
Arya mendengarkan setiap kalimat demi kalimat yang disampaikan Ricky kepadanya. Dia berpikir jika saja dia telat bertemu dengan Anindita, bukan tidak mungkin Anindita akan jatuh hati pada pria di hadapannya itu setelah dia tahu perjuangan Ricky selama lima tahun mencari Anindita.
" Saya rasa saya sudah cukup menjelaskan alasan saya, Pak Arya. Jika Pak Arya berkenan mengijinkan saya berbicara dengan Nona Anindita dan bertemu Ramadhan, Pak Arya bisa menghubungi saya." Ricky lalu mengeluarkan kartu namanya dan dia letakan di meja.
Ricky kemudian berdiri. " Saya pamit dulu, Pak Arya. Sekali lagi maaf sudah mengganggu waktu Pak Arya, Permisi ..." Ricky kemudian berpamitan lalu berjalan turun ke bawah dan meninggalkan Arya yang masih bergeming.
Setelah melihat Ricky berlalu dari hadapannya, Arya kemudian mengambil kartu nama milik Ricky, dan jantungnya seakan berhenti berdetak saat dia membaca kartu nama milik Ricky.
***
" Mas ...."
" Nin ...."
Anindita dan Arya berucap bersamaan saat mereka berdua berada di rumah makan sore ini, karena setiap sore jelang malam, Arya selalu menemui dan menemani Anindita sekedar makan atau menjadi udara malam.
" Apa?"
" Kenapa?
Kembali Anindita dan Arya berebut bicara.
" Mas dulu deh yang bicara ...."
" Kamu dulu saja, aku lihat seperti ada yang sedang kamu pikirkan." Arya sepertinya bisa menangkap kegelisahan di hati wanita yang akan segera menjadi istrinya itu.
" Iya, Mas ..." lirih Anindita.
" Ada masalah apa?" selidik Arya.
" Soal pria itu." Anindita menatap mata Arya.
Arya menghela nafas mendengar masalah apa yang membuat Anindita terlihat tak tenang.
" Kenapa dengan pria itu?" tanya Arya.
" Kemarin dia menemui Ci Lucy dan bilang ke Ci Lucy jika dia hanya ingin diberi kesempatan untuk meminta maaf dan bertemu dengan Rama. Ci Lucy bilang dia nggak berniat merebut Rama dari aku, Mas."
Arya diam untuk beberapa saat.
" Lalu keputusan kamu sendiri bagaimana?"
" Aku bingung, Mas. Terus terang aku merasa takut, aku masih trauma dengan kejadian itu." Anindita menyampaikan isi hatinya.
" Tapi memang bagaimanapun dia adalah ayah kandung dari Rama, Nin."
" Lalu aku harus bagaimana, Mas?"
Arya kembali menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya berkata, " Sebaiknya kamu memberi kesempatan dia bicara dan bertemu Rama."
" Tapi aku takut, Mas."
__ADS_1
" Aku akan mendampingimu. Aku ijinkan kalian bertemu, tapi aku akan ada di dekat kalian," tegas Arya. Arya memilih tidak menceritakan kepada Anindita jika semalam Ricky pun datang ke rumahnya.
" Baiklah, Mas. Kalau Mas Arya mau menemani, aku bersedia bertemu dengan Tuan itu." Akhirnya Anindita bersedia bertemu dan memberikan kesempatan kepada Ricky untuk memberikan penjelasan.
***
Ricky menatap gambar foto Ramadhan tanpa berkedip, hatinya selalu berdesir setiap menatap miniatur dirinya itu. Dia tidak pernah menduga jika dia sudah mempunyai keturunan walaupun itu didapat bukan dari cara yang legal.
Ddrrtt ddrrtt
Ricky menoleh ponsel di tepi tempat tidurnya. Dia lalu meraih alat komunikasi yang sangat vital itu dan mendapati deretan angka yang terasa asing di ingatannya.
" Hallo ..." Ricky mengangkat panggilan telepon itu.
" Selamat Malam, Tuan Asisten. Saya Arya. Saya sudah diskusi dengan Anin, dan Anin bersedia bertemu dengan Anda." Ternyata Arya lah yang menghubunginya.
Serasa diguyur air di musim kemarau, itulah yang Ricky rasakan saat ini mengetahui ternyata dirinya telah diberi kesempatan untuk bertemu buah hatinya itu.
" Tapi dengan syarat," lanjut Arya.
" Apa syaratnya?" sahut Ricky.
" Saya akan menemani Anin saat bertemu dengan Anda," jawab Arya.
" Oh ... silahkan, Pak Arya. Saya tidak keberatan untuk itu. Saya sangat memaklumi jika Nona Anindita pasti butuh ditemani orang yang membuatnya nyaman." Ricky menyetujui syarat yang diajukan Arya.
" Ada satu syarat lagi," ujar Arya.
" Apa itu?" tanya Ricky.
Deg
Seketika hati Ricky mencelos mendengar syarat yang rasanya sangat berat untuknya itu.
" Itu permintaan Anin, bukan dari saya. Rama masih terlalu kecil untuk memahami apa yang terjadi sampai dia bisa terlahir ke dunia ini." Arya menjelaskan apa yang diinginkan Anindita.
" Saya harap Anda jangan terlalu egois ingin cepat mendapat pengakuan sebagai ayah oleh Rama. Biarlah dia mengetahuinya nanti setelah dia cukup memahami keadaan yang sebenarnya' tegas Arya kembali.
" Bagaimana, Tuan Asisten? Apa Anda keberatan dengan syarat yang kami ajukan?"
Ricky menarik nafas yang terasa berat dihirupnya.
" Baiklah, saya setuju dengan syarat itu." Ricky tak mempunyai pilihan lain selain menyetujui apa yang disyaratkan oleh Anindita dan Arya.
" Baiklah kalau begitu, silahkan kapan Anda punya waktu luang untuk mengatur jadwal bertemu dengan kami,"
" Baiklah, saya akan kabari segera," ucap Ricky
" Baiklah, itu saja yang ingin saya sampaikan, selamat malam." Arya mengakhiri panggilannya.
Ricky mengulum senyuman seraya kembali menatap wajah Ramadhan.
__ADS_1
" Tak apa kamu tidak mengetahui Papa sebagai Papa kamu, Nak. Bisa melihatmu dan dekat denganmu itu sudah cukup untuk Papa." Ricky lalu mengecup lembut foto Ramadhan merasakan jika saat ini sosok Ramadhan lah yang sedang dikecupnya.
***
" Selamat malam, Tuan, Nyonya ... silahkan." seorang pelayan restoran menyambut kedatangan Arya, Anindita dan Ramadhan.
" Malam," sahut Arya. " Mbak, saya ingin bertemu dengan Tuan Ricky Pratama, dia sudah reservasi tempat, kan?" tanya Arya kepada pelayan itu.
" Oh, Tuan dan Nyonya ini tamunya Tuan Ricky? Mari ikut saya ..." Pegawai restoran itu kemudian membawa ke private room yang sudah dipesan oleh Ricky.
" Silahkan, Tuan ..." Pelayan itu membuka pintu private room setelah mengetuk pintunya.
" Terima kasih, Mbak." Arya menyahuti.
" Selamat malam Pak Arya, Nona Anindita, Hai Rama ..." Ricky yang sudah berada di dalam ruangan langsung menyambut kedatangan Anindita, Arya dan Ramadhan.
" Om itu siapa, Ma? Kok kenal Rama sih, Ma?" tanya Ramadhan saat Ricky menyapanya.
" Hmmm ...." Anindita bingung harus menjawab apa.
" Dulu Om teman Mama Rama." Ricky dengan cepat menyerobot jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Ramadhan seraya mengusap lembut kepala bocah itu. Hatinya berdebar-debar saat harus bersentuhan langsung dengan bocah yang merupakan darah dagingnya itu.
Sementara jawaban Ricky sontak membuat Anindita dan Arya langsung menatap ke arah Ricky.
" Maaf ..." ucap Ricky meminta maaf atas kelancangannya mengaku sebagai teman lama Anindita.
" Silahkan duduk ..." Ricky kemudian mempersilahkan Anindita dan Arya duduk di ruangan private room yang cukup mewah itu.
" Rama, Apa Rama mau lihat ikan? Itu di sana ada aquarium." Ricky menunjuk ke arah Aquarium di sudut ruangan.
" Mau, Om ..." Ramadhan mengangguk antusias.
" Vi, tolong ajak Rama melihat-lihat ikan di sana." Ricky memerintah seorang wanita belia untuk menemani Ramadhan.
" Baik, Pak Ricky." Ovi menyahuti. Ovi merupakan anak dari pengurus vila milik Ricky di Pangandaran dan juga mengurus apartemen Ricky di Jakarta ini.
" Ayo Rama ikut Mbak Ovi lihat-lihat ikannya." Ovi lalu mengulurkan tangannya yang langsung disambut tangan mungil Ramadhan.
" Nona Anin, saya benar-benar menyesali perbuatan terkutuk saya terhadap Nona saat itu. Tapi percayalah, Nona. Saya tidak pernah berniat jahat sedikit pun terhadap Nona ...."
" Saya sudah dengar dari Ci Lucy." Anindita memotong perkataan Ricky. Rasanya dia tidak sanggup jika harus diingatkan kembali akan peristiwa malam itu.
" Sekali lagi saya minta maaf, Nona." Ricky berucap dengan penuh penyesalan.
" Sudahlah, jangan ingatkan peristiwa itu lagi. Sekarang ini mau Tuan apa?" ketus Anindita menatap dengan tajam seakan menembus bola mata Ricky yang juga kini sedang menatapnya.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️