Belenggu Cinta Hot Daddy

Belenggu Cinta Hot Daddy
Bab 26. Penyamaran


__ADS_3

Melupakan wedding anniversary-nya beberapa waktu lalu, rutinitas Darrell kembali seperti biasa. Dia tidak lagi mencurigai istrinya perihal inisial MP. Sudah jelas kalau itu milik Marcello Phoenix.


Hari ini saatnya Darrell bertemu dengan Sharron. Jangan tanya betapa ketusnya gadis itu ketika menerima telepon dari Alan. Dia malah memaki Alan sesuka hatinya karena kesal. Sebenarnya kekesalan Sharron memang beralasan. Sudah lama Darrell tidak menemuinya. Bahkan, Alan juga lupa untuk mentransfer sejumlah uang ke debit card yang dipegang Sharron selama ini.


Sharron keluar dari apartemen Noelle dengan menggerutu. Kali ini dia dijemput langsung oleh Darrell menggunakan mobil yang biasa dipakai Alan.


Masih belum selesai kekesalannya, Sharron memarahi pria yang dikira Alan karena tidak mau turun untuk membuka pintu mobilnya.


"Alan, kau--"


"Jangan marah, Baby. Maaf, aku sibuk sekali." Darrell langsung bertindak. "Kau terkejut kalau aku yang menjemput?"


"Tidak! Aku yakin pasti Alan kabur. Dia tidak berani bertemu denganku. Aku akan mampir ke unit apartemennya. Kau tahu, Dad, aku sangat malu sekali ketika belanja bersama Noelle. Debit card-ku ditolak hanya karena isinya tidak mencukupi. Alan kuhubungi tidak pernah mengangkat sama sekali. Sedangkan aku tidak memiliki akses langsung ke Daddy. Aku bisa apa?"


"Sudah, sudah. Ini bukan sepenuhnya salah Alan. Aku yang terlalu sibuk sehingga lupa kalau ada wanita cantik yang sudah lama kurindukan."


"Hemm, jangan merayuku seperti itu. Debit card-nya sudah lama kosong. Kalau begini mending aku mencari pekerjaan saja," keluh Sharron.


Pekerjaan? Selama ini dia memang mengandalkan Alan sebagai asistennya. Terkadang Alan sibuk mengurus pekerjaannya di luar sehingga Darrell kesulitan untuk urusannya di kantor. Mungkin sudah sewajarnya kalau Sharron direkrut menjadi sekretarisnya. Tidak ada salahnya, kan? Anggap saja sekretaris simpanan bos. Sewaktu-waktu Darrell stres dengan pekerjaannya, dia bisa bertemu Sharron setiap hari.


"Kau bisa bekerja di perusahaanku sebagai sekretaris."


Deg!


Mungkinkah Sharron tidak salah dengar? Dia baru saja mencari pekerjaan kemudian langsung mendapatkannya.


"Kau serius, Dad? Lalu, Alan bagaimana?"


"Kau hanya akan bekerja ketika Alan tidak berada di kantor, tetapi kau tetap masuk setiap hari. Sewaktu-waktu kita melakukan bisnis trip, kau juga akan ikut bersamaku. Ini akan meminimalisir kecurigaan Callie padaku."


Sharron biasanya akan bersaing dengan Callie saja. Setelah memutuskan setuju untuk masuk ke perusahaan, dia juga akan bersaing dengan Alan.


"Tunggu, Dad! Kau akan memperkenalkan aku dengan nama Sharron atau Alexa?" Dia teringat tempo hari ketika makan malam di mansion tuan Blair, Alan memperkenalkan dengan nama Alexa.

__ADS_1


"Kau hanya akan menjadi Sharron-ku. Di kantor, mereka akan mengenalmu sebagai Alexa."


"Ada sedikit masalah, Dad. Kurasa tuan Blair akan menganggapku sebagai kekasihnya Alan-mu itu," ucapnya sembari cemberut.


Sharron selalu saja seperti musuh jika dihadapkan dengan Alan. Entah, perkara apa yang membuatnya seperti ini dengan pria itu?


"Itu nanti urusanku. Kamu tidak perlu khawatir. Jadi, kita mau ke mana sekarang?"


"Belanja baju kantor. Bagaimana?" usul Sharron.


"Tidak! Kita pulang ke apartemen saja. Urusan baju kantor biar menjadi urusan Alan. Oke?"


Sebenarnya Sharron ingin menolaknya, tetapi mungkin Darrell sangat menjaga privasi sehingga tidak banyak orang yang tahu hubungan mereka. Apalagi sampai terlihat jalan bersama di butik atau di manapun.


"Dad, pria itu pasti kesal padaku. Dia akan membelikan aku baju yang tidak kusukai. Ayolah, Dad. Kau bisa menyamar untukku," usul Sharron.


"Bagaimana caranya?"


"Daddy tinggal mengganti penampilan dengan menggunakan celana jeans dan kaos, kemudian pakai topi. Intinya penampilan yang tidak mungkin dikenali oleh orang lain, termasuk oleh Alan, asisten Daddy yang menyebalkan itu!"


Darrell membelokkan mobilnya ke sebuah pusat perbelanjaan di sana. Darrell lebih dulu masuk untuk membeli beberapa kebutuhannya. Dia yakin kalau masuk secara terpisah dengan Sharron maka tidak akan ada orang yang mengenalinya. Dia sudah mengatakan pada Sharron untuk bertemu di lantai lima, tepat di depan toko baju kantor untuk wanita.


Sharron cukup berjalan santai untuk menuju ke sana. Butik berkelas untuk wanita berkelas. Sesuai dengan apa yang diinginkan Darrell. Dia lebih dulu masuk ke butik untuk memilih beberapa baju. Sambil menunggu kedatangan Darrell yang akan menemaninya berbelanja.


Memilih beberapa baju kemudian mencobanya. Tak lama, sepasang tangan kokoh memeluknya dari belakang.


"Apa kabar, Sayang?" tanya Darrell yang sudah mengubah penampilannya. Pria yang menggunakan celana jeans, kaos, jaket, topi, dan kacamata hitam. Sejujurnya ini penampilan pertama Darrell dalam penyamarannya.


"Dad, jangan seperti ini! Malu kalau ada yang melihat." Sharron membuka tangan Darrell yang sedang memeluknya.


"Kau tahu, apa yang paling membahagiakan hari ini?" tanya Darrell.


Sharron menggeleng. "Kau mendapatkan wanita cantik?"

__ADS_1


"Tidak! Gadis kecilku mengajari banyak hal supaya aku bebas. Ini sangat menyenangkan, Sharron. Aku tidak perlu sembunyi atau datang membawa pengawalan. Ini menarik. Kau sudah membuatku senang. Hadiah apa yang ingin kau minta dariku?"


Sharron merindukan ciuman hangat Darrell. Pria itu selalu bisa menjatuhkan moodnya kemudian menaikkannya lagi hanya dengan sebuah ciuman.


"Nanti saja. Aku ingin berbelanja. Besok aku tidak mau terlambat datang ke kantor, Tuan Alan Clarence." Sharron sengaja membuat suaranya seperti sedang merayu Alan.


Darrell merasakan cemburu. Walaupun hanya menyebut nama pria selain dirinya, hatinya merasakan sedikit pedih. Mungkinkah dia mulai ada rasa kepada Sharron?


"Jangan sebut nama pria lain saat bersamaku!"


Deg!


Sharron menoleh sejenak. Darrell sikapnya sangat aneh. Bukankah dia yang memintanya untuk mengakui bahwa Alan adalah kekasihnya? Dasar Daddy Darrell plin-plan!


Seusai mencoba beberapa baju kemudian membayarnya, mereka keluar dari toko. Sharron mengajak Darrell untuk menikmati kebebasannya dengan makan beberapa makanan fast food kesukaannya.


"Kau yakin mengajakku makan di sini?" tanya Darrell yang baru saja mendaratkan badannya pada sebuah kursi di restoran cepat saji.


"Jangan terlalu banyak makan makanan bergizi! Sekali waktu boleh kan mencoba makanan seperti ini. Tidak buruk, bahkan aku sangat menyukainya. Aku juga baik-baik saja."


Berhubungan dengan Sharron yang terbiasa dengan kehidupan bebas membuat Darrell menyadari satu hal. Kehidupan mansionnya terlalu mengekang dirinya. Termasuk kehidupan Callie. Darrell selalu menerapkan peraturan yang harus ditaati seluruh penghuni mansion tanpa pengecualian.


"Kau yakin aku akan baik-baik saja?" tanya Darrell.


Sharron merasa terkejut dengan ucapan Darrell barusan. Mungkinkah selama ini dia tidak pernah makan makanan fast food seperti ini?


"Dad, aku baik-baik saja. Semua makanan ini enak kok. Percayalah, kau pasti akan merindukan jika sekali mencoba." Tanpa banyak bicara, Sharron segera memesan makanannya. Dia sudah tidak peduli lagi jika mendapatkan penolakan dari Darrell atau apapun itu.


Darrell sendiri berusaha untuk bersikap biasa saja. Sekali waktu memang dia perlu mencoba hal baru. Seperti penyamaran yang dilakukannya kali ini. Justru malah membuatnya bebas bergerak ke sana kemari.


...🪴🪴🪴...


Jangan lupa mampir karya keren berikut ini, yah🙏. Yang suka ranjang, yuk kepoin

__ADS_1



__ADS_2