Belenggu Cinta Hot Daddy

Belenggu Cinta Hot Daddy
Bab 43. Jangan-jangan Jodohmu


__ADS_3

Banyak yang mengatakan bahwa aku bodoh. It's oke, aku memang bodoh. Mereka tidak tahu bahwa di dalam kebodohanku aku sedang mencoba menyusun strategi melepaskan Callie tanpa menyakitinya. Aku melepaskan Callie tanpa melanggar janji yang diberikan papanya padaku. Janji itu berat, cintaku pada Sharron pun berat. Mungkin setelah Sharron membaca suratku, maka dia akan memaafkan diriku yang sudah kurang ajar ini.


Darrell sengaja ke kantor seorang diri setelah menemui Noelle. Sahabat Sharron itu sedikit terkejut karena tidak tahu bahwa yang menjadi sugar daddynya itu Darrell. Darrell sengaja menampakkan dirinya karena Alan tidak boleh tahu mengenai surat itu, tetapi dia akan tetap berkonsultasi mengenai hubungannya dengan Callie.


Ketika berada di ruang kerjanya, Darrell lantas memanggil Alan melalui interkom. Hanya sekitar lima menit berikutnya, pria itu sudah berada di hadapannya.


"Ada apa, Tuan?" tanya Alan.


"Kau tahu bahwa keputusanku untuk kembali pada Callie dan memaafkan kesalahannya adalah hal yang bodoh menurutku. Sejujurnya, rasa cintaku pada Sharron sudah tumbuh sejak lama. Namun, aku terhalang janjiku dengan papa Callie di masa lalu. Bisakah kau memberikan petunjuk padaku apa yang kulakukan selanjutnya?" tanya Darrell.


"Maaf, Tuan. Aku belum tahu cerita lengkapnya. Jadi, aku belum bisa berpikir rencana apa yang harus kita jalankan."


"Ehm, begini, Alan. Aku dan Callie sudah sepakat untuk memperbaiki hubungan rumah tangga kami. Nah, sebenarnya dia sempat menjalin hubungan dengan Marcello yang katanya sahabat dekatnya itu. Aku terlanjur sakit hati dengan sikapnya walaupun sebenarnya aku juga salah. Hubunganku dengan Sharron juga sebuah kesalahan, tetapi aku terlanjur jatuh cinta. Intinya, aku ingin kembali pada Sharron tanpa menyakiti Callie."


Glek!


Ini namanya serakah. Alan juga bingung harus bagaimana. Dia sendiri saja belum pernah berhubungan dengan wanita. Lalu, apa yang bisa diharapkan darinya?


"Tidak adakah rencana lain yang lebih rumit dari ini, Tuan? Sesungguhnya aku pusing mendengarkan cerita Anda."


Darrell pindah ke sofa. Dia meminta Alan untuk duduk di sebelahnya. Banyak hal yang ingin dibicarakan dengan asistennya yang mendadak tidak bisa berpikir dengan jernih karena masalah tuannya.


"Maksudku begini, Tuan. Inti dari cerita Anda itu, Anda ingin kembali pada Sharron tanpa menyakiti Nyonya Callie? Kenapa Tuan tidak menceraikan saja Nyonya Callie saja kemudian memberikannya pada Marcello. Kalian bisa mendapatkan kebahagiaan masing-masing tanpa saling menyakiti, kan?"


Memang berbicara lebih mudah daripada yang menjalaninya.


"Tidak bisa, Alan. Aku terikat janji pada mendiang papanya."


"Tuan, kita bicara pakai logika, ya. Janji itu hanya antara Tuan dan papanya. Lagi pula papa nyonya Callie sudah meninggal, kan. Mengapa Anda tidak membuat kesepakatan yang sama-sama menguntungkan? Ajukan gugatan perceraian walaupun prosesnya sedikit lebih lama. Butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa bercerai darinya. Kemudian serahkan Nyonya Callie pada selingkuhannya, dan Anda kembali pada Nona Sharron. Selesai masalah."


Ide brilian. Tinggal bagaimana Darrell menyelesaikannya.


"Alan, aku butuh bantuanmu lagi."


Glek!


Alan pikir semua masalahnya selesai ketika memberikan penjelasan panjang lebar kepada tuannya. Nyatanya belum selesai.


"Apalagi, Tuan?"

__ADS_1


"Jagalah Sharron untukku. Ke manapun dia pergi, berikan pengawasan. Aku khawatir kalau Callie akan mencari tahu keberadaan gadisku itu. Pasalnya, dia sudah tahu semuanya."


Glek!


Oh God, pekerjaan ini sangat berat sekali.


...****************...


Sharron baru saja pulang setelah beberapa hari menghindar dari kejaran Marcello. Dia akhirnya sampai di apartemen. Beruntung Noelle tidak ke manapun sehingga dia langsung bisa mencurahkan isi hatinya.


"Hai, Noelle. Aku sangat merindukanmu. Bagaimana kabarmu?"


"Hemm, seharusnya aku yang bertanya padamu."


"Tanyakan saja, tetapi sebelum itu aku membawakan oleh-oleh untukmu."


Noelle hanya menerima oleh-olehnya tanpa membukanya lebih dulu. Ada yang lebih penting dari semua itu yaitu mengenai kedatangan Darrell ke apartemennya.


"Apakah hubunganmu dengan daddy Alan sudah berakhir?"


Deg!


Mengapa Noelle bertanya seperti itu? Apakah selama aku pergi telah terjadi sesuatu padanya? Ataukah Alan mendadak ke sini kemudian mengatakan yang sebenarnya? Tunggu! Alan kan tidak tahu hubunganku dengan Darrell telah renggang?


"Sebenarnya siapa Darrell?" tanya Noelle akhirnya.


Deg!


Mengapa Noelle mengetahui nama Darrell? Apakah Alan menyebutkannya?


"Kau mengerti nama itu?" tanya Sharron.


"Ayolah Sharron, jangan ada rahasia di antara kita. Jelaskan padaku siap Darrell dan Alan sebenarnya?"


"Apakah kau sudah bertemu dengan Darrell?"


"Karena aku sudah bertemu dengannya, makanya aku tanya padamu. Ayolah, dia sangat tampan sekali. Ehm, dia juga menitipkan ini." Noelle menyerahkan sebuah amplop yang sudah diberikan Darrell beberapa waktu yang lalu.


Sebuah surat. Sharron bergegas membuka isinya karena rasa penasaran yang cukup tinggi.

__ADS_1


"Sharron, apa isinya? Aku jadi ikut penasaran, kan," ucap Noelle lagi.


Sharron membiarkan sahabatnya itu untuk membaca. Walaupun belum menjelaskan hubungan masing-masing pria itu, setidaknya Noelle akan menemukan jawabannya di dalam surat yang dibacanya kali ini.


Sharron, maafkan aku. Aku tahu apapun yang terjadi padamu itu atas kemauanku. Kamu jangan khawatir, aku pasti bertanggung jawab. Namun, aku minta kamu untuk bersabar selama beberapa bulan. Aku berjanji akan datang menemuimu lagi untuk melanjutkan hubungan yang sudah kita buat. Salam cinta, Darrell.


Sharron langsung merobek surat itu. "Huh, siapa dia? Seenaknya sendiri degan sikapnya."


"Wait? Tanggung jawab yang bagaimana ini?"


"Alan itu hanya asisten Darrell, Noelle. Yang sebenarnya, aku berhubungan dengan Darrell, bukan dengan Alan."


"Oh, ya ampun, Sharron ... jadi, pria itu yang sudah ...."


Sharron mengangguk.


"Woah, selamat, Sayang. Kurasa kamu sedang beruntung. Panah cinta darinya melesat tepat di hatimu, ya."


"Hah, apa maksudmu?" Setelah membuang surat itu, lantas dia duduk di ranjang.


"Kamu terlihat sangat cemburu sekali sampai membuang surat itu."


"Tidak. Aku biasa saja. Kau tahu kan setelah dari Swiss, aku akan mencoba peruntungan mencari pekerjaan, Noelle. Hubunganku dengan Darrell adalah sebuah kesalahan. Harusnya kamu dukung aku untuk kembali ke jalan yang benar."


Sudah menjadi rencananya. Sharron akan mencoba kembali melamar pekerjaan di Kafe, toko roti, ataupun restoran asalkan dia mendapatkan penghasilan.


"Ya, ya, baiklah, Nona manis. Apapun keputusanmu akan aku dukung."


"Terima kasih, Noelle. Oh ya, saat di Swiss aku bertemu pria yang sangat agresif sekali. Rasanya setiap langkahku selalu ada dirinya. Ehm, seperti sedang diawasi begitu."


"Serius? Memangnya kamu bertemu pria itu di mana?"


"Hotel di kota Zurich. Eh, tidak tahunya malah bertemu lagi di Harder Kulm."


"Jangan-jangan dia jodohmu, Sharron?"


Sharron menggeleng. Jangan sampai dia bertemu lagi dengan pria yang menyebalkan itu. Kehidupannya sudah cukup rumit karena mengenal Alan dan Darrell. Jangan sampai Marcello pun masuk ke dalam kehidupannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Sambil menunggu update, yuk mampir karya keren teman Emak. Terima kasih



__ADS_2