
Anindita memperhatikan Arya dan Ramadhan yang terlihat asyik bermain di arena permainan anak. Ramadhan terlihat antusias mencoba beberapa permainan, sedang Arya terlihat sabar mendampingi Ramadhan bermain-main. Mereka berdua terlihat layaknya seorang ayah dan anak. Wajah Anindita seketika merona saat membayangkan itu. Dia langsung mengerjapkan mata, mencoba kembali ke dunia nyata dan tidak terus melambung tinggi dengan khayalannya tadi.
" Mama ..." teriak Ramadhan seraya melambaikan tangan saat dia menaiki wahana sky ryder dan melewati Anindita membuat Anindita balas melambaikan tangan ke arah anaknya itu.
" Anaknya, Mbak?" tanya wanita di sebelah Anindita saat melihat interaksi Anindita dengan Ramadhan.
" Iya, Bu." Anindita menyahuti.
" Baru satu, Mbak?" tanya wanita itu lagi.
Anindita mengeryitkan keningnya mendengar pertanyaan wanita tadi namun tak lama dia menganggukkan kepalanya. " Oh ... iya, Bu." Anindita menjawab kaku.
" Umur berapa anaknya?"
" Tiga setengah tahun."
" Anaknya cakep, kayak papanya, ya!"
Ucapan wanita di sebelahnya itu sontak membuat mata Anindita membulat.
" Tapi mamanya juga cantik, sih. Nggak heran anaknya ganteng seperti itu. Bibitnya memang unggulan." Wanita itu terus saja berkomentar membuat Anindita salah tingkah.
" Ma ..." Ramadhan yang telah selesai bermain sky ryder langsung berlari dan memeluk Anindita.
" Ma, nanti Lama jalan-jalan lagi ya, Ma!" ucap Ramadhan.
" Iya, sekarang kita makan dulu, yuk! Rama lapar, kan?" Arya yang langsung menyambar menjawab pertanyaan Ramadhan yang langsung dibalas dengan anggukkan kepala Ramadhan.
Arya pun langsung menaikkan kembali tubuh kecil Ramadhan ke atas lengannya.
" Rama mau makan apa?" tanya Arya.
" Hmmm, ke ep ci ..." sahut Ramadhan.
" Oke, boss!" Arya menyetujui permintaan
Ramadhan membuat Ramadhan tertawa renyah.
" Ayo ... !" Arya mengajak Anindita.
Anindita menganggukkan kepalanya kemudian menoleh kepada wanita yang tadi mengajaknya bicara.
" Permisi, Bu. Saya duluan ..." Anindita berpamitan kepada wanita itu yang diangguki oleh wanita tadi.
__ADS_1
***
" Rama senang nggak jalan-jalan sama Om Arya?" tanya Arya kepada Ramadhan, saat melihat Ramadhan makan ayam goreng tepung itu dengan lahapnya.
" Cenang, Om ..." bocah cilik itu menyahuti.
" Nanti Om ajak jalan-jalan lagi Rama pasti mau, dong?"
" Mau, Om!" Dengan anggukkan kepala cepat Ramadhan menyahuti.
" Anak pintar." Arya yang sudah lebih dulu menyelesaikan makan dan mencuci bersih tangannya langsung mengacak rambut Ramadhan.
" Kamu senang pergi dengan saya, Nin?" tanya Arya melirik ke arah Anindita yang hanya diam.
" Buat saya yang terpenting melihat Rama senang, Mas." Anindita mengatakan apa yang sejujurnya, karena dia memang senang melihat anaknya itu tertawa bahagia.
" Saya juga punya anak perempuan usia sembilan tahun. Saya bercerai dengan istri saya lima tahun lalu. Dan anak saya itu tinggal bersama saya dan neneknya. Lain waktu saya akan ajak dia ikut kita jalan bareng, ya! Biar kamu juga nantinya bisa akrab dengan anak saya. Seperti saya juga bisa akrab dengan Ramadhan." Arya membelai kepala Ramadhan membuat bocah cilik itu menoleh ke arahnya.
Sementara pengakuan Arya tentang statusnya sebagai duda beranak satu membuat Anindita terperanjat. Dia tidak pernah menduga ke arah sana sebelumnya. Dan dari kata-kata Arya yang menginginkan dia agar dekat dengan anak perempuan Arya, dia bisa menduga jika Arya benar-benar menginginkan suatu hubungan yang serius dengannya.
" Nin, apa kamu keberatan jika saya ingin memulai hubungan yang serius dengan kamu?"
Deg
" Nggak usah dijawab sekarang kalau kamu masih butuh untuk berpikir lebih tenang untuk mengambil keputusan." Arya menyadari jika permintaannya itu terkesan terlalu terburu-buru. Dia memutuskan memberi waktu Anindita untuk berpikir.
" Selamat malam, Pak Arya ..."
Tiba-tiba ada beberapa anak muda tanggung menghampiri dan mengucapkan salam kepada Arya.
" Sedang malam mingguan sama keluarga ya, Pak?" tanya salah satu remaja tanggung itu.
Arya hanya mengulum senyumannya menanggapi pertanyaan remaja itu.
" Kalian malam mingguan juga?" tanya Arya kepada empat orang remaja laki-laki dan perempuan di hadapannya.
" Iya, Pak." Ke empat remaja itu menjawab seraya menyeringai.
" Jangan terlalu malam pulangnya, ya!" Arya memberikan nasehat kepada mereka.
" Baik, Pak." Mereka berempat kembali kompak menyahuti.
" Anaknya ya, Pak? Ganteng banget sih, Siapa namanya, Dek?" tanya salah satu remaja wanita seraya mencubit pelan pipi chubby Ramadhan.
__ADS_1
" Lamadan, Kak." Ramadhan menyahuti.
" Namanya Ramadhan, Kak." Arya memperjelas ucapan Ramadhan.
" Anaknya lucu deh, Pak. Jadi pingin bawa pulang." Remaja wanita lain ikut menimpali seraya melirik Anindita yang langsung terlihat gugup karena Ramadhan dianggap anak Arya oleh remaja-remaja itu.
" Eh, maaf ya, Bu. Saya hanya bercanda." Remaja tadi langsung meminta maaf kepada Anindita.
" Istri Pak Arya cantik, lho. Pantas saja Pak Arya nggak mempan didekati ibu guru yang pedekate sama Pak Arya."
Perkataan remaja tadi sontak membuat wajah Anindita bersemu, saat dia dianggap istri dari Arya. Anindita langsung menggigit bibirnya sementara tangannya sudah berkeringat menahan rasa gugup dan malu karena anggapan yang dilontarkan remaja itu tentang dirinya.
" Sudah-sudah, kalian jangan memanas-manasi Mamanya Rama, dong. Lihat, tuh ... wajah Mamanya Rama sudah merah begitu." Ucapan Arya membuat Anindita langsung menundukkan kepalanya.
" Eh ... maaf, Bu. Kita nggak bermaksud memanas-manasi Ibu. Hanya sekedar mengingatkan agar Ibu lebih waspada, karena Pak Arya itu bukan hanya sekedar kepala sekolah idaman murid-murid, tapi juga idaman ibu-ibu guru yang masih single, Bu." Remaja yang ternyata murid-murid di sekolah Arya itu menerangkan.
Arya menyandarkan tubuhnya seraya melipat tangan di dadanya dan memperhatikan Anindita yang semakin dibuat salah tingkah dengan ucapan-ucapan murid-muridnya.
" Sudah, kalian segera lanjutkan acara kalian. Jangan godain Mamanya Rama terus. Kalian nggak lihat Mamanya Rama sudah hampir menangis gara-gara laporan kalian tadi?"
Anindita langsung menegakkan kepalanya mendengar kata-kata Arya, dan dijumpainya pria itu sedang mengulum senyuman, membuatnya kembali menundukkan kepala.
" Duh, maafkan kami ya, Bu. Kami nggak ada maksud buat Ibu sedih, kok." Salah satu murid menyampaikan penyesalannya.
" Sudah-sudah, cepat kalian selesaikan urusan kalian lalu cepat pulang. Jangan pulang terlalu larut, ya!" Nasehat Arya kembali.
" Baik Pak. Permisi, Pak, Bu ..." pamit mereka kemudian meninggalkan Arya, Anindita juga Ramadhan.
" Mereka semua itu murid-muridku," ucap Arya saat ke empat remaja itu menjauh dari mereka.
" Hmmm, jadi Mas Arya ini guru, ya?" tanya Anindita sedikit canggung.
" Kepsek lebih tepatnya." Arya menyahuti.
Anindita mendesah, tentu saja pekerjaan Arya saat ini membuat dia minder. Bagaimana mungkin dia akan bisa terus menjalin hubungan dengan Arya yang mempunyai jabatan sebagai kepala sekolah? Sedangkan dia sendiri mempunyai masa lalu yang kelam sampai bisa melahirkan seorang Ramadhan ke dunia ini. Dengan status dia yang hamil di luar nikah dan melahirkan anak hasil korban perko"saan, apakah itu tidak akan dipermasalahkan oleh orang-orang di sekitar Arya.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading ❤️