
Allegra, Callie, dan Darrell berangkat dari kantor. Selepas bertemu dengan Sharron, Darrell sepakat untuk bertemu dengan istri dan mamanya di kantor. Hari ini mereka sepakat untuk pergi ke panti asuhan. Javer tidak diberitahu karena itu akan menjadi urusan dengan Allegra.
"Darrell, pastikan hari ini kalian mendapatkan satu anak adopsi. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Mama tidak mau hubungan kalian berantakan," ucap Allegra ketika berada di dalam mobil.
Darrell yang mengemudikan kendaraannya. Sementara mama dan istrinya duduk di bangku penumpang.
"Iya, Ma. Katakan pada menantumu juga," balas Darrell.
"Kalian ini sudah sama-sama dewasa. Jangan seperti anak kecil!" ucap Allegra.
"Ya, Ma. Aku minta maaf," balas Callie.
Jalanan menuju panti tidak terlalu ramai. Namun, pikiran Callie sangat kacau sekali. Niatnya untuk kabur dari kehidupan Darrell agaknya terkendala kehadiran anak angkatnya.
"Sayang, nanti kalau di sana aku tidak cocok dengan salah satu anak, kita bisa kan membatalkannya?" tanya Callie.
"Callie, Mama baru saja menyampaikan. Gunakan waktu sebaik mungkin. Ini kesempatan langka bisa pergi bersama mama dan Darrell. Jadi, jangan buat kami kecewa," sahut Allegra.
"Ma, memilih anak adopsi sama halnya seperti mencari jodoh," ucap Callie beralasan.
"Makanya, Mama memutuskan untuk ikut supaya kalian berdua secepatnya menemukan anak adopsinya."
Kalau sudah seperti ini, Callie sangat kesulitan untuk melarikan diri. Namun, sebuah harapan besar muncul ketika Darrell menghentikan mobilnya secara mendadak.
Ciiiiitttt!
"Ada apa, Darrell?" tanya Callie dan Allegra bersamaan.
"Tidak, tidak ada apa-apa," jawab Darrell.
Sebenarnya dia melihat orang yang selama ini dekat dengannya, tetapi Darrell tidak mungkin bisa mengatakannya pada Callie atau mamanya.
Darrell berusaha melupakan sejenak gadisnya itu. Dia mulai memikirkan untuk memiliki anak adopsi bersama Callie. Hari-harinya pasti akan disibukan dengan suasana mansion yang semakin ramai.
"Callie, Ma, kita hanya punya waktu maksimal satu jam di sini. Aku lupa kalau ada meeting mendadak hari ini," ucap Darrell mengingatkan saat mereka sampai di halaman panti asuhan yang sangat luas.
"Darrell, sebaiknya kau pergi sekarang. Biar Mama dan Callie yang akan mencarinya," ucap Allegra.
__ADS_1
Merasa mendapatkan kesempatan besar, bergegas Darrell pergi ke kantor. Dia hendak menemui Alan terlebih dahulu. Lebih tepatnya dia meminta tolong pada asistennya itu untuk menemukan keberadaan Sharron. Dia merasakan sesuatu yang sesak ketika mengetahui Sharron terlihat hendak naik taksi dengan membawa koper besar.
Sampailah Darrell di sebuah ruangan yang biasa di tempati Alan. Berulang kali Darrell mengetuk pintu, ternyata Alan baru saja menuju ke pantry.
"Tuan mencariku?" tanya Alan yang membawa secangkir kopi hitam.
"Ya, aku memerlukan bantuanmu."
"Silakan masuk!" ucap Alan setelah membuka pintu ruangannya. Dia meletakkan cangkir di meja kerjanya.
"Alan, aku mau minta tolong padamu untuk menjemput Sharron ke apartemennya. Maksudku, apartemen yang biasa di tempatinya bersama Noelle."
"Sekarang atau sepulang kerja, Tuan?"
"Lebih baik sekarang. Bawa ke apartemenku!"
Egois memang. Istrinya sedang sibuk bersama mamanya, tetapi Darrell lebih memilih untuk mencari keberadaan Sharron.
Kopi yang dibuat Alan bahkan belum dingin, tetapi tuannya buru-buru memintanya pergi ke apartemen yang ditempati Sharron. Alan pun tidak bisa menolak sehingga dia memilih untuk berangkat. Biarkan kopinya dingin, nanti pun masih bisa diminum lagi. Tetapi, kalau sudah menyangkut wanita yang satu ini dan Alan mengulur waktu, semuanya bisa kacau.
"Baik, Tuan."
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan melelahkan menurut Alan, dia menuju ke tempat parkir. Dia ingin naik ke unit yang ditempati Noelle selama ini. Kalau dia menunggu di depan tanpa mau melakukan tugasnya dengan baik, bisa jadi Sharron akan mengulur waktunya.
Alan menekan bel unit apartemen yang dimaksud. Beberapa waktu yang lalu, Alan mendapatkan informasi dari orang suruhannya kalau unit yang di tempati Noelle ada di lantai sekian dan unit sekian. Itu sudah cukup memudahkan bagi Alan.
Ceklek!
Seorang wanita muda membukakan pintunya. Terlihat lebih seksi dan berani dalam berpakaian. Kalau dibandingkan Sharron, nilai yang dimiliki Noelle 90, sedangkan Sharron baru 60.
"Maaf, mau cari siapa?"
Deg!
Alan mengira kalau tanggapan Noelle akan sangat kasar sekali. Apalagi keduanya baru bertemu kali ini. Nyatanya wanita muda itu bisa bersikap sangat lembut sekali.
"Sharron. Apa dia ada?"
__ADS_1
"Ehm, Anda siapanya Sharron?" tanya Noelle. Dia memang belum hapal orang-orang yang saat ini berhubungan dengan Sharron.
"Aku Alan." Alan mengulurkan tangannya berniat untuk menjabat tangan Noelle sebagai cara perkenalan pertama mereka.
"Oh, Daddy Alan." Noelle menelisik dari ujung rambut sampai ujung kaki. Menurutnya tidak begitu buruk. Penampilannya juga menarik. Yang paling penting, rupanya pria itu yang meniduri sahabatnya. "Ehm, masuk dulu, Dad. Kita bicarakan di dalam."
Alan sebenarnya enggan untuk masuk. Namun, demi mendapatkan informasi ataupun keberadaan Sharron saat ini, dia terpaksa masuk. Noelle mempersilakan Alan duduk di sofa kemudian Noelle pergi ke dapur sejenak untuk menyiapkan minuman.
"Dad, di minum." Noelle menyerahkan secangkir kopi yang aromanya sangat menarik untuk di hirup.
"Terima kasih, Noelle." Alan menyeruput perlahan kopinya yang masih sedikit panas. Bisa dibilang, kopi ini sengaja dibuat sebelum Alan datang. "Kau sengaja menyiapkan kopi untukku?"
"Bukan, Dad. Sebenarnya itu untukku. Daripada kelamaan nunggu, kan."
Noelle termasuk wanita yang peka sekali. Dia tidak ragu untuk mengatakan bahwa kopi ini memang sebenarnya untuknya, tetapi karena bingung mau memberikan apa pada tamunya, terpaksa Noelle membawakan cangkirnya ke depan.
Selesai menyeruput kopinya, Alan tidak ingin berlama-lama di apartemen bersama Noelle. Sebagai pria normal, Alan bisa sangat tertarik pada Noelle yang notabene terlihat seksi di matanya.
"Sharron di mana?" tanya Alan tanpa basa-basi.
"Ish, sabar dulu, Dad. Ehm, apakah Sharron tidak pamit padamu? Atau, kalian sedang berantem?" selidik Noelle.
Pamit? Alan sempat bingung dengan satu kata itu. Tuannya tidak mengatakan apapun kalau Sharron sudah pamit padanya. Mungkin saja benar ucapan Noelle barusan kalau antara Sharron dan Darrell sedang tidak baik-baik saja.
"Oh, ehm, aku minta maaf, Noelle. Sebenarnya aku sangat sibuk. Mungkin aku menerima pesannya, tetapi aku lupa membaca. Ya, kamu tahu sendiri kan pengusaha itu seperti apa?" ucap Alan beralasan. Dia tidak mungkin mengatakan kalau hubungan Sharron itu bukan dengannya, melainkan dengan tuannya, Darrell.
"Ya, ya, ya. Percaya, deh. Sebenarnya aku juga bingung dengan sikap Sharron beberapa hari terakhir ini. Dia memintaku untuk menyiapkan paspornya yang biasa kami simpan di tempat yang sama. Beberapa jam yang lalu, dia sudah berangkat ke bandara."
"Bandara?" tanya Alan dengan keterkejutannya yang luar biasa.
"Iya, Dad. Dia pergi ke Swiss."
Oh God, apa yang akan dikatakan Alan kalau ternyata Sharron sudah pergi ke Swiss? Bisa jadi Alan akan diminta langsung menyusulnya ke sana kemudian membawanya pulang tanpa tergores sedikitpun.
...🍍🍍🍍...
Sambil menunggu update, yuk kepoin karya keren berikut ini
__ADS_1