Belenggu Cinta Hot Daddy

Belenggu Cinta Hot Daddy
Bab 68. Imajinasi Liarku


__ADS_3

Malam yang panjang belum berakhir. Saat semua orang sibuk dengan acaranya, Alan mencoba menjalankan rencananya sendiri. Dia berusaha mendekati Javer sebagai pria yang menjadi tujuannya saat ini. Niatnya baik untuk menemukan adiknya Darrell, tetapi mungkin dia akan menguak rahasia kelam keluarga Wesley.


"Tuan, bisa kita bicara sebentar?" tanya Alan setelah bisa mendekati pria paruh baya itu. Sejak tadi terus saja berbincang dengan para tamunya.


"Tentang perusahaan Darrell?" tanya Javer.


"Bukan, Tuan. Jika Tuan berkenan, bisa kita menepi sejenak?"


"Baiklah."


Tempat yang mereka pilih adalah di depan mansion yang kebetulan tidak banyak orang yang lewat. Tujuan Alan karena ini sebuah rahasia, semakin sedikit yang tahu semakin baik.


"Katakan!" perintah Javer.


"Begini, Tuan. Sebelumnya aku minta maaf. Ini pasti akan menguak kisah kelam keluarga Tuan. Niat awalnya aku ingin mencari identitas nona Sharron. Dia sudah tidak bertemu dengan orang tuanya sejak kecil. Kebetulan tuan Darrell juga menceritakan kisah Maggia. Jika Tuan berkenan, aku ingin mencari informasi bersamaan. Walaupun itu sulit," jelas Alan.


Javer tertarik. Sudah lama Allegra menginginkan putrinya itu kembali. Namun, dia tidak ada kesempatan untuk mengurusi hal itu. Bukan karena tidak ingin, tetapi dia selalu sibuk mengurusi perusahaan. Sudah lama sekali dia ingin mewujudkan keinginan istrinya itu untuk bertemu kembali dengan Maggia. Bagaimanapun keadaannya, Javer akan menerimanya. Kalaupun Maggia memang sudah meninggal, setidaknya dia tahu di mana makamnya.


"Ikuti aku!" ajak Javer.


Agaknya suasana pesta yang semakin ramai membuat Javer malas untuk melanjutkan. Dia memilih untuk mengajak Alan ke tempat penting yang di maksud. Tujuan Javer saat ini ke paviliun. Semua kisah masa lalunya berawal dari sana.


"Mengapa kita tidak berbincang di mansion saja, Tuan?" tanya Alan.


"Kisah Maggia bermula dari paviliun ini, Alan."


Glek!


Rupanya inilah kenangan yang dimaksud oleh Darrell. Namun, Darrell tidak bisa mengingat masa lalunya dengan cukup jelas. Kisah itu sudah membuatnya ketakutan.


Javer mengajak Alan masuk ke sebuah ruangan seperti gudang lama yang tidak pernah dijamah semua orang. Hanya dia dan istrinya yang tahu. Mumpung Alan menanyakannya, Javer memberikan kesempatan pada asisten putranya itu. Lagi pula Alan tipikal pria yang bisa menjaga rahasia dengan cukup baik.


Javer menunjukkan beberapa foto dan lukisan. Namun, Alan tidak paham untuk memulai bisa mengerti semua barang yang ada di hadapannya saat ini.

__ADS_1


"Ini lukisan dan foto keluarga kami saat itu. Tiba-tiba terjadi sesuatu yang tidak bisa kami bayangkan sebelumnya. Kami dirampok. Semua harta benda diambil, dan--"


"Apa, Tuan?"


"Mereka membawa bayi kami. Aku dan Allegra berusaha menahannya, tetapi perampok itu melukaiku sehingga aku tidak bisa mengambil bayi kami. Perampok itu pernah mengatakan bahwa anakku akan dijual ke manapun yang disukainya. Intinya anakku akan dijadikan pemuas ranjang. Aku ngeri mendengarnya, Alan." Javer kalut. Dia takut sekali dengan nasib putrinya.


Jangankan Javer, Alan sebagai pria pun ngeri mendengarnya. Sekelas pengusaha seperti Javer sudah berusaha sekeras mungkin untuk mencari keberadaan putrinya kala itu.


"Ehm, begini, Tuan. Kalau aku boleh tahu, adakah tanda yang bisa memperkuat bahwa itu adalah putri Tuan. Maksudku mungkin semacam benda yang melekat ditubuhnya pada saat itu, atau mungkin tanda lahir?"


Javer tentu ingat betul bagaimana Allegra menunjukkan tanda lahir ketika bayi itu sudah berada di tangannya. Kehilangan Maggia di usia lima bulan membuat Allegra terpuruk. Miris sekali kala itu.


"Maggia memiliki tanda lahir di belakang telinga sebelah kanan. Kurasa penjahat itu tidak menyadarinya kalau anakku itu memiliki tanda lahir. Tapi, aku jujur sekali sangat sulit melacaknya."


Javer benar. Apalagi ini menyangkut perdagangan manusia. Justru bisa jadi bayinya itu dijual ke luar negeri. Kalau Javer tidak bisa menemukannya, dia pesimis dengan rencana Alan.


"Tidak masalah, Tuan. Aku akan mencobanya," ucap Alan setelah mendapatkan keseluruhan informasi itu.


"Kalaupun tidak ketemu, bukan masalah bagi kami, Alan. Jujur, aku sangat pesimis kalau kamu bisa berhasil."


"Ya, kau benar! Aku pun merasa kasihan padanya. Dia tidak pernah memiliki keluarga utuh. Semoga Darrell selalu mencintainya."


"Tuan, apa tidak sebaiknya kita kembali ke pesta? Semua orang pasti sudah mencari keberadaan Anda," ucap Alan mengingatkan.


Maggia membuat Javer melupakan bahwa malam ini masih perayaan pernikahan putranya. Jalan dari paviliun menuju ke mansion, barulah ke tempat pesta berlangsung. Benar saja kalau Allegra sudah mencarinya sejak tadi.


"Papa dari mana saja?" tanya Allegra.


"Ada urusan bisnis sebentar dengan Alan," jawabnya.


"Papa, ini pesta pernikahan putramu dan kamu masih terus saja mengurus pekerjaan. Kalau tahu begini, aku tidak akan membiarkan Alan datang ke pesta ini," ucap Allegra cemburu.


Alan yang menjadi sasaran pertengkaran kedua paruh baya itu cuma bisa tersenyum. Dia cukup tahu bahwa Javer memintanya merahasiakan apa yang dibicarakan barusan.

__ADS_1


"Maafkan aku, Nyonya. Aku datang atas permintaan putramu. Kalau ada sedikit pekerjaan yang harus kami selesaikan, aku minta maaf," ucap Alan.


"Iya, Alan. Aku paham. Cuma aku sedikit panik saja kalau suamiku ini tergoda oleh salah satu tamu undangan. Dia kan masih terlihat jelas ketampanannya."


Mereka tertawa. Rupanya tawa mereka mengundang sepasang pengantin untuk mendekat.


"Wah, rupanya kalian semua di sini," sapa Darrell.


"Bagaimana pestamu?" tanya Javer.


"Justru aku yang harusnya berterima kasih dengan Mama. Acara malam ini luar biasa. Sayang, aku sangat tidak menikmatinya," ucap Darrell.


"Pesta semeriah ini kamu masih tidak bisa menikmatinya?" tanya Sharron.


"Nah, Sharron benar. Lalu, apa yang kamu harapkan dari pesta malam ini kalau kamu tidak bisa menikmatinya?" tanya Darrell.


"Aku merindukan aroma Wine atau alkohol, Pa. Tapi, Papa tahu sendirilah menantu Papa ini melarangku untuk menyentuhnya sama sekali."


Alan, Javer, dan Noelle malah menertawakan sikap Darrell barusan. Ya, Noelle baru saja bergabung dengan mereka semua.


"Bagaimana, Nona? Apa Anda menikmati pestanya?" tanya Alan pada Noelle.


"Sangat menikmati, Tuan asisten! Ini pesta paling menarik yang pernah aku datangi," ucapnya.


Malam semakin larut. Ini saatnya mereka semua harus beristirahat. Beberapa tamu undangan pun sudah banyak yang meninggalkan pesta.


"Sebaiknya kalian istirahat. Ehm, Alan dan Noelle sudah tahu kamar kalian, bukan?" tanya Allegra. Dia memang meminta pelayan untuk menunjukkan kamar mereka semenjak datang lagi ke mansion ini.


"Sudah Nyonya," jawab Alan.


"Papa rasa Darrell sudah tidak sabar untuk masuk ke kamarnya," goda Javer.


"Papa!" balas Allegra. "Jangan godain pria dewasa itu, Pa. Biarkan dia dengan imajinasinya!" ucap Allegra.

__ADS_1


"Nah, kalian dengar sendiri kan ucapan Mamaku? Alan, Noelle, dan istriku, kalau kalian ingin tahu, imajinasiku sangat liar," ucapnya kemudian dicubit oleh Sharron.


Sharron sangat malu sekali dengan candaan Darrell di depan banyak orang. Walaupun dia tahu kalau malam ini bukan yang pertama, tetap saja rasanya akan berbeda. Sementara Darrell sudah memiliki rencana yang tidak akan bisa ditebak oleh Sharron pada malam ini.


__ADS_2