
Satu jam berlalu, kini Anidita sudah dijemput oleh Lucy. Mereka pun sudah berada di dalam mobil Lucy.
" Kita ke toko dulu saja ya, Nin. Setelah itu kita baru mencari tempat kontrakan buat kamu," ujar Lucy dari belakang kemudinya seraya melirik Anindita yang duduk di belakang seraya memeluk Ramadhan.
" Ci, kalau saya menumpang di tempat saya dulu tinggal boleh nggak? Saya mau ikut bekerja lagi di toko Ci Lucy." ucap Anindita lirih.
" Cici sih boleh-boleh saja, Nin. Tapi kondisi kamu sedang hamil seperti ini kasihan harus tinggal di sana. Kalau kamu mau kerja lagi sih nggak masalah, Cici senang-senang saja kamu kembali kerja di sana," sahut Lucy.
" Iya, Nin. Sebaiknya kamu cari kontrakan saja di dekat-dekat Alabama, biar nggak terlalu repot dan dekat dengan tetangga sekitar. Karena sekarang ini kamu sedang hamil, jadi kalau kamu ada keluhan pas malam hari bisa minta bantuan tetangga sebelah tempat kontrakan kamu." Yeti pun memberikan saran.
" Sekarang saya harus mulai mengirit, Mbak. Saya harus memikirkan biaya persalinan nanti dan juga biaya untuk membesarkan anak-anak." Anindita berpikiran realistis karena setelah pengusiran yang dilakukan oleh adik-adik Arya, sudah pasti dia pun tidak akan menerima uang santunan karena adik Arya pasti tidak akan membiarkan dia menerima uang yang menjadi haknya itu.
" Masalah itu kita bicarakan nanti ya, Nin. Sekarang kamu tenangkan pikiran saja dulu." Lucy mencoba menengahi sambil berpikir, langkah apa yang akan dia ambil untuk membantu Anindita.
***
" Ci, apa sebaiknya kita kasih tahu tentang keadaan Anin kepada Pak Ricky?" tanya Yeti setelah mereka sampai di Alabama Florist, sementara Anindita dan Ramadhan sedang beristirahat di sofa di ruangan kerja Lucy.
" Pak Ricky sedang tugas di luar negeri, Yet. Nggak enak, takut mengganggu pekerjaannya. Nanti saja kalau dia pulang ke sini kita kabari. Lagipula Pak Ricky kalau sudah pulang ke Jakarta pasti akan menemui Rama, kan?"
" Iya sih, Ci." Yeti mendesah. " Saya nggak sangka nasib Anin sampai setragis ini. Ditinggal Pak Arya selama-lamanya saat mengandung dan sekarang diusir dari rumahnya. Padahal sebagai istri Almarhum, Anin juga berhak atas rumah itu apalagi ada anak di dalam kandungan Anin darah daging dari Pak Arya."
" Iya seperti itulah, Yet. Jika ib*lis sudah menguasai hati nurani manusia, tidak ada sedikit pun belas kasihan untuk orang lain," lirih Lucy.
" Kasihan Anin ya, Ci. Dulu hamil Rama nggak didampingi ayah si bayi. Sekarang hamil kedua pun tak ditemani sang suami. Ya Allah, saya kalau jadi Anin nggak tahu bisa bertahan hidup atau tidak." Mita yang sedari mendengarkan percakapan Lucy dan Yeti ikut menimpali.
" Iya, malang sekali nasib Anin. Baru sebentar merasakan kebahagiaan berumah tangga dengan Pak Arya harus kembali bersedih seperti ini." Lucy pun turut merasa prihatin.
" Kehamilan Anin sekarang ini lebih berat cobaannya ya, Ci." Yeti merasakan kesedihan Anindita yang mendalam.
" Iya, karena itu kita mesti bantu dia. Kasih semangat untuk dia agar tidak menjadi down karena masalah ini." Lucy menyahuti ucapan Yeti.
" Tapi saya yakin, Pak Ricky tidak akan tinggal diam melihat Mama anaknya didzolimi seperti itu, Ci," ujar Mita.
" Iya, Mit. Aku juga berharap Pak Ricky kasih pelajaran kepada mereka. Cari mati mereka melawan Pak Ricky." Yeti masih merasakan kesal jika mengingat bagaimana Ria dengan tega mengusir Anindita.
__ADS_1
***
Ricky baru saja kembali dari Dubai, Aktivitasnya di sana benar-benar begitu padat menggantikan Dirga untuk bertemu dengan beberapa CEO di bidang properti dari beberapa negara di Asia.
Ricky memilih ke kantor Angkasa Raya terlebih dahulu untuk melaporkan hasil pertemuan dengan beberapa petinggi perusahaan properti negara lain. Setelah Ricky selesai melaporkan kepada Dirga, sore harinya Ricky memilih mengunjungi rumah Arya. Karena ini adalah hari ke tujuh meninggalnya Arya, dia berniat akan mengikuti acara tahlilan tujuh hari.
Ricky memarkirkan mobilnya di depan rumah Arya yang nampak tertutup rapat. Bahkan gordennya pun nampak tertutup, membuat dia menautkan kedua alisnya.
Ricky kemudian berjalan mendekat ke arah pintu rumah Arya dan menekan bel di dekat pintu, namun tak ada seorang pun yang membukakan pintu untuknya. Setelah menunggu beberapa saat dia memutuskan kembali ke mobilnya dan mencoba menghubungi Tita.
" Tuan Ricky!"
Ricky menoleh saat terdengar seseorang memanggil namanya dari arah sebelah rumah Arya. Tak lama terlihat Bu Wisnu berlari kecil menghampirinya.
" Tuan Ricky, akhirnya Tuan Ricky datang juga." Dengan nafas tersengal Bu Wisnu berkata-kata.
" Ada apa memangnya, Bu? Dan kenapa rumah Pak Arya tertutup? Saya tekan bel dari tadi tapi tidak ada yang membukakan pintu. Memangnya pada ke mana mereka?" tanya Ricky heran.
" Itu dia yang ingin saya sampaikan kepada Tuan Ricky. Bu Arya itu diusir oleh adik-adiknya Pak Arya dua hari lalu." Bu Wisnu langsung memberitahukan kabar tentang Anindita.
' Iya, Tuan. Bahkan adik-adiknya Pak Arya itu sampai membawa preman untuk menyeret Bu Arya keluar dari rumah itu."
Tangan Ricky langsung mengepal, dadanya terasa bergejolak mendengar perlakuan yang diterima oleh wanita yang menjadi Ibu dari anaknya itu.
" Lalu sekarang mereka ada di mana? Apa Ibu tahu?" tanya Ricky.
" Bu Arya dibawa mantan bosnya dulu, Tuan." Bu Wisnu menyahuti.
Ricky sedikit merasa lega saat mengetahui Lucy lah yang membawa Anindita. Setidaknya dia sangat mempercayai pemilik Alabama Florist itu.
" Baik, terima kasih atas informasinya, Bu. Saya permisi kalau begitu." Ricky berpamitan kepada Bu Wisnu.
" Tuan, kalau bisa Tuan beri pelajaran sama adik-adiknya Pak Arya itu! Biar mereka itu tahu rasa! Tidak punya empati sedikitpun." Bu Wisnu nampaknya masih kesal dengan sikap Ria dan Lanny yang nampak arogan.
Ricky hanya sedikit menganggukkan kepalanya sebelum akhirnya dia masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Ricky kemudian memasang headset bluetooth di telinganya dan melakukan panggilan telepon.
" Halo, Den. Kamu ingat waktu saya menyuruh kamu mencari informasi seputar Arya Rahardja yang tinggal di Angkasa Raya Residence?" Ternyata Deni lah orang yang dihubungi Ricky.
" Iya, saya ingat, Pak." Deni menyahuti.
" Saya minta kamu mencari tahu tentang kedua adiknya. Buat karir suami-suami mereka hancur hingga mereka dipecat dari pekerjaannya, dan persulit mereka jika mereka ingin melamar di perusahaan atau instansi manapun!" perintah Ricky menebar ancaman.
" Baik, Pak Ricky. Akan saya laksanakan," jawab Deni
" Oke, Den. Thanks." Ricky kemudian menutup panggilan telepon dengan Deni. Namun tak lama dia melakukan panggilan telepon kembali ke nomer Lucy, mantan bos Anindita di Alabama Florist.
" Halo, selamat sore, Nyonya Lucy. Apa Anin ada di sana?" tanya Ricky to the point saat panggilan teleponnya tersambung dengan Lucy.
" Oh, i-iya, Tuan. Anin ada di sini." Lucy dengan cepat menjawab pertanyaan Ricky karena dia menduga jika Ricky sudah mengetahui tentang kepergian Anindita dari rumah Arya.
" Di mana dia tinggal sekarang?"
" Anin t-tinggal di tempat dia dulu sebelum pindah ke rumah Pak Arya, Tuan."
Ricky mendengus kasar mendengar jawaban Lucy.
" Kenapa tidak ada satu orang pun yang memberitahukan saya tentang masalah ini? Bukankah Nyonya dan anak buah Nyonya Lucy tahu nomer telepon saya?!" Ricky merasa geram karena berita sepenting ini harus ditutup-tutupi darinya.
" Maaf, Tuan. Bukannya kami mau menutupi berita ini, tapi kami tidak enak jika harus mengganggu kesibukan Tuan Ricky." Lucy memberikan alasan kenapa dia tidak segera memberitahukan Ricky.
" Saya mohon pada Nyonya Lucy, jika terjadi sesuatu dengan Anin segera kabari saya! Mau saya ada di mana pun juga, segera hubungi saya! Saya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Rama dan juga ibu dari anak saya!" Kata-kata tegas terlontar dari mulut Ricky.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️