ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Kode Alam


__ADS_3

Anindita tertegun menatap Ricky karena sebutan yang diucapkan Ricky kepadanya sedikit berubah.


" Pekerjaan kamu ini jangan sampai bikin kamu kelelahan juga. Ingat kalau kamu sekarang sedang hamil jadi jangan terlalu ngoyo kerjanya. Kamu kerja hanya untuk mengisi waktu senggang biar nggak merasa jenuh, bukan untuk mencari nafkah. Karena saya sudah katakan jika semua kebutuhan kamu dan Rama saya yang akan tanggung." Kata-kata Ricky yang sangat tegas membuat Anindita mengerjapkan matanya.


Anindita tidak tahu harus mengatakan apa untuk membalas perkataan Ricky. Lidahnya terasa kelu hingga dia tidak bisa bergerak untuk mengatakan sepatah kata pun. Tak beda dengan Anindita, Mita juga yang berada di sana hampir tak berkedip mengetahui perhatian Ricky yang begitu besar terhadap Anindita.


" Rama sudah pulang?" tanya Ricky kemudian.


" S-sudah, dia sedang disuapi Mbak Tita." Akhirnya ada juga kalimat yang keluar dari mulut Anindita.


" Kamu sendiri sudah makan?" tanya Ricky.


" Sudah," jawab Anindita asal.


" Belum, Tuan. Tadi saya tawari mau makan apa, Mbak Anin bilang nanti saja belum lapar." Disaat yang bersamaan, Mita pun ikut menjawab pertanyaan Ricky, hingga jawaban Anindita dan Mita bertentangan.


Anindita membelalakkan matanya menoleh ke arah Mita, sedangkan Ricky menatap sampai memicingkan matanya ke arah Anindita.


" Kamu belum makan? Apa kamu merasa kenyang dengan hanya menciumi aroma. bunga itu?" sindir Ricky mendapati jawaban Anindita yang ternyata berbohong kepadanya.


" Cepat ikut saya!" perintah Ricky meminta Anindita mengikutinya.


Anindita kemudian menoleh ke arah Mita yang nampak terlihat tersenyum seraya mengedikkan pundaknya, membuat Anindita akhirnya mengikuti langkah Ricky yang membawanya ke rumah makan yang terletak tidak jauh dari toko bunga Alabama. Anindita layaknya seorang anak yang menuruti apa yang diperintah oleh orang tuanya.


" Duduklah di sini!" Ricky menarik kursi untuk diduduki Anindita sementara dia sendiri langsung menuju tempat etalase yang menyediakan beberapa jenis masakan.


Anindita mengedar pandangan sekitar rumah makan yang sepertinya terdiri dari tiga unit ruko yang digabung menjadi satu restoran yang terlihat sangat nyaman tempatnya. Beberapa orang terlihat sedang menyantap makanan di restoran itu yang dia duga adalah penghuni-penghuni dari apartemen ini.


" Ini, makanlah ...!" Anindita kembali terkesiap saat Ricky menyodorkan nampan berisikan sepiring nasi lengkap dengan ayam goreng, rolade daging sapi, tahu goreng, kerupuk udang dan semangkuk sup jagung dan sepiring potongan buah melon, pepaya juga sebotol air mineral.


Kemudian Ricky menarik kursi dan duduk di hadapan Anindita membuat Anindita menatap heran ke arah pria itu bukannya langsung menyantap makanan di hadapannya yang telah disiapkan oleh Ricky.


" Apa kamu kenyang hanya dengan menatap saya?"


Pertanyaan Ricky membuat Anindita mengerjap.

__ADS_1


" Saya makan ini semua, Tuan?" tanya Anindita kemudian.


" Panggil saja saya Ricky tanpa embel-embel Tuan, kamu bukan pegawai saya," ujar Ricky tak menjawab pertanyaan Anindita.


" Lalu saya harus panggil apa jika bukan Tuan?" gumam Anindita.


" Kamu bisa panggil saya Pak Ricky seperti Cika atau Mita," sahut Ricky yang sepertinya mendengar gumaman Anindita membuat bola mata Anindita membulat sempurna. Anindita benar-benat dibuat salah tingkah dengan sikap dan perkataan Ricky hari ini.


" Cepatlah dimakan, ini sudah hampir jam satu, kasihan bayi yang ada di perut kamu kalau kamu sampai telah makan." Ricky kembali menasehati.


" Hmmm, Bapak sendiri tidak makan?" tanya Anindita karena dia tidak melihat pria itu mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


" Saya tidak hamil dan tidak ada bayi dalam perut saya yang harus saya beri makan. Jadi kamu tidak usah memikirkan saya, makan saja makanan kamu."


Anindita menelan salivanya mendengar jawaban Ricky yang terkesan absurd.


" Siapa juga yang memikirkan dia? Aku tanya karena dia yang mengajak kemari, masa aku yang makan sendiri?" gerutu Anindita dalam hati.


" Apa perlu saya suapi agar makanan cepat habis?"


Sementara Ricky harus menahan tawanya melihat Anindita yang terlihat ketakutan dengan ancamannya hingga wanita itu terburu-buru menyantap makanannya.


" Pelan-pelan makannya nanti tersedak." Ricky memperingatkan.


Anindita menoleh ke arah Ricky.


" Apa Bapak bisa berpindah tempat? Jangan di depan situ. Saya merasa nggak nyaman makan sambil diawasi seperti ini," ucap Anindita karena dia merasa jengah diperhatikan seperti itu oleh Ricky.


" Makanlah, saya tidak akan memperhatikanmu!" Ricky lalu mengambil ponselnya kemudian membuka berita seputar bisnis hingga Anindita bisa melanjutkan makanannya. Namun tak lama Ricky membuka kamera di ponselnya hingga dia bisa melihat aktivitas Anindita yang sedang menyantap makan siangnya dari layar ponselnya itu. Dan Ricky pun merekam aktivitas Anindita tanpa wanita itu ketahui.


Anindita telah menghabiskan makanan yang ada di depannya tadi hingga kini dia mengelus perutnya. Dia merasa kenyang karena semua makanan yang Ricky siapkan untuknya tadi ludes tak tersisa.


" Saya sudah selesai, Pak. Apa saya bisa kembali ke toko lagi?" tanya Anindita.


Ricky pun kemudian berdiri diikuti Anindita yang juga keluar dari restoran itu seraya memegangi perutnya terus, karena dia merasa kekenyangan hingga dia berhenti berjalan.

__ADS_1


" Kenapa?" tanya Ricky yang melihat Anindita menghentikan langkahnya.


" Bapak kalau mau pergi-pergi saja, saya mau istirahat dulu, perut saya rasanya kekenyangan," keluh Anindita.


Ucapan Anindita membuat Ricky memutar langkahnya ke arah Anindita.


" Stop, stop, Pak!" Anindita menghentikan langkah Ricky yang akan mendekat ke arahnya, karena Anindita tahu apa yang akan dilakukan pria itu kepadanya.


" Saya bisa jalan sendiri!" Akhirnya dengan sangat dipaksakan Anindita melangkah menuju toko bunga daripada nanti Ricky akan mengangkat tubuhnya seperti yang beberapa hari lalu pria itu lakukan saat dia naik kursi di dapur. Tidak bisa dibayangkan akan seperti apa malunya jika pria itu sampai benar-benar melakukan hal itu.


" Kalau kamu merasa capek, jangan terlalu dipaksakan kerjanya." ucap Ricky sesampainya Anindita di toko bunga.


" Mbak, tolong awasi Anin! Jangan biarkan dia bekerja yang terlalu berat apalagi mengangkat-angkat. Kalau dia membandel dan tidak mau menurut kabari saya!" Ricky berbicara kepada Mita.


" Baik, Tuan." Mita dengan cepat menjawab.


" Saya pergi dulu, ingat pesan saya tadi!"


" Iya, Tuan!" Mita menyahuti dengan cepat sebelum Ricky beranjak meninggalkan Alabama Florist.


" Yakin aku kalau seperti ini, Mbak. Kode alamnya semakin jelas," ujar Mita saat Ricky sudah keluar meninggalkan Alabama Florist.


" Kode alam apa maksudnya, Mbak Mita?"


" Kode alam kalau Pak Ricky itu sepertinya ada hati sama Mbak Anin." Penjelasan dari Mita sontak membuat Anindita terkesiap.


*


*


*


Bersambung


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2