
Anindita merasa kurang nyaman dengan adanya pria yang meneleponnya. Namun karena Lucy sudah memberi nomer ponselnya kepada Arya akhirnya dengan terpaksa dia meladeni pria itu.
" Apa saya ganggu istirahat kamu, Nin?" tanya Arya saat dirasanya Anindita hanya diam tak menjawab ucapannya.
" Oh ... tidak, Mas." Anindita menyahuti.
" Anakmu sudah tidur?" tanya Arya kemudian.
" Sudah." Anindita menjawab singkat.
" Hmmm, jadi kamu tinggal di belakang toko bunga itu? Apa kamu nyaman tinggal di sana?"
Anindita mengeryitkan keningnya saat mendengar Arya menanyakan tentang tempat tinggalnya. Apakah Lucy sedetail itu menceritakan tentang dirinya kepada Arya.
" Buat saya yang penting saya ada tempat tinggal saja saya sudah bersyukur," jawab Anindita, karena memang dia merasa bersyukur sudah mendapatkan tempat tinggal tanpa harus dipusingkan dengan membayar uang kontrakan.
" Oh ya, Nin. Tidak masalah 'kan jika saya telepon kamu seperti ini?"
Seandainya saja dia berani, ingin sekali rasanya Anindita mengatakan jika dia merasa tidak nyaman dengan Arya yang menghubunginya.
" Nggak kok, Mas." Anindita berbohong.
" Syukurlah kalau begitu. Kalau lain kali saya ajak kamu keluar apa kamu keberatan?"
Deg
Anindita sampai harus menelan salivanya saat mendengar ajakan Arya. Apakah pria itu ingin mengajaknya berkencan? Itu yang ada dipikiran. Dan itu yang membuat hatinya seketika mendadak gelisah.
" Toko bunga kalau Minggu libur nggak?"
" Hmmm, toko tiap hari buka, kok."
" Lalu kamu liburnya kapan?"
" S-saya tiap hari kerja, Mas."
" Masa kamu kerja nggak ada liburnya?"
" Saya jarang ambil libur." Anindita memang tidak pernah memakai jatah liburnya, karena dia pikir tidak enak jika harus mengambil hari libur sedangkan dia sendiri tinggal di sana.
" Berarti kalau sekali-sekali kamu ambil jatah libur nggak masalah, dong?"
" Saya nggak enak dengan bos saya, Mas."
" Kenapa merasa nggak enak? Kan kamu juga punya hak untuk libur, apalagi selama ini kamu tidak pernah mengambil jatah kamu itu. Atau nanti saya yang bicara langsung sama bos kamu supaya kamu diijinkan libur karena ingin saya ajak jalan keluar?"
" Jangan, Mas!!" Anindita memotong cepat. Tentu saja dia tak ingin nantinya dia akan jadi bulan-bulanan bos juga teman-teman kerjanya jika ketahuan Arya mengajaknya pergi.
__ADS_1
" Hmmm, jangan untuk sekarang-sekarang ini, Mas. Untuk saat ini saya masih belum siap." Anindita memberikan alasan.
" Okelah, kalau begitu saya tunggu kabar baiknya, ya! Ya sudah, saya tutup teleponnya, barangkali kamu mau beristirahat."
" Iya."
" Assalamualaikum ..."
" Waalaikumsalam ..."
Anindita langsung menarik nafas lega saat Arya mengakhiri panggilan teleponnya.
Setelah menaruh teleponnya kembali di atas lemari plastik, Anindita kemudian merebahkan tubuhnya. Dia menatap wajah buah hatinya yang sedang terlelap dengan mulut terbuka, membuatnya tidak tahan untuk mengecup bibir anaknya itu.
" Nak, Mama harus bagaimana?" tanya Anindita setelah menciumi seluruh wajah anaknya itu.
" Ada yang ingin dekat dengan Mama, tapi Mama takut, Nak." Kini tangan Anindita mengusap kepala Ramadhan.
" Mama bukannya nggak mau mencarikan Rama sosok seorang ayah, tapi Mama takut, itu akan mengecewakan Mama juga Rama."
" Mama takut akan bertemu orang yang tidak baik dan akan mencelakakan kita."
Anindita terus mengajak bicara meskipun dia tahu anaknya itu tidak akan merespon perkataannya.
***
Sejak saat itu Arya selalu berusaha mendekati Anindita, meskipun Anindita masih saja menolak jika diajak pergi, namun bukan berarti Arya langsung patah semangat. Dia selalu rutin menelepon Anindita, bahkan tak segan Arya datang ke butik hanya untuk bertemu dengan Anindita dan Ramadhan. Kehadiran Arya pun sangat disambut baik oleh Ramadhan. Kadang Arya membelikan mainan dan makanan kesukaan Ramadhan. Tentu saja hal itu menjadi perhatian rekan-rekan kerja Anindita di Alabama Florist.
" Cieee, yang bakal dapat bapak rumah tangga yang baru. Senang ya, Mbak Anin. Ada yang perhatian gitu," ledek Mita saat melihat Anidita membawa dua buah kantong berukuran besar. Satu kantong berisi susu formula, makanan dan minuman. Satu kantong lagi berisi pakaian juga mainan untuk Ramadhan.
" Hoki banget Ramadhan dapat calon Papa sambung seperti Mas Arya, sudah ganteng, tajir pula. Berasa ingin tukar tempat sama kamu deh, Nin." Kali ini Yeti yang ikut menggoda Anindita.
Anindita hanya tersipu mendengar ledekan rekan-rekan kerjanya.
" Kalau sudah perhatian gini buruan dihalalin dong, Nin. Dari pada nanti dia berubah haluan," ucap Yeti lagi.
" Iya, Mbak Anin. Sekali-sekali terima dong ajakan jalan keluarnya. Ngedate gitu, masa cuma telepon-telepon, doang." Mita memprotes.
" Saya malu, Mbak. Nggak pede ..." sahut Anindita. Dia memang mengalami krisis percaya diri jika harus berhadapan dengan pria apalagi jika diketahui pria itu tertarik kepadanya
" Jangan minderlah, Nin. Pede aja lagi ... kamu cantik gitu, lho. Cocok sama Mas Arya yang ganteng laksana Arjuna," Yeti berseloroh yang langsung disambut oleh tawa mereka bertiga.
***
Anindita memoles tipis bibirnya dengan lipstik warna nude. Dia mengikat rambutnya menjadi satu hingga memperlihatkan leher jenjangnya.
Malam ini Anindita berencana jalan keluar bersama dengan Arya dan Ramadhan. Setelah mengalami gejolak hati antara menerima atau tidak, akhirnya Anindita memutuskan menerima ajakan dari Arya untuk pergi keluar bersama.
__ADS_1
Tok tok tok
Anindita menarik nafas dalam-dalam saat suara pintu diketuk. Dia lalu menyampirkan sling bag nya dan menuntun Ramadhan.
" Ayo, Sayang," ucap Anindita kepada putranya.
" Om Alya nya dah datang ya, Ma?" tanya Ramadhan semangat.
" Iya, Sayang "
Anindita kemudian membuka pintu rumahnya dan mendapati Arya yang malam itu menggunakan kemeja dengan lengan ditekuk tiga perempat berwarna dark grey.
" Assalamualaikum ..." sapa Arya tersenyum saat melihat Anindita.
" Waalaikumsalam ..." Anindita pun membalas seyum Arya walaupun agak kaku karena sejujurnya dia merasa grogi hingga tangannya sampai berkeringat.
" Hai, Jagoan." Arya langsung mengangkat tubuh Ramadhan lalu menaruh di lengannya. " Sudah siap jalan-jalan sama Om?"
" Ciap, Om Alya. " Ramadhan sendiri langsung melingkarkan lengan mungilnya di tengkuk Arya.
" Kita berangkat sekarang?" tanya Arya kepada Anindita.
Anindita menganggukkan kepalanya lalu mengunci pintu terlebih dahulu dan mengekor di belakang Arya yang asyik berbincang dengan Ramadhan berjalan ke arah mobilnya.
" Mama, lampunya walna walni, Ma." Ramadhan terlihat sangat excited melihat suasana malam kota Jakarta yang begitu indah dengan pemandangan lampu warna-warni.
" Rama, nggak pernah kamu ajak keluar malam-malam?" tanya Arya menanggapi tingkah Ramadhan yang aktif bertanya-tanya tentang pemandangan yang dilihatnya.
" Saya mau ajak dia ke mana memangnya, Mas? Saya cuma ajak keluar kalau cari makanan ringan saja di mini market depan toko." Anindita menjelaskan.
" Berarti ini pertama kali dia keluar malam hari begini?"
" Iya." Anindita menganggukkan kepalanya.
" Berarti kamu juga nggak pernah pergi ke mana-mana, dong!"
" Iya."
" Kalau begitu, saya harus sering ajak kamu jalan-jalan keluar agar Ramadhan merasa senang seperti ini."
Anindita langsung terkesiap seraya membulatkan matanya saat mendengar ucapan Arya yang berniat akan rutin mengajaknya jalan-jalan.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung
Happy Reading❤️