
Alunan lagu romantis menggema di pagi hari. Sebelum acara pernikahan dilangsungkan, suasana mansion dibuat senyaman mungkin. Ini atas permintaan Javer yang menyukai lagu-lagu yang bernuansa romantis seperti ini. Apalagi ini untuk menyambut pernikahan putranya.
Allegra sendiri tangah sibuk mengantarkan perias pengantin untuk calon menantunya. Dia sendiri yang mengantarnya menuju ke paviliun.
"Selamat pagi, Sayang. Bagaimana perasaanmu hari ini?" tanya Allegra.
"Sharron baik, Ma. Rasanya juga deg-degan hari ini."
"Jangan lupa sarapan pagi. Mama akan minta tolong pelayan untuk mengantarkan roti selai, buah, dan susu. Mama rasa itu sudah cukup mengenyangkan. Kalau mau sarapan pagi pasta buatan Mama, tidak hari ini. Perutmu pasti kekenyangan nantinya."
"Terima kasih, Ma."
Allegra kemudian meninggalkan paviliun. Kini dia beralih melihat putranya yang sedang bersiap di kamar. Dia juga terlihat sekali seperti pria yang baru saja menikah.
"Kau gugup, Sayang?" tanya Allegra. Setelah mengetuk pintu, wanita paruh baya ini langsung masuk saja.
"Iya, Ma. Selain gugup, aku sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan Sharron. Kami akan melangsungkan pernikahan hari ini. Oh ya, mengenai ucapanku yang semalam, Mama tidak perlu khawatir. Aku yakin kalau Sharron itu bukan Maggia. Aku minta maaf pada Mama sudah membuat sedih."
"Tidak masalah, Darrell. Mama paham situasinya. Mama pun merasa kalau Sharron itu anak Mama yang hilang. Kau tahu kan bahagianya seperti apa? Mama sudah menikmati kebersamaan dengannya. Itu sudah lebih dari cukup. Sekarang, harapan Mama tidak muluk-muluk. Kalau memang Tuhan masih menghendaki kami bertemu, mungkin saat itulah hal yang paling membahagiakan. Bukan berarti Mama tidak bahagia dengan pernikahanmu. Mama sangat bahagia."
"Terima kasih, Ma." Darrell meraih tangan mamanya kemudian mengecupnya.
"Jangan seperti ini. Aku jadi ragu untuk melepaskanmu menikah dengan Sharron."
"Kenapa begitu, Ma? Apa ada yang salah dengan diriku?"
"Bukan kamu yang salah, tetapi tingkahmu. Lain kali jangan seperti ini kalau berada di hadapan Sharron. Mama tidak mau menantuku itu cemburu pada mertuanya. Paham?"
"Iya, Ma. Aku mengerti."
Selagi calon pengantin bersiap. Beberapa tamu undangan yang akan menyaksikan janji suci pernikahan sudah datang. Termasuk Alan dan Noelle yang datang bersamaan. Memang itu karena permintaan Darrell.
Noelle kali ini sudah terlihat cantik kembali. Kulitnya pun mulus. Semenjak kejadian itu, Noelle sementara waktu berhenti menjadi sugar baby. Kali ini dia hanya menunggu kabar dari perusahaan Darrell yang kata Alan mau menerima bekerja di sana. Namun, ada hal lain yang masih perlu dipertimbangkan. Beberapa diantaranya karena Darrell masih fokus mengurus pernikahan, Noelle yang masih ragu dengan keputusannya, dan sisa tabungan Noelle yang masih cukup banyak. Beberapa hal itulah yang membuat kesepakatan belum terbentuk.
__ADS_1
"Lukamu sudah sembuh?" tanya Alan saat berada di halaman mansion keluarga Wesley.
"Seperti yang kamu lihat. Aku melakukan perawatan. Kalau sampai Sharron tahu, dia bisa marah padaku," ucapnya.
"Oh ya, kamu tidak mau mendampingi Sharron? Kalau mau, aku akan bertanya pada tuan Javer supaya mengantarkanmu ke tempat Sharron berada."
"Tidak! Aku tunggu di sini saja. Lagi pula sebentar lagi dia pasti keluar. Bukankah mereka akan mengucapkan janji suci sebagai prosesi pernikahan kali ini?"
"Ya, kau benar. Memang lebih baik kita duduk dan menikmati suasananya."
Lagu-lagu yang semula diputar sehingga suaranya memenuhi halaman mansion, sekarang tidak lagi. Sebentar lagi pernikahan akan dilangsungkan.
Tidak lama, Darrell pun keluar bersama Allegra. Dia langsung menuju ke altar pernikahan sembari menunggu kehadiran calon istrinya. Dia juga sempat menyapa Alan sebentar dan mengucapkan terima kasih pada pria itu karena sudah membawa sahabat istrinya.
Hal yang paling ditunggu adalah kehadiran calon pengantin wanita. Sharron masuk bersama tuan Javer. Veil-nya menutup wajahnya sehingga Darrell langsung memandang wajah calon istrinya yang sangat cantik itu. Kerinduan yang mendalam tak mampu mengalihkan pandangannya. Darrell terus saja fokus memandang wajah calon istrinya.
Setelah keduanya berada di altar pernikahan, janji suci pun berlangsung. Prosesi pernikahan yang cukup sakral itu telah membuat haru semua orang yang ada di sana. Darrell dan Sharron mengikat janji suci di hadapan orang banyak dan kedua orang tuanya. Prosesi pernikahan selesai kemudian dilanjutkan untuk memasang cincin pernikahan sebagai simbol telah diresmikannya pernikahan penuh cinta itu.
Hal yang paling ditunggu adalah ketika para tamu yang hadir meminta mereka untuk memberikan kecupan ataupun ciuman pertamanya.
Sepasang pengantin terlihat malu-malu, tetapi Darrell tidak patah semangat. Kerinduannya yang terlalu menggebu membuatnya langsung memberikan kecupan mesra di bibir kemudian dilanjutkan dengan ******* sejenak. Sharron pun tidak menyangka kalau Darrell berani melakukannya. Merasa malu karena dilihat banyak orang, Sharron mendorong tubuh suaminya secara perlahan.
"Cukup, Darrell! Aku malu!" bisiknya.
Darrell pun bisa paham. Sebenarnya dia sengaja mengerjai Sharron supaya lebih malu lagi di hadapan orang banyak.
"Nanti malam kita lanjutkan di kamar," bisik Darrell.
"Tidak! Nanti malam masih ada pesta dansa. Mama yang mengusulkan."
Glek!
Astaga. Darrell tidak menyangka. Malam ini akan benar-benar dibuat sangat lelah. Selain menemui para tamu undangan, malam hari keduanya harus berdansa.
__ADS_1
Sharron akhirnya memegang buket bunga setelah Allegra memberikan. Wanita paruh baya itu benar-benar melupakan satu hal kecil itu.
"Maafkan Mama, Sayang. Buket bunga pengantinnya ketinggalan," ucap Allegra.
"Tidak masalah, Ma. Terima kasih," jawab Sharron.
Sepasang pengantin kemudian turun menemui tamu undangan yang sudah menjadi saksi dalam acara hari ini.
"Selamat, ya!"
"Wah, congratulations."
"Thank you," jawab Darrell dan Sharron bersamaan.
Kini, sepasang pengantin bertemu dengan Alan dan Noelle yang duduknya menjauh dari altar.
"Kenapa memilih tempat duduk di sini?" tanya Sharron.
"Ah, Sayang. Aku hanya ingin menikmati suasana pernikahan kalian di sini. Selamat, ya! Semoga selalu bahagia dan lekas buatkan baby yang banyak untukku," ucap Noelle.
Sharron mencubit pinggang sahabatnya itu. Bagaimana tidak, wanita muda itu memakai gaun yang sangat seksi sehingga menampakkan perutnya yang rata dan cantik. Gaun model bra yang bertali tipis dan rok menjuntai panjang ke bawah. Gaun itu berwarna kuning menyala. Sangat cantik dengan paduan kulit Noelle yang putih bak porselen itu.
"Auwww, Sharron!" teriak Noelle.
"Kamu terlalu berlebihan! Ngomong-ngomong, dandan secantik ini untuk siapa?" bisik Sharron.
"Ehem! Apa kalian akan mengobrol terus seperti itu? Gantian dong! Selamat atas pernikahan Tuan Darrell dan Nona Sharron. Semoga selalu bahagia," ucap Alan.
"Terima kasih, Alan. Aku sengaja membiarkan mereka mengobrol sejenak supaya kerinduannya tersalurkan."
Sharron melirik sejenak ke arah Darrell kemudian memandang lekat ke arah Noelle.
"Noelle, semoga kamu lekas menikah juga sepertiku," ucap Sharron. "Oh ya, dan aku membayangkan kita memiliki anak-anak yang lucu kemudian pergi tamasya bersama."
__ADS_1
Glek!
Darrell, Noelle, dan Alan seling berpandangan sejenak. Pikiran Sharron rupanya lebih jauh lagi dari bayangan ketiga orang itu. Rasanya lucu sekali kalau mereka sudah memiliki anak. Kesempatan untuk mengobrol santai seperti ini akan menghilang digantikan suara cerewet masing-masing orang tua.