
Ricky menyibak blazernya saat terasa ponselnya bergetar dari saku bagian dalam blazer yang dipakainya. Ricky menautkan kedua alisnya saat melihat nama Mamanya Rama yang mengirim pesan ke ponselnya. Ricky sengaja memberi nama kontak Anindita dengan sebutan Mamanya Rama Dia lalu membuka isi pesan dari Anindita.
" Assalamualaikum, maaf saya mengganggu waktu Tuan. Saya hanya ingin bertanya, apa Tuan sempat menyimpan nomer ponsel Koh Leo, mantan bos saya di Malang? Kalau Tuan menyimpan, apa saya bisa minta nomernya? Terima kasih, Tuan. Sekali lagi terima kasih, maaf sudah mengganggu."
Ricky langsung menghubungi nomer Anindita. Namun panggilannya tak diangkat oleh Anindita. Dia mencoba menghubungi Mama dari anaknya itu kembali, namun lagi-lagi Anindita tak juga mengangkat panggilan teleponnya. Akhirnya Ricky memilih membalas pesan dari Anindita itu melalui chat.
" Waalaikumsalam, Nona. Saya memang pernah simpan nomer Pak Leo, nanti saya coba cari lagi nomer ponsel Pak Leo."
" Oh, terima kasih, Tuan. Assalamualaikum." Tak butuh waktu lama chat balasan dari Anindita masuk ke dalam ponselnya. Ricky langsung tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. Sepertinya bagi Anindita sosoknya masih sangat menakutkan untuk wanita itu.
" Apa Nona Anin masih takut terhadap saya hingga tak ingin mengangkat panggilan telepon saya?" Ricky sengaja mengirimkan pesan itu kepada Anindita.
Ricky melihat tanda centang biru dipesan yang dikirimnya pertanda jika Anindita telah membaca pesan yang dikirimnya. Setelah dia menunggu beberapa saat ternyata Anindita memilih tidak membalas pesannya itu, membuat Ricky kembali mengulum senyuman seraya mengedikkan bahunya.
***
Anindita menyodorkan secangkir kopi di hadapan Arya. Kemudian dia mendudukkan tubuhnya di samping Arya.
" Mas, aku ingin minta satu permohonan ke Mas Arya boleh nggak?" Sebenarnya Anindita agak ragu menanyakan hal itu.
" Jangankan cuma satu, kamu minta semua juga aku akan kasih, kok." Arya berseloroh menjawab pertanyaan Anindita.
" Mas aku serius ...."
" Kamu pikir apa yang aku ucapkan tadi bercanda?" Arya meraih cangkir kopi yang disediakan Anindita untuknya tadi kemudian menyesapnya perlahan.
" Kamu mau minta apa?" lanjutnya kemudian.
" Aku ingin ke Malang."
" Ke Malang? Memang ada apa di Malang?"
" Aku ingin bertemu keluarga orang yang dulu menampungku saat aku hamil Rama."
" Oh, bos kamu dulu itu?"
" Iya, Mas. Dua tahun aku nggak bisa komunikasi dengan mereka karena waktu sampai ke Jakarta ini HP aku hilang dan aku belum punya kesempatan pergi ke sana. Aku ingin mereka bisa datang saat kita menikah nanti. Mereka ada di saat aku susah. Aku juga ingin mereka ada di saat hari bahagia aku nanti." Anindita menjelaskan satu keinginannya kepada Arya.
" Aku tadi sudah minta nomer ponsel Koh Leo pada Tuan Ricky karena dia pernah bercerita sempat bertemu dan menyimpan nomer ponsel Koh Leo, tapi saat aku hubungi nomernya sepertinya sudah tidak aktif. Jadi aku ingin langsung menemui mereka saja untuk memberitahukan pernikahan kita."
__ADS_1
Arya menaruh kembali cangkir berisi kopi yang sudah dia minum setengahnya.
" Aku bukannya nggak mau mengabulkan keinginan kamu, Nin. Tapi kita sebentar lagi akan menikah. Orang tua bilang jangan berpergian jauh untuk calon pengantin menjelang pernikahan. Itu hanya mitos tapi kita tetap harus jaga-jaga demi keamanan dan keselamatan kita agar tidak terjadi sesuatu jelang hari pernikahan nanti. Tapi aku janji setelah kita menikah, aku akan antar kamu bertemu mereka." Arya melirik Anindita yang nampak kecewa.
" Kamu nggak marah 'kan kalau aku nggak bisa mengabulkan permintaan kamu sekarang ini?" tanya Arya kemudian.
" Ya mau gimana lagi?" Anindita mengedikkan bahunya terpaksa menerima alasan Arya yang memang masuk akal.
***
Anindita menggelengkan kepala melihat Ramadhan yang terlihat bersemangat memasukan beberapa makanan ke dalam troli yang dia duduki.
" Rama kok ambilnya banyak sekali, Nak? Memangnya buat apa beli banyak-banyak? Beli secukupnya saja nanti kalau habis kita 'kan bisa beli lagi." Anindita mencoba menasehati anaknya.
" Tapi Rama mau semua, Ma." Ramadhan merengek.
" Rama, Mama nggak ingin kamu jadi boros. Harus belajar berhemat sedari kecil."
" Hemat itu apa, Ma?"
" Hemat itu bersikap bijak dalam mengeluarkan uang. Kita nggak boleh menghabiskan uang untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Seperti Rama sekarang ini, beli makanan banyak sekali. Di rumah 'kan yang diberi sama Om Ricky makanan masih banyak, Nak."
" Rama tunggu di sini, ya! Mama mau ambilkan susu buat Rama." Anindita kemudian meninggalkan Ramadhan yang masih duduk di troli. Dia mencari susu pertumbuhan untuk Ramadhan.
Anindita menaikkan tumitnya berjinjit untuk menggapai box susu formula untuk Ramadhan namun agak kesulitan karena box itu agak masuk ke dalam hingga dia mendengus. Anindita mencoba meraih lagi namun tiba-tiba sebuah tangan kekar meraih box itu hingga Anindita tersentak kaget dan mundur kebelakang membuat punggungnya menabrak dada orang yang mengambil box susu formula itu.
" Eh, maaf ..." Anindita buru-buru menoleh ke arah belakang. " T-tuan?" Anindita cepat menjauhkan tubuhnya dari tubuh Ricky, orang yang ternyata mengambilkan box susu itu.
" Itu untuk Rama, kan? Butuh berapa box?" Ricky mengambil tiga box susu formula isi delapan ratus gram lalu menyerahkan kepada Anindita.
" Tiga cukup?" tanya Ricky menyodorkan ketiga box itu seraya mengulum senyuman.
" Satu saja, terima kasih." Anindita mengambil satu box susu formula itu lalu kemudian segera meninggalkan Ricky. Anindita memang masih merasa tidak nyaman jika berada dekat dengan ayah dari anaknya itu.
" Rama sudah tidak ada yang dibeli lagi, kan? Kita bayar belanjaannya sekarang." Anindita kemudian mendorong troli belanjaannya menuju arah kasir.
" Semuanya lima ratus sembilan puluh enam ribu dua ratus lima puluh rupiah, Bu." Kasir yang melayani Anindita menyebutkan jumlah uang yang harus dibayar oleh Anindita.
" Oh iya, sebentar." Anindita segera mengambil uang untuk membayar belanjaannya itu.
__ADS_1
" Pakai ini saja, Mbak." Tiba-tiba suara Ricky terdengar seraya menyodorkan sebuah kartu debit ke arah kasir.
Ramadhan yang sudah turun dari troli dan asyik menikmati ice cream langsung menoleh saat mendengar suara yang mulai familiar di telinganya.
" Om Ricky ..." teriak Ramadhan menyapa Ricky.
" Hai, Rama ..." Ricky kemudian menyapa. " Rama temenin Mama belanja, ya?"
" Iya, Om ..." sahut Ramadhan.
Sedangkan Anindita langsung memasang wajah memberengut saat harus bertemu kembali dengan Ricky. Apalagi Ricky sekarang menyodorkan kartu debitnya untuk membayar apa yang dibeli oleh Anindita.
" Saya pakai tunai saja, Mbak." Anindita buru-buru menyodorkan enam lembar uang seratus ribuan menolak pembayaran yang dilakukan oleh Ricky.
" Pakai kartu saya saja, Mbak." Ricky bersikukuh meminta kasir menuruti perintahnya.
" Jangan! Pakai uang saya saja." Anindita mendekatkan kembali uangnya ke dekat kasir.
" Nona, biarkan saya yang membayar. Ini banyak keperluan untuk Rama, kan?"
" Tidak usah, Tuan. Saya masih ada uang untuk membeli kebutuhan Rama," tolak Anindita.
" Tapi, Nona ...."
" Woy, gantian, dong! Antrian di belakang panjang nih! Malah berdebat!" Suara seorang pria terdengar lantang menegur Anindita dan Ricky yang berebut bayar.
" Maaf, jadi mau bayar pakai apa? Konsumen lain sudah mengantri." Kasir itu akhirnya meminta Anindita dan Ricky untuk memilih jenis pembayaran.
" Pakai kartu saya saja." Ricky mengambil uang Anindita kemudian menaruh di saku sweater yang dikenakan Anindita.
" Maaf bapak-bapak, ibu-ibu atas ketidaknyamanan nya. Sebagai permintaan maaf saya, untuk pembelanjaan bapak dan ibu yang ada di troli bapak dan ibu, saya yang akan tanggung pembayarannya." Sontak ucapan Ricky membuat orang yang tadi menggerutu di belakang langsung bersorak kegirangan. Berbeda dengan Anindita yang langsung memutar bola matanya menanggapi sikap Ricky yang menurutnya terlalu berlebihan.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️