Belenggu Cinta Hot Daddy

Belenggu Cinta Hot Daddy
Bab 92. Kekhawatiran Sharron


__ADS_3

Alan spontan meledek tanda lahir yang dimiliki Noelle. Dia tidak menyangka kalau wanita secantik Noelle memiliki tanda lahir yang bisa dibilang terlalu merusak pandangan mata.


"Tanda lahirmu jelek sekali!" cibir Alan.


"Sudah kuduga. Kau pasti akan mengatakan seperti itu. Itulah mengapa aku selalu menutupinya menggunakan foundation saat aku menggunakan make up. Bahkan, dari jauh pun sudah kelihatan, yah?"


"Boleh aku tanya sesuatu padamu?" Alan lebih tertarik dengan tanda lahir itu daripada apa yang Noelle lakukan saat ini. Dia yang membereskan kekacauan yang sudah dibuat oleh Alan.


"Tanyakan nanti saja. Setelah ini aku mau ke kamar dulu. Aku takut terlambat untuk pertama kalinya. Tuan Blair tidak menyukai karyawan yang seperti itu."


Alan mengalah. Memang benar, setelah melihat jam tangannya, Alan lebih memilih untuk pindah ke ruang tamu sembari menunggu Noelle selesai berdandan. Dia pikir menunggu Noelle memerlukan waktu yang lama. Nyatanya, tak lebih dari 10 menit dia sudah siap di hadapan Alan.


Noelle menggunakan rok di atas lutut, dan blazer senada dengan rok yang dipakainya. High heels dan tas yang bertengger di pundaknya sebagai pelengkap penampilannya kali ini..


"Aku siap!" seru Noelle seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan balon.


"Ayo, mobilku ada di basemen. Kamu mau ikut ke sana atau menunggu di depan pintu masuk apartemen?" Sebenarnya tawaran Alan ini tidak ada pilihannya. Sama-sama jauh versi Noelle.


"Basemen saja."


Berjalan beriringan nyatanya bukan terlihat seperti rekan kerja. Mereka lebih cocok menjadi sepasang kekasih bagi yang melihatnya.


Alan membukakan pintu mobil untuk Noelle sebagai wujud perhatian pria kepada wanita. Namun, bukannya mendapatkan pujian, justru Noelle ingin tertawa melihat tingkah Alan.


"Harusnya tidak seperti ini, Alan! Aku terbiasa naik taksi. Jadi, mau tidak mau aku harus membuka dan menutupnya secara mandiri."


Glek!


Andai waktu berhenti saat ini juga, bisa saja Alan akan memaki Noelle secara langsung. Alan mencoba menahan diri untuk tidak terlibat perdebatan terlalu jauh. Intinya, Alan terlihat bodoh saat bersama Noelle.


Alan pun tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Dia mengemudikan mobilnya menuju AX Corporation.


"Jadi, apakah kamu sudah siap menjawab pertanyaanku?"


"Hemm, katakan!" balas Noelle.


"Sejak kapan kamu menyadari tanda lahir itu ada?" Alan berusaha memastikan, tetapi mustahil jika Noelle itu anak dari Allegra dan Javer Wesley. Dari bentuk wajah sudah berbeda jauh. Mungkin hanya sebuah kebetulan saja memiliki tanda lahir yang letaknya sama.

__ADS_1


"Entahlah, Alan! Waktu itu aku sudah tinggal bersama Sharron. Dia yang memberitahuku bahwa tanda lahir itu sangat menggangu ketika aku mengikat seluruh rambutku. Ya, terlihat sangat tidak menarik dengan kulitku yang mulus ini."


Kesombongannya seperti, ah entahlah! Alan tidak peduli lagi. Yang penting dia bisa mengantarkan Noelle sampai gedung AX Corporation dengan selamat.


"Terima kasih," ucap Noelle setelah turun dari mobil.


"Sama-sama."


Alan berniat langsung pergi ke kantor W Corporation, tetapi niatnya itu terhenti karena panggilan yang dilontarkan Noelle.


"Alan!" serunya.


"Ya?"


"Apakah sore nanti kau akan menjemputku?" tanya Noelle.


Ck, makin lama makin keterlaluan saja!


"Tidak! Kau bisa pulang sendiri," balas Alan. "Oh ya, satu lagi! Struk pembayaran ongkos taksi berikan padaku. Nanti aku akan menggantinya."


Glek!


...🍅🍅🍅...


Pemandangan pegunungan Swiss yang indah menjadi objek wisata paling menarik bagi Sharron dan Darrell. Mereka mengambil penginapan di Chez Constance untuk beberapa hari ke depan.


"Kau suka penginapannya?" tanya Darrell saat keduanya tidak memutuskan untuk pergi ke manapun.


Alasan yang diberikan Sharron padanya cukup jelas. Dia malas pergi ke manapun dan hanya ingin berdua dengan suaminya. Bukan tanpa alasan, sebenarnya dia enggan untuk keluar. Ditakutkan Sharron ketika dia tak sengaja akan bertemu lagi dengan Marcello. Insting sinyal pria itu terkadang kuat dan bisa menemukan di manapun keberadaan Sharron.


"Rupanya mama dan papa akan mendapatkan lebih cepat dari yang kuduga," ucap Darrell ambigu di telinga Sharron.


"Maksudnya?"


"Ya, bisa dibilang seperti ini. Perhitungan matematika ku mengatakan bila dua orang berada di dalam kamar secara terus menerus, maka hasil yang akan didapatkan adalah pertambahan jumlah penduduk. Itu fakta, bukan? Atau, memang kamu sengaja ingin mengurungku berlama-lama di sini?" canda Darrell.


"Darrell! Aku hanya ingin menikmati kebersamaan ini saja."

__ADS_1


Sharron tidak ingin berpisah dari Darrell. Dia akan mewujudkan keinginan mama mertua berikut keluarga besarnya.


"Hemm, baiklah. Kemarilah!" perintah Darrell.


Sharron memeluk pria itu. Kehangatan dan kenyamanan yang didapatkan saat ini bukan tanpa alasan. Mereka saling mencintai.


"Sayang, bagaimana reaksimu nanti ketika bertemu dengan Maggia? Apa kamu akan mencurahkan kasih sayang bahkan segalanya pada gadis itu?" Cemburu! Satu kata yang ada di benak Sharron. Entah, dia merasa akan menjadi orang ketiga jika Maggia ditemukan.


"Tidak seperti itu, Sayang. Aku hanya bertemu sebentar, kemudian memberikan pelukan sebagai wujud perhatian kakak pada adiknya. Setelah itu, semua kasih sayang akan diberikan dari mama dan papa padanya. Tugasku selanjutnya memberikan perhatian lebih pada istriku tercinta."


Sharron tersipu. Rayuan pria berumur ini nyatanya mampu meluluhkan hatinya juga.


"Terima kasih, Sayang. Ehm, apa yang kamu inginkan dariku?"


Senyum mengembang terlihat jelas di wajah Darrell. Seperti mendapatkan kesempatan emas, Darrell pun mencoba mengatur napasnya.


"Berikan hakku, kita buat Wesley junior sebanyak mungkin. Are you ready?" canda Darrell.


Sharron melepaskan pelukannya kemudian naik ke ranjang.


"Kau selalu menjadi pria mesum!" goda Sharron.


"Sudahlah, Sayang. Kau pasti merindukan wortel impor-ku kan?" goda Darrell.


Sudah lama Sharron tidak bermain-main dengan wortel impor itu, tetapi pikirannya saat ini bukan untuk itu. Pikirannya tertuju pada Noelle yang sedang menggali informasi mengenai dirinya.


"Sayang, apa yang kamu pikirkan? Kenapa kamu mendadak diam seperti itu?" tanya Darrell.


"Apakah tuan Blair itu pria yang baik? Aku takut kalau dia akan menyakiti Noelle."


Sebagai sahabat yang baik, tentunya tidak salah kalau Sharron ikut kepikiran. Apalagi dia belum sempat meminta maaf atas kesalahpahaman yang dibuatnya dengan tidak sengaja.


"Aku tidak tahu, Sayang. Aku memang sudah lama mengenalnya. Kurasa Noelle pasti baik-baik saja. Jangan khawatir! Alan akan memantaunya. Setiap hari aku memintanya untuk menjemput kemudian mengantarnya ke kantor tuan Blair. Ini hanya akan berlangsung sampai Noelle mendapatkan informasi lengkap. Doakan saja semoga dia lekas menemukan jawabannya."


Sharron turun dari ranjang untuk menuju ke jendela. Dia membuka jendela itu berharap ada angin alami yang masuk. Darrell pun mengikuti kemudian memeluk wanitanya dari belakang. Darrell berharap dari hal kecil yang ditunjukkan pada Sharron bisa membuat hubungannya semakin baik dan tidak ada celah sedikitpun untuk orang ketiga.


...🫒🫒🫒...

__ADS_1


Sambil menunggu update, yuk mampir karya rekomendasi Emak. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ❤️ by Author Kirana Pramudya



__ADS_2