
Sharron sudah tersadar dari biusnya. Dia perlahan mulai mengingat kejadian yang dialaminya beberapa waktu lalu. Sepertinya dia merasa tidur sangat lama sekali.
"Sayang, kamu sudah bangun?" tanya Darrell.
"Aku kenapa? Di mana sekarang?"
Jarum infus di tangannya dan selang oksigen di hidungnya sangat menggangu sekali. Dia merasakan terakhir berada di sebuah pesta kemudian menikmati makanan yang paling lezat menurutnya. Lambat laun dia mulai tidak ingat apa pun.
"Kamu di rumah sakit, Sayang. Maafkan aku. Gara-gara ingin memberikan kejutan padamu, semua harus berakhir seperti ini."
Darrell sangat menyesal. Penantian panjangnya harus berakhir di ranjang rumah sakit seperti ini. Noelle yang menyaksikan kedua insan itu rasanya tidak tega. Sebentar lagi Sharron pasti menangis sedih karena kehilangan janin yang dikandungnya.
"Memangnya aku kenapa?" Sekali lagi pertanyaan Sharron membuat Darrell bimbang. Dia ingin mengatakan sejujurnya, tetapi tertahan. Tidak mungkin juga dia harus menunda kabar seburuk ini.
"Sayang, kamu mau mendengarkan aku, kan? Maksudku, dengarkan baik-baik. Jangan berkomentar sebelum aku selesai. Bagaimana?"
Sharron mengangguk. Darrell mulai menggenggam erat tangan istrinya.
"Sayang, karena keracunan makanan itu, kita kehilangan janin dalam kandunganmu. Rasanya aku pun sangat sedih, tetapi mau bagaimana lagi. Dia lebih memilih pergi meninggalkan kita sebelum bisa memeluknya."
Hening. Sharron mencoba mencerna ucapan suaminya. Dia tidak bisa berkata apa pun kecuali meraba perutnya yang masih rata itu. Hamil muda yang sangat mengerikan bagi Sharron. Air matanya mulai mengalir membasahi pipinya.
"Jangan menangis, Sayang! Kita bisa usaha lagi. Yang penting kamu selamat. Aku tidak mau terjadi apa pun pada dirimu," ucap Darrell sembari mengusap air mata istrinya.
Bagi Darrell, untuk saat ini keselamatan istrinya lah yang lebih penting. Dia sangat penasaran sekali siapa pelaku sebenarnya. Apakah Alan atau pihak kepolisian sudah menemukannya atau belum?
Tak lama, pintu ruangan diketuk. Rupanya Alan yang datang. Dia ingin meminta bicara empat mata dengan tuannya. Sementara Noelle harus menggantikan Darrell menjaga istrinya supaya ada teman berbincang.
"Sharron, bagaimana kondisi kamu?" Noelle duduk di sebelah brankar.
"Seperti yang kamu lihat. Aku syok sekali, Noelle. Apakah harus selalu seperti ini kehidupanku? Aku sudah kehilangan kedua orang tuaku. Sekarang kehilangan janinku. Besok, apa lagi?"
__ADS_1
Semua ucapan Sharron benar. Namun, tidak mungkin kan Noelle membuat Sharron bisa melupakan kejadian itu secara langsung. Butuh waktu perlahan untuk menghapus duka itu.
"Sabar, Sayang. Kamu pasti bisa melewati semua ini. Bukankah kamu wanita yang kuat? Kamu selalu tegar menghadapi ujian hidup seperti ini, bukan? Kali ini kamu tidak sendirian. Ada suami dan keluarga besar. Kita hadapi bersama-sama, Sharron," ucap Noelle dengan lembut supaya Sharron melupakan dukanya.
"Bagaimana dengan mama mertua kalau tahu aku kehilangan janin ini? Bukankah mereka sangat menginginkan penerus suamiku?"
"Aku yang akan menyampaikannya pada mama kalau kamu tidak bisa mengatakannya. Ini kejadian yang tidak terduga, Sharron. Jadi, mereka pasti bisa mengerti."
Biasanya Sharron akan mempercayai ucapan Noelle. Kali ini dia tidak yakin akan mendapatkan jawaban yang baik dari mama mertuanya. Bagaimana kalau wanita itu meminta Sharron menceraikan putranya? Ah, semoga saja Allegra mengerti kondisi yang terjadi.
...🌷🌷🌷...
Alan menghadapi Darrell dengan sangat tenang. Kali ini dia kecolongan untuk yang pertama kalinya. Hal itu yang menyebabkan dia harus kehilangan janin yang dikandung istrinya.
"Apakah ada perkembangan?" tanya Darrell saat keduanya duduk di kursi yang tidak jauh dari ruang rawat istrinya.
"Iya, Tuan. Pelakunya tidak jauh dari kehidupan kita. Anda pasti sudah mengenalnya," jelas Alan.
"Bukan."
"Lalu, siapa?" tanya Darrell penasaran.
"Marcello. Dia tidak suka kalau Nyonya Sharron hamil. Kali ini dia sudah ditahan oleh pihak kepolisian. Aku berharap kalau Anda ataupun nyonya Sharron tidak pernah membebaskannya. Dia sangat meresahkan."
Ternyata Marcello dalang dari semua ini. Dia berharap kalau pria itu dipindahkan sejauh mungkin dari penjara Meksiko. Dia tidak mau terlibat lagi dengan pria itu.
"Aku setuju. Sharron juga tidak suka dengan pria itu. Oh ya, bagaimana kondisimu?"
Alan juga sempat makan makanan dalam jamuan kala itu. Dia pun sempat dirawat di rumah sakit bersamaan dengan tuannya. Namun, Darrell lebih dulu meninggalkan asistennya itu untuk menemui sang istri.
"Baik, Tuan. Beruntung kalau aku pun sangat kuat. Tapi, jujur saja caranya sangat licik sekali."
__ADS_1
"Memangnya cara apa yang digunakan?"
"Dia menggunakan jasa wedding organizer kemudian membayar salah satu orang. Sayangnya orang itu sudah kabur setelah melakukan aksinya. Benar-benar kurang ajar sekali Marcello itu."
Melupakan pria itu, kini Darrell kembali ke ruangan istrinya. Masih ada Noelle di sana. Dia ingin adiknya itu pulang untuk mengambil beberapa kebutuhan yang akan digunakan di rumah sakit selama beberapa hari.
"Noelle, pulanglah bersama Alan. Kamu membawa mobilnya, kan? Ambil beberapa pakaian untuk kakak dan Sharron. Dan, jangan lupa pastikan mama dan papa sampai mana. Kalau sudah, kembalilah ke sini bersama mereka!" perintah Darrell.
"Darrell, biarkan Mama dan Papa di apartemen Noelle saja! Lagi pula besok pasti sudah diizinkan untuk pulang." Sharron tidak mau kesedihannya bertambah karena memandangi wajah mama mertuanya.
"Kamu tidak suka kalau orang tuaku di sini?"
"Bukan seperti itu, Sayang. Nanti kamu juga akan mengerti alasanku," ucap Sharron lirih sembari memalingkan wajahnya. Dia tidak mau kesedihannya terlihat langsung di mata suaminya.
"Ya sudah. Kamu pulang dulu, ya!"
"Iya, Kak. Oh ya, Sharron. Apa kamu tidak menginginkan sesuatu? Mungkin makanan atau apa? Saat kami kembali ke sini, aku akan membelinya sekalian."
Penawaran Noelle sebenarnya menarik. Dia sudah merindukan fast food yang menjadi favoritnya selama ini, tetapi ketika mengingat janinnya yang telah hilang membuatnya tidak ingin makan apa pun.
"Tidak perlu. Nanti saja kalau aku ingin. Aku akan mengirimkan pesan padamu," jawab Sharron.
Setelah tidak ada yang diinginkan, Noelle kembali dengan Alan. Sedangkan Darrell masih menunggu istrinya dengan sabar. Dia pun mencoba merayu istrinya dengan memberikan hadiah-hadiah menarik menurutnya.
"Sayang, bagaimana kalau setelah keluar dari rumah sakit, kita pergi berbulan madu lagi. Atau, kamu mau kubelikan mobil mewah? Mungkin kamu ingin pergi ke suatu tempat? Katakan, Sayang!"
Semua penawaran yang diberikan Darrell barusan tidak bisa mengubah suasana hatinya. Dia tetap sedih kehilangan janin yang dikandungnya.
"Aku sedang tidak ingin ke manapun, Sayang. Maafkan aku," ucapnya lirih.
"Tolong jangan bersedih. Kita bisa merencanakan program kehamilan lagi, Sayang. Percayalah!"
__ADS_1
Segala rayuan dilontarkan Darrell demi membuat istrinya tidak memikirkan apa yang telah terjadi. Disesalkan pun tidak akan mengubah garis takdir yang harus mereka terima. Sebaik apa pun dalam penjagaan, tetapi kalau takdir sudah berkehendak, maka semuanya akan berubah.