
Darrell yang mendapati kabar bahwa Sharron pergi ke Swiss, tanpa berpikir panjang bahwasanya di mansion sedang ada orang tuanya. Dia juga sudah tidak memikirkan lagi bagaimana sikap Callie. Bergegas dia menyusul wanita simpanannya itu.
"Darrell, kau mau ke mana?" tanya Javer yang kebetulan sedang bersantai di mansion. Dia melihat putranya terlalu terburu-buru dengan membawa koper.
"Aku ada pekerjaan mendadak, Pa. Kalau memang Papa dan mama masih mau menunggu, silakan saja. Kalau harus kembali ke Italia, tinggalkan pesan pada pelayanku. Setelah urusanku selesai, aku akan mampir ke tempat Papa," ucap Darrell.
"Kau tidak pergi dengan Callie?"
"Callie masih ada urusan dengan mama. Biarkan saja. Oh ya, sebelum itu tolong sampaikan pada Callie kalau aku mendadak ada pekerjaan penting. Katakan padanya, dia bebas untuk beberapa hari ke depan."
"Mengapa kau tidak mengirimkan pesan padanya?"
"Aku takut ketinggalan pesawat. Tidak akan keburu, Pa. Aku pergi."
Darrell meninggalkan papanya seorang diri di mansion. Bukan masalah baginya karena sebentar lagi mama dan istrinya juga lekas pulang. Tak lupa Darrell meminta Alan untuk menjemput mereka di panti asuhan saat ini.
Setelah pesawat lepas landas, Darrell akan menemui Sharron secepatnya. Bukan hanya mendapatkan kabar kepergian Sharron ke Swiss, tetapi juga alamat di mana dia akan tinggal selama di sana.
...***...
Suasana mansion semakin siang malah semakin ramai karena kedatangan Callie dan Allegra bersama asisten putranya.
"Kasihan kau, Alan. Putraku sengaja membuatmu kerepotan seperti ini," ucap Javer.
"Om tenang saja. Tuan Darrell memang selalu seperti itu. Setelah ini, aku langsung kembali ke kantor. Masih banyak meeting yang harus aku hadiri." Alan berniat keluar dari mansion, tetapi tangannya dicegah oleh Callie.
"Tuanmu pergi ke mana?" tanya Callie.
"Ada rapat bisnis di luar negeri, Nyonya. Tuan juga berpesan kalau Anda bebas untuk beberapa hari ke depan."
__ADS_1
Bukan lagi bebas, tetapi ini kesempatan bagus untuk menyusul Marcello ke Swiss. Dia tidak akan ke Italia, tetapi langsung ke Swiss untuk menemui sahabat sekaligus pria yang sudah membuatnya semakin semangat menjalani hidup.
"Terima kasih, Alan. Pergilah!"
Callie mengabaikan kedua orang tua suaminya. Dia lebih memilih ke kamar untuk berkemas. Sembari menyiapkan segala keperluannya, dia memutuskan untuk berangkat malam ini. Walaupun agak ribet untuk mengurus dokumen perjalanannya, tetapi itu tak sulit. Dia masih memiliki Visa Schengen Multiple Entry untuk ke Swiss masih berlaku karena Callie hanya melakukan perjalanan ke Italia untuk beberapa hari saja.
Setelah mengotak-atik ponselnya, dia mendapatkan tiket pesawat malam ini. Namun, dia tidak mau bertahan di mansion bersama mama atau papa mertuanya. Sembari menunggu malam, dia akan berada di bandara.
Bergegas dia membersihkan diri sejenak kemudian menyiapkan segala keperluannya. Tak lama, sebuah koper besar dan tas kecil yang menggantung di pundaknya membuat Allegra menahannya.
"Kau mau ke mana, Callie? Suamimu sedang tidak berada di mansion. Apa ini yang selalu kamu kerjakan ketika Darrell tidak berada di mansion?"
"Mama, aku ada keperluan dengan beberapa teman. Kurasa ini waktu yang pas untuk pergi sebelum Darrell pulang," ucapnya.
Allegra masih kesal sekali pada Callie. Sesampainya di panti asuhan, bukannya lekas mencari anak untuk diadopsi, malah beralasan mau memilih anak jika sudah mendapatkan kata sepakat dari Darrell.
Deg!
"Mama mau mengubah kenyataan kalau aku tidak bisa hamil kemudian meminta Darrell untuk menikah lagi?" tanya Callie ke inti masalahnya.
"Mama akan membuat sayembara bagi siapapun wanita yang mau menjadi rahim pengganti untuk Darrell. Setelah wanita itu resmi hamil cucu Mama, kamu jangan menyesal kalau Mama akan membawanya ke Italia kemudian menikahkan mereka di sana. Walaupun Mama tahu kalau kamu masih hidup, tetapi kamu susah diatur," ucap Allegra.
Javer yang melihat pertengkaran itu nampak diam saja seolah mengerti apa maksud istrinya. Keluarga Wesley butuh keturunan sebagai pewaris tahta kerajaan bisnis yang sudah dikelola oleh putranya, Darrell.
"Terserah apapun yang akan Mama lakukan. Hati Darrell akan tetap untukku. Ehm, satu hal lagi, Ma. Mama jangan terlalu percaya diri untuk mengatur Darrell karena pada dasarnya cinta Darrell padaku terlalu tinggi."
Callie cukup percaya diri karena Darrell bukan pria yang gampang jatuh cinta. Kedudukannya sebagai menantu keluarga Wesley akan tetap aman sampai kapanpun. Walaupun sebenarnya dia sempat tahu kalau suaminya menjalin hubungan dengan wanita lain, Callie sudah memintanya untuk melepaskan wanita itu dan Darrell setuju.
"Lama-lama dia akan bosan padamu, Callie. Pernikahan bukan sekadar hubungan suami-istri saja, tetapi butuh keturunan juga. Pernikahan juga bukan sekadar pemuas ranjang saja, Callie. Kamu harus tahu itu. Darrell semakin hari makin berumur. Jelas dia membutuhkan generasi penerus untuk melanjutkan bisnis keluarga. Kalau kalian tidak bisa punya anak, mengadopsi pun tidak mau, Mama juga bisa mencari wanita pengganti untuk putraku."
__ADS_1
"Cinta tetap memenangkan segalanya, Ma. Callie sudah membuktikan itu. Daripada Callie berdebat terus sama Mama, yang penting nanti Mama punya cucu, beres kan? Jangan terlalu berlebihan, Ma. Tidak bagus untuk kesehatan."
Callie lantas menarik kopernya dengan cepat menuju ke mobil. Sebelum mama mertuanya menahannya lagi.
Allegra mengomel pada suaminya tentang sikap Callie barusan.
"Pa, kau tahu kan, sejak awal Mama tidak pernah menyetujui perselingkuhan. Namun, melihat sikap Callie yang seperti itu, membuat Mama yakin untuk meminta Darrell bermain api. Siapapun yang akan menjadi pilihannya, Mama akan setuju. Wanita pilihan Darrell yang akan melahirkan keturunan untuk keluarga kita. Bagaimana menurutmu?"
"Sudah dari awal kalau Papa tidak pernah setuju untuk mengambil anak adopsi, kan."
"Lalu, apakah rencanaku ini akan kamu dukung, Pa? Kalau iya, aku akan bicara dengan Darrell. Istrinya sudah tidak bisa diharapkan."
Allegra tidak pernah menolak keputusan putranya. Sikapnya seperti Javer yang selalu mendukung kesetiaan dan mencintai satu wanita sepanjang hidupnya. Namun, semakin ke sini, sikap Callie meresahkan. Tidak ada hormat ataupun keyakinan melanjutkan hubungan rumah tangga dengan putranya. Seolah Darrell diabaikan olehnya.
"Kalau memang Darrell mau, silakan lanjutkan rencanamu. Jangan paksakan juga padanya. Cinta memang selalu mengalahkan segalanya, Allegra."
"Tapi, aku sangat tidak tahan melihat sikap Callie barusan. Kau tahu Pa, dia seperti menjalani kehidupannya sendiri."
Ribetnya melihat hubungan rumah tangga putranya yang semula terlihat baik-baik saja. Semakin ke sini, Allegra yakin kalau Darrell sedang tidak baik. Pria itu pasti sedang mencoba menyelami dirinya sendiri tanpa mau bercerita pada mamanya. Mungkin dengan memberikan kesempatan pada putranya, Darrell baru mau terbuka tentang seluruh masalahnya.
"Sabar dulu. Temui Darrell kemudian tanyakan padanya. Apakah dia mau menikah lagi atau tidak? Atau mungkin dia sudah memiliki wanita idaman lain di luaran sana tetapi tidak berani mengatakan padamu."
Allegra memang anti dengan wanita kedua. Namun, pengecualian untuk putranya yang memiliki istri seperti Callie.
...🍒🍒🍒...
Sambil menunggu update, yuk mampir karya keren berikut ini. Jangan lupa tinggalkan jejaknya. Terima kasih
__ADS_1