
Ricky dan Anindita sudah kembali ke apatemen setelah melewati tiga malam menginap di hotel. Sudah pasti selama tiga hari itu yang mereka lakukan di sana adalah aktivitas bercinta yang selalu diminta oleh Ricky namun nikmati oleh mereka berdua.
" Ma, mosternya muncul lagi ya, Ma? Kok merah-merahnya di badan Mama jadi banyak?" Ramadhan melihat tanda yang dibuat Ricky di dada Anindita saat sedang memberi ASI kepada Arka.
" Mosternya itu suka sama Mama, Rama." Ricky memeluk tubuh Ramadhan lalu menjatuhkan dirinya bersama-sama di atas tepat tidur hingga membuat Ramadhan tertawa. Sementara Anindita nampak melotot mendengar penjelasan dari Ricky soal monster namun Ricky tak memperdulikannya.
" Saya harus ke kantor sebentar. Sebelum Maghrib saya sudah sampai di rumah." Ricky kemudian bangkit kembali lalu mengecup kening Anindita lalu mencium Arka. " Rama mau ikut Papa?" Ricky mengajak Rama untuk ikut dengannya.
" Jangan ajak Rama! Nanti dia mengganggu pekerjaan Bapak." Anindita melarang Ricky membawa putra mereka karena menurutnya itu akan membuat Ricky tidak akan konsentrasi dalam bekerja.
"Anak Papa ini pintar, kan? Jadi akan mungkin ganggu kerjaan Papa." Ricky mengusap kepala Ramadhan. " Ayo, Rama!" Ricky kemudian mengulurkan tangannya kepada Ramadhan yang langsung disambut bocah kecil itu.
" Ma, Rama ikut Papa kerja dulu, ya?" Ramadhan kemudian mencium punggung tangan Anindita
" Rama jangan nakal, jangan ganggu Papa.kerja.' Anindita menasehati anaknya agar tidak merepotkan Ricky di kantornya.
" Iya, Ma." Ramadhan dengan cepat menyahuti. " Mama ditinggal sendirian nggak apa-apa.kan, Ma?" Ramadhan tiba-tiba merasa khawatir terhadap Mamanya itu. Dia kemudian menoleh ke arah Ricky.
" Di sini nggak ada monster 'kan, Pa?" tanya Ramadhan kepada Papanya.
Ricky menyeringai menanggapi ucapan putranya.
" Aman kok, di sini. Sudah ayo kita berangkat. Assalamualaikum, Mama Anin."
" Waalaiakumsalam ...."
" Kok nggak ada Papa Ricky nya, Ma?" Ucapan Ramadhan membuat Anindita mengeryitkan keningnya.
" Tadi Papa bilang ' Assalamualaikum, Mama Anin' harusnya Mama jawabannya ' Waalaikumsalam, Papa Ricky' gitu, Ma." Ramadhan seolah menggurui orang tuanya.
Anindita langsung membulatkan bola matanya mendengar penjelasan Ramadhan, sedangkan Ricky nampak terkekeh. Namun tak lama dia kemudian membawa Ramadhan keluar dari kamarnya.
***
" Assalamualaikum, Mbak Mita." Anindita menyapa Mita yang terlihat sibuk membuat hand bouquet dari baby's breath flower. Sepertinya hari ini sedang ada pesanan buket untuk acara pernikahan.
" Waalaikumsalam, eh ... ada Ibu bos." Mita segera mengakhiri aktivitasnya lalu menghampiri Anindita yang saat itu sedang menggendong Baby Arka di lengannya. " Oh hallo, Baby Arka ganteng, sedang jalan-jalan sama Mama, ya?" Mita kini menyapa bayi yang belum genap berusia dua bulan itu.
" Gimana kabarnya pengantin baru? Bagaimana malam pengantinnya? Sudah begituan 'kan Mbak sama Pak Ricky?" ledek Mita menggoda Anindita.
__ADS_1
" Apaan sih, Mbak!" Anindita langsung tersipu malu bahkan rona merah langsung membias di wajah berkulit putih itu.
" Papa Ricky perkasa nggak, Mbak?" Mita kembali meledek.
" Sudah jangan bicarakan itulah, Mbak!" Anindita merasa keberatan saat Mita terus saja menggodanya.
" Berbagi pengalaman dong, Mbak! Mbak Anin 'kan sudah dua kali, saya belum sama sekali. Jadi saya harus belajar dari Mbak Anin, nih." Mita terkikik tak henti-henti menggoda Anindita.
" Nggak perlu belajar, cepat nikah biar tahu gimana rasanya!" ucap Anindita yang enggan menceritakan bagaimana pengalaman malam pertama setelah pernikahannya dengan Ricky.
" Memang rasanya gimana, Mbak?" Mita tergelak karena merasa berhasil memancing Anindita.
" Sudah ah, jangan bicarakan itu lagi!" Anindita mengibas tangannya ke udara meminta agar Mita berhenti membicarakan soal dia dan juga Ricky.
" Toko makin rame sekarang ya, Mbak?" Anindita sengaja mengalihkan topik pembicaraan agar Mita tidak terus menggodanya.
" Iya Alhamdulillah, Mbak. Tiap hari ada saja pesanan yang masuk," sahut Mita.
" Syukurlah kalau begitu Aku ikut senang usaha Ci Lucy yang di sini juga makin berkembang."
" Oh ya, Mbak Anin. Makasih ya atas motornya."
" Makasih untuk motor? Motor apa, Mbak?" tanya Anindita bingung.
" Motor pemberian dari Pak Ricky itu, lho."
" Motor pemberian dari Pak Ricky? Memang Pak Ricky kasih motor ke Mbak Mita? Kapan? Aku nggak tahu lho, soal ini." Anindita benar-benar dibuat bingung dengan ucapan Mita soal motor.
" Lho, Mbak Anin nggak tahu memangnya? Aku sama Mbak Yeti masing-masing dikasih motor sama Pak Ricky. Kalau karyawan lain dikasih uang lima jutaan sama Pak Ricky, aku sama Mbak Mita saja yang beda." Mita menjelaskan tentang maksud ucapannya.
" Pak Ricky bagi-bagi motor sama uang? Dalam rangka apa?" Anindita semakin dibuat penasaran.
" Kata Pak Ricky sebagai ucapan terima kasih karena kami-kami ini sudah bantu jaga Mbak Anin dan Rama selama ini." Mita menerangkan alasan yang diberikan Ricky saat memberikan hadiah itu kepada karyawan Alabama Florist.
Anindita menghela nafasnya dalam-dalam. Dia tidak menyangka jika pria yang kini telah menjadi suaminya itu benar-benar menghargai pertolongan orang-orang yang selama ini berada dekat dengan Anindita. Setelah Koh Leo dan Sandra yang dihadiahi sebuah restoran. Lucy yang diberi toko florist. Kini giliran rekan kerja Anindita dulu yang kebagian mendapatkan hadiah dari pria itu.
***
Anindita mengusap wajah Ramadhan yang sudah terlelap dalam mimpinya. Dia lalu mengecup pipi putranya itu.
__ADS_1
" Jika Rama sudah besar nanti, Rama harus sehebat Papa ya, Sayang." Anindita mengucapkan harapannya. Meskipun baginya Ricky tetap bersalah karena memper*kosanya, namun diluar kesalahannya itu Ricky adalah sosok pria yang sangat bertanggung jawab dan teguh pada pendiriannya.
Anindita lalu melangkah keluar kamar Ramadhan dari arah pintu samping hingga terhubung langsung ke kamarnya dan suaminya.
" Rama sudah tidur?"
" Astaghfirullahal adzim!" Anindita tersentak kaget saat mendengar suara Ricky dari arah belakang dia berdiri saat menutup pintu.
" Kamu kaget? Apa kamu lupa jika kamu sekarang ini sudah bersuami?" Ricky melingkarkan tangannya di pinggang Anindita sementara bibirnya mengecup pucuk kepala istrinya itu.
" Apa kamu siap melakukannya lagi?" Kini bibir Ricky sudah berada di telinga Anindita hingga hembusan nafas Ricky terasa hangat di telinganya dan itu sukses menghadirkan gelenyar aneh di tubuh Anindita..
" Hmmm, t-tadi siang Mbak Mita bilang Bapak memberikan dia motor. Kenapa Bapak repot-repot memberi hadiah kepada teman-teman saya?" Anindita mencoba mengalihkan perhatian Ricky. Setidaknya agar suaminya itu tidak mengajaknya berhubungan badan kembali.
" Itu pantas mereka dapatkan," sahut Ricky tanpa menghentikan aktivitasnya mencumbu Anindita. Kini bibir pria itu sedang menjelajahi tengkuk dan ceruk leher Anindita hingga membuat tubuh Anindita menggeliat menahan rasa geli. Apalagi saat Ricky semakin mengeratkan pelukannya dan tangan pria itu mulai masuk ke dalam baju tidur Anindita dan meremas kedua bongkahan milik istrinya itu.
Ricky lalu mengangkat tubuh Anindita dan merebahkan perlahan di atas tempat tidur. Dia kemudian mengungkung tubuh istrinya dan perlahan membuka satu-persatu kancing baju tidur Anindita.
" A-apa kita harus melakukan lagi sekarang?" tanya Anindita berharap suaminya itu menghentikan aksinya.
" Tentu saja, kita ini pengantin baru." Ricky kini menjelajahi kedua bongkahan milik Anindita dengan lidah juga bibirnya.
" N-nanti kalau Rama bangun gimana?" Tentu saja pintu penghubung antara kamar mereka dan kamar Ramadhan yang tidak terkunci membuat Anindita khawatir jika anaknya itu tiba-tiba bangun dan menyaksikan aksi mereka berdua.
" Kamu tidak usah khawatir. Dua meter sebelum Rama sampai pintu kamar, saya sudah pasang sensor. Jadi dari sini akan berbunyi jika Rama berjalan kemari." Ricky kini mengecup bibir Anindita dengan rakusnya.
Sedangkan Anindita langsung membulatkan bola matanya mengetahui antisipasi yang dibuat oleh suaminya.
Setelah puas dengan bibir dan kedua asset di dada Anindita kini Ricky mulai bermain di sekitar Inti Anindita. Dia benar-benar membuat tubuh Anindita melengkung dengan suara rintihan dan de*sahan karena kali ini Anindita sudah terbakar ga*irah yang dipercikan oleh suaminya itu. Apalagi saat bagian inti Anindita sudah mulai dimasuki milik Ricky membuat Anindita mengerang.
" Aaaakkhh ..." Entah berapa kali suara desa*han itu meluncur dari bibir sensual Anindita. Pandangan mata wanita kini sudah tertutup ga*irah yang membuncah. Ricky yang melihat Anindita benar-benar menikmati penyatuannya langsung menyergap bibir Anindita. Dia melu*mat bibir kenyal itu penuh naf*su hingga tanpa sadar Anindita yang kini sedang merasakan kenikmatan surga dunia itu akhirnya menyambut ciuman dari sang suami.
Ricky yang nampak terkejut istrinya itu merespon ciumannya langsung menaikkan tempo gerakannya di dalam inti Anindita. Dan juga semakin intens mengeksplor bagian rongga mulut Anindita membuat lidah mereka saling bertautan dan saling menyesap, hingga kini suara decapan sesekali terdengar di antara suara de*sahan dan erangan Anindita juga Ricky.
*
*
*
__ADS_1
Happy Reading ❤️