
Ricky langsung berjalan ke arah ruang tamu. Ini bukan pertama kali dia melihat wanita dengan berpenampilan menggoda. Sebagai eksekutif muda, tentu saja dia menjadi sasaran empuk wanita cantik dan seksi. Namun tak ada satupun yang sanggup membuatnya tergoda. Tapi dengan Anindita, entah kenapa, hanya melihat leher jenjang dan sebagian dada wanita itu yang sedikit terbuka saja sudah membuatnya salah tingkah dan hatinya berdebar-debar.
Ddrrtt ddrrtt
Ricky langsung mengambil ponsel di saku dalam blazernya.
" Halo ...."
" Assalamualaikum, Selamat pagi, Pak Ricky." Suara Rachel yang kini terdengar di telinga Ricky.
" Waalaikumsalam, pagi Nona Rachel. Ada apa?" tanya Anindita menanyakan ada keperluan apa wanita itu pagi-pagi meneleponnya.
" Maaf, Pak Ricky. Besok weekend apa Pak Ricky ada waktu mengantar saya untuk melihat-lihat apartemen di tempat Ricky tinggal?" tanya Rachel.
" Tentu saja, Nona," sahut Ricky.
" Ah, terima kasih, Pak Ricky. Nanti kita ketemu di toko bunga tempat Anin bekerja saja bagaimana, Pak Ricky?" usul Rachel.
" Silahkan, Nona." Ricky tak menolak permintaan Rachel.
" Ya sudah, saya tutup dulu teleponnya. Maaf kalau pagi-pagi sudah mengganggu, Pak Ricky. Assalamualaikum ...."
" Waalaikumsalam ...."
Sementara itu Anindita yang baru saja selesai membersihkan diri langsung mendekat ke arah pintu kamar mandi sambil mengintip keluar. Dia mencari apa Ricky masih ada di dalam kamar atau sudah keluar dari kamarnya. Dan Anindita menarik nafas lega saat dia tidak mendapati sosok pria itu di dalam kamarnya, membuat Anindita cepat-cepat keluar dan berjalan ke arah pintu kamar dan menguncinya. Dia tidak ingin Ricky sampai tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya. Anindita terus menggerutu dengan bibir mencebik karena sikap Ricky yang dianggapnya seenak sendiri saja.
Selesai Anindita berganti baju, wanita itu pun memilih menemui Ricky. Dia melihat jika Ricky sedang berbincang dengan seseorang di ponselnya. Dan kalau dia tidak salah mendengar, sepertinya Rachel lah yang menelepon Ricky. Anindita mengembangkan senyuman di bibirnya. Tentu saja dia berharap agar Rachel segera bisa membelokkan hati Ricky hingga pria itu tidak terus menerus mengganggunya.
" Kenapa senyum-senyum di situ?" Suara Ricky yang mendapati Anindita tersenyum membayangkan dirinya terbebas dari jebakan pria penuh pesona itu membuat Anindita tersentak.
" Eh, Hmmm ... nggak, nggak ada apa-apa." Anindita terlihat salah tingkah.
" Kita berangkat sekarang." Ricky kemudian berjalan lebih dahulu ke luar apartemen tempat Anindita. Sementara Anindita masih saja berdiri termangu dengan bibir mengerucut.
__ADS_1
" Kenapa masih diam? Mau saya gendong lagi?" Ricky yang menyadari Anindita tidak mengikutinya ke luar kamar langsung memilih kembali masuk ke apartemen dan mendapati wanita itu hanya berdiri mematung.
Anindita akhirnya dengan sangat terpaksa mengikuti langkah kaki Ricky. Namun karena langkah kaki Ricky yang lebar dan gerakan dia yang lambat karena perutnya yang membesar membuatnya susah mengimbangi langkah Ricky.
" Ayo, cepat!" Ricky beberapa kali harus berhenti karena harus menunggu Anindita menyusul langkahnya.
" Saya ini sedang hamil, Pak! Wajar kalau saya agak lamban." Anindita menggerutu.
" Eh, jangan-jangan! Bapak mau apa? Jangan macam-macam di tempat umum, Pak! Saya ini baru ditinggal suami, jangan buat pandangan orang miring terhadap saya!" hardik Anindita saat dia melihat Ricky melakukan gerakan ingin menggendongnya.
" Kalau bukan di tempat umum apa saya boleh macam-macam?" Ricky berjalan mendekat ke arah Anindita hingga wanita itu melangkah mundur ke belakang dan tersudut di dinding. Sementara Ricky terus saja mendekatinya hingga satu telapak tangannya kini dia sandarkan ke dinding membuat jantung Anindita serasa melompat-lompat. Apalagi saat wajah Ricky semakin dekat dengan wajahnya, membuat Anindita memalingkan wajahnya seraya menggigit bibirnya dan wajah Ricky pun kini tepat berhadapan dengan telinga Anindita.
" Saya tidak perduli anggapan orang terhadap kamu seperti apa, karena saya lebih mengenal kamu ketimbang mereka." Suara dan hembusan nafas Ricky yang terasa hangat di telinga Anindita membuat darah Anindita seketika berdesir, bahkan dia harus menelan salivanya saat gelenyar aneh tiba-tiba dia rasakan di dalam tubuhnya
Ricky lalu meraih tangan Anindita, menautkan kelima jarinya dengan lima jari lentik Anindita, kemudian dia kembali melangkah dengan menggenggam erat tangan Anindita membuat hati Anindita semakin berdebar-debar.
" Kamu mau makan apa?" tanya Ricky sesampai di mobil Ricky.
" Terserah ..." sahut Anindita datar.
" Terserah ..." ucap Anindita memalingkan wajah ke luar jendela.
Ricky pun lalu menjalankan mobilnya ke luar basement apartemen.
Selama perjalanan Anindita hanya melemparkan pandangan ke luar jendela. Dia takut terlalu lama dekat dengan Ricky membuat dirinya semakin salah tingkah dan melakukan hal konyol yang akan mempermalukan dirinya.
" Oh ya, besok Nona Rachel meminta saya menemaninya melihat-lihat apartemen. Katanya dia berniat membeli satu unit apartemen Angkasa Raya. Apa itu tidak masalah?" tanya Ricky kepada Anindita saat mobil yang dikendarainya berhenti di traffic light, namun Anindita tidak merespon ucapannya.
" Kalau kamu merasa keberatan, saya cancel acara bertemu dengan Nona Rachel nya."
Anindita tidak juga merespon perkataan Ricky. Pandangan wanita itu kini terfokus ke arah pekarangan di sebuah bangunan di tepi sebelah kiri mobil Ricky. Dia menatap seorang wanita yang sedang mengambil beberapa box makanan dari tas angkut barang yang terpasang di samping kanan kiri jok bagian belakang motornya. Anindita menatap serius wanita itu hingga tanpa sadar dia menarik handle pintu mobil Ricky ingin turun dari mobil namun pintu mobil itu terkunci.
Ricky yang menyadari Anindita hendak membuka pintu mobil langsung menoleh ke arah wanita itu.
__ADS_1
" Kenapa?" tanya Ricky heran.
" Tolong buka pintunya ..." Anindita kembali menarik handle pintu.
" Mau apa? Kita sedang di lampu merah, untuk apa kamu keluar?" tanya Ricky merasa aneh dengan sikap Anindita.
" Saya mau keluar cepat buka pintunya." Anindita sampai memukul-mukul kaca pintu.
" Kamu tidak bisa keluar, Anin! Kendaraan yang akan berbelok ke arah kiri ramai!" hardik Ricky melihat Anindita yang bersikeras ingin turun.
" Pak, saya ingin turun! Tolong buka pintunya ..." pinta Anindita memohon.
" Kenapa kamu ingin turun? Kamu ingin kabur?" tanya Ricky menuding jika Anindita ingin kabur dari mobilnya.
" Itu, orang itu!" Anindita menunjuk orang yang membawa box makanan itu masuk ke dalam gedung.
" Cepat buka pintunya, Pak! Nanti dia keburu pergi!" Anindita meninggikan suaranya.
" Tunggu sebentar, nanti saya akan belok ke kiri tapi tunggu lampu hijau karena mobil saya tidak bisa bergerak." Setelah traffic light berwarna hijau Ricky pun segera melajukan mobilnya berbelok ke arah kiri.
Anindita bergegas turun dari mobil dan berjalan dengan memegangi perutnya mendekati motor orang yang dia lihat tadi mengantarkan beberapa box makanan ke dalam bangunan. Anindita menatap tulisan yang tertera di tas angkut barang itu.
...Leo Sandra Catering...
Seketika itu juga bola Anindita mengembun dan tak lama melelehkan cairan bening yang jatuh membasahi pipinya.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy. Reading