Belenggu Cinta Hot Daddy

Belenggu Cinta Hot Daddy
Bab 15. Di antara Dua


__ADS_3

Puas membuat Sharron tersipu malu, Darrell melepaskan genggaman tangannya. Darrell berdiri untuk mengambil buket bunga dan paper bag yang diletakkan di meja. Dia menyerahkan kedua benda itu ke tangan Sharron.


"Ini untukmu."


"Terima kasih, Dad. Boleh kubuka paper bag-nya?" tanya Sharron.


"Buka saja. Kalau tidak cocok, kamu bisa menukarnya." Darrell kembali duduk di sofa bersebelahan dengan Sharron.


Sharron membukanya. Dia mendapatkan sebuah kalung emas dengan liontin zamrud berbentuk hati.


"Dad, ini indah sekali. Ini terlalu mahal untukku," ucap Sharron.


"Tidak masalah asal kamu suka. Sini aku pakaikan," ucap Darrell.


Sharron menyerahkan kotak perhiasan itu ke tangan Darrell. Dia membalik badannya berganti memunggungi Darrell agar pria itu mudah memasang kalung pemberiannya.


"Sudah."


Sharron tidak menyangka dandanannya yang hanya mengenakan bathrobe dan handuk di kepalanya tak membuat Darrell ilfeel.


"Terima kasih. Oh ya, Daddy sebaiknya membersihkan diri dulu. Aku sudah menyiapkan makan malam."


"Baiklah. Kamu tidak melupakan pesanku, kan?" tanya Darrell sebelum beranjak ke kamar mandi.


Sebenarnya Sharron pura-pura lupa, tetapi sepertinya dia akan kesulitan. Ingatan Darrell cukup kuat sehingga membuat Sharron mengatakan sejujurnya.


"Tidak! Apakah ini masih berlaku? Kapan aku harus menggunakannya?" tanya Sharron. Semoga dengan ucapannya barusan, Darrell tidak memaksanya untuk memakai lingerie seksi itu.


"Setelah makan malam." Darrell beranjak masuk ke kamar mandi.


Sharron bergegas mengambil pakaian yang baru dibelinya kali ini. Seperti biasa, dia akan menggunakan hot pants dengan kaos yang melekat pas di tubuhnya. Terlihat sangat seksi untuk ukuran Sharron.


Sharron menunggu Darrell di meja makan. Pria itu pasti bisa menyiapkan dirinya sendiri tanpa merepotkan Sharron.


Aroma maskulin menguar memenuhi meja makan. Itu artinya Darrell sudah mendekat.

__ADS_1


"Kau sudah selesai, Dad?" tanya Sharron tanpa menoleh.


Darrell kemudian mengalungkan tangannya ke leher Sharron. Terkesan berlebihan, bukan? Tetapi ini cara yang ampuh untuk mendekatkan diri pada gadis itu. Darrell lebih agresif. Dia seperti mendapatkan puber keduanya dengan sempurna.


"Seperti yang kau lihat, Sharron. Aku datang. Apa kau merindukanku?" tanya Darrell yang masih berada di posisi semula.


"Dad, sungguh ini terlalu berlebihan. Aku takut tidak tahan dengan sikapmu yang seperti ini," ucap Sharron. Dia melepaskan kedua tangan Darrell dari lehernya.


"Maaf, aku tidak bermaksud untuk membuatmu seperti itu. Percayalah, aku tidak sedang bercanda. Seminggu tidak bertemu denganmu, rasanya ada yang kurang," ucapnya kemudian duduk di kursi.


Sharron merasa aneh dengan sikap Darrell. Pria itu bahkan sangat romantis sekali. Perlakuannya manis dan membuat Sharron mulai kecanduan. Dia pun tidak menolak atau ketakutan seperti sebelumnya. Apapun yang diputuskan tentang Darrell, memang seperti itu alur kehidupannya.


"Sudahlah, Dad. Jangan merayuku terus. Lebih baik lekaslah makan. Keburu tidak enak makanannya."


Sharron mengambilkan sepiring makanan untuk Darrell. Dia persis seperti seorang istri yang melayani suaminya. Darrell pun menerimanya kemudian mencoba menikmati makanannya.


Semenjak Callie sakit, Darrell tidak mendapatkan pelayanan seperti hari ini. Semuanya dilayani oleh pelayan mansionnya. Itulah sebabnya mengapa Darrell mencoba berkompromi dengan pilihannya kali ini. Tidak ada salahnya mencoba mencintai Sharron terlebih dahulu. Darrell yakin kalau Sharron tipikal gadis yang tidak mudah jatuh cinta.


"Boleh aku bertanya padamu?" tanya Darrell setelah mencicipi makanan yang rasanya lumayan enak.


Darrell mengangguk kemudian melanjutkan makannya. Secepatnya, Darrell harus menyelesaikan makannya demi berbincang dengan Sharron. Dia merasa seperti anak ABG yang mulai diperhatikan oleh pujaan hatinya.


Selesai makan malam, Sharron membersihkan meja makan terlebih dahulu. Dia mencuci beberapa piring kotor di wastafel.


Bukan Darrell namanya kalau tidak bisa totalitas untuk mendapatkan wanita incarannya. Ketika Sharron sedang mencuci piring, Darrell memeluknya dari belakang. Sebenarnya Sharron sudah menunjukkan penolakan, tetapi Darrell tak mengindahkan.


Maafkan aku, Callie. Aku terpaksa belajar mencintai Sharron untuk mewujudkan semua keinginanmu. Aku tahu ini salah, tetapi kamu terus memaksaku. Jangan salahkan jika aku mulai tertarik pada Sharron. Sungguh, aku tidak berniat untuk menduakanmu Callie. Kau yang terus memaksaku.


Darrell mulai menciumi leher jenjang Sharron. Gadis itu dibuat kelabakan dengan sikap Darrell saat ini. Bertepatan dengan selesainya Sharron mencuci piring, gadis itu lantas mencoba untuk menghindari Darrell.


"Dad, lepaskan!" pinta Sharron.


"Kenapa? Kau tidak menyukainya?" tanya Darrell.


"Bukan seperti itu, maksudku. Bukankah kita ingin berbincang setelah ini?"

__ADS_1


"Ya, baiklah," jawab Darrell. Dia mengikuti ke manapun Sharron duduk.


Sharron lebih memilih duduk di ruang tengah sambil menonton televisi. Namun, Darrell lebih dulu merangkul pundak gadisnya.


"Apakah aku salah telah menjadikanmu yang kedua?" tanya Darrell. Sikapnya yang mendadak berbeda membuat Sharron merasa aneh. Jangankan Sharron, dirinya pun merasa seperti itu.


"Aku tidak tahu, Dad. Keputusanku untuk masuk ke kehidupanmu lah yang salah. Sejujurnya aku hanya ingin mencoba menjadi Sugar Baby itu karena sahabatku. Aku selalu merepotkan dirinya."


Darrell menyandarkan kepala Sharron di pundaknya. Seakan dunia milik berdua saat ini. Sharron pun tidak akan menolaknya.


"Dad? Boleh aku menanyakan sesuatu?" Sejujurnya Sharron khawatir kalau Darrell akan memintanya untuk melayani Darrell di ranjang. Dia belum siap. Apapun alasannya, Sharron belum siap.


"Hemmm, katakanlah!"


"Dad, sebenarnya aku ingin mundur dari perjanjian kontrak kita. Aku tidak siap untuk menjadi rahim pengganti. Bagaimanapun, aku bukan wanita yang tega menyakiti wanita lain. Apalagi aku baru sadar jika Daddy sudah memiliki istri. Bisakah aku mundur sekarang? Aku tahu, ini menyalahi kontrak yang sudah dibuat. Bagaimana, Dad?"


Darrell menghela napas berat. "Kamu pikir aku juga mau menjalani hubungan seperti ini? Aku juga terpaksa karena istriku meminta anak dariku. Aku sudah mengajukan supaya mengadopsi anak saja. Dia tidak mau. Memang dia yang bermasalah, tetapi tentunya aku masih bisa sehingga dia ngotot untuk mendapatkan anak dariku dengan wanita lain."


Deg!


Sharron harus mengatakan apalagi? Dia juga bingung. Kalaupun setuju, Sharron pasti akan menjadi wanita yang paling dirugikan.


"Dad, kita tidak bisa menikah! Apa kau menginginkan anak yang terlahir diluar nikah? Tidak, kan? Kumohon pertimbangkan permintaanku. Lepaskan aku, carilah anak adopsi!" jelas Sharron.


"Aku juga tidak bisa bercerai dengan Callie. Lalu, apakah aku harus mundur sementara dia terus memaksaku?"


"Sejujurnya, wanita mana yang ingin terpisah dari anaknya, Dad. Akupun tidak mau. Kalaupun aku hamil, aku tidak akan menyerahkan anakku untuk orang lain," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Sharron, maafkan aku. Aku memang belum mencintaimu, tetapi aku akan belajar. Posisi kita sama-sama rumit. Kumohon jangan pernah tinggalkan aku apapun risikonya. Kita akan hadapi bersama-sama. Kau percaya padaku, kan?"


"Iya, Dad. Aku percaya padamu. Lalu, bagaimana dengan istrimu?"


Deg!


Darrell memang masih mencintainya. Namun, dia juga tidak akan melepaskan Sharron begitu saja. Wanita itu sudah membuatnya nekad berbuat lebih. Bahkan, Darrell sudah memberikan ciumannya untuk Sharron. Ciuman yang tidak pernah diberikan kepada siapapun selain kepada istrinya, Callie.

__ADS_1


__ADS_2