
Setelah pergumulan yang berlangsung kurang dari satu jam itu Anindita segera bergegas ke dalam kamar mandi. Dia berencana membersihkan tubuhnya sebelum masuk waktu sholat Shubuh.
Anindita menatap pantulan dirinya di cermin yang ada di kamar mandi. Dia mendapati beberapa tanda merah di beberapa bagian tubuhnya.
Anindita lalu mengisi bathtub dengan air hangat setelahnya dia merendamkan tubuhnya di dalam bathtub. Rasa pegal akibat pergumulannya tadi rasanya benar-benar terkikis dengan berendam di dalam bathtub berisi air hangat.
" Rasanya pegal sekali ..." gumam Anindita menyadarkan tubuhnya seraya memejamkan matanya.
" Apa saya boleh bergabung di sini?"
Anindita terperanjat hingga membuka matanya saat dia mendengar suara Ricky terdengar di sampingnya.
" Aaakkkhh ... Bapak sedang apa di sini?" Anindita segera melipat tangan di dadanya menutupi kedua aset berharganya dari tatapan mata nakal Ricky.
" Untuk apa ditutupi? Bukannya saya sudah melihat dan merasakan bagian yang kamu tutupi itu?" Ricky kini masuk ke dalam bathtub ikut bergabung dengan Anindita.
" Bapak mau apa, sih? Saya mau mandi, kalau Bapak mau mandi juga, gantian, dong!" Anindita merasa terusik dengan kehadiran Ricky langsung menggerutu karena bathtub itu tidak akan cukup untuk dua orang jika berposisi sejajar menyamping.
" Kita bisa mandi bersama, kan?" Ricky tidak perduli dengan pengusiran yang dilakukan oleh Anindita.
" Tapi bathtub ini nggak akan cukup kalau dipakai dua orang!" protes Anindita.
" Siapa bilang nggak cukup?" Ricky langsung menarik tubuh Anindita hingga kini dia memposisikan tubuh istrinya itu duduk di depannya.
" Kalau posisinya begini, cukup 'kan dipakai berdua?" bisik Ricky dengan dagu bertumpu pada pundak Anindita. Bibirnya pun mulai menyapu kembali kulit mulus istrinya itu.
" Biar saya yang menyabuni." Ricky mengisi telapak tangannya dengan bodywash lalu membalurkan ke tubuh Anindita, membuat wanita itu harus menelan salivanya karena gerakan tangan Ricky yang melumuri sabun mandi itu di seluruh bagian tubuhnya. Bahkan permainan tangan Ricky di bagian kedua assetnya membuat Anindita melenguh tanpa sadar, hingga dia menyandarkan kepalanya di bahu Ricky membuat Ricky semakin bersemangat untuk melakukan percintaan mereka kembali.
Setelah terkali-kali membuat Anindita mendesah dengan sentuhannya, kini Ricky membawa tubuh wanita itu dengan kedua lengannya ke dekat shower untuk membilas sabun yang menempel di tubuh mereka. Waktu Shubuh yang hampir dekat membuat mereka tidak bisa berlama-lama melakukan pemanasan dalam bercinta.
Ricky merapatkan tubuh Anindita ke dekat dinding lalu dia melakukan penyatuan dengan istrinya dengan posisi berdiri. Dan setelah pelepasan itu mereka dapatkan, Ricky menyuruh Anindita untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu sementara dia keluar dari kamar mandi.
Anindita mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Dia tidak pernah menduga jika suaminya yang setahunya tidak pernah melakukan percintaan dengan wanita lain itu ternyata sangat perkasa dan tidak pernah puas menyalurkan hasrat bercintanya.
__ADS_1
Setelah membersihkan diri dan menjalankan ibadah sholat Shubuh, Anindita pun memilih kembali beristirahat karena tubuhnya terasa benar-benar lelah.
***
Anindita mengerjapkan matanya saat dia merasakan sesuatu yang lembut menyentuh pipinya. Anindita kemudian membuka matanya perlahan untuk mengetahui apa yang tadi menyentuh pipinya itu.
" Arka?" Anindita langsung mengangkat punggungnya lalu terduduk saat melihat anaknya yang sedang digendong Ricky lah yang tadi menyentuh pipinya.
" Mama ..." Suara Ramadhan pun kini terdengar di telinga Anindita.
" Rama ada di sini juga?" Anindita langsung memeluk putra pertamanya itu.
" Mama sama Papa curang! Katanya nggak akan menitipkan Rama, kok sekarang bobo di sini nggak ajak-ajak Rama sama adik Arka, sih?!" Ramadhan langsung melancarkan protes.
" Maaf, Sayang. Mama juga nggak tahu kok kalau dibawa ke sini." Anindita lalu melirik ke arah Ricky, dia lalu meminta agar Arka diserahkan kepadanya apalagi saat bayi itu merengek sepertinya sudah kehausan ingin diberi ASI.
" Adek Arka haus, ya? Mau mimi cucu Mama?" Anindita mengajak bicara bayinya.
" Rama sama siapa ke sini?" tanya Anindita
" Semut?" Anindita mengeryitkan keningnya saat mendengar perkataan Ramadhan.
" Iya, tuh ... di badannya Mama juga merah-merah semua." Ramadhan menunjuk bagian dada Anindita hingga membuat Anindita mengarah pandangan yang ditunjukkan oleh Ramadhan.
Anindita sontak membelalakkan matanya lalu melirik ke arah Ricky yang sedang menahan tawanya. Karena tentu saja tanda merah yang ada di tubuh Anindita itu karena hasil karya suaminya itu.
" Semutnya nakal sih, gigit-gigit Mama. Mama pulang saja jangan bobo di sini biar nggak digigit semut lagi." Ramadhan yang masih sangat polos masih beranggapan jika ulah semutlah yang membuat Mamanya mengalami bercak merah di bagian tubuhnya.
" Ini tuh bukan digigit semut, Rama." Anindita kembali melirik Ricky yang terkekeh mendengar dugaan Ramadhan. " Tapi Mama itu digigit monster."
Ricky langsung mendelik saat Anindita mengatakan jika perbuatannya itu karena ulah moster.
" Monster?" pekik Ramadhan terkaget. " Di sini ada monster, Ma?" Ramadhan langsung beringsut merapat ke tubuh Mamanya saat Anindita mengatakan kata monster yang menyebabkan noda merah di tubuhnya.
__ADS_1
" Iya, makanya Mama nggak ajak Rama dan adik Arka bobo di sini." Anindita merasa puas bisa membalas tawa penuh kemenangan Ricky tadi.
" Ma, Rama takut ..." Ramadhan langsung menyembunyikan wajahnya di ketiak Anindita.
" Rama nggak usah takut, Sayang. Monsternya itu hanya muncul malam hari saja. Kalau pagi dan siang hari begini monster nya itu nggak akan muncul apalagi gigit Mama." Anindita mencoba menenangkan Ramadhan yang ketakutan. Sedangkan Ricky hanya menggelengkan kepala saja menanggapi ucapan istrinya itu.
***
" Apa kamu menyukai bulan madu kita?" Anindita tersentak kaget saat Ricky tiba-tiba melingkarkan tangan di pinggangnya saat dia menikmati pemandangan lepas pantai dari balkon kamar hotelnya petang ini.
" Apa kamu ingin tempat yang lebih romantis untuk kita berbulan madu?" tanya Ricky mengecup tengkuk Anindita.
" Tidak usah, saya hanya ingin pulang ke rumah dan berkumpul dengan anak-anak." Anindita menyahuti.
" Kita ini sedang bulan madu, ini momen kita berdua. Sementara ini lupakan dulu anak-anak."
Anindita langsung menepis tangan Ricky yang membelit pinggangnya lalu memutar tubuhnya hingga kini berhadapan dengan pria itu.
" Apa Bapak bilang? Saya disuruh melupakan anak-anak? Mereka berdua itu harta tak ternilai bagi saya, kok bisa-bisanya Bapak menyuruh saya melupakan anak-anak?!" ketus Anindita dengan nada kesal. " Awas ...!!" Anindita mendorong kasar tubuh Ricky untuk menjauh dari tubuhnya lalu dia hendak masuk ke dalam kamar.
" Aaakkkhh ...!" Anindita tersentak saat tubuhnya tiba-tiba melayang di udara karena lengan kokoh Ricky kini sudah mengangkat tubuh Anindita.
" Lepaskan saya! Bapak mau apa lagi?!" ketus Anindita.
" Saya ingin membawamu terbang ke langit ke tujuh agar kamu tidak mengomel terus." Ricky lalu menghempaskan tubuh Anindita ke atas tempat tidur lalu dengan cepat dia menindih tubuh Anindita untuk memulai lagi percintaan mereka menikmati bulan madu mereka.
*
*
*
Thor kenapa panggilnya masih bapak dan saya? Tenang ya ini namanya proses menuju bucin ga mungkin bisa instan jadi kudu sabar nunggu waktu Othor ada waktu buat nulis bonchap nya jugaš
__ADS_1
Happy Readingā¤ļø