Belenggu Cinta Hot Daddy

Belenggu Cinta Hot Daddy
Bab 74. Aku Siap Menjadi Budak Cintamu


__ADS_3

Puas menikmati junk food, mereka masuk ke supermarket. Sharron mengambil troli untuk mengisi beberapa kebutuhan bulanan. Sementara Noelle berjalan bersamaan dengan sahabatnya itu. Sesekali mereka bercanda.


"Kau yakin tidak belanja hari ini?" tanya Sharron sembari mengambil satu bungkus detergen.


"Tidak. Persediaan barang-barangku di apartemen masih cukup untuk beberapa hari ke depan. Begitu juga dengan stok yang ada di dapur. Semuanya masih aman. Hari ini aku hanya menemanimu berbelanja saja."


Setelah mengambil beberapa deterjen, Sharron mengisinya dengan pewangi. Dia juga membeli aroma terapi untuk kamar mandinya. Tak lupa membeli beberapa kebutuhan dapur seperti daging, sayuran, buah-buahan, dan beberapa jenis bumbu makanan yang dibutuhkan. Dia juga tidak lupa menyediakan makanan instan. Sewaktu-waktu makanan itu pasti dibutuhkan.


Sebagai seorang wanita yang keasyikan belanja, Sharron sampai lupa waktu. Apalagi beberapa minggu terakhir ini dia berada di mansion keluarga Wesley. Secara tidak langsung kebebasannya berkurang. Ketika diberikan kesempatan oleh suaminya, dia lupa diri.


"Kamu tidak pulang?" tanya Noelle.


"Pulang ke mana?"


"Apartemen milik suamimu. Memangnya kau mau menginap lagi di apartemenku?"


"Oh, ya ampun. Habislah aku. Aku juga tidak mengabarinya sama sekali. Bisa ngomel panjang dia." Sharon buru-buru pulang membawa beberapa barang belanjaannya.


Sebenarnya setelah berbelanja tadi, Sharron sempat memanjakan diri di sebuah salon kecantikan. Badannya terasa lelah sehingga dia membutuhkan support sistem seperti perawatan seluruh anggota badan.


"Aku akan mengirimkan pesan padanya." Sharron mengambil ponselnya kemudian menuliskan pesan padanya, tetapi belum sempat terkirim, taksi yang akan membawanya sudah datang.


"Pulanglah! Aku akan mencari taksi yang lain," ucap Noelle.


Pesan tidak jadi terkirim, Sharron semakin cemas. Jangan-jangan Darrell akan memarahinya karena tidak tahu aturan sebagai seorang istri. Dia berharap supaya pria itu bisa mengerti posisinya saat ini. Me time juga perlu, kan? Itulah mengapa hari ini dia ingin menyenangkan dirinya sendiri.


Bergegas masuk ke unit apartemen setelah taksi yang membawanya berhenti tepat di gerbang bangunan apartemen menjulang tinggi itu. Tak lupa Sharron membayarkan sejumlah uang. Padahal masih ada kembaliannya, tetapi Sharron sudah terlanjur buru-buru.


Langkah kaki semakin cepat hingga napas yang sudah tidak beraturan. Sampailah Sharron di depan unit apartemen suaminya. Degup jantung semakin tak menentu seolah sebentar lagi dia akan menjadi tersangka utama.


Ceklek!


Sharron terkejut manakala mendapati unit apartemennya gelap gulita. Dia ingat kalau sebelum pergi, posisi semua lampu menyala. Dia ketakutan untuk mencoba mencari saklar lampu yang tidak jauh dari pintu. Namun, tetap saja itu memerlukan usaha yang tidak mudah. Belum sampai di saklar lampu, posisi lampunya menyala menampakkan pria bertubuh tegap di sana. Siapa lagi kalau bukan suaminya.


"Sayang, kau mengejutkanku," ucap Sharron seolah tidak bersalah sama sekali.

__ADS_1


"Sudah puas hari ini jalan-jalannya?"


"Iya. Aku sudah menghabiskan beberapa uangmu. Tidak masalah, kan?" tanya Sharron.


"Tidak masalah, tetapi sesuai kesepakatan kau juga harus membayar ganti ruginya."


Dasar suami perhitungan! Apa sebenarnya maunya? Tadi sudah menawarkan debit card-nya secara cuma-cuma. Sekarang minta ganti rugi. Mana tadi aku pakai uangnya lebih banyak. Aku harus bagaimana sekarang?


"Ga-ganti rugi apa yang kamu maksud?"


"Layani suamimu ini. Ingat, apapun yang kamu pakai, kamu harus membayarnya."


Glek!


Mungkinkah malam ini Sharron dan suaminya harus sudah memproduksi seorang bayi yang akan menjadi penerus keluarga Wesley?


"Maksudmu kita tidur bersama?"


"Lebih dari itu. Aku ingin kamu merayuku sampai aku tidak kesal lagi padamu."


"Kau kesal padaku? Karena apa? Aku tidak membuat kesalahan apapun." Sharron cukup percaya diri untuk melawan Darrell kali ini.


Glek!


Sejak kapan ada aturan seperti ini? Dia tidak bicara sama sekali. Jangan-jangan dia sengaja menjebakku.


"Apa yang kamu pikirkan? Tidak tahu aturan mainnya? Iya?"


"Bu-bukan begitu, Darrell. Ehm, maksudku, bisa kamu jelaskan bagaimana aturan ini terjadi?"


"Letakkan barang-barangmu ini ke dapur. Kemudian kembalilah ke sini," pinta Darrell.


Sharron masuk ke dapur membawa seluruh barang belanjaannya. Sementara Darrell yang tidak tega dengan istrinya itu lantas membantu membawakan beberapa kantong belanjaan.


Ish, mengapa sikapnya berubah lagi? Tadi seperti itu, sekarang malah membantuku seperti ini.

__ADS_1


Sharron berniat menyusunnya terlebih dahulu, tetapi Darrell keburu melarangnya.


"Susun nanti saja. Lebih baik ikut aku sekarang," ajak Darrell.


Darrell membawanya ke kamar kemudian menunjuk ranjang supaya Sharron duduk di sana.


"Ada apa, Darrell?"


"Duduk saja di situ!" Darrell beralih mengambil kursi kemudian ditempatkan tepat di hadapan Sharron.


Perasaan Sharron semakin deg-degan tidak menentu. Apa yang akan dilakukan suaminya?


"Dengarkan aku!" ucapnya ketika sudah duduk tepat di depan Sharron. "Sebagai seorang istri yang baik, dengarkan seluruh aturan yang kuberikan. Aku tidak mengekang kemanapun kamu mau pergi, tetapi setidaknya ingat tanggung jawabmu sebagai seorang istri. Pertama, apa kamu sadar kalau hari ini sudah mengabaikan suamimu? Dengan tidak adanya kamu di apartemen sudah membuktikan bahwa kamu abai. Setidaknya bisa kirim pesan kalau terlambat pulang. Tidak harus menelepon. Aku sangat mengkhawatirkan kamu. Bagaimana kalau terjadi apa-apa denganmu? Sementara aku sendiri tidak tahu keberadaanmu di mana?"


"Aku--"


"Itu yang pertama. Yang kedua, apapun yang berhubungan dengan kegiatanmu, aku harus tahu. Kau tahu kenapa aku melakukan ini padamu?"


Sharon menggeleng. Sebenarnya dia ingin meminta maaf, tetapi keburu Darrell membicarakan hal lainnya lagi.


"Karena aku mencintaimu, Sharron!"


Deg!


"Kalaupun aku belum bisa bersikap baik padamu, aku minta maaf. Maksudku, aku sedang melalui masa transisi untuk bisa mencintaimu sepenuhnya. Aku butuh kamu untuk selalu ada di sisiku. Aku butuh setiap napasmu itu berada di sampingku. Aku ingin cinta ini menjadi milikmu seutuhnya." Darrell melanjutkan ucapannya. Dia tahu belum bisa menjadi budak cinta Sharron seutuhnya. Bayangan Callie menari indah di pelupuk matanya. Itu terjadi ketika Sharron menerima hadiah dari Marcello. Darrell seolah memiliki rasa bersalah yang sangat tinggi pada kecelakaan beberapa bulan yang lalu.


"Aku minta maaf, Darrell. Lalu, apa yang harus aku lakukan supaya hatimu ini bisa fokus padaku?" tanya Sharron. Memang sebaiknya ini harus dibicarakan dari hati ke hati. Darrell sudah melakukan hal yang benar padanya. Berbicara berdua tanpa ada yang ditutupi.


"Belajarlah mencintaiku sepenuh hatimu, maka aku siap menjadi budak cintamu!"


Deg!


Sharron terharu. Dia bangkit dari ranjang kemudian duduk dipangkuan suaminya. Tangannya memeluk pundaknya sehingga air matanya berderai.


"Aku takut kehilanganmu, Darrell. Kamu pria pertama yang mengambil separuh hidupku, keinginanku, dan cita-citaku. Aku akan berusaha keras mencintaimu sepenuh hatiku. Kita akan berjuang bersama-sama," ucapnya sesenggukan.

__ADS_1


"Hei, jangan cengeng! Aku seperti menenangkan keponakanku saja. Kamu jangan khawatir. Aku tidak akan pernah pergi darimu. Percayalah, kita akan selalu saling mencintai. Jangan menangis lagi. Air matamu akan sia-sia. Karena kita akan membangun cinta dengan kebahagiaan, bukan air mata."


Malam ini, sisi romantis Darrell semakin terlihat. Dia sedang berusaha mengubur dalam-dalam masa lalunya dengan Callie. Hal itu sangat wajar karena Callie sudah menemaninya lebih dulu daripada Sharron.


__ADS_2