
Mobil yang dikendarai Ricky memasuki halaman parkir Alabama Florist. Dan setelah dia memarkirkan mobilnya, Ricky pun dengan langkah lebar memasuki bangunan toko milik Lucy itu.
Tett
" Di mana, Anin?" tanya Ricky pada Mita yang berjaga di depan setelah pintu toko terbuka.
" T-Tuan Ricky?" Mita sedikit gugup karena dia melihat aura wajah Ricky yang nampak tegang. Dapat terlihat olehnya jika pria itu sedang diselimuti oleh emosi.
" Di mana Rama?" Kali ini nama Ramadhan yang disebut oleh Ricky.
" A-Anin ada di bangunan belakang, Tuan." Telunjuk Mita menunjuk ke arah belakang.
" Ya sudah, terima kasih ..." Selesai mengucapkan kata terima kasih Ricky pun keluar dari bangunan toko bunga itu.
" Siapa tadi, Mit?" tanya Lucy yang baru keluar dari ruangannya setelah Ricky pergi.
" Itu tadi Tuan Ricky, Ci." Mita menyahuti pertanyaan Lucy.
" Tuan Ricky? Ke mana dia sekarang?" tanya Lucy kemudian.
" Ke belakang menemui Anin," jawab Mita.
" Ci, kalau aku perhatikan sepertinya Pak Ricky itu sepertinya mulai ada rasa deh ke Anin." Mita terkikik menutup mulutnya.
" Hush, kamu jangan bergosip!" sergah Lucy cepat.
" Tapi kalau memang itu benar, Cici juga ikutan senang, Mit. Tuan Ricky itu 'kan bukan orang lain juga buat Rama, dia Papanya Rama. Tuan Ricky juga baik, hubungannya sama Pak Arya selama ini juga baik. Cici rasa Tuan Ricky akan bisa menerima anak Pak Arya nantinya, seperti Pak Arya bisa menerima Rama." Lucy memyampaikan pandangannya.
" Iya, Ci. Saya juga setuju."
" Sudah ah, Mit. Jangan berpikiran sejauh itu. Pak Arya baru saja meninggal. kita mikirnya sudah macam-macam." Lucy mengibaskan tangannya.
" Oh ya, Mit. Toko tutup sekarang saja. Katanya anak-anak mau ikut berdoa tujuh hari Pak Arya," ucap Lucy kemudian.
" Siap, Ci."
***
Tok tok tok
" Mama, ada yang ketuk pintu," ucap Ramadhan menoleh Mamanya yang sedang berdoa di sebelahnya.
" Iya, sebentar Mama lepas mukenanya dulu." Setelah menyesaikan doanya, Anindita melepas dan melipat mukenanya.
Anindita kemudian berjalan ke depan dan membukakan pintu.
" Tuan?" Anindita terkesiap saat mendapati Ricky yang kini berada di hadapannya.
" Nyonya, Anda tidak apa-apa?" Ricky secara reflek memegang kedua bahu Anindita.
Sontak saja apa yang dilakukan Ricky membuat Anindita membelalakkan matanya.
__ADS_1
" Eh, s-saya t-tidak apa-apa, Tuan." Anindita mencoba menepis tangan Ricky yang menempel di pundaknya.
" Oh, maaf, Nyonya." Ricky langsung melepaskan tangannya.
" Ada apa Tuan kemari?" tanya Anindita kemudian.
" Om Ricky ...!" Ramadhan yang baru keluar dari kamar langsung berlari mendekat ke arah Ricky.
" Rama ..." Ricky pun kemudian menyambut tubuh Ramadhan yang berlari ke arahnya dan mengangkat tubuh kecil anaknya itu.
" Om Ricky mau jemput Rama ya, Om?" tanya Ramadhan.
" Rama mau ikut sama Om?" tanya Ricky.
" Mau, Om." Dengan cepat Ramadhan menjawab.
" Rama !! Rama nggak boleh bicara seperti itu!" Anindita langsung menegur anaknya.
" Tidak apa-apa, Nyonya." Ricky kemudian berjalan masuk tanpa menunggu persetujuan dari Anindita.
" Nyonya, saya ingin membawa Nyonya dan Rama dari tempat ini," ujar Ricky kemudian.
" Maksud Tuan apa?" Anindita mengeryitkan keningnya.
" Tempat ini tidak pantas untuk tempat tinggal Nyonya," ucap Ricky.
" Tidak pantas bagaimana maksud Tuan? Saya dan Rama pernah tinggal di sini. Dan kami tidak masalah tinggal di tempat ini." Anindita merasa tidak suka Ricky meremehkan tempat tinggal yang dia tempati sekarang.
" Bukan seperti itu maksud saya, Nyonya. Nyonya saat ini sedang hamil, tidak baik tinggal di tempat sempit dan jauh dari tetangga seperti ini. Saya rasa Pak Arya pun tidak akan setuju jika Nyonya kembali ke tempat ini."
" Maaf, Nyonya. Saya tidak bermaksud membuat Anda merasa sedih." Ricky yang melihat Anindita menangis langsung mengutarakan permohonan maafnya.
" Mama sedih karena Papa Arya pergi, Om." ucap Ramadhan mengomentari apa yang dirasakan Mamanya.
" Rama harus menghibur Mama, biar Mama nggak sedih lagi, ya!" Ricky langsung menimpali ucapan Ramadhan.
" Iya, Om. Tapi Rama juga sedih Papa Arya pergi." Ramadhan menyandarkan kepalanya di bahu Ricky membuat Ricky langsung mengecup pucuk kepala anaknya itu.
" Nyonya, saya akan sediakan tempat tinggal untuk Anda. Sebaiknya Nyonya tinggal di sana saja." Ricky kembali berkata kepada Anindita.
" Tidak, Tuan! Saya ingin di sini saja." tolak Anindita
" Nyonya, untuk kali ini tolong jangan tolak permintaan saya ini. Saya tidak akan membiarkan Rama hidup kesusahan," tegas Ricky.
" Saya tidak akan membuat Rama hidup kesusahan, Tuan!" sanggah Anindita.
" Nyonya, tolong jangan keras kepala! Sekali ini tolong menurutlah dengan kata-kata saya!" Ricky seolah tidak ingin dibantah oleh Anindita.
" Cici rasa apa yang dikatakan Tuan Ricky benar, Nin. Cici juga khawatir kalau kamu tinggal di sini sekarang ini." Lucy yang baru sampai di tempat Anindita menyampaikan pendapatnya.
" Pak Ricky juga pasti sangat mengkhawatirkan Rama," lanjut Lucy.
__ADS_1
" Lantas saya harus tinggal di mana?" tanya Anindita bingung.
" Saya punya unit apartemen di atas apartemen saya. Nyonya bisa memakai apartemen itu sebagai tempat tinggal.
Anindita termasuk Lucy pun langsung membelalakkan matanya mendengar di mana Ricky akan menempatkan Anindita.
" A-apartemen, Tuan?"
" Iya, Nyonya."
" T-tapi saya tidak terbiasa tinggal di apartemen, Tuan."
" Mulai sekarang Nyonya mesti membiasakan diri tinggal di sana, karena saya sudah menyiapkan apartemen itu untuk Rama."
Anindita kembali membulatkan bola matanya seakan tak percaya mendengar perkataan yang didengarnya.
" Tapi, Tuan ...."
" Nyonya tidak usah menolak, apartemen itu milik Rama."
Anindita serasa ingin pingsan mengetahui jika anaknya itu telah diberikan sebuah apartemen oleh Ricky dan yang pasti apartemen yang akan diberikan itu bukanlah apartemen biasa-biasa saja, jika mengingat ucapan Ricky yang mengatakan posisi apartemen itu berada di lantai atas apartemennya.
" Kita kemasi barang-barang Nyonya, kita pindah sekarang ini juga." Ricky kemudian menurunkan Ramadhan dan melangkah mencari kamar Anindita untuk mengambil barang-barang Anindita.
" Hari ini hari ketujuh Mas Arya meninggal. Saya ingin mendoakan bersama teman-teman toko di sini, Tuan." Anindita memang berencana melakukan tahlil tujuh hari kepergian Arya seadanya.
" Oh, ya sudah nanti setelah tahlil kita langsung ke apartemen," ujar Ricky.
" Nyonya Lucy, apa saya bisa minta bantuan karyawan Anda untuk memasukan barang-barang Anindita ke mobil saya?" tanya Ricky pada Lucy.
" Tentu saja, Tuan. Nanti saya atur pegawai saya." Lucy menyetujui permintaan Ricky.
" Terima kasih atas bantuan Anda selama ini, Nyonya Lucy," ucap Ricky.
" Sama-sama, Tuan." jawab Lucy.
Sementara Anindita kembali ke kamarnya untuk mengemas kembali beberapa pakaian yang telah dia keluarkan karena masih ada beberapa pakaian yang dia simpan di kopernya.
*
*
*
Bersambung ...
Oh ya Ricky Lovers yg mau kasih dukungan dan hadiah ke Pak Ricky bisa tekan ini, dan ikuti caranya di bawah ini, Makasih🙏
__ADS_1
Happy reading❤️