin. Jangan sampai Pak Ricky lepas dari genggaman, pasti sudah banyak wanita-wanita yang siap mengantri di luar sana." Sandra berkelakar hingga terkekeh memuat Ricky yang sedang berbincang dengan Koh Leo pun langsung menolehkan wajahnya dan dia mendapati wajah Anindita nampak merona.


***


" Mbak Tita sudah siap?" tanya Anindita saat keluar dari kamarnya.


" Sudah, Bu." sahut Tita seraya mengambil tas ransel mininya. " Ayo, Rama pamit dulu sama Eyang." Tita menyuruh Ramadhan untuk berpamitan dengan Mama Arya karena Anindita mengajak Ramadhan dan berbelanja keperluan bayi di baby shop.


Ramadhan pun kemudian berlari ke kamarnya yang sekarang dipakai oleh Mama Arya.


" Eyang, Rama pergi dulu, ya." Ramadhan lalu berpamitan kepada Mama Arya.


" Rama mau antar Mama beli baju buat adik bayi, Eyang." Ramadhan menyahuti.


" Aku mau beli perlengkapan bayi, Ma." Anindita yang menyusul langkah Ramadhan menjelaskan.


" Kamu pergi sama siapa, Nin?" tanya Mama Arya.


" Sama Mbak Tita, Ma. Cika biar di sini saja temani Mama," jawab Anindita.


" Kalau kamu kerepotan Cika dibawa saja, Nin. Mama biar nggak apa-apa di sini saja sendirian."


" Nggak apa-apa. kok, Ma. Biar Cika menemani Mama di sini." Anindita menolak permintaan Mama Arya.


" Ya sudah, kalau begitu hati-hati, jangan terlalu lama perginya, Nin." Mama Arya menasehati.


" Iya, Ma." Anindita lalu menyalami tangan Mama mertuanya itu. " Anin pergi dulu ya, Ma. Assalamualaikum ...."


" Waalaikumsalam ...."


Setelah berpamitan dengan Mama Arya, Anindita dan Ramadhan pun keluar dari kamar. Dan mereka bertiga segera keluar dari apartemen.

__ADS_1


" Rama nanti beli mainan ya, Ma." celoteh Ramadhan saat mereka menunggu pintu lift terbuka.


" Rama 'kan sudah banyak mainan, sekarang ini Mama mau beli buat adik bayi." Anindita mengusap kepala Ramadhan.


" Nanti Rama yang pilih mainan buat adik bayi ya, Ma!" pinta Ramadhan kemudian yang diangguki oleh Anindita.


Ting


Suara pintu lift terbuka dan Anindita terkesiap saat mendapati sosok Ricky yang muncul dari dalam lift.


" Papa ..." seru Ramadhan.


" Kalian mau ke mana?" tanya Ricky menatap mereka bertiga bergantian.


" Mau beli baju buat adik bayi, Pa." Ramadhan dengan cepat menjawab pertanyaan Ricky.


" Beli baju?" Ricky mengeryitkan keningnya.


" Saya mau beli perlengkapan untuk persalinan nanti," ucap Anindita kemudian.


" Kamu butuh apa saja? Nanti saya suruh orang menyiapkan semuanya. Kamu sebaiknya di rumah saja dan jangan banyak keluyuran di luar apalagi tempat yang banyak kerumunan orang." Ricky melarang dan menasehati Anindita.


" Tapi saya ingin memilih sendiri ..." Anindita memprotes apa yang diinginkan oleh Ricky.


" Perut kamu sudah membesar dan kamu ingin keluyuran di mall?" Ricky memicingkan matanya tanda tidak menyetujui protes yang disampaikan Anindita.


" Persalinan saya masih beberapa Minggu lagi, dan saya harus banyak bergerak agar persalinan lancar." Anindita berasalasan.


" Jangan beralasan! Banyak bergerak bukan berarti harus jalan-jalan ke mall, kan?"


" Tapi saya mau pilih sendiri keperluan untuk bayi saya." Anindita bersikeras tak ingin dilarang pergi.


" Baiklah kalau begitu saya yang akan menemani kamu mencari perlengkapan bayi," tegas Ricky kembali memencet tombol lift karena pintu lift tadi sudah tertutup saat dia asyik berdebat dengan Anindita.


" Bapak 'kan masih bekerja." Anindita tahu ini masih dalam waktu kerja Ricky. " Sebaiknya Bapak jangan terlalu sering menggunakan waktu bekerja untuk kepentingan pribadi. Bapak ini 'kan asisten perusahaan bonafit, harusnya Bapak bisa bersikap profesional," gerutu Anindita menanggapi sikap Ricky yang dianggapnya terlalu seenaknya jika meninggalkan pekerjaannya.


" Kamu mengkhawatirkan pekerjaan saya? Kamu takut saya dipecat dari Angkasa Raya? Kamu tak perlu khawatir, seandainya saya dipecat pun, uang saya masih lebih cukup untuk menghidupi kamu dan anak-anak jika kita menikah nanti."


Ucapan Ricky seketika membuat wajah Anindita menghangat bahkan langsung menimbulkan rona merah di wajah Anindita.


*


*


*


Bersambung ....

__ADS_1


Mohon maaf kalau sekarang suka bolong up, mood nya suka timbul tenggelam akhir² ini🙏


Happy Reading❤️


__ADS_2