
Kebahagiaan yang sesungguhnya itu ketika seorang pria mencintai kita kemudian kita juga mencintainya. Timbal balik yang seimbang. Namun, pagi ini Sharron harus memutuskan pilihannya. Mengikuti Darrell kemudian menikah dengannya atau memilih kariernya yang tidak tahu bagaimana kedepannya.
"Tumben sekali kamu rajin hari ini," sapa Noelle yang baru saja ke dapur karena mencium aroma masakan yang menguar sampai ke hidungnya.
"Hemmm, ada tamu kan. Kita harus menjamunya dengan baik."
"Hemm, tidak ada yang salah memang. Ya, setidaknya latihan menjadi Nyonya Darrell ... ehm, siapa namanya?"
"Darrell Wesley."
"Nah, namanya saja sudah hapal di luar kepala. Ini luar biasa, Sharron."
Ketika sedang berbincang, rupanya Darrell sudah muncul dengan baju kerja lengkap tersedia di lemari pakaian kamar tamu.
"Selamat pagi," sapa Darrell.
"Pagi," jawab Noelle.
Sharron masih sibuk dengan alat masaknya. Sebentar lagi masakannya matang. Dia harus menghidangkan di meja makan beserta beberapa cangkir kopi pagi yang aromanya juga menggugah selera makan.
"Anda beruntung, Tuan," ucap Noelle.
"Panggil Darrell saja," balas Darrell.
"Ah, ya, Anda sangat beruntung, Darrell. Sharron itu wanita yang baik, multitalenta, pandai memasak, dan yah apapun dia bisa mengerjakannya." Semua pujian itu memang bukan kebohongan.
"Noelle, jangan penuhi bibirmu itu dengan kebohongan," sahut Sharron. Dia membawa beberapa makanan ke meja. "Bantu aku membawa nampan berisi cangkir itu!"
"Ya, baiklah. Ehm, mengenai ucapanku tadi bukan sekadar kebohongan, Darrell. Sharron memang selalu merendah," jelas Noelle.
"Noelle."
"Sharron."
Keduanya malah saling memanggil namanya kemudian duduk di meja makan.
"Berapa lama kalian mengenal? Kurasa keakraban kalian seperti saudara, tetapi kalian berbeda. Maksudku, tidak ada kemiripan sama sekali," ucap Darrell.
"Kami sudah mengenal cukup lama, Darrell. Ya, bisa dikatakan saat remaja kita bertemu. Sampai sekarang kita pun bersahabat dan selalu saling mendukung satu sama lain. Kita tidak pernah berniat untuk saling menyakiti. Itulah mengapa hubungan kita berjalan baik sampai saat ini," jelas Noelle.
"Tamunya jangan diajak bicara terus-terusan, Noelle. Biarkan menikmati sarapan paginya dulu," pinta Sharron.
__ADS_1
"Ya, baiklah. Mari kita nikmati sarapan pagi yang dibuat oleh Nona Sharron Alexandria," canda Noelle.
Mereka menikmati sarapan paginya seperti menu makanan restoran. Sangat enak menurut Darrell.
"Noelle, hari ini aku akan mengajak Sharron berangkat ke Italia."
Uhuk!
Sharron terkejut. Noelle segera mengambilkan air minum yang sudah tersedia di meja.
"Makanya kalau makan jangan terburu-buru seperti itu," ucap Noelle.
Ish, Noelle, terburu-buru yang bagaimana? Aku biasa saja alias terkejut. Aduh, aku kenapa jadi begini?
"Tapi, aku kan belum punya tiket penerbangan? Mana bisa aku berangkat ke sana?" tanya Sharron. Pikirannya hari ini adalah untuk menikmati bersantai dengan Noelle tanpa pergi ke mana-mana.
"Aku sudah menyiapkannya dari semalam. Bersiaplah hari ini," ucap Darrell setelah meminum secangkir kopinya yang sudah tidak terlalu panas.
"Padahal rencananya hari ini aku mau pergi jalan-jalan dengan Noelle. Kau selalu mengacaukan rencanaku," protesnya pada Darrell.
"Sharron, pergi saja. Hari ini aku ada janji dengan daddy-ku. Kami juga akan pergi. Kebetulan ada bisnis trip ke luar negeri. Dia minta kutemani," ucap Noelle. "Oh ya, aku bersiap lebih dulu yah. Sebentar lagi sopir daddy-ku menjemput."
"Noelle, semalam kenapa kamu tidak bilang?" protes Sharron.
Tinggallah Darrell dan Sharron berdua di ruang makan. Sharron masih dalam mode diam pagi ini. Entah karena merasa malu atau memang sedang malas berbicara.
"Bersiaplah! Kita juga harus pergi. Setelah dari Italia, aku akan menyelesaikan urusanmu di Austria. Jangan lepaskan kesempatan yang sudah kuberikan padamu. Ehm, jangan lupa pakailah cincin yang semalam sudah kuberikan padamu. Kurasa ukurannya juga sudah pas."
"Baiklah. Aku akan ke kamar sebentar."
Tak banyak yang disiapkan Sharron karena dia hanya membawa beberapa barang saja. Rupanya dia melihat Noelle sudah siap dengan sebuah koper besar dan baju yang menurutnya sangat seksi sekali.
"Kau yakin akan bepergian dengan menggunakan pakaian seperti itu?"
Baju yang dipakai Noelle hampir menyerupai lingerie yang sangat tipis sekali. Namun, tidak memperlihatkan pakaian dalamnya.
"Tidaklah. Aku akan melapisinya dengan jaket tebal. Kami akan berangkat pakai jet pribadi. Jadi, tak ada salahnya aku membahagiakan daddy-ku itu. Ehm, kau juga jangan buat Darrell kesal. Dia itu sangat mencintaimu. Ingat itu!"
"Iya, ya, Sayangku. Aku berjanji padamu. Kamu selalu yang terbaik pokoknya."
"Sudah dulu, Sharron. Ponselku sudah berdering. Sopir pasti sudah menungguku di depan. Maaf, aku tidak bisa membantumu untuk membereskan meja makan. Sebelum pergi, jangan lupa bereskan, ya," pamit Noelle.
__ADS_1
Sharron mengantar Noelle sampai ke depan unit apartemennya.
"Iya, Noelle. Kamu hati-hati, ya. Kalau ada kesempatan, jangan lupa kabari aku!"
"Baiklah."
Sharron kembali ke meja makan. Dia masih melihat Darrell duduk di sana.
"Dia sudah pergi?" tanya Darrell.
"He em, dengan daddynya." Sharron mengambil bekas piring kotor kemudian mencucinya di wastafel.
"Boleh aku bertanya?"
"Hemm, katakan saja," jawab Sharron sembari menyelesaikan pekerjaannya.
"Setelah berpisah denganku beberapa bulan yang lalu, apakah kamu menjalin hubungan lagi dengan pria lain?"
Deg!
Sejenak Sharron menghentikan aktivitasnya. Pertanyaan Darrell mengusik sekali ketentramannya. Walaupun dia tahu bahwa tidak ada hubungan lagi dengan beberapa pria setelah itu, tetapi pertanyaannya seolah menandakan bahwa Sharron adalah wanita yang buruk.
"Aku tidak seperti Noelle yang bisa berganti pasangan setelah bosan. Bukan berarti aku menjelekkan Noelle, tetapi kenyataannya kami berbeda. Sudah kukatakan pada Noelle waktu itu bahwa aku tidak akan pernah menjalin hubungan dengan pria lain. Aku hanya ingin fokus pada diriku sendiri."
Ada perasaan lega setelah mendengarkan ucapan Sharron barusan. Semakin yakin bahwa Sharron adalah wanita yang tepat.
"Ya, tapi Noelle itu wanita yang baik. Walaupun dia seperti itu, tetapi dia tidak pernah menjerumuskanmu," puji Darrell.
"Iya, dia baik padaku. Dia menjadi sugar baby juga untuk memenuhi kebutuhan hidup kami. Dulu, kami sangat menyedihkan. Namun, Noelle selalu memberikan semangat bahwa kami berdua bisa menjalani pahitnya kehidupan. Apartemen ini pun dia dapatkan dari Sugar Daddy-nya."
"Aku ingin memberikan apresiasi kepadanya. Kau tahu kenapa?"
Sharron menggeleng.
"Dia sudah menjaga calon istriku dengan sangat baik. Aku sangat bersyukur bahwa dia tidak menjerumuskanmu ke dalam hal yang buruk."
Sharron tersenyum. Ada sesuatu yang menggelitik hatinya. Pertemuannya dengan Noelle bukan secara kebetulan, tetapi seakan garis takdirlah yang mempertemukan mereka.
"Ya, dia istimewa untukku," balas Sharron.
"Kamu juga istimewa untukku. Terima kasih. Bersiaplah, kita harus pergi ke bandara," perintah Darrell.
__ADS_1
Tidak rumit bagi Darrell untuk meyakinkan Sharron supaya mau pergi bersamanya. Mereka sudah sepakat untuk menjalani kehidupan barunya.