Belenggu Cinta Hot Daddy

Belenggu Cinta Hot Daddy
Bab 17. Sharron Kesal


__ADS_3

Pagi menyambut dengan indah. Suasana mansion Darrell dan Callie terlihat sangat sepi. Semalam, Darrell tidak pulang ke mansionnya. Callie belum tahu ke mana perginya.


Callie sudah bisa turun dari kursi rodanya. Dia berjalan ke ruang makan yang sudah tersedia beberapa makanan di sana.


"Apakah semalam tuan Darrell pulang?" tanya Callie pada salah satu pelayan yang menyiapkan makanan di meja makan.


"Tidak, Nyonya," jawab pelayan itu.


Ke mana perginya Darrell? Alan juga tidak mengabariku. Tidak biasanya dia menghilang seperti ini. Apa karena kesal dengan permintaanku? Sungguh, aku hanya menginginkan anak agar keluarga kami semakin berwarna.


"Telepon Alan! Tanyakan padanya mengenai keberadaan suamiku," perintah Callie.


Sebenarnya dia bisa saja mengirimkan pesan padanya. Namun, Callie ingin tahu apakah jawabannya kepada pelayan sama dengan pada dirinya?


"Baik, Nyonya." Pelayan itu kemudian menuju ke tempat telepon yang berada di ruang tengah mansion.


Tak lama, sekitar 10 menit pelayan itu kembali ke hadapan Callie.


"Bagaimana? Apa kata Alan?" tanya Callie.


"Tuan ada urusan di luar kota selama tiga hari, Nyonya. Tuan Alan meminta maaf pada Anda bahwa dia lupa menyampaikan pesan tuan Darrell," jawab pelayan.


"Terima kasih."


Kini giliran Callie mengirim pesan pada Alan. Dia ingin tahu apakah jawaban Alan sama atau tidak. Setelah mengirimkan pesan, Callie menikmati sarapan paginya seorang diri. Rasanya tidak nyaman makan sendirian di mansion yang seluas ini. Memang biasanya Darrell akan menemani ketika sarapan pagi.


Tak lama, pesan balasan dari Alan pun muncul. Bunyinya sama persis dengan yang disampaikan pelayannya. Callie lega. Suaminya memang selalu bisa bersikap baik dan menjaga pernikahannya dengan cukup baik. Walaupun dia memaksanya untuk mencari rahim pengganti, sepertinya Darrell belum melakukan permintaan istrinya. Alan tidak bercerita apapun yang sedang dilakukan tuannya. Biasanya Alan akan menceritakan detail kegiatan suaminya.


"Pelayan, tolong ambilkan puding seperti biasa," ucap Callie. Dia memang menyukai makanan yang satu itu. Pelayan di mansionnya terbiasa membuat puding aneka buah yang sangat lembut. Tak lupa dengan toping buah-buahan segar.

__ADS_1


"Baik, Nyonya."


Suasana hati Callie membaik. Dia percaya penuh pada suaminya kalau pria itu tidak akan tega atau berani bermain hati dengan wanita lain. Kalaupun Darrell memberanikan diri untuk mengenal wanita, pastilah Callie orang pertama yang akan diberitahu olehnya.


"Terima kasih." Callie menerima puding tersebut kemudian lekas memakannya. Hari ini tidak banyak aktivitas selain berdiam di mansion dengan beberapa aktivitas ringannya. Hanya bermain sosial media, menonton televisi, atau apapun itu.


Darrell sudah melarangnya untuk melakukan aktivitas yang terlalu berat. Apalagi kondisi fisik Callie yang akhir-akhir ini mulai ringkih.


Seusai sarapan pagi, Callie kembali ke kamarnya. Dia mengambil beberapa gaun yang indah. Dia merindukan makan malam romantis dengan Darrell, suaminya. Dia mencoba salah satu gaun kemudian berputar di depan cermin besar yang berada di kamarnya. Ya, Callie selalu menyukai cermin. Walaupun beberapa waktu yang lalu tubuhnya hampir kurus kering, setelah operasi kondisinya semakin membaik. Pola makannya juga tidak seperti sebelumnya.


"Gaun ini cantik. Sebenarnya aku bisa saja membeli lagi, tetapi sayang, gaun ini penuh dengan kenangan percintaan kami yang luar biasa menggebu. Itu sebelum aku sakit," ucapnya. Gaun pertama yang dicobanya kemudian dilepas kembali.


Callie mencoba gaun berikutnya. Setiap gaun indah yang dimiliki Callie mempunyai kisahnya masing-masing. Dia selalu mengingatnya.


...***...


Suasana apartemen belum terlihat pergerakan. Darrell masih tertidur pulas dengan memeluk Sharron. Gadis itu juga masih sama lelapnya. Semalam, sebelum tidur keduanya menceritakan kisah hidup masing-masing.


Sharron perlahan membuka matanya. Tangan kekar masih mengikat sempurna di perutnya. Sungguh, rasanya aneh sekali dipeluk suami wanita lain.


"Dad, ini sudah pagi. Daddy tidak ke kantor, kah?" tanya Sharron.


Darrell baru saja membuka matanya ketika mendengar suara seseorang. Biasanya Callie akan mengguncang tubuhnya ketika membangunkan. Namun, Sharron berbeda. Suaranya lembut sekali. Meskipun begitu, Darrell langsung membuka matanya.


"Baby, kau sudah bangun?" tanya Darrell.


"Hemmm, Daddy tidak ke kantor? Aku akan menyiapkan baju kerja dan sarapan pagi. Ini memang terlambat. Lihat, sudah jam delapan." Sharron menunjuk jam yang ada di dinding.


"Dua hari ini aku libur, Baby. Aku ingin berdua denganmu di apartemen. Apakah kamu keberatan?"

__ADS_1


Deg!


"Tidak. Mengapa Daddy tidak ke kantor?"


"Aku sudah mengatakan pada Alan untuk menyampaikan pada Callie. Aku ada pekerjaan di luar kota selama tiga harian."


"Daddy berbohong?"


"Tentu. Kau tahu akibatnya kalau aku jujur pada Callie? Dia pasti berulah. Kurasa dia hanya terlalu ambisius untuk mendapatkan seorang anak. Aku lelah setiap bertemu dengannya yang dibahas selalu anak, anak, dan anak. Saranku tidak pernah didengarkan!"


"Lalu, Daddy akan memaksa untuk meniduriku hingga hamil. Kemudian anak yang kukandung akan Daddy berikan pada Callie? Tidak, Dad! Lebih baik aku mati bunuh diri daripada berpisah dengan anakku."


Deg!


Beginikah harusnya? Darrell harus memahami dua wanita dengan karakter yang berbeda. Walaupun Sharron belum paham tentang kehamilan dan anak, tetapi di manapun seorang wanita tidak akan mau terpisah dengan anaknya. Apalagi jelas-jelas anak itu dikandungnya sendiri.


"Aku juga masih bingung dengan rencanaku, Sharron. Apalagi mengingat kamu hanya--"


"Hanya apa? Hanya wanita penggoda, simpanan, murahan, dan tidak punya harga diri telah tidur dengan suami orang?"


Pagi-pagi suasana kamar sudah memanas. Hanya karena kesalahpahaman, bukan karena hubungan saling memuaskan.


Ah, tidak mungkin kalau aku mengatakan bahwa aku mengetahui siapa dirinya. Biarkan seperti ini. Dia mungkin juga kesulitan mencari keberadaan orang tuanya. Sama halnya denganku yang berusaha menelusuri masa kecil Sharron.


"Bukan seperti itu, Baby! Kamu salah paham. Bukankah kamu pernah mendengar ucapanku bahwa semua akan dilakukan dengan cinta kecuali tiga hal. Pelukan, ciuman, dan kecupan."


Sharron mendadak memindahkan tangan Darrell yang tadinya masih berada di atas perut. Dia masih terdiam mendengar penuturan Darrell barusan. Memang benar, pria itu selalu mengelu-elukan tiga hal itu yang paling bebas. Mengenai hubungan intim, Darrell belum mau melakukannya tanpa cinta. Sharron beranjak turun hendak masuk ke kamar mandi. Mencapai pintu kamar mandi, Darrell menghentikan.


"Jangan masuk dulu! Aku tidak suka kalau Baby-ku terlihat kesal seperti itu. Bersikaplah biasa saja. Jangan buat aku bisa semakin ganas, Sharron." Darrell pun sudah turun dari ranjang. Dia mendekati Sharron kemudian memeluknya dari belakang. "Jangan seperti anak kecil! Kita pria dan wanita dewasa yang sudah tahu segalanya. Walaupun kamu belum terbiasa, setidaknya setiap masalah bisa dirundingkan."

__ADS_1


Tak ada penolakan. Sharron terdiam dengan posisinya. Sementara Darrell mulai bergerilya. Dia menyusuri lekukan leher dan punggung Sharron. Walaupun Sharron sedang kesal padanya, Darrell harus berusaha membuat suasana hati gadis itu kembali seperti semula.


__ADS_2