
Mendapatkan lampu hijau yang diberikan suaminya membuat Sharron semakin semangat. Pagi ini setelah menyiapkan sarapan pagi, dia meminta izin untuk pergi ke apartemen Noelle. Sebelum itu, Sharron mencoba membicarakan perihal rencana Noelle yang ingin bekerja di perusahaan Darrell.
"Sayang, aku tidak tahu kalau Noelle beberapa minggu terakhir ini sudah tidak lagi menjadi sugar baby. Kalau ditempatmu ada lowongan pekerjaan, bisakah itu diberikan pada Noelle?"
Deg!
Rupanya gadis muda itu sudah menyerah pasca kejadian malam itu. Baguslah!
"Sayang, kamu dengar tidak?" tanya Sharron lagi.
"Nanti aku akan membicarakannya dengan Alan. Dia yang tahu kebutuhan pegawai perusahaan. Sabar, ya!"
"Ya, baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu. Tidak masalah kan kalau aku naik taksi?"
"Iya. Hati-hati di jalan. Jangan lupa kabari aku kalau kamu pulang terlambat. Aku tidak mau kalau kamu pergi atau pulang tanpa pesan."
Cup!
Sharron mengecup pipi suaminya, tetapi pria itu lantas menarik tangan istrinya.
"Kenapa hanya di situ? Pelit sekali!"
"Aku bisa terlambat, Sayang. Aku takut kalau Noelle keburu pergi mencari lowongan pekerjaan."
Darrell menunjuk bibirnya. "Sebentar saja. Di sini!"
"Ck, kamu selalu saja seperti itu. Baiklah. Sebentar saja."
Sharron tidak lagi memberikan kecupan, melainkan ciuman panas di pagi hari. Cukup lumayan untuk melakukan rutinitas secara paksa seperti itu.
"Sudah. Aku berangkat dulu."
Darrell tersenyum puas melihat tingkah istrinya. Beberapa hari lagi dia berencana untuk mengajak Sharron untuk pergi ke rumah sakit memeriksakan kondisi kesehatan masing-masing. Program hamil akan disegerakan supaya keluarga Wesley lekas memiliki keturunan.
...****************...
Menekan bel berulang kali sudah dilakukan Sharron, tetapi belum juga ada tanda-tanda pintu dibuka. Sharron bisa saja langsung masuk ke apartemen, tetapi dia ingin tahu apakah Noelle berada di dalam atau tidak.
Ceklek!
"Sharron! Kau mengganggu tidurku saja," protes Noelle.
__ADS_1
Sharron menutup kembali pintunya kemudian masuk dan duduk di sofa ruang tamu.
"Kau ini, semakin ke sini menjadi pemalas saja. Katamu mau bekerja? Aku sudah membicarakan ini dengan Darrell. Dia perlu berunding dengan Alan dulu."
"Ck, dasar asisten aneh! Kapan hari dia juga menawariku, tetapi sampai saat ini belum ada kejelasan apapun."
"Noelle, jangan khawatir! Darrell pasti memberikan tempat untukmu. Percayalah padaku!" Sharron menepuk pundak Noelle untuk memberikan kekuatan.
"Terima kasih, Sharron. Ehm, tumben pagi-pagi kamu sudah datang. Apa ada sesuatu yang penting?" Noelle bukannya mengambil minuman untuk tamunya, melainkan mengangkat kakinya ke atas sofa. Dia kemudian berselonjor di sana.
"Aku ingin mencari kebenaran tentang hidupku, Noelle."
"Tunggu! Apa maksudmu?"
"Aku akan mencari orang tuaku lagi. Darrell sudah mendukungku. Apakah kamu juga tidak ingin mencari orang tuamu?"
Deg!
Sudah lama semenjak kejadian yang menimpanya, Noelle tak lagi ingin tahu siapa keluarganya. Dia sudah pasrah dengan garis takdir yang harus dijalaninya. Dia sudah merasakan getirnya kehidupan sehingga Noelle tidak ingin lagi mencari keberadaan mereka. Kalaupun sampai bertemu, itu hanya kebetulan saja.
"Aku tidak ingin mencari mereka, Sharron. Mungkin saja aku ini hanyalah anak orang tidak mampu. Mungkin juga mereka membuangku karena tidak menginginkan kehadiranku. Kau takut kalau sampai bertemu dengan mereka kemudian tidak sesuai kenyataan yang kuharapkan."
Rasa kekecewaan hidup yang didapatkan membuat Noelle menciut. Dia juga terbiasa hidup sendiri. Dia juga akan merasa malu kalau orang tuanya tahu bahwa kehidupannya tidak jauh-jauh dari kata ******. Mereka akan lebih kasihan lagi jika tahu kenyataan sebenarnya.
"Ya, baiklah. Aku akan mandi dulu."
"Ehm, ngomong-ngomong, kenapa kamu berhenti menjadi sugar baby?"
Deg!
"Oh, aku hanya ingin vakum sementara. Maksudku, aku mencoba peruntunganku bekerja di perusahaan."
Sharron tidak perlu menanyakan lagi karena alasan itu sudah lebih dari cukup. Noelle beranjak dari sofa menuju ke kamarnya. Dia memang baru bangun tidur karena semalam nonton film sampai larut. Noelle harus segera bersiap untuk mengantarkan Sharron pada tujuannya.
...****************...
Mereka berada di sini sekarang. Sebuah panti asuhan yang berada di gedung tua peninggalan masa lalu. Namun, gedung itu masih berdiri dengan kokohnya. Beberapa anak-anak pun masih ada yang tinggal di sini.
"Sharron, kamu yakin akan menemukan jawabannya di sini?" Noelle melihat sekilas bahwa ini seperti gedung yang tidak pernah terpakai sama sekali.
"Aku sekilas mengingatnya di sini. Kita coba saja, bagaimana?"
__ADS_1
Keduanya lantas masuk untuk menemui penjaga panti tersebut. Semua data-data tentang dirinya pasti masih tersimpan rapi di sana.
Seorang wanita tua baru saja keluar dari ruangan kemudian berpapasan dengan mereka. Sejenak wanita tua itu memandang lekat ke wajah Sharron kemudian beralih ke Noelle.
"Kalian mencari mau mencari siapa?"
"Ehm, bisakah aku bertemu dengan penjaga panti ini?" tanya Sharron.
"Maaf, kalau boleh tahu untuk kepentingan apa?"
"Ehm, aku ingin menanyakan perihal data anak panti yang masuk sekitar 15 atau 20 tahun yang lalu. Apakah Anda bisa membantuku?" tanya Sharron penuh harapan.
"Apakah kamu salah satu anak panti di sini?" Wanita paruh baya itu terus saja menginterogasi Sharron. Dia tidak mau ada oknum yang memanfaatkan situasi seperti ini. Itulah mengapa setiap ada tamu yang datang, pertanyaannya tidak jauh seputar orang-orang yang tinggal di lingkungan panti. Kalaupun dia bukan penghuni panti, setidaknya dia membawa surat khusus yang menyatakan bisa mendapatkan akses informasi penting seperti ini.
"Iya, Nyonya. Apa Anda bisa membantuku?"
Noelle hanya terdiam melihat usaha Sharron. Ada sedikit pencerahan bahwa dia juga menginginkan hal yang sama untuk menemukan orang tuanya. Tapi, dia tidak mengingat apapun kejadian di masa lampau. Hanya sebuah luka dan rumah sakit yang diingatnya. Setelah itu, tidak ada yang bisa diingatnya lagi.
"Ayo masuk ke ruanganku!" ajak wanita tua itu.
Sharron merasa kalau wanita tua ini sudah tinggal di panti ini selama puluhan tahun, tetapi mengapa Sharron tidak bisa mengingatnya? Mungkin saja karena panti ini dulunya sering mengalami masalah sehingga Sharron hanya mengingat masalah yang didapatkan daripada seluruh penghuni panti ini.
"Duduklah!"
Sharron dan Noelle duduk tepat di kursi yang ada di depan meja kerja wanita itu.
"Tahun berapa kamu masuk ke sini?"
Deg!
Sharron memandang lekat ke arah Noelle. Dia berusaha mengingatnya.
"Ehm, kisaran tahun 2002, Nyonya. Mungkin bisa lebih. Tepatnya aku lupa," jawab Sharron.
"Siapa namamu?"
"Sharron Alexandria."
Sekilas wanita tua itu mengingatnya dengan memandang lekat wajah Sharron. Sesekali pandangannya tertuju pada Noelle yang terlihat diam dan tak peduli dengan apapun yang terjadi. Ternyata Noelle berusaha mengingat kisah masa lalunya sampai terdampar di kota sebesar Mexico City.
Wanita tua itu mencoba mengambil beberapa buku lama yang ada di rak tepat di belakang meja kerjanya. Sangat lama sekali sehingga wanita tua itu harus memakai kacamata untuk membacanya.
__ADS_1
Menyusuri nama demi nama tidaklah mudah. Apalagi harus mencari nama yang diperkirakan 20 tahun silam masuk ke panti ini. Butuh waktu yang cukup lama juga untuk menyusurinya. Sharron sangat khawatir tidak bisa menemukan jejak kehidupannya dari tempat ini.