
Saat ini Anindita sudah berada di ruang persalinan. Sejak tiba di ruangan, Ricky tidak sekejap pun meninggalkan Anindita. Bahkan ketika para perawat meninggalkan Anindita sembari menunggu pembukaan demi pembukaan yang akan dilalui Anindita selama masa persalinan itu, Ricky tetap duduk di samping Anindita.
Ricky bisa menyaksikan sendiri bagaimana Anindita merintih kesakitan, menangis menahan rasa sakit yang menderanya karena akan melahirkan anak keduanya. Bahkan tidak jarang wanita itu menyebut nama Arya seolah ingin mengadu atas apa yang dialaminya.
Ricky bisa melihat bagaimana beratnya perjuangan Anindita untuk melahirkan bayinya. Seketika hatinya terasa teremas mengingat jika Anindita pun pasti merasakan hal seperti ini saat harus melahirkan Ramadhan. Rasa bersalah dan menyesal tiba-tiba menyeruak di hatinya.
Anindita tiba-tiba hendak bangkit dari tempat tidurnya.
" Kamu mau ke mana, Anin?" Ricky memegangi lengan Anindita.
" Tolong panggilkan suster, saya mau ke toilet." Anindita merasakan perutnya yang terasa mulas seperti ingin mengeluarkan sesuatu.
" Biar saya saja yang bantu." Ricky ingin mengangkat tubuh Anindita namun dengan cepat Anindita menepisnya.
" Bapak kalau mau bantu saya cepat panggilkan susternya!" ucap Anindita dengan nada bicara tinggi.
Ricky pun akhirnya menuruti permintaan Anindita hingga tak lama seorang perawat masuk ke dalam ruangan persalinan Anindita.
" Mbak, antar tolong antar saya ke toilet," lirih Anindita.
" Baik, Ibu. Mari saya bantu." Perawat itu kemudian memapah Anindita yang berjalan perlahan.
" Sus, biar saya yang angkat dia ke toilet agar lebih cepat." Ricky yang tidak tega melihat Anindita kesulitan berjalan langsung mengambil tindakan mengangkat tubuh Anindita.
" Bapak turunkan saya!" Anindita meminta Ricky menurunkannya.
" Tapi kalau kamu banyak bergerak nanti kamu semakin kesakitan." Ricky tak perdulikan protes Anindita.
" Justru saya harus banyak bergerak biar pembukaannya lancar! Cepat turunkan saya!" bentak Anindita.
Ricky lalu menoleh ke arah perawat.
" Tidak apa-apa kok, Pak. Biar saya yang antar Ibu Anin ke toilet. Sebaiknya Bapak jangan menambah ibu semakin emosi. Seperti inilah proses ibu hamil akan melahirkan bayinya," ucap sang suster membuat Ricky akhirnya menurunkan Anindita.
Setelah menyelesaikan di toilet, Anindita tidak kembali ke ranjangnya. Dia justru memilih untuk berjalan agar proses pembukaannya lebih cepat. Bahkan Ricky lah yang kini menuntun langkah Anindita.
" Anin, sebaiknya kamu istirahat saja. Apa kamu tidak capek berjalan bolak-balik?" Ricky sendiri yang melihat Anindita berjalan hilir mudik menahan rasanya ngilu apalagi Anindita yang mengalami sendiri.
" Bapak bisa nggak sih? Nggak bikin saya emosi! Kalau Bapak capek ya sudah Bapak duduk saja, nggak usah bawel!" Entah sudah berapa kali Anindita mengomeli Ricky.
Ricky menarik nafas dalam-dalam. Selain Bos nya, tidak pernah ada orang yang berani memarahi dirinya seperti ini terkecuali Anindita. Namun Ricky lebih memilih diam.
__ADS_1
Sekitar satu jam kemudian Anindita sudah berbaring dengan posisi setengah duduk karena dia sudah memasuki pembukaan delapan.
" Kakak sebaiknya menunggu di luar saja, biar perawat di sini yang akan membantu Mbak Anin," ujar Dessy setelah selesai mengecek pembukaan leher rahim Anindita.
" Aku akan di sini menemani Anin melahirkan!" tegas Ricky.
" Lihat tuh, Mbak. Kakakku ini sudah seperti suami siaga saja. Makanya jangan ditolak-tolak terus, Mbak. Kasihan lho, dia. Menjomblo terus hidupnya." Dessy masih sempat berkelakar untuk mencairkan suasana yang agak menegangkan.
" Sudah jangan banyak bicara! Cepat kau bantu agar bayinya cepat keluar!" ketus Ricky melihat adiknya itu terlalu santai bahkan mengajak bercanda.
" Mbak Anin, kalau nggak kuat tahan sakitnya nanti cakar saja muka Kak Ricky, habisnya dia cerewet sekali." Dessy memutar bola matanya.
" Ssshhh ... aaakhhh ... saya nggak tahan, Mbak. Seperti mau keluar." Anindita mencengkram pahanya sendiri menahan serbuan rasa mulas yang semakin menjadi
" Dia mau melahirkan sekarang?" Ricky langsung melingkarkan lengannya di pundak Anindita. Kedua tangannya pun menggenggam kedua tangan Anindita.
Dessy pun kemudian mengecek kembali pembukaan leher rahim Anindita.
" Dedek bayinya nggak sabar ya mau ketemu Papa Ricky yang cerewet?" Dessy seolah bicara pada bayi yang masih berada perut Anindia.
Mungkin jika tidak sedang dalam kondisi sedang menahan rasa sakit karena kontraksi, Anindita akan langsung merona karena malu diledek seperti itu oleh adik dari Ricky itu. Sementara Ricky pun tak terlalu memperdulikan perkataan Dessy karena dia lebih terfokus memperhatikan Anindita yang sedang menahan rasa mulas dengan menyandarkan kepalanya di lengan Ricky.
" Sssshhh, sakit sekali ini, Mbak. Seperti mau keluar," rintih Anindita kembali.
" Tahan dulu, Mbak. satu pembukaan lagi. Jangan mengejan dulu." Dessy meminta Anindita untuk tidak mengejan sebelum waktunya.
" Pak, sakiiiittt ... saya nggak kuat ..." Tanpa sadar Anindita menelungkupkan wajahnya di dada Ricky sementara tangannya mencengkram kencang tangan Ricky.
" Sabar, sebentar lagi anak kamu akan lahir. Kamu harus semangat untuk anak kamu." Ricky pun tanpa sadar mengecup pucuk kepala Anindita seakan ingin menyalurkan kekuatan kepada Anindita.
Dessy yang memperhatikan momen antara Ricky dan Anindita langsung mengulum senyuman.
" Mbak Anin, sudah siap? Pembukaannya sudah lengkap. Ikuti aba-aba saya, ya! Hitungan ketiga berarti siap mengejan, ya!"
" Tahan dulu, satu ... dua ... tiga ...."
Anindita pun mengejan hingga membuat bulir-bulir keringat mengembun di keningnya.
" Oek ... oek ... oek ..." Suara tangisan bayi terdengar sangat lantang tak lama setelah Anindita melakukan tugasnya untuk mengeluarkan bayinya.
" Alhamdulillah, halo keponakan Auntie ..." Dessy menyapa bayi yang baru saja dilahirkan Anindita.
__ADS_1
" Selamat ya Mbak Anin. Baby boy nya sudah lahir ..." Dessy mengangkat posisi bayi hingga Anindita bisa melihat bayinya.
Anindita yang merasa lemas tidak sempat mengucapkan apa-apa karena tenaganya memang seperti terkuras habis.
Setelah menyerahkan bayi kepada perawat, Dessy kembali membantu mengeluarkan plasenta dari rahim Anindita.
" Dok, ini dedek bayinya." perawat yang sudah membersihkan si bayi langsung menyerahkan kepada Dessy setelah Dessy membersihkan tangannya.
" Kak, ayo diadzani dulu calon anaknya." Dessy masih saja bercanda dengan menaruh bayi mungil itu di atas verlos bed
" Kak, ayo ... kok malah bengong?" ujar Dessy kembali saat melihat kakaknya itu tak merespon ucapannya.
Ricky menoleh ke arah Anindita yang terkulai lemah seraya memandangi anak dari buah cintanya dengan sang suami, Arya Rahardja.
" Mbak Anin, nggak apa-apa 'kan kalau Kakak aku yang mengadzani bayinya?" Dessy yang meminta ijin kepada Anindita yang dijawab dengan anggukan lemah.
Akhirnya Ricky pun mengadzani bayi laki-laki Anindita.
Setelah diadzani kini bayi itu diberikan kepada Anindita untuk mendapatkan kolostrum sebagai anti body untuk si bayi.
" Kak Ricky sekarang tunggu di luar dulu!" perintah Dessy kepada Ricky.
" Kakak 'kan sudah bilang kalau Kakak akan menemani Anin di sini." tegas Ricky menolak apa yang diperintahkan adiknya.
" Mbak Anin itu mau menyu sui bayinya, Kak! Memangnya Kak Ricky mau melihat Mbak Anin menyu sui anaknya? Nanti Kak Ricky kepingin, lho!" sindir Dessy terkekeh.
Ricky langsung salah tingkah mendengar sindiran Dessy.
" Sudah cepat sana keluar, kasihan debay nya mau mau cari ne nen." Dessy kembali mengusir Ricky, memuat Ricky pun akhirnya keluar dari ruang persalinan itu.
*
*
"
Bersambung ...
Rarders ASKML yang belum mampir di kisah Ramadhan Di Hati Rayya ditunggu Fav, like, komen dll ya, bantu biar karya terbaru bisa naik level, makasih🙏
Happy Reading❤️
__ADS_1