
Swiss di musim panas sangat menguntungkan bagi Sharron. Setelah kabur dari hotel karena dikejar Darrell, dia memilih menikmati liburannya. Dia pergi ke Harder Kulm yang letaknya tidak jauh dari kota Zurich.
Melewati stasiun Harderbanh cukup memakan waktu sekitar 10 menit. Sesampainya di Harder Kulm, Sharron ingin menikmati perjalanan kakinya untuk mendaki gunung sejauh 4 km supaya bisa menikmati keindahan alam yang disuguhkan. Tujuannya saat ini untuk mencapai restoran yang terkenal di sana. Yang katanya dibangun bak negeri dongeng. Mana lagi kalau bukan restoran Panorama yang menyuguhkan view indah sejauh mata memandang.
"Andai saja aku datang ke sini dengan Noelle. Rasanya tidak mungkin kesepian seperti ini," ucapnya sambil terus berjalan menuju restoran Panorama.
Sharron merasakan kepuasan tersendiri ketika bisa mendudukkan tubuhnya di bangku restoran yang menyuguhkan panorama indah itu. Tak ada penyesalan yang berarti bahwa tujuannya ke sini sudah benar. Dia langsung memesan menu makanan lokal penduduk Swiss yang disediakan oleh restoran tersebut.
Berjam-jam Sharron menikmati panorama sembari mencicipi makanan. Dia berencana untuk kembali ke Meksiko dalam beberapa hari mendatang. Intinya, dia tidak mau bertemu dengan Darrell sama sekali.
"Boleh duduk di sini?" tanya seorang pria yang tidak dikenalnya.
Sharron menoleh sejenak. Pria di hadapannya itu adalah pria yang tak sengaja ditabrak saat di hotel kemarin.
"Silakan!" Sebenarnya masih banyak tempat duduk yang kosong, tetapi Sharron tidak enak saja menolak pria itu.
"Kau sudah makan?" tanyanya.
"Kalau Anda mau makan, silakan saja. Aku sudah dari tadi," balas Sharron.
"Oh ya, siapa namamu? Perkenalan kita belum usai, Nona."
"Sharron."
"Nama yang cantik. Seperti orangnya," puji Marcello.
"Terima kasih."
Sharron tidak terlalu menanggapi ucapan Marcello. Dia lebih memilih untuk mengabadikan beberapa potret dirinya yang sedang bersantai di dalam restoran kemudian mengirimkan pada Noelle. Sahabatnya itu meminta bukti bahwa Sharron selalu bahagia.
"Kau pasti bukan asli penduduk Swiss, kan?" tanya Marcello seusai memesan makanan.
__ADS_1
"Jangan terlalu penasaran dengan orang yang baru Anda kenal, Tuan," cibir Sharron. Sebenarnya dia enggan sekali menanggapi, namun pria itu terus saja menanyainya.
"Tak ada salahnya aku bertanya, Nona Sharron. Siapa tahu Anda singel dan akupun singel. Kemudian kita berjodoh." Bukan seperti sebuah rayuan, tetapi usaha untuk mendapatkan wanita secantik Sharron. Boleh dibilang kalau perbandingannya sangat mencolok antara Sharron dan Callie.
Callie di mata Marcello termasuk wanita yang agresif. Berbeda dengan Sharron yang membuatnya semakin tertarik. Wanita di sampingnya ini enggan menanggapinya. Terlihat sekali kalau tidak ada ketertarikan pada Marcello. Itulah sebabnya semenjak pertemuan di hotel kemarin membuat Marcello penasaran.
Takdir mempertemukannya lagi di Harder Kulm. Tempat wisata yang bisa dikunjungi dengan cepat dari kota Zurich.
Sharron sebenarnya ingin menikmati perjalanan panjangnya, tetapi mendadak Noelle memintanya kembali. Wanita itu tak hanya membuat Sharron terburu-buru, tetapi juga menyiapkan segala keperluannya yaitu berupa tiket pesawat untuk pulang ke Meksiko.
"Maaf, Tuan. Aku harus kembali ke Zurich secepatnya," pamit Sharron.
"Tunggu! Kita bisa kembali bersama. Aku juga akan pergi ke sana kemudian kembali ke Italia. Memangnya kamu tinggal di mana? Maksudku, berasal dari mana?"
Sharron menoleh sejenak kemudian menjawab pertanyaan Marcello. "Bukan urusan Anda, Tuan. Dari manapun aku berasal, Anda tidak perlu tahu."
Sharron tak lupa membayar pesanannya ke kasir. Tetap saja Marcello terus mengejarnya. Sampai keluar dari restoran pun Marcello masih membuntutinya.
"Aku akan mengantarmu ke Zurich," ucap Marcello.
Terbiasa sendiri tak membuat Sharron menjadi takut. Kalaupun Marcello berniat jahat pada dirinya, Sharron sudah siap untuk berjaga-jaga.
Marcello tetap mengikutinya. Sharron langsung naik ke kendaraan umum kembali ke Zurich. Rupanya Marcello belum mau menyerah. Sebenarnya pria itu membawa mobil sewaan, tetapi demi bisa mengejar Sharron, dia sengaja meninggalkannya. Urusannya nantilah dia akan kembali lagi untuk mengambil mobilnya.
"Kau tidak menyerah, Tuan," ucap Sharron saat melihat Marcello duduk di sebelahnya.
"Demi gadis cantik sepertimu, aku akan berjuang. Apapun akan kulakukan," jawab Marcello santai.
"Bagaimana kalau kenyataannya wanita yang kau kejar itu sudah bersuami?" tanya Sharron. Sengaja memang, supaya Marcello tidak terus mengejarnya.
"Aku akan merebutmu dari suamimu. Apa aku salah?"
__ADS_1
"Anda gila, Tuan!" balas Sharron dengan sangat ketus.
"Ya, aku selalu tergila-gila dengan wanita cantik, Sharron. Apalagi wanita sepertimu yang seolah tidak membutuhkan kehangatan dari pria sepertiku. Ehm, lebih tepatnya seperti wanita yang awalnya mau, tetapi lama-kelamaan semakin menginginkan. Itu jelas wanita menarik dan sangat normal. Aku suka itu."
"Jaga ucapanmu, Tuan! Apakah Anda selalu merendahkan semua wanita?" balas Sharron dengan nada ketusnya.
Marcello mencoba mengingatnya. Apakah semua orang memang seperti yang dimaksudkan atau tidak?
"Tidak semua, Sharron. Namun, aku memiliki beberapa bukti bahwa terkadang wanita membutuhkan pria yang agresif sepertiku. Ya, salah satunya sahabat terdekatku. Dia rela meninggalkan suaminya demi bertemu denganku. Aku sangat menarik, bukan?" balas Marcello tidak mau kalah.
"Ck, kalian menjijikkan sekali! Tidak bisa kubayangkan betapa bodohnya wanita itu yang mau mengejarmu. Ya, lebih tepatnya bertekuk lutut padamu. Kurasa wanita itu memerlukan pendampingan psikiater," cibir Sharron.
Marcello membelalakkan matanya mendengar ucapan Sharron barusan. Seburuk itukah Callie di mata Sharron?
"Jadi, kau pikir aku dan wanita itu tidak waras?" tanya Marcello.
"Tepat sekali, Tuan. Kalau Anda waras, untuk apa menjalin hubungan dengan wanita bersuami? Di luaran sana masih banyak wanita singel yang mau menikah denganmu," jelas Sharron.
Padahal dalam diri Sharron sendiri merasa terhina atas ucapannya. Dia menjalin hubungan dengan pria bersuami seperti Darrell.
Ah, rasanya seperti aku menghina diriku sendiri. Jelas saja, aku juga butuh pendampingan psikiater. Aku sudah tergila-gila pada suami orang. Bahkan, aku sudah pergi sejauh ini, tetapi ingatanku tentangnya tak pernah pudar. Sentuhan dan perhatiannya membuat aku sangat rindu. Ah, Darrell ... kau membuatku gila!
"Mereka tidak pernah melirikku, Sharron. Oh ya, apa kamu mau mampir ke tempatku? Sepertinya kamu cocok menjadi seorang model. Yah, lebih tepatnya aku agensi yang bisa menyalurkan orang sepertimu. Pekerjaanku memang freelance. Jadi, ya aku bisa santai seperti ini," ucapnya.
"Maaf, aku tidak tertarik!" jawab Sharron. Dia masih teringat ucapan Darrell beberapa waktu yang lalu. Daripada dia menjadi model, lebih baik menjadi pelayan pribadinya. Pria itu tidak rela kalau Sharron harus telanjang bulat di hadapan kamera untuk pemotretan majalah dewasa. Lagi pula, beberapa majalah yang paling diminati saat ini adalah foto-foto indah dari lekukan tubuh wanita-wanita cantik seperti Sharron.
"Tidak masalah, Nona. Ambillah kartu namaku ini. Sewaktu-waktu kamu berubah pikiran, silakan hubungi aku." Marcello menyerahkan sebuah kartu nama.
Sharron lantas menerimanya supaya dia terbebas dari kejaran pria mesum seperti Marcello yang menurutnya lebih tertarik pada wanita dari segi fisik.
...🌲🌲🌲...
__ADS_1
Sambil menunggu update, yuk kepoin karya Besti Emak. Jangan lupa tinggalkan jejaknya