ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Bertemu Mama Arya


__ADS_3

Anindita menghela nafas panjang saat mobil yang dia tumpangi berhenti di halaman rumah berlantai dua yang nampak sepi. Rasa gelisah langsung merayap di hatinya. Beberapa detik lagi dia akan dipertemukan dengan orang tua Arya. Sungguh satu hal yang membuat hatinya gelisah beberapa hari belakangan ini.


" Ayo turun, Nin."


Anindita terkesiap saat suara Arya terdengar hingga membuyarkan lamunan atas kegundahan hatinya. Anindita lalu menoleh ke arah Arya yang sudah membukakan pintu untuknya.


" Mas, saya takut." Anindita masih memangku erat Ramadhan.


" Ada aku, kamu nggak usah khawatir seperi itu. Sini Rama sama Om ..." Arya kemudian mengangkat tubuh Ramadhan dan menaruh di lengannya.


" Ayo ..." Arya mengulurkan tangannya meminta Anindita untuk menggenggam tangannya. Namun Anindita terlalu malu untuk melakukan hal itu. Dia memilih turun sendiri tanpa bantuan dari mobil Arya.


Anindita melangkah dengan sedikit ragu, bayangan-bayangan menakutkan begitu menghantui perasaannya. Apakah dia akan mendapatkan perlakuan baik dari orang tua Arya? Apakah orang tua Arya bisa menerima masa lalu dia? Dia bukanlah siapa-siapa di banding Arya yang menjabat sebagai kepala sekolah. Sedangkan dirinya hanya yatim piatu yang bernasib malang karena mengalami pemer*kosaan dan harus hamil dari kejadian itu.


" Assalamualaikum, Ma ..." Arya menyapa mamanya saat memasuki bangunan rumahnya yang bergaya tempo dulu.


" Waalaikumsalam, Arya." Seorang wanita yang menggunakan kursi roda muncul di hadapan Anindita, membuat Anindita tertegun mendapati sosok Mama Arya yang ternyata harus menggunakan kursi roda.


" Ini yang namanya Anindita, Arya?" tanya wanita paruh baya itu menatap dan tersenyum ke arah Anindita membuat Anindita pun membalas senyuman Mama Arya seraya menganggukkan kepala.


" Iya benar, Ma. Ini calon menantu Mama."


Kata-kata Arya sontak membuat warna muka Anindita bersemu merah.


Arya kemudian menurunkan Ramadhan yang sejak tadi digendongnya.


" Rama, ayo kasih salam sama eyang ..." Arya meminta Ramadhan mendekati Mama Arya.


Ramadhan yang memang sejak dini diajarkan oleh Anindita untuk bersikap santun pun langsung mendekati Mama Arya, dan tanpa ragu bocah kecil itu lalu meraih tangan Mama Arya kemudian mencium punggung tangannya.


" Anak pintar, siapa namanya anak Sholeh ini?" tanya Mama Arya mengelus pucuk kepala Ramadhan.


" Lamadhan, Eyang." Ramadhan dengan sopan menjawab pertanyaan Mama Arya.


" Aduh, pintar sekali kamu, Nak." Kali ini Mama Arya mengusap pipi chubby Ramadhan.


" Ibu apa kabar? Perkenalkan saya Anindita, Ibu." Kali ini Anindita yang memperkenalkan diri seraya menyalami wanita paruh baya itu.


" Arya banyak cerita tentang kamu," ujar Mama Arya membuat Anindita melirik ke arah Arya yang langsung mengedipkan mata ke dirinya membuat Anindita langsung memalingkan wajahnya.


" Ternyata Arya benar, kamu memang cantik," puji Mama Arya kemudian.


" Ah, Mas Arya terlalu berlebihan, Bu." Anindita tersipu malu.


" Kamu jangan geer, deh. Emang aku cerita apa ke Mama?" Arya sengaja menggoda Anindita seraya meraih handle kursi roda Mamanya dan mengarahkan ke dekat sofa tamu.

__ADS_1


Tentu saja ucapan Arya membuat Anindita salah tingkah dan itu membuat Arya dan Mamanya terkekeh.


" Kamu harus sabar menghadapi Arya yang menyebalkan seperti tadi jika kalian menikah nanti ya, Nin." Mama Arya mencoba memperingatkan.


Anindita mengerjapkan matanya. Sungguh di luar dugaannya ternyata sikap orang tua Arya begitu ramah menyambutnya, tentu saja hal itu membuat hatinya menghangat. Seketika ketakutan yang tadi sempat menghinggapinya menguap seketika.


Acara berbincang pun kemudian disambung dengan acara makan bersama. Suasana terasa hangat di antara mereka, sayangnya kurang komplit karena Putri ternyata memilih menginap di rumah nenek dari mamanya ketimbang kumpul bersama Anindita.


" Bagaimana? Semua aman terkendali, kan?" tanya Arya saat dalam perjalanan mengantar pulang ke tempat Anindita.


" Hmmm ... i-iya, Mas." Anindita menyahuti.


" Aku 'kan sudah bilang kalau Mama aku itu orangnya baik, kamu saja yang terlalu cemas." Arya terkekeh membuat Anindita merunduk malu.


" Oh ya, Nin. Soal tempat tinggal, aku ingin kamu pindah dari sana. Aku sudah bicarakan hal itu dengan bos kamu dan bos kamu itu mengerti. Jadi kamu bisa secepatnya pindah ke tempat tinggal yang layak." Sebelumnya Arya memang meminta Anindita untuk pindah dari tempat tinggal yang ditempati sekarang ini, namun Anindita selalu menolaknya dengan alasan tak enak hati dengan Lucy.


" Mas, sementara ini biarkan saya dan Rama tinggal di sana, setidaknya sebelum saya menjadi istri Mas Arya. Biarkan saya menentukan di mana saya tinggal." Anindita berharap Arya menghargai pilihannya.


" Ehemm, jadi sudah siap jadi Nyonya Arya ini ceritanya?"


Anindita terkesiap, dia tidak sadar jika dia telah mengucapkan kalimat yang benar-benar membuat wajahnya merona merah. Anindita langsung memalingkan wajahnya karena dia terlalu malu, rasanya dia seperti yang mengharapkan menjadi istri Arya.


" Kenapa buang muka seperti itu? Dengan calon suami nggak perlu malu-malu begitu, dong." Arya terus saja menggoda Anindita sehingga membuat Anindita mati kutu.


***


Anindita menghentikan kegiatannya yang sedang menyusun buket-buket ketika terdengar telepon berdering. Segera dia mengangkat telepon PSTN yang terletak di meja dekat kasir.


" Nin, tolong ke ruangan saya sebentar," suara Lucy terdengar dari dalam pesawat telepon.


" Baik Ci." Anindita kemudian bergegas menuju ruangan kerja Lucy.


" Cici memanggil saya?" tanya Anindita kepada Lucy.


" Iya, kamu tolong ajari Azzahra ini bagaimana cara memilih, merawat dan merangkai bunga, Nin. Dia karyawan baru di sini," perintah Lucy kepada Anindita.


" Baik, Ci. Mari Mbak, ikut saya." Anindita membawa wanita berpakaian muslimah yang Lucy bilang sebagai pegawai baru keluar dari ruangan Lucy.


" Kenalkan saya Anindita, panggil saja Anin atau Dita. Mbak ini siapa namanya?" Anindita memperkenalkan seraya mengulurkan tangannya.


" Saya Azzahra, panggil saya Rara saja, Mbak." Wanita cantik itu pun memperkenalkan dirinya seraya menerima uluran tangan Anindita.


Anindita pun memperkenalkan apa yang perlu Azzahra ketahui seputar florist, seperti bagaimana dia pernah menjadi pegawai baru di Alabama florist itu.


" Semoga kamu betah di sini ya, Ra. Di sini lingkungan kerjanya enak," ujar Anindita.

__ADS_1


" Mbak Anin sudah lama kerja di sini?" tanya Azzahra kepada Anindita.


" Hampir dua tahun ini, Ra."


" Mbak Anin orang Jakarta ini?"


" Bukan, saya dari Malang."


" Oh, jauh ya, Mbak. Lalu Mbak Anin tinggal di Jakarta ini di mana?" tanya Azzahra.


" Di belakang toko ini. Itu 'kan ada bangunan, saya tinggal di sana." Anindita menunjuk ke arah tempat tinggalnya yang nampak dari jendela.


* Azzahra ...??"


Keasyikan Anindita yang sedang berbincang dengan Azzahra terhenti saat terdengar suara seseorang memanggil Azzahra membuat Azzahra dan Anindita menoleh ke arah wanita yang memanggil tadi.


" Teh Natasha?" Anindita melihat Azzahra terkesiap melihat kedatangan Natasha, salah seorang pelanggan Alabama Florist.


" Kok kamu ada di sini?" tanya Natasha terheran.


" Lho, Bu Natasha kenal sama Azzahra juga?" Anindita ikutan bertanya karena dia melihat pelanggan di toko florist tempatnya bekerja itu mengenali Azzahra.


" Ya ... iya, aku kenal dia." Natasha menyahuti. " Kamu kok bisa ada di sini, Ra?" Natasha mengulang pertanyaannya.


" Azzahra ini karyawan baru di sini, Bu." Anindita yang menjelaskan karena sedari tadi Azzahra hanya diam seperti terkesima karena kehadiran Natasha.


" Kamu kerja di sini, Ra? Kamu pindah dari Bogor?" selidik Natasha.


" I-iya, Teh." Azzahra berkata lirih.


Anindita memperhatikan interaksi Azzahra dan Natasha yang terlihat nampak kaku bahkan seperti ada aroma persaingan di antara mereka berdua.


Selepas kepergian Natasha, Anindita menanyakan bagaimana Azzahra bisa mengenal Natasha, namun sepertinya Azzahra enggan bercerita banyak kepada dirinya, dan Anindita pun tidak ingin turut campur terlalu dalam urusan Azzahra.


" Mama ..." Tiba-tiba terdengar teriakan Ramadhan berlari ke arah Anindita.


" Ya ampun, Rama. Kenapa mulutnya belepotan seperti ini?" Anindita langsung menarik beberapa lembar tissue lalu membersihkan mulut Ramadhan dari bekas lelehan ice cream. " Ayo cuci dulu mulutnya. Sebentar ya, Ra." Anindita kemudian meninggalkan Azzahra dan membawa Ramadhan ke arah toilet.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2