Belenggu Cinta Hot Daddy

Belenggu Cinta Hot Daddy
Bab 12. Nasib Sharron


__ADS_3

Seminggu berlalu dengan sangat cepat. Callie sudah terlihat lebih baik pasca operasi pengangkatan rahim. Selama seminggu, semua urusan perusahaan dijalankan oleh Alan, asistennya.


Kini, Callie sudah bisa ditinggal ke kantor. Seusai sarapan pagi, Callie yang masih berada di kursi roda harus meminta tolong pelayan untuk menyiapkan semua kebutuhannya.


"Sayang, maafkan aku. Aku belum bisa mengurusmu dengan baik," ucap Callie.


"Tidak masalah, Sayang. Fokuslah pada kesehatanmu. Aku berangkat ke kantor, ya. Alan pasti sudah lama menunggu kedatanganku," pamit Darrell.


"Sayang ... sebelum kamu berangkat ke kantor, aku ingin berbicara sebentar. Boleh?"


"Hemm, katakan, Sayang!"


"Kamu tidak lupa dengan rencana kita, kan? Selama seminggu ini aku tidak ingin membahasnya. Kamu pasti belum siap mendengarkan keluh kesahku," ucap Callie. Dia berusaha menahan diri untuk tidak membicarakan suatu hal yang akan menimbulkan masalah antara dia dan suami.


Selama seminggu ini, Darrell berusaha melupakan Sharron. Gadis yang sudah membuat kesepakatan kontrak dengannya. Namun, itu agaknya tidak berlaku mulai hari ini. Detik di mana Callie mengingatkan kembali perihal rencananya untuk mencari rahim pengganti. Ingatannya kembali pada pertemuan terakhir mereka.


"Aku akan memikirkannya lagi, Sayang. Tidak hari ini. Berikan aku waktu," jawab Darrell terdengar cukup berat di telinganya.


"Sampai kapan, Darrell? Sampai orang tuamu datang kemudian mendesakku? Ini kesempatan bagus untuk mendapatkan rahim pengganti. Atau, kau mau aku yang mencarikan untukmu?"


Deg!


Callie kembali ambisius untuk mendapatkan anak. Darrell tidak boleh gegabah. Bukankah dia pernah berjanji pada dirinya sendiri untuk mencintai Sharron? Dia harus belajar lebih keras lagi untuk mendapatkan gadis itu. Tidak ada salahnya kalau Darrell harus lebih agresif pada gadisnya itu.


"Tidak perlu! Secepatnya aku akan memenuhi keinginanmu." Darrell buru-buru pergi. Dia tidak tahan pada sikap istrinya.


...***...

__ADS_1


Seminggu meninggalkan ruang kerjanya, Darrell benar-benar rindu. Beberapa kali seolah dia bekerja di balik layar. Kini, Darrell duduk di kursi kebesarannya. Dia memandang foto pernikahannya dengan Callie. Saat itu, kebahagiaan terus mengisi hari-hari pernikahannya. Sampai suatu hari, kebahagiaan itu mulai hambar ketika Callie divonis tidak bisa memiliki anak. Suami mana yang tidak sedih mendengarnya? Namun, Darrell berusaha berpikir positif. Mungkin saja garis takdir bermuara hanya untuk kebahagiaan berdua saja.


Darrell terus saja melamun sampai suara ketukan pintu membuatnya tersadar.


Tok tok tok.


"Masuk!" jawab Darrell.


Alan masuk dengan wajah semringahnya. Selama seminggu, dia sudah bekerja keras. Sedikitpun dia tidak berusaha untuk mengganggu bosnya. Hanya sesekali jika dia memerlukan.


"Anda sudah masuk, Tuan? Bagaimana kabar Nyonya Callie?" tanya Alan yang masih dalam posisi berdiri.


"Duduklah! Callie sudah baik-baik saja. Kau tahu apa yang dibicarakannya setelah seminggu dia terbaring di ranjang?"


Alan menggeleng. Tentu saja dia tidak tahu jika Darrell belum mengatakannya.


"Dia mengingatkanku tentang anak lagi. Padahal, aku tidak berniat sedikitpun untuk menuruti permintaannya. Semakin ke sini, jangan salahkan aku pada akhirnya aku mencintai wanita lain. Dia yang meminta dan memaksaku untuk melakukannya. Oh ya, malam ini minta Sharron untuk datang ke apartemen. Minta dia menyiapkan dirinya dengan salah satu gaun malam yang ada di lemari pakaian. Lebih tepatnya, gaun yang sudah kamu rekomendasikan untuknya. Aku ingin melihatnya."


Menurut Alan, Darrell sudah cukup stres menghadapi sikap istrinya yang semakin hari selalu menuntut. Mungkin, jika Alan yang berada di posisi Darrell, ada kemungkinan akan melakukan hal yang sama dengan tuannya. Bukannya Alan membenarkan masalah ini, tetapi bagaimanapun istri tuannya itu sudah menggiring suaminya untuk memiliki wanita idaman lain. Sementara itu semua sebenarnya bukan sikap Darrell.


"Baik, Tuan. Anda memintaku menjemputnya, atau membiarkan dia berangkat sendiri?"


Darrell sedang berpikir. Tidak mungkin dia membiarkan Sharron mencari taksi atau angkutan umum. Mungkin sebaiknya biar Alan yang menyelesaikan tugasnya.


"Jemput saja. Jangan lupa mampir ke butik! Belikan dia beberapa baju yang bisa digunakan untuk sehari-harinya. Aku ingin berada di apartemen selama tiga hari. Katakan pada Callie bahwa aku ada perjalanan bisnis lagi ke kota lain."


"Baik, Tuan. Semua pesanmu akan kujalankan dengan baik. Ada lagi?" Alan seperti menjadi bayangan tuannya.

__ADS_1


"Setelah urusanku dengan Sharron selesai, aku mengizinkanmu untuk mencari pasangan hidup. Aku tidak akan membuatmu terkekang dengan aturan yang sudah kubuat untukmu. Percayalah, banyak wanita yang akan tergoda dengan pesonamu."


Mendengar penuturan Darrell barusan, sebenarnya Alan cukup senang. Selama ini dia menahan diri untuk tidak tergoda dengan wanita. Itulah mengapa dia selalu bersikap dingin pada wanita-wanita yang ditemuinya, termasuk Sharron. Sharron-lah wanita pertama yang pernah disentuhnya, tetapi itu bukan perasaan suka ataupun cinta. Melainkan hanya sandiwara yang dibuat tuannya demi meyakinkan istrinya.


Kembali lagi pada Sharron. Jelas kalau urusannya dengan Darrell selesai, itu artinya Callie akan menginterogasinya secara mendetail. Itu yang merasuk dalam pikiran Alan kali ini.


"Tuan, bukankah setelah hubungan Anda dengan Nona Sharron selesai, Nyonya Callie pasti menginterogasiku. Bagaimana aku harus bersikap? Ada kemungkinan aku akan menggandeng wanita lain," ucap Alan.


"Katakan saja kalau hubungan kalian berakhir. Callie pasti mengerti."


Baiklah. Alan akan mencobanya. Sepanjang kehidupan Alan sampai dia berusia 32 tahun, belum pernah sekalipun dia mengenal wanita. Alan masuk ke perusahaan Darrell ketika dia baru berusia 25 tahun. Sementara Darrell dan Callie baru menjalani biduk rumah tangganya selama satu tahun. Itulah mengapa Alan hapal betul peringai keduanya.


"Itu artinya Anda setuju jika aku mencari wanita kemudian menikahinya? Selama ini aku terus saja menahan hasrat apapun itu terhadap wanita. Sekarang tidak lagi," ucap Alan. Seolah dia terbebas dari belenggu tuannya.


"Iya, tetapi--"


Alan terkejut. Kebebasannya pun masih terhalang kata tetapi.


"Katakan, Tuan! Jangan buat aku menjadi pecundang."


"Cari wanita yang benar. Cintai dia kemudian nikahi. Jangan sepertiku! Aku terpaksa bermain gila karena permintaan istriku sendiri. Semoga kamu lebih beruntung daripada aku."


Alan terharu. Sekarang, pikirannya tertuju pada Sharron. Sungguh, gadis itu akan bernasib malang jika sampai Darrell melepaskannya. Demi mengikuti ambisi Callie, Darrell akan mengorbankan wanita lain. Ini pertama kalinya Alan mendukung perselingkuhan antara tuannya dan Sharron. Penyelidikan tentang wanita itu sedikit lagi selesai. Kalaupun dia wanita baik-baik, sungguh tidak adil sekali. Darrell harus memilihnya. Namun, bagaimana dengan nasib Callie selanjutnya? Bagaimana kalau dia tahu suaminya sudah bersama wanita lain?


"Tuan, bolehkah aku mengutarakan pendapatku? Ya, lebih tepatnya isi hatiku."


"Hemm, silakan!"

__ADS_1


"Sebenarnya aku mulai menyelidiki asal usul Sharron, tuan. Aku tidak mau terjadi hal buruk pada Anda. Namun, kalau kebenaran tentang Sharron bahwa dia itu wanita baik-baik, apakah Anda tega melepaskan begitu saja? Maksudku, setelah Anda menjadikannya alat untuk memenuhi keinginan Nyonya Callie, apa Anda tega meninggalkannya begitu saja?"


Hati nurani Darrell mulai mencerna ucapan Alan barusan. Dia merasa kalau asistennya juga benar. Selain tidak bisa menikah dengan Sharron, jelas wanita itu kehilangan banyak hal. Tentang harga dirinya, kegadisannya jika memang dia masih gadis, dan kemudian anak yang dikandungnya. Kalaupun Darrell bisa bertanggung jawab, itupun harus berpisah dengan Callie. Perpisahan karena takdir. Sungguh, permainan hidup Darrell tidaklah mudah.


__ADS_2