ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Anindita kembali menemui Azzahra setelah membersihkan mulut Ramadhan yang lengket karena anaknya itu baru saja memakan Ice cream.


" Sorry ya, Ra. Ada gangguan teknis." Anindita terkekeh.


" Anak Mbak Anin ini?" tanya Azzahra seraya mengusap pipi Ramadhan. " Siapa namanya ini anak ganteng?" Azzahra membungkukkan tubuhnya berusaha bersikap ramah terhadap Ramadhan.


" Ramadhan, Tante." Ramadhan menyahuti. Ramadhan mulai lancar berbicara karena usianya sudah empat tahun. Ramadhan pun menarik tangan Azzahra lalu mencium punggung tangan Azzahra


" Masya Allah, pintar sekali Ramadhan ini, ya." Azzahra mengelus kepala Ramadhan, dia kagum dengan sikap Ramadhan yang santun.


Anindita tersenyum, dia memang bisa membanggakan sikap anaknya yang selalu hormat terhadap orang dewasa.


" Mama, Rama mau ke Mommy Lucy." Ramadhan meminta ijin Anindita untuk ke ruangan Lucy.


" Ya sudah, ketuk pintu dulu kalau mau masuk, ya!" Anindita memang selalu mengajarkan anaknya berbuat hal yang positif.


" Anak Mbak Anin ganteng sekali, pasti seperti Papanya ya, Mbak?" tanya Azzahra saat Ramadhan sudah berlalu darinya.


Sementara Anindita langsung menelan salivanya mendengar ucapan Azzahra tentang Papa Ramadhan, seketika rasa sesak kembali menyeruak di hatinya.


" Hmmm, kita lihat-lihat ke sana, yuk." Anindita sengaja mengalihkan perhatian Azzahra dari pertanyaan seputar ayah biologis dari Ramadhan.


Tak berapa lama kemudian suara bel sensor di pintu berbunyi dan Arya muncul dari luar toko florist membawa plastik makanan.


" Assalamualaikum ..." Arya menyapa pegawai yang sedang berada di depan.


" Waalaikumsalam, Pak Kepsek. Wuih bawa upeti buat calon Nyonya, ya?" ledek Mita.


" Buat kalian juga ada, kok." Arya menyahuti.


Tak lama kemudian security yang jaga di depan pun masuk membawa plastik berisi beberapa bungkus nasi Padang untuk pegawai di toko florist.


" Makasih banyak ya Pak Kepsek. Duh, jadi keenakan kita kalau tiap hari dikasih beginian." Mita terkekeh.


" Anin mana?" Arya mengedar pandangan mencari sosok Anindita.


" Itu, sedang mengajari pegawai baru." Mita menunjuk Anindita yang masih serius mengajari Azzahra.


" Mbak Anin ...!!" teriaknya Mita membuat Anindita menoleh ke arahnya.


Anindita yang mendengar panggilan Mita langsung menoleh, dia kemudian tersenyum mendapati Arya yang sedang berdiri menatap ke arahnya.

__ADS_1


" Ra, ayo kita ke sana lagi." Anindita kembali mengajak Azzahra ke depan.


" Mas ..." Anindita menyapa Arya. " Sudah pulang?" tanyanya kemudian.


" Belum, aku ini mampir sebentar. Ini untukmu dan Rama." Arya kemudian menyerahkan bungkusan makanan itu kepada Anindita. " Rama mana?"


" Rama, ada di ruangan Ci Lucy," ucap Anindita. " Sebentar aku panggilkan." Anindita baru saja melangkah namun Arya melarang.


" Nggak usah, Nin. Aku mau buru-buru pergi." Arya melirik ke arah jam tangannya.


" Aku bawa nasi untuk pegawai yang lain nanti dibagi, ya!" ujar Arya lagi.


" Ya, kurang satu nih, Pak Kepsek. Ada karyawan baru soalnya," seru Mita.


" Wah, saya nggak tahu ada pegawai baru di sini. Ya sudah, lain kali nanti belinya ditambah." Arya menjawab. " Aku pamit dulu ya, Nin. Assalamualaikum ..." Arya langsung berpamitan kepada Mita dan Azzahra.


" Waalaikumsalam." Mereka menjawab bersamaan sementara Anindita ikut mengantar Arya sampai ke mobilnya.


" Itu suaminya Mbak Anin, Mbak?" tanya Azzahra kepada Mita.


" Calon suami." Mita menyahuti.


" Oh, saya pikir papanya Ramadhan," ucap Azzahra.


Sepeninggal Anindita dan Arya, Mita dan Azzahra lanjut memperbincangkan mereka berdua.


***


Anindita bersiap-siap ingin ke bank saat dia melihat Lucy sedang bicara dengan Azzahra.


" Kamu ikut kawal bunga ini ke penerimanya, ya!" Lucy memberikan perintah ke Azzahra seraya menyerahkan nota dan tanda terima yang harus ditanda tangani pihak penerima.


" Baik, Bu ... tapi saya tidak tahu tempatnya, Bu." Azzahra menyahuti.


" Supirnya tahu, kok. Kamu tinggal ikut saja, nanti kamu serahkan nota ini ke pemesannya langsung." Lucy kembali memberikan arahan.


" Biar saya sekalian saja yang antar, Ci. Saya kebetulan mau ke bank sekalian mengantarkan karangan bunga dari Pak Elang untuk Angkasa Raya Group," ujar Anindita.


" Jangan, Nin. Kamu 'kan nanti mau ke bank. Biar nanti Azzahra saja yang antar ke Alexa Botique," ujar Lucy.


" Oh ya sudah, saya berangkat duluan, Ci." Anindita berpamitan kepada Lucy.

__ADS_1


" Kita antar karangan bunga ini dulu ya, Pak?" tanya Anindita pada Pak Daus saat naik ke dalam mobil.


" Sepertinya ke Bank dulu, Mbak Anin. Soalnya ini bukan dikirim ke alamat ke kantor perusahaannya, tapi ke apartemen." Pak Daus menerangkan.


" Oh gitu, ya sudah nggak apa-apa, Pak."


Sementara itu sudah hampir satu bulan ini Ricky kembali ke Jakarta karena semua permasalahan yang terjadi di Kalimantan sudah berhasil dia tanggani. Walaupun nantinya tiap satu bulan sekali dia masih harus pergi ke sana untuk memantau perusaahan di sana.


Hari ini Ricky ditugaskan Dirga untuk mengontrol Grand Opening apartemen baru milik Angkasa Raya.


Ricky nampak berbincang dengan Pak Syamsul, membicarakan kesiapan untuk acara esok hari.


Sementara Anindita baru saja sampai di bangunan apartemen milik Angkasa Raya. Sementara Pak Daus dan satu orang pagawai laki-laki menurunkan karangan bunga, sementara Anindita berjalan ke arah security yang berjaga di depan.


" Siang, Pak. Saya dari Alabama Florist ingin mengantarkan karangan bunga pesanan dari PT. Elang Saputra." Anindita menyerahkan lembaran tanda terima, meminta security itu menantadatangani tanda terima itu.


" Oh, baik, Mbak." Security membubuhkan tanda tangannya.


Sementara Anindita mengedar pandangan ke dalam lobby utama apartemen itu. Namun pandangan mata Anindita berpusat pada seorang pria tampan yang sedang berbincang di depan pintu lift. Anindita mengeryitkan keningnya melihat orang itu hingga dia mencoba melangkah ke dalam untuk memastikan pandangannya. Wajah Anindita seketika memucat saat dia bisa menatap dengan jelas wajah pria itu, wajah pria yang sangat mirip dengan wajah Ramadhan. Saat itu juga jantung Anindita berdetak lebih kencang dan dengan nafas yang terasa tercekat di tenggorokan.


" Eh, Mbak ... Mbak nya mau ke mana?" Suara security tadi mengagetkan Anindita hingga akhirnya dia menyenggol standing banner yang ada di dekat pintu lobby.


Ricky sendiri yang sedari tadi serius berbincang dengan Pak Syamsul dibuat terkesiap saat dia mendengar suara benda terjatuh hingga membuatnya menoleh ke arah suara itu berasal.


Tak berbeda jauh dengan Anindita, Ricky langsung menautkan kedua alisnya saat mendapati Anindita yang terlihat pucat menatapnya.


Anindita yang menyadari saat ini Ricky pun menatapnya langsung bergegas keluar ke arah mobil setelah membenarkan posisi banner itu.


" Pak, ayo cepat berangkat!" Anindita segera masuk ke dalam mobil dengan wajah ketakutan.


" Lho, kenapa memangnya, Mbak Anin?" tanya Pak Daus sembari menyalakan mesin mobil.


" Sudah cepat jalannya, Pak! Buruan!!" pinta Anindita dengan mata yang berkaca-kaca yang tak lama cairan bening menetes di pipinya, karena bayangan demi bayangan tentang kejadian kelam lima tahun silam kembali membuka luka di hatinya atas pertemuan tak terduga dengan pria yang pernah merenggut kesuciannya itu.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2