Belenggu Cinta Hot Daddy

Belenggu Cinta Hot Daddy
Bab 10. Darrell Dilema


__ADS_3

Sharron turun dari pangkuan Darrell. Dia mengambil tas dan sepatunya lagi.


"Aku pulang dulu, Dad," pamitnya. Pertama kalinya dia mengubah panggilan pada Darrell.


"Tunggu, Sharron! Kau tidak bisa pulang sendiri. Aku akan membersihkan diri sebentar. Kita akan pergi bersama Alan."


Sharron menoleh. "Menunggu Alan akan membutuhkan waktu yang cukup lama, Dad. Jadi, aku memutuskan untuk pulang lebih dulu."


"Alan ada di lantai 5, unit 17 apartemen ini. Kamu bisa minta tolong padanya untuk mengantarkanmu pulang."


"Hah? Jadi, apartemen baru ini masih satu lokasi dengan Alan?"


"Iya. Untuk seminggu ini kau bebas mau ke mana pun. Pergunakan debit card di tanganmu sebaik mungkin. Aku akan menemani Callie di rumah sakit siang ini sampai seminggu ke depan."


"Tidak perlu pikirkan aku. Aku akan pulang ke apartemen sahabatku. Sampai jumpa," pamit Sharron.


Setelah Sharron pergi, Darrell lekas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Hari ini, dia ada rapat intern perusahaan. Setelah itu ke rumah sakit untuk menunggu Callie menjalani operasi pengangkatan rahim.


Setelah bersiap, Darrell menunggu Alan di basemen. Sekitar 10 menit barulah Alan turun ke basemen.


"Kau mengisi lemari pakaiannya hanya untuk gaun laknat itu?" tanya Darrell pada Alan.


"Apalagi, Tuan? Bukankah kau menginginkan cinta? Kurasa itu akan membuatmu jatuh cinta padanya," jawab Alan asal. Pasalnya, dia masih sedikit mengantuk karena semalam baru bisa tertidur menjelang pagi.


"Tidak! Aku akan mencoba dengan caraku sendiri. Oh ya, jam berapa aku harus ke rumah sakit?"


"Jam dua, Tuan. Apa ada perlu lagi?"


"Tidak. Pastikan semua lancar. Jangan sampai ada orang lain yang tahu. Oh ya, hampir lupa. Minta tolong satu orang untuk mengambil mobilku di mansion tuan Blair."


"Baik, Tuan."

__ADS_1


Alan merasa dunianya damai kali ini. Seminggu ke depan, suasana hatinya akan baik-baik saja karena tidak akan berurusan lagi dengan Sharron ataupun Darrell. Namun, mengapa hanya tuannya saja yang ikut di dalam mobilnya? Kemana Sharron? Alan memang tidak peduli, tetapi sungguh aneh jika gadis itu tidak muncul bersama tuannya.


"Di mana wanita itu, tuan?" tanya Alan.


"Kau merindukannya?" Bukannya menjawab, Darrell malah balik bertanya.


"Ah, Tuan bicara apa? Justru aku bersyukur sekali tidak bertemu dengannya selama seminggu ke depan. Kukira polos, ternyata dia bar-bar." Alan merasa tertipu dengan wajah yang dimiliki Sharron. Dia memang gadis yang cantik, menarik, dan penampilannya berkelas ketika berdandan.


Darrell tersenyum. Untuk pertama kalinya, Alan melirik senyuman itu di wajah Darrell.


"Tuan sudah jatuh cinta padanya?"


Cinta? Darrell bahkan baru memulainya untuk membuat Sharron jatuh cinta padanya. Setelah itu, baru Darrell akan melakukan apapun yang menjadi permintaan istrinya. Callie harus siap dengan konsekuensinya. Dia harus siap berbagi jika Darrell benar-benar telah jatuh cinta pada Sharron.


"Belum, Alan. Aku baru memulainya. Aku akan membuatnya jatuh cinta padaku terlebih dulu sehingga dia mau menyerahkan diri seutuhnya padaku. Namun, aku sekarang tidak percaya pada wanita model sepertinya. Bisa saja sebelumnya dia juga menjalin dengan pria-pria di luaran sana. Aku tidak mau terburu-buru," jelas Darrell.


Jelas saja Darrell lebih berhati-hati. Dia tidak ingin kalau Sharron itu bukan wanita baik-baik. Walaupun hubungan yang dijalin Darrell ini salah, tetapi dia tidak ingin mengecewakan istrinya. Keturunannya harus dari wanita baik-baik.


"Terima kasih, Alan."


...***...


Darrell mengikuti rapat sampai jam 12. Dia bersiap untuk pergi ke rumah sakit demi menunggu istrinya. Mobilnya yang tertinggal di mansion tuan Blair sudah diambil oleh orang suruhan Alan. Darrell pergi ke rumah sakit sendirian.


Callie sudah menunggunya di sana. Melihat kedatangan Darrell, perasaan Callie semakin tenang.


"Kau datang, Sayang?" sapa Callie yang sedang menunggu antrean untuk masuk ke ruang operasi.


Sebelumnya, Callie sudah mengabari Alan agar memberitahukan pada suaminya bahwa dia langsung menunggu di brankar ruang IGD.


"Iya. Maaf, aku terlalu sibuk, Sayang. Bagaimana? Apa kamu siap?" Darrell menggenggam erat tangan istrinya. Dia memberi kekuatan penuh bahwasanya dia akan baik-baik saja.

__ADS_1


"Seperti yang kamu lihat. Jarum infus saja sudah siap mendukungku untuk beberapa jam ke depan. Aku sangat bahagia, Darrell. Kamu selalu ada untukku. Setelah ini, lekaslah cari wanita yang bisa menampung bibitmu. Aku menginginkan anak."


Deg!


Bahkan di saat yang sangat rumit seperti ini, ingatan Callie tidak jauh dari pembahasan anak. Semakin Callie mengingatkan, Darrell semakin ingin menyelesaikan pekerjaannya. Dia harus secepatnya menghamili Sharron.


"Fokuskan pada kesembuhanmu dulu, Sayang. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padamu. Kita akan hidup bahagia seperti apa yang kamu inginkan," ucap Darrell. Tangannya beralih mengelus puncak kepala istrinya.


Bagaimana mungkin aku bisa membuatnya hamil kalau di dalam bayanganku saja ada dirimu, Callie? Haruskah aku menidurinya dengan menyebut namamu? Aku seperti pria pemerkosa kalau sampai aku nekad berbuat seperti ini.


"Sayang, jangan melamun. Kamu pasti memikirkan aku, kan?"


Darrell mengangguk. Cukuplah derita istrinya selama ini. Darrell tidak mempermasalahkan kalau mereka tidak memiliki anak. Namun, Callie, dia memaksa bahwa Darrell bisa memberikannya dari wanita lain tanpa ikatan pernikahan. Pernikahan Darrell dan Callie terikat janji sekali seumur hidup. Itulah sebabnya sulit untuk bercerai ataupun menikah dengan wanita lain.


Darrell mencoba bisa dekat dengan Sharron, tetapi bayangan Callie selalu menghantuinya. Kadang, Darrell berpikir bahwa Sharron adalah wanita liar yang memang membutuhkan uang dan kemewahan. Namun, jika kenyataannya dia wanita baik-baik, bisakah Darrell bersikap untuk bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya?


"Iya, Callie. Aku selalu memikirkanmu, Sayang. Jangan cemas! Semua akan baik-baik saja."


"Terima kasih, Darrell. Oh ya, saat aku tidak bisa membahagiakanmu, apakah kamu masih terus mencintaiku?" Kekhawatiran Callie bukan tanpa alasan. Dia yang membuat suaminya memilih wanita lain walaupun secara hukum, Darrell tidak akan pernah bisa berpisah darinya. Namun, urusan hati bisa saja mengubah segalanya. Callie tahu bagaimana Darrell bersikap. Dia akan kesulitan membina hubungan baru dengan wanita lain. Itulah sebabnya, Callie percaya penuh padanya.


"Tentu, Callie. Aku akan mencintaimu kemarin, saat ini, dan selamanya."


Darrell tidak ingin menjanjikan apapun pada Callie. Dia harus fokus pada kesembuhan istrinya. Seminggu ini, dia tidak akan menemui Sharron sebelum istrinya benar-benar baik.


Beginikah rasanya mendua itu? Aku sudah menyakiti dua wanita. Istriku dan Sharron. Sejak pertemuan pertamaku dengan gadis itu, aku merasa memiliki seutuhnya. Tidak boleh ada pria lain yang memilikinya. Apapun yang sudah di tanganku, tak satupun orang lain yang bisa menyentuhnya kecuali aku. Aku sebenarnya bukan pria serakah seperti ini, tetapi Callie yang memaksaku.


Lamunan Darrell terhenti ketika beberapa perawat mulai memindahkan brankar pasien menuju ke ruang operasi.


"Berapa lama operasinya?" tanya Darrell pada mereka.


"Paling cepat dua jam, Tuan. Itupun jika tidak ada penyakit lainnya."

__ADS_1


Darrell mengikuti ke mana brankar tersebut. Dia harus menunggu di depan ruang operasi. Dirinya merasakan dilema yang teramat sangat. Permainan takdir hidupnya dimulai setelah dia memutuskan untuk mengenal Sharron.


__ADS_2