
Tepuk tangan para tamu undangan bersamaan dengan pengumuman yang sangat penting itu. Alan dan Sharron terlihat lebih mesra dari sebelumnya. Alan mencoba merengkuh pinggang Sharron untuk memperkuat kebohongannya. Walaupun pada akhirnya dia akan dimarahi oleh Darrell karena kurang ajar pada istrinya.
Perayaan ulang tahun telah usai. Mereka memutuskan untuk pulang bersama-sama, tetapi orang tua Darrell lebih memilih tinggal di apartemen Noelle selama beberapa hari lagi sampai mereka kembali ke Italia.
"Darrell, apa keputusanmu kali ini tepat?" tanya Javer. Jelas pria paruh baya itu mengkhawatirkan putranya karena bertindak nekad seperti barusan.
Darrell merelakan istrinya demi mendapatkan informasi mengenai Samuel Alexander dan AX Corporation. Dia mencurigai bahwa kematian pria itu bisa saja berhubungan dengan estafet kepemimpinan AX Corporation. Lebih tepatnya AX ini perusahaan yang diakui sebagai milik Blair karena suatu sebab. Maka dari itu, semakin ke sini, Darrell harus berhasil menemukan misterinya.
"Kita bicarakan lagi di apartemen, Pa. Tidak hari ini. Beberapa hari lagi kita bisa bertemu dan mengobrol. Untuk malam ini, aku sedang tidak mau memikirkan apa pun," jawab Darrell.
Alan, Darrell, dan Sharron turun di tempat yang sama. Kali ini Sharron tidak lagi berjalan bersama suaminya. Darrell memilih jalan lebih dulu ketimbang Sharron. Langkah kaki wanita itu terasa berat sekali untuk sampai ke unitnya.
Sesampainya di dalam, Sharron langsung mencegah suaminya untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Sayang, kamu marah padaku? Kenapa kamu lebih banyak diam daripada berbincang denganku? Kalau kamu tidak menyukai rencana ini, kita bisa membatalkannya," ucap Sharron.
Darrell menoleh sejenak. Harapannya untuk hidup bahagia bersama Sharron agaknya harus ditunda dulu sampai misteri keluarga istrinya itu terungkap. Dia juga tidak mau membahayakan Sharron begitu saja. Diam-diam Darrell telah menyewa beberapa bodyguard untuk mengawasinya dari jauh. Soal Alan, Darrell percaya penuh padanya.
"Kemarilah, Sayang!" panggil Darrell.
Sharron duduk di atas pangkuan suaminya. Ini sangat jarang terjadi karena Darrell selalu bersikap dingin. Sesekali menghangat ketika dia memerlukan sesuatu. Terkadang sikapnya labil, dan membingungkan. Namun, jauh di lubuk hati yang paling dalam, Darrell sangat mencintai istrinya itu.
"Kamu merindukanku?" tanya Sharron sembari bermanja-manja.
"Wajar kalau suami merindukan istrinya. Namun, ada banyak hal yang harus dibicarakan. Keputusan kita untuk mengecoh Blair memang salah, tetapi akan salah jika kita tidak mencobanya lebih dulu."
"Sampai kapan ini akan terus berjalan? Aku sebenarnya sudah sangat lelah, Sayang. Aku takut kalau Blair akan melakukan hal yang lebih mengerikan lagi dari sebelumnya."
__ADS_1
Sharron mengungkapkan kegelisahannya karena dua misteri masih menyelimuti perasaannya. Pertama mengenai Marcello, dan yang kedua tentang ucapan Bellatrix hari ini.
"Oh ya, Sayang. Nyonya Bellatrix mengatakan sesuatu padaku. Aku juga bingung. Seolah dia itu menentang suaminya, tetapi seolah aku merasa yakin kalau wanita itu juga mendukung suaminya. Aku sempat ragu bahwa dia berani menceritakan tentang Samuel Alexander. Tidak secara gamblang, tetapi dia menyebutkan anak dari kerabatnya yang mati karena kecelakaan. Anehnya, Bellatrix mencoba mencari keberadaan anak itu. Itu aneh, bukan?"
Tatapan mata Darrell terfokus pada mata istrinya. Bibirnya yang tinggal beberapa centimeter lagi sudah menyentuh bibir ranum istrinya itu. Namun, dia mencoba menahan. Saat ini Darrell harus mengontrol sikap mesumnya demi memikirkan rencana ke depan untuk mendapatkan informasi lengkap.
"Jangan gegabah! Blair bisa saja melakukan hal yang tidak kita duga sebelumnya."
Bukannya Darrell menakuti istrinya, melainkan memberikan pemahaman untuk tetap berjalan sesuai perintah Alan. Alan dan beberapa orang akan bekerja sama untuk memecahkan masalah ini.
"Sayang, apa pertunangan palsu itu juga harus dilakukan? Aku merasa tidak nyaman harus melakukan kontak fisik dengan Alan. Walaupun sebenarnya itu masih dalam konteks wajar, tetapi kurasa kamu pasti cemburu, bukan?"
Darrell memegang kedua pipi Sharron dengan tangannya. Mengelus dengan lembut dan kasih sayang.
"Kita jalani semuanya sampai menemukan jawabannya. Jujur, aku tidak ingin membuatmu hidup dalam keraguan tanpa tahu siapa sebenarnya dirimu. Kamu pasti menginginkan kejelasan keluargamu seperti Noelle, bukan? Kita semua akan mengusahakannya tanpa melibatkan Noelle. Ini memang sedikit rumit, Sayang."
"Menurutmu apa kita tidak masalah harus tinggal bersama seperti ini? Bagaimana kalau Blair curiga?"
"Kita berada di apartemen yang sama dengan Alan. Kamu jangan khawatir. Untuk beberapa waktu, tinggallah di apartemen selama beberapa hari ke depan sampai pertunangan palsu itu dibuat. Sementara aku akan meminta tolong orang untuk menyelidiki Blair dan keluarganya."
Yakin atau tidak, kehidupan Sharron memang terikat penuh pada keluarga besar Blair. Ingatan tentang kecelakaan itu sering menjadi mimpi buruk baginya. Terkadang dia mengigau memanggil mommy dan daddy, tetapi ketika Sharron mencoba mengingatnya, semua seakan tenggelam begitu saja.
"Aku takut, Sayang. Kalau Blair menyakitiku, bagaimana? Aku adalah ancaman baginya."
Darrell beralih mengecup kening istrinya. Sebenarnya dia sangat cemburu pada Alan karena bisa berdekatan dengan Sharron.
"Lebih baik kamu turun kemudian membersihkan diri. Kita akan bertemu lagi di ranjang," ucap Darrell.
__ADS_1
Darrell akan keluar sebentar untuk menikmati Wine nya. Dia hanya ingin menenangkan diri sejenak dari kekacauan hidup yang diterimanya. Kebohongan kedua orang tuanya yang baru diketahui dan seluruh masalah lainnya.
"Aku tidak tahu apa rencana mereka padaku. Aku hanya tahu bahwa tidak pernah sama sekali aku berniat menyakiti orang lain, tetapi masa lalu Papa telah membuatku mencoba meyakinkan diri bahwa Sharron akan baik-baik saja. Cukuplah Callie yang menjadi korban di dalam kehidupanku," ucapnya sembari memandangi gelas Wine di hadapannya.
Darrell meneguknya lagi sampai habis. Dia menuangkan Wine lagi dan lagi sampai habis beberapa gelas. Dia tidak mabuk, tetapi sedikit pusing.
"Sayang, kamu di sini rupanya. Aku mencarimu ke mana-mana. Kurasa malam ini kamu banyak berubah." Sharron memeluk suaminya itu dengan mesra sekali.
"Tidak. Aku hanya cemburu pada Alan. Selama beberapa waktu ke depan kalian akan berakting romantis. Kamu pikir aku tidak ... ah, lupakan saja."
"Ck, suami tampanku ini bisa cemburu rupanya. Kamu pikir aku nyaman bersama Alan? Bukankah selama ini kamu tahu bahwa aku anti dengannya? Sampai Blair mencurigai aku, Sayang."
"Benarkah?"
"Hemm, ketika berdansa tadi."
"Apa kamu takut menghadapinya?" selidik Darrell.
"Tidak. Kurasa kamu benar. Kalau kenyataannya aku adalah anak dari Samuel Alexander yang berhak atas AX Corporation, aku akan memperjuangkannya. Orang seperti Blair harus disingkirkan jika memang dia jahat. Tapi, kurasa dia memang jahat."
Darrell memutar badannya supaya bisa melihat Sharron dari dekat.
"Kita akan selalu bersama sampai kapanpun, Sayang. Setelah urusan mengenai tuan Blair selesai, kita secepatnya harus program hamil karena kecemburuanku pada Alan meningkat pesat. Selama kamu bersamanya, aku akan meminta dia membayar biaya sewa lebih mahal."
"Eh, memangnya aku barang? Kalau bukan demi diriku, kamu tidak akan melakukannya, kan?"
Darrell harus menahan diri untuk tidak menampilkan rasa cemburunya yang berlebihan. Itu cukup adil sampai terbongkarnya masa lalu Blair di tengah-tengah pertunangan palsu itu.
__ADS_1