
Anindita masih duduk di sofa karena merasakan otot perutnya yang terasa kencang ketika tiba-tiba suara telepon berbunyi yang langsung diangkat oleh Mita.
" Alabama Florist, selamat siang ..." sapa Mita saat mengangkat telepon.
" Mbak Anin? Ada baru datang, Ci."
Anindita yang mendengar namanya disebut langsung bangkit dan berjalan mendekati Mita.
" Siapa, Mbak? Ci Lucy?" Anindita mengulurkan tangannya meminta gagang telepon yang dipegang Mita.
" Sebentar, Ci. Mbak Anin mau bicara sama Cici." Mita pun menyerahkan gagang telepon itu ke Anindita.
" Halo, Ci. Ci, tolong jangan bilang Tuan Ricky kalau saya ada di sini." Anindita yang menduga Ricky menghubungi Lucy langsung meminta agar bosnya itu tidak memberitahukan tentang keberadaannya di Alabama Flofist.
" Memangnya kenapa, Nin?" tanya Lucy.
" Nggak apa-apa, Ci. Saya cuma ingin Tuan Ricky nggak mendikte saya harus begini harus begitu." Anindita beralasan, dia tidak mengatakan jika sebenarnya dia sangat kesal dengan sikap pria itu.
" Tapi dia seperti kebingungan mencari kamu, Nin." sahut Lucy.
" Biarkan saja, Ci. Saya butuh menenangkan pikiran di sini," jawab Anindita tidak ingin perduli Ricky cemas atau tidak mencarinya. " Tolong ya, Ci. Biarkan saya tenang di sini," lanjutnya kemudian.
" Oke, Nin. Cici tidak akan bilang pada Tuan Ricky kalau kamu ada di sana." sahut Lucy.
" Terima kasih ya, Ci."
" Ya sudah kalau gitu Cici tutup teleponnya ya, Nin."
" Iya, Ci "
Anindita pun kemudian mengembalikan gagang telepon itu kepada Mita.
" Memang kenapa Mbak Anin nggak ingin Tuan Ricky tahu kalau Mbak ada di sini?" Mita yang menerima gagang telepon dari Anindita merasa penasaran dengan sikap Anindita.
" Karena kalau dia tahu saya ada di sini, bisa-bisa dia menyusul ke sini dan menyuruh saya pulang," jawab Anindita. Bukannya dia terlalu percaya diri tapi mengetahui bagaimana pria itu mengaturnya belakangan ini membuatnya berpendapat seperti itu.
" Segitu care nya Tuan Ricky sama Mbak Anin. Jangan-jangan Tuan Ricky itu diam-diam naksir sama Mbak Anin." Mita terkikik membuat Anindita membelalakkan matanya.
" Jangan ngaco deh, Mbak!" sergah Anindita cepat.
__ADS_1
" Lho, memang iya. Coba saja Mbak Anin pikir, bagaimana sikap Tuan Ricky ke Mbak Anin? Sampai menyuruh tinggal di apartemen mewah dia, menyuruh Mbak Anin berhenti kerja. Next apalagi coba?" Mita mengungkapkan analisanya.
" Semua itu karena Rama, karena dia merasa bertanggung jawab pada Rama. Mbak Mita jangan aneh-aneh deh mikirnya." Anindita kemudian berjalan ke ruangan bagian toko dalam karena dia merasa malas membicarakan seputar masalah Ricky.
***
Ricky sedang menatap tabel angka-angka di laptopnya saat tiba-tiba ponselnya yang dia letakan di atas meja berbunyi. Ricky dengan cepat menjawab panggilan telepon itu saat dia melihat ternyata Lucy lah yang menghubunginya.
" Halo, bagaimana, Nyonya? Apa Anin ada di sana?" Ricky yang tak sabar ingin tahu keberadaan Anindita langsung menyapa lebih dahulu.
" Maaf, Tuan Ricky. Saya baru saja hubungi pegawai saya di toko, ternyata Anin tidak ada di sana, Tuan." Atas permintaan Anindita, Lucy pun akhirnya berbohong soal keberadaan Anindita.
Ricky langsung mendengus saat Lucy menginformasikan jika Anindita tidak ada di Alabama Florist, seketika itu juga pikirannya sangat kacau, menebak-nebak ada di mana Anindita sekarang.
" Selain di Toko Nyonya, apa ada tempat lain yang biasa dikunjungi oleh Anin?" tanya Ricky mencari informasi yang bisa dia gunakan untuk mencari keberadaan Anindita.
" Anin itu orangnya jarang pergi-pergian, Tuan. Temannya pun hanya seputar pegawai toko saya saja," ujar Lucy.
" Baiklah, Nyonya. Terima kasih untuk informasinya. Tolong infokan ke saya jika Nyonya telah menemukan keberadaan Anin."
" Baik, Tuan."
Ricky pun kemudian menutup hubungan teleponnya dengan Lucy.
Ricky kemudian menghubungi seseorang kembali melalui ponselnya.
" Selamat siang, Pak Ricky. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seseorang yang dihubungi oleh Ricky.
" Siang, Bu Wanda. Saya ingin melihat rekaman CCTV di depan gerbang sekolah sekitar jam sebelasan hari ini." Ricky menyampaikan tujuannya menghubungi Bu Wanda yang merupakan kepala sekolah di TK di mana Ramadhan sekolah.
" Baik, Pak Ricky nanti saya suruh orang untuk mengecek," sahut Wanda.
" Terima kasih, Bu Wanda. Saya tunggu rekamannya secepatnya."
" Baik, Pak Ricky. Nanti akan segera dikirimkan hasil rekamannya"
" Om, Mama sudah datang belum?" Tiba-tiba suara Ramadhan terdengar.
Ricky kemudian menutup panggilan teleponnya saat mendapati anaknya sudah muncul di hadapannya.
__ADS_1
" Mama Rama sudah pulang ke apartemen." Ricky berbohong, karena dia sendiri tidak tahu Anindita sekarang ada di mana.
" Rama mau ikut pulang sama Mama, Om. Rama mau cium perut Mama."
Ricky mendengus mendengar permintaan Ramadhan. Dia sengaja memberikan jawaban jika Anindita ada di apartemen agar Ramadhan diam tak menanyakan keberadaan Anindita. Namun itu malah menjadi bumerang karena sekarang justru anaknya itu memintanya untuk pulang karena ingin bertemu Mamanya.
Ricky kemudian menghampiri Ramadhan kemudian duduk berjongkok di depan Ramadhan.
" Rama, Mama pulang ke apartemen karena Mama capek, ingin beristirahat. Kalau Rama pulang sekarang nanti Mama tergganggu istirahatnya. Jadi Rama di sini saja sama Om." Ricky mengusap kepala Ramadhan sambil membujuk anaknya itu agar tidak memaksa untuk pulang.
" Rama, Pak Ricky ... Abang mengajak kalian makan siang bersama." Suara Kirania tiba-tiba terdengar dari arah pintu ruang kerja Ricky.
" Lho, Mamanya Rama mana?" Kirania mencari keberadaan Anindita di ruang kerja Ricky.
" Mamanya sudah pulang, Tante. Kata Om Ricky, Mama capek mau istirahat." Ramadhan yang memjawab pertanyaan Kirania.
" Pulang?" Kirania mengeryitkan keningnya, dia lalu melirik ke arah Ricky yang sedang mengusap cuping hidung dengan jarinya, membuat Kirania mengerti jika ada yang disembunyikan Ricky dari anaknya.
" Oke-oke, ya sudah kalau begitu Rama mau ikut nggak sama Tante dan Om Dirga makan?" Kirania mengulurkan tangannya meraih tangan mungil Ramadhan.
" Mau, Tante. Ada burgernya nggak, Tante?" tanya Ramadhan antusias.
" Rama mau makan burger?"
" Iya, Tante."
" Ya sudah, nanti Tante belikan burger untuk Rama." Kirania lalu mengajak Ramadhan keluar ruang kerja ayahnya.
" Om, ayo ... Om mau ikut makan burger juga nggak?" Ramadhan menoleh ke arah Ricky yang tak mengikuti langkahnya.
" Hmmm, Om masih belum lapar. Rama ikut sama Tante Rania dan Om Dirga saja dulu, ya." Ricky yang masih merasa belum tenang karena masih belum menemukan di mana Anindita sekarang berada memilih tinggal di kantor saja.
Jawaban Ricky membuat Kirania kembali mengerutkan keningnya. Tapi Kirania memilih tidak ingin terlalu ikut campur, walaupun dia menduga hal itu berhubungan dengan keberadaan Anindita yang tiba-tiba menghilang dari kantor Angkasa Raya.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️