
Darrell sedang membuka jurnal lama yang diberikan oleh papanya, Javer. Dalam jurnal yang berisi orang-orang penting itu papanya mengharapkan Darrell bisa menemukan sesuatu. Mengingat ucapan Sharron hari ini mengenai Samuel Alexander, dia mencoba mencari informasi itu dari buku yang diberikan papanya.
"Sayang, tidurlah lebih dulu! Aku masih ada pekerjaan penting," pamitnya pada Sharron.
"Malam ini kamu mau ke kantor lagi? Atau, ada pertemuan khusus di Klub malam seperti pengusaha pada umumnya?" tanya Sharron penasaran.
"Tidak! Aku hanya akan bertemu Alan di unit apartemennya. Kami harus membicarakan klien penting."
"Ini tidak ada hubungannya denganku, kan?" tanya Sharron.
"Tidak ada. Hanya urusan bisnis. Kalau kamu ketakutan, turun dan temui aku di unit Alan!"
"Baiklah."
Sharron lebih baik naik ke ranjang, menarik selimut, kemudian tidur. Darrell sendiri membawa buku jurnal yang akan ditunjukkan pada Alan, asistennya.
Sesampainya di sana, Darrell menekan bel. Tak lama, Alan membukakan pintunya.
"Selamat malam, Tuan. Apa ada sesuatu yang harus kukerjakan?" tanya Alan ketika menyambut tuannya.
"Aku ingin berbicara denganmu. Apakah aku boleh masuk?"
"Silakan,Tuan! Maaf membuatmu menunggu. Mengapa Anda yang datang menemuiku? Bukannya Anda bisa meneleponku kemudian meminta datang ke unit apartemen Anda?"
"Aku tidak ingin Sharron tahu. Hari ini dia sudah pergi ke sebuah panti asuhan kemudian mencari data mengenai dirinya. Dia tidak menemukan apapun selain nama Alexandria dan Samuel Alexander. Mungkinkah Sharron anak dari Samuel Alexander?" jelasnya sambil mendaratkan tubuhnya di sofa.
Alan juga pernah mengenal nama itu, tetapi sudah lama sekali. Kalaupun saat ini orang mengetahuinya, itu sudah dipastikan dari berita yang beredar di masa lalu.
"Aku ada buku jurnal ini. Papa yang memberikannya padaku. Katanya, sewaktu-waktu aku pasti membutuhkannya."
Zaman modern masih menggunakan buku jurnal? Seharusnya mereka mencarinya dari internet untuk mempermudah pencariannya.
"Maaf, Tuan. Aku akan mengambil laptop sebentar," pamit Alan.
"Untuk apa?"
__ADS_1
"Mencari informasi mengenai tuan Samuel Alexander."
Tak lama, Alan sudah kembali dengan laptop di tangannya. Dia segera membuka kemudian menuliskan nama Samuel Alexander di laman pencarian orang.
Deg!
Darrell dan Alan yang melihat layar laptop itu dibuat tertegun. Tidak ada nama pria itu di sana. Sepertinya bukan orang penting, tetapi mengapa Darrell sempat mengingat nama itu?
"Tidak ada. Mungkinkah dia orang biasa?" selidik Alan.
"Kurasa bukan. Dia bisa saja orang hebat, tetapi beritanya sengaja ditutup dari peredaran supaya tidak banyak orang yang tahu."
Sangat aneh memang. Terdapat banyak perbedaan. Nama anak kecil yang ada di daftar panti hanyalah Alexandria. Teka-teki ini semakin mencuat lantaran Alan sedang mencoba menghubungkan setiap kejadian.
"Tuan, apakah mungkin kalau Samuel itu sedang menyembunyikan sesuatu dari orang banyak?"
"Apa menurutmu? Kurasa itu tidak mungkin. Kecelakaan sudah merenggut nyawanya. Apalagi yang perlu disembunyikan?"
"Mungkin saja rahasia besar, Tuan. Tidak semua orang bisa mengetahuinya, bukan?"
"Tunggu! Sambil memikirkan semua itu, aku akan mencoba mencarinya di dalam buku ini," tunjuk Darrell pada buku yang dibawanya saat ini.
Deg!
AX Corporation merupakan perusahaan terbesar di Meksiko. Darrell pun mengenal siapa pemiliknya.
"Tuan Blair!" seru Darrell.
"Tunggu! Aku bingung dengan semua ini. Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa Tuan menyebut nama Tuan Blair?" tanya Alan.
"Baca saja ini!" Darrell menyerahkan bukunya.
Alan pun membacanya secara perlahan. Pada paragraf terakhir di dalam koran itu ternyata Samuel Alexander adalah pemilik sebelumnya.
"Apakah kita bisa menyelidiki masa lalu nona Sharron dari tuan Blair?" tanya Alan. Sebenarnya prioritas penyelidikan ini harusnya tertuju pada Maggia.
__ADS_1
Sayangnya mereka lebih dulu mendapatkan informasi mengenai Samuel Alexander. Alan harus senang atau sedih? Walaupun sebenarnya dia bisa saja membuat janji dengan tuan Blair, tetapi sepertinya Darrell tidak akan melakukannya dalam waktu dekat. Hal itu bisa menyebabkan tuan Blair curiga.
"Jangan terlalu terburu-buru, Alan! Kita bisa memulai penyelidikan dengan mendekati tuan Blair. Aku takut kalau sebenarnya tuan Blair itu yang merebut AX Corporation dari tangan tuan Samuel. Oh ya, kalaupun tuan Samuel meninggal di sini, seharusnya makamnya pun ada. Apa sebaiknya kita mencari makamnya terlebih dahulu?"
Alan nampak berpikir keras. Tidak seharusnya mereka mencari pemakaman. Saksi hidup jauh lebih mudah untuk diinterogasi daripada saksi yang tak bernyawa.
"Tidak, Tuan! Sebaiknya kita membuat pesta untuk mendekati tuan Blair. Perkara makam sebaiknya kita lewati dulu. Tapi, aku memiliki kesulitan, Tuan."
"Sampaikan, Alan!"
"Kita harus mengadakan pesta tanpa kehadiran Nona Sharron, Tuan. Anda tahu sendiri kan untuk menginterogasi tuan Blair harus di tempat yang menyenangkan."
Ya, Darrell paham. Tempat yang dimaksud adalah klub malam. Tuan Blair sangat menikmati suasana klub malam. Apalagi ditemani wanita cantik yang seksi. Jelas pria itu akan dengan mudah mengatakan sesuatu di masa lalunya.
"Baiklah. Aku setuju. Siapkan saja rencananya!" ucap Darrell.
"Tapi, aku memiliki rencana lain, Tuan. Apa Anda memikirkan hal yang sama denganku?"
Aku akan meminta tolong Noelle untuk menyelesaikan segalanya. Setelah itu, semuanya akan berakhir.
Darrell menggeleng. "Apa rencanamu?"
"Kalau Tuan berkenan, aku akan melibatkan Noelle dalam rencana ini. Dia kan bisa melakukan tugasnya dengan baik. Apa Tuan setuju?"
Darrell tidak bisa menolaknya. Jelas Noelle bisa melakukan segalanya, tetapi rencana ini diharapkan tidak diketahui oleh Sharron. Darrell takut mematahkan harapan istrinya jika ternyata AX Corporation bukan perusahaan orang tuanya. Namun, jika ternyata Samuel Alexander itu benar papa Sharron, maka sudah bisa dipastikan bahwa AX Corporation akan dimerger dengan W Corporation milik Darrell. Itupun jika Blair terbukti bersalah. Kalau dia hanya kerabat dekat Samuel Alexander, yang ternyata menjaga perusahaan Samuel dengan baik, maka Darrell tidak berani melakukan merger perusahaan.
"Iya, lakukan saja. Pastikan Noelle tutup mulut! Jangan sampai dia membocorkan rencana kita pada Sharron. Aku takut kalau dia akan kecewa dengan hasil yang akan didapatkan jika semua ini ternyata tidak terbukti."
"Baik, Tuan. Oh ya, sejak tadi Anda berada di sini, tetapi kuabaikan. Aku ambilkan minuman terlebih dahulu," pamit Alan.
"Tidak perlu! Aku akan minum di unitku saja. Lagi pula malam begini kamu mau buat apa untukku?"
"Kopi mungkin? Atau, teh hijau hangat? Kalau Wine, di sini tidak tersedia, Tuan," canda Alan.
"Tidak perlu. Unit apartemenku tidak jauh kan. Kalaupun aku sampai ke sana tidak akan kehausan ataupun pingsan. Kamu jangan khawatir! Aku ke sini bukan untuk meminta minum, Alan."
__ADS_1
"Baiklah, Tuan." Alan pun terdiam di posisinya.
Keputusan mereka untuk melibatkan Noelle sudah tepat. Dia memang wanita hebat yang sangat cekatan. Secepatnya Alan akan meminta bertemu dengannya.