
Keringat mengucur sempurna dari kedua belah pihak. Ruangan ber-AC nyatanya tidak mampu mengatasinya. Darrell baru saja menyelesaikan misi pertamanya. Namun, sebagai pria berumur yang masih fit, sebenarnya dia ingin mengulang untuk kedua kalinya.
Melihat wajah Sharron yang sudah kelelahan seperti itu membuatnya tidak tega. Mengingat dia baru saja kehilangan sesuatu yang berharga dalam dirinya ditandai dengan sedikit bercak merah yang tertinggal di ranjang.
Darrell mengecup kening Sharron dengan lembut dan mengucapkan banyak terima kasih telah menampung bibitnya.
"Sharron, terima kasih. Aku berharap kamu lekas hamil," ucapnya lembut.
Sharron tidak menjawab. Setelahnya terlihat ada penyesalan yang terlampau dalam, tetapi semua telah terjadi. Sharron tidak bisa mengembalikan semuanya. Dia sudah terbuai dengan rayuan yang diberikan Darrell. Kalaupun mau menahan, Sharron sudah tidak kuat lagi. Keduanya sama-sama saling menginginkan. Pergumulan panas barusan merupakan pembuktian bahwa hanya dengan sikap agresif yang ditunjukkan Darrell padanya telah mengunci keinginannya untuk terus bersama pria itu.
"Apa kamu menyesalinya?" tanya Darrell lagi.
Sharron menggeleng. Entah, ini bahagia atau musibah untuk hidupnya. Bagaimana kalau dia sampai hamil anak Darrell? Bagaimana kalau istrinya merebut anaknya? Terjadi pergolakan batin yang tidak biasa.
"Dad, aku mau membersihkan diri," pamitnya.
"Sayang ...," panggil Darrell. Dia mencoba mencegah Sharron untuk tidak mandi di malam hari.
Deg!
"Mandinya besok pagi saja. Istirahatlah dulu," pinta Darrell. Dia menyelimuti seluruh tubuh Sharron yang masih polos itu. Tak lupa, Darrell mengelus puncak kepala Sharron sampai wanitanya tertidur.
...***...
Pagi menjelang. Darrell perlahan membuka matanya. Setelah semalam mengelus puncak kepala Sharron sampai wanitanya itu tertidur, Darrell tidak ingat lagi. Dia mungkin tertidur di sebelahnya. Dia kemudian meraba keberadaan Sharron untuk membangunkannya.
Kosong. Darrell tidak menemukan keberadaan Sharron di ranjangnya. Dia bangkit untuk melihat ke kamar mandi. Mungkin saja dia sedang membersihkan diri.
Pintu kamar mandi terbuka. Tidak ada siapapun di dalamnya saat Darrell melihatnya.
"Ke mana perginya?" tanya Darrell.
Tak ada jejak yang ditinggalkan sedikitpun. Darrell jadi khawatir kalau Sharron akan membawa lari anaknya. Perasaannya tidak menentu. Namun, dia harus tetap sabar.
Seusai membersihkan diri, Darrell sarapan pagi di dalam kamarnya. Dia sebenarnya ingin mengaktifkan ponselnya, tetapi Callie pasti akan menginterogasinya. Walaupun sudah tahu berada di luar kota yang menjadi alibi Darrell, ketika ponsel menyala, hilang sudah privasinya.
__ADS_1
Berniat untuk melakukan check out, sebelum keluar dari kamarnya, dia menemukan secarik kertas kecil tulisan tangan seseorang. Dia lekas membuka kemudian membacanya.
Dear Daddy Darrell, maaf aku harus pergi sebentar. Aku ingin menenangkan diri sejenak. Sejujurnya, semalam aku ingin menolaknya. Namun, ada pertimbangan khusus yang sudah membuatku mau melakukannya denganmu. Lebih cepat selesai lebih baik. Kalau aku sudah membaik, kita bisa bertemu lagi di apartemen. Aku akan datang ke sana. Thanks. -Sharron-
"Rupanya kau langsung kabur," ucap Darrell kemudian meremat kertas itu lalu membuangnya ke dalam tong sampah. Dia tidak akan meninggalkan jejak untuk diketahui Callie, istrinya. Namun, dia tidak bodoh. Sebentar lagi dia akan ke kantor untuk menemui Alan kemudian memintanya untuk mengirimkan orang demi menjaga Sharron.
...***...
Noelle baru saja sampai bersamaan dengan Sharron. Keduanya bertemu tepat di depan pintu unit apartemen yang biasa mereka tinggali.
"Kau yang membukanya atau aku?" tanya Noelle.
"Kau saja. Aku lelah," jawab Sharron.
Noelle lekas memasukkan kartu akses kemudian menekan PIN-nya. Pintu terbuka, Sharron menerobos lebih dulu. Dia langsung menuju ke kamar kemudian merebahkan dirinya di atas ranjang. Tasnya dilempar sekenanya.
"Tumben, kau terlihat lemas seperti itu? Memangnya habis ngapain?" selidik Noelle yang baru saja melepas sepatunya. Dia meletakkan di rak sepatu di sudah kamar.
"Aku sudah melakukannya, Noelle."
Glek!
"Kamu serius?" tanya Noelle. Dia langsung duduk di samping Sharron.
Sharron mengangguk.
"Bagaimana rasanya? Kamu pasti sangat menikmatinya, kan?" Noelle merasa sudah mendapatkan teman.
"Bagaimana kalau aku hamil?" tanya Sharron. Dia malah mengalihkan pertanyaan Noelle dengan pertanyaan barunya.
"Memangnya daddy-mu tidak memakai pengaman?"
"Tidak! Perjanjian kami bukan sebatas sugar baby dan sugar daddy, Noelle. Lebih tepatnya perjanjian sewa rahim," jelas Sharron. Dia percaya pada Noelle karena selama ini dia yang telah menolongnya.
"Apa? Kamu serius? Lalu, apa alasannya daddy Alan melakukan itu?"
__ADS_1
Dia bukan Alan, Noelle. Dia Darrell Wesley. Dia pria beristri yang menginginkan anak untuk istrinya. Bagaimana kalau anakku diambil oleh mereka?
"Hei, kenapa diam?" tanya Noelle lagi.
"Istrinya tidak bisa punya anak. Aku saja yang tidak tahu keluargaku rasanya seperti ini. Bagaimana kalau nantinya aku terpisah dari anakku?"
"Bagaimana kalau kau kabur? Aku akan membantumu. Semua daddy-ku pasti bisa diandalkan."
Kabur? Bukan usul yang buruk. Namun, itu tidak akan dilakukan dalam jangka pendek sampai Sharron benar-benar hamil. Kalau dia tahu hamil, maka solusinya dia akan meminta tolong Noelle untuk membantunya lari sejauh mungkin. Dia tidak peduli sekuat apapun Darrell Wesley akan mengejarnya, dia yakin bisa kabur.
"Terima kasih, Noelle. Kamu memang sahabat terbaikku." Sharron duduk kemudian memeluk sahabatnya dengan sangat erat.
"Hemm, akhirnya jebol juga kamu, ya," ucap Noelle setelah berpelukan.
"Ish, apaan sih, Noelle?"
"Cerita, dong! Bagaimana kalian bisa melakukannya? Penasaran banget." Noelle mentoel pipi sahabatnya dengan cukup gemas.
"Seperti yang kamu lakukan pada semua daddy-mu, Noelle. Tidak ada bedanya," jawab Sharron. Memang kenyataannya begitu.
"Tidak, Sharron. Setiap Daddy yang kutemui itu berbeda-beda. Aku pernah mendapatkan Daddy yang hiper sehingga aku bukan seperti sugar babynya, tetapi lebih tepatnya seperti wanita pemuas ranjangnya. Apakah Daddy Alan tipe seperti ini atau lain?"
Menurut Sharron, Darrell pria yang lembut. Dia memperlakukannya dengan cukup baik.
"Tidak. Dia hangat dan sangat lembut."
"Euh, pasti romantis. Pria seperti itu langka, Sharron. Percaya deh! Dia hanya akan mementingkan dua hal. Istrinya dan orang yang dicintainya. Pria model Daddy Alan itu tidak akan mendua kalau tidak terpaksa."
Mungkinkah ucapan Noelle barusan benar? Tetapi, kalau dilihat dari gelagat Darrell memang seperti itu. Bahkan dia memberikan apartemen yang hanya bisa diakses untuk dirinya dan juga Darrell. Selebihnya tidak ada wanita lain yang pernah diceritakan Darrell padanya selain Callie.
"Menurutmu, apakah aku bertahan atau lebih tepatnya meninggalkan setelah semuanya berakhir?" Alasan Sharron bertanya pada Noelle karena sahabatnya itu lebih paham pada setiap pria yang dikenalnya.
"Oke, dengarkan aku! Kalau aku jadi kamu, mendapatkan pria seperti daddy Alan itu memang langka. Kalaupun dia sudah beristri, dia kan yang mengejarmu lebih dulu. Apalagi semua kebutuhanmu juga disediakan olehnya. Aku akan memilih bertahan dengan situasi seperti ini, tetapi--"
"Apa, Noelle? Aku penasaran," balas Sharron.
__ADS_1
"Kalau istrinya tidak tahu. Kalau sampai tahu, entahlah. Akupun angkat tangan."
Semua penjelasan Noelle masuk akal. Sebagai orang kedua di dalam rumah tangga Darrell, Sharron juga takut ketahuan oleh istrinya. Callie pasti menjadikannya musuh secara mendadak. Kalau sudah seperti ini, Sharron-lah yang salah. Walaupun sebenarnya semua dimulai dari Darrell.