Belenggu Cinta Hot Daddy

Belenggu Cinta Hot Daddy
Bab 60. Membebaskan Noelle


__ADS_3

Pria yang melakukan kekerasan fisik pada wanita muda itu nyatanya malah tertantang untuk melanjutkan kegiatannya. Sungguh pemandangan yang mengerikan sekali. Tak ada yang berani menghentikan aktivitasnya selain pria yang saat ini ditahan oleh anak buahnya.


"Auuuww!" teriak wanita muda itu. Ya, dia adalah Noelle. Wanita yang dikenal Alan tidak sengaja karena pertemuannya kala itu.


Alan tidak menyangka bahwa pekerjaan gadis itu membawanya ke ketua geng yang memimpin kawasan itu. Entah apa yang membuatnya berubah beringas pada Noelle.


Tidak hanya di telapak tangan gadis itu, tetapi di paha mulusnya pun sama. Pria keji itu membenamkan batangan rokok itu di sana.


"Hentikan, Tuan!" teriak Alan sekali lagi.


Pria itu meletakkan puntung rokok bekas penyiksaan itu ke asbak yang ada di meja.


"Siapa kamu? Berani-beraninya mengganggu kesenanganku!" seru pria yang bertubuh besar itu kepada Alan.


"Lepaskan wanita itu atau aku akan melaporkanmu ke polisi," ancam Alan.


"Woi, santai! Kalau kau mau wanita ini, bayar mahal! Duduklah! Kita negosiasi dulu."


"Jangan banyak bicara! Katakan kau mau berapa?" tanya Alan. Walaupun dia tidak mengenal baik Noelle, melihat wanita itu kesakitan membuatnya berkeras hati untuk menolongnya.


"Satu juta dollar cash!"


Ini gila. Bagaimana mungkin Alan mendapatkan uang sebanyak itu. Beberapa hari yang lalu tuannya baru saja menebus Sharron dari agensi model. Hari ini, Alan dipaksa untuk menggelontorkan uang sebanyak itu hanya untuk menolong seorang Noelle yang statusnya hanya sebagai sahabat Sharron, calon istri tuannya.


"Baiklah! Aku akan memberikannya besok. Bagaimana? Hari ini aku belum ada uang cash," ucapnya beralasan. Setidaknya dia harus negosiasi dulu dengan Darrell.


"Kalau begitu, jangan minta aku untuk berhenti menyiksanya!"


Glek!


Susah payah Alan menelan salivanya. Dia tahu ini sangatlah mustahil. Mendapatkan uang satu juta dollar dalam waktu beberapa jam. Bisa saja dia mengambil uang perusahaan. Namun, tanpa persetujuan tuannya akan menjadi masalah besar di kemudian hari.


"Begini saja. Bagaimana kalau kita negosiasi sejenak?" ajak Alan. Noelle juga penting untuk hidup orang lain. Itulah sebabnya Alan mati-matian mengusahakan wanita itu supaya bebas.


"Katakan!" bentak pria mengerikan itu.


Posisinya sedikit menjauh. Dia harus berhasil kali ini.


"Aku akan memberikan down payment sebesar $10.000. Sisanya aku berikan cash besok malam. Bagaimana?"


Pria itu menelisik kejujuran yang diucapkan Alan. Mana mungkin bisa dipercaya. Perbandingan sepuluh ribu dollar dengan satu juta dollar masih banyak kekurangannya.


"Kalau kamu tidak percaya, bisa pegang identitasku. Kalau aku tidak membayarnya besok, kau bisa mencariku. Bagaimana?"


Sepertinya negosiasi berjalan alot. Pihak dari pria itu seakan mempersulit keadaan.

__ADS_1


"Kau yakin dengan ucapanmu? Tidak semudah itu, Tuan. Identitas bisa dipalsukan."


Rasanya Alan ingin menghabisi pria di hadapannya itu. Alan pun seperti sedang menawar seorang wanita yang akan menemaninya.


"Baiklah. Aku transfer uangmu sekarang sebagai down payment-nya. Besok malam, kekurangannya akan kukirimkan ke sini bersamaan dengan kau memberikan wanita itu padaku. Bagaimana? Tapi ada syarat yang harus kau penuhi."


"Katakan!"


"Jangan sakiti dia!" ucap Alan.


"Kau ini sangat aneh. Itu fantasi liarku. Semua orang tidak bisa melarangku!"


"Kau sudah menjual wanita itu padaku. Walaupun aku belum sepenuhnya membayar, tetapi aku sudah memberikanmu down payment, bukan?"


Noelle yang sedari tadi menahan sakit tidak menyangka kalau asisten calon suami sahabatnya itu sangat membelanya. Jika bukan karena salah satu pria brengsek yang ditemuinya, Noelle tidak akan berada di dalam genggaman ketua geng yang mengerikan itu.


"Sepakat!" Pria itu kemudian menunggu uang transferan dari Alan. Setelah itu mereka membawa Noelle ke tempat yang sudah disepakati.


***


Keesokan harinya, Darrell yang sudah sadar ternyata berada di apartemen Alan. Semalam, Alan meminta orang lain untuk mengantarkan Darrell ke mobilnya. Untuk kedua kalinya, Alan harus berjibaku dengan masalah yang rumit seperti ini.


Darrell mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Rupanya dia tidak ingat sama sekali.


"Anda sudah bangun, Tuan?" sapa Alan yang membawakan satu nampan berisi makanan dan beberapa minuman.


"Ya, semalam Anda mabuk parah. Dan, ada kejadian mengerikan sehingga hari ini aku ingin meminta bantuan Anda."


Darrell yang masih merasakan pusing akibat semalam mencoba memahami situasinya.


"Kejadian apa?"


Alan langsung menceritakan detail permasalahannya hingga tebusan uang yang dimaksud.


"Apa? Jadi, masih kurang $990.000?"


"Iya, Tuan. Aku hanya bisa memberikan pada mereka $10.000."


Darrell nampak berpikir keras. Uang memang bukan segalanya. Nyawa gadis itu jauh lebih penting dari apapun. Apalagi kalau Sharron sampai tahu kalau calon suaminya tidak mau menyelamatkan sahabatnya, bisa saja Sharron akan membencinya seumur hidup. Bahkan, wanita itu akan meninggalkannya seperti yang sudah dilakukan beberapa waktu lalu.


"Baiklah, Alan. Kekurangannya ambil dari uang perusahaan. Aku yang akan menyampaikan ini pada papaku. Kau jangan khawatir. Dia juga penting untuk kelangsungan kehidupanku," ucapnya.


Alan bisa bernapas lega kali ini. Usahanya tidak sia-sia. Setidaknya Darrell menolongnya juga atas dasar kemanusiaan dan keberlanjutan hubungan percintaannya.


Hari ini Alan dan Darrell pergi ke kantor bersama. Mereka menyiapkan beberapa rapat penting dengan kolega. Setelah itu di sore hari mereka berdua menyiapkan uang cash yang diperlukan.

__ADS_1


"Mereka minta bertemu di mana?"


"Gudang kosong yang tak jauh dari klub itu."


"Memangnya tidak ada polisi yang bisa menangkap mereka?" tanya Darrell.


"Maaf, Tuan. Aku tidak mau berurusan dengan mereka. Setidaknya kita harus membuat mereka tidak melakukan hal yang sama."


"Baiklah. Ayo berangkat!" ajak Darrell.


Ternyata orang-orang disekitar istrinya juga penting. Kalau saja Alan terlambat menolongnya, bisa saja Noelle sudah tinggal nama saja. Apa yang bisa disampaikan Darrell pada Sharron ketika bertemu?


Gudang kosong itu benar-benar sepi. Alan memang menjanjikan memberikan uang di malam hari, tetapi dia sudah tidak sabar ingin segera mendapatkan Noelle. Melepaskan dari pria kejam itu.


Sampai di pintu gerbang, tak ada penjagaan yang berarti sehingga keduanya bisa lolos sampai ke tempat parkir usang yang lama tidak terpakai. Mengerikan sekali.


Darrell dan Alan turun bersama. Alan bertugas memegang koper yang berisi uang sejumlah kekurangannya. Perlahan, keduanya mulai masuk ke gudang kosong itu.


Sepi tak berpenghuni.


"Hai, apa ada orang?" teriak Alan. Dia benar-benar tidak sabar untuk membebaskan wanita itu.


Lima menit.


Sepuluh menit.


Barulah ada seseorang yang merespon dari lantai atas. Gudang kosong itu memang bertingkat sehingga ketika di bawah kosong, kemungkinan mereka berkumpul di atas.


Plok plok plok.


Beberapa kali terdengar suara tepuk tangan.


"Amankan mereka! Pastikan tidak ada senjata yang dibawanya!" ucap ketua geng.


"Aku hanya datang membawa uang. Berikan wanita itu sekarang!" teriak Alan.


"Tidak semudah itu, Tuan! Kami akan pastikan jumlah uangnya tidak kurang dari yang dijanjikan. Ambil uangnya!"


Anak buahnya lantas menghampiri dua pria yang salah satunya membawa koper. Alan sebenarnya tidak puas sebelum melihat Noelle di depan matanya. Alan memang cerdas. Hanya saja dia takut kalau ketua geng itu membohonginya.


Setelah kesepakatan terpenuhi, barulah mereka menyerahkan Noelle pada dua pria di hadapannya.


"Bawalah wanita ini! Aku sudah tidak butuh!" ucapnya.


Glek!

__ADS_1


Sangat menyakitkan. Penampilan Noelle pun tidak seperti biasanya. Dia terlihat sangat berantakan sekali. Beberapa luka lebam dan gosong di tubuhnya sangat banyak sekali. Namun, Alan bersyukur. Setidaknya tidak mendapatkan kesulitan yang berarti. Kalau sampai mereka menggunakan pistol, bisa-bisa Alan dan Darrell mampus karena keduanya tidak membawa senjata.


__ADS_2