
"Maaf." Hanya kata itu yang mampu terlontar dari mulut Darrell. Sejujurnya dia tidak menyangka bisa berbuat sekasar ini pada Sharron.
"Kenapa kau menamparku, Dad?" tanya Sharron. Walaupun kata maaf sudah keluar dari mulut pria itu, Sharron seakan belum bisa menerimanya.
"Lebih baik kamu bekerja di apartemen ini saja. Jadilah pelayan pribadiku. Kau bisa bekerja untuk membersihkan apartemen, memasak, dan melayaniku di ranjang. Itu jauh lebih baik daripada kamu harus telanjang di hadapan orang banyak. Kau hanya akan telanjang di hadapanku!" ucap Darrell sudah tidak terkontrol.
"Aku mau, tetapi aku tidak mau hamil. Setuju?" Sharron mengulurkan tangannya meminta persetujuan.
Darrell membalasnya. Dia memang sedang dilanda kebingungan dengan sikap istrinya, sekarang ditambah lagi dengan sikap Sharron yang menguras emosinya.
Sharron memang sudah bertindak terlalu jauh. Dia sudah menjadi wanita seperti Noelle yang biasa dengan urusan ranjang. Walaupun tidak terikat pernikahan karena memang tidak bisa menikah lebih dari satu.
"Ya, baiklah. Aku setuju. Terserah kau mau pake kontrasepsi atau aku yang menggunakan. Katakan saja! Jangan sampai setelah kita melakukan, tiba-tiba kamu hamil." Darrell menyetujuinya.
"Aku tidak mau memakai alat kontrasepsi. Kalau Daddy mau, Daddy saja yang memakainya. Lagi pula setelah kontrak kerjasama kita selesai, aku akan menikah dengan pria lain kemudian memiliki anak." Keyakinan Sharron mantap sekali.
Tidak dengan Darrell. Dia merasa sesak di ulu hatinya ketika mendengar Sharron akan menikahi pria lain. Ada cemburu yang melanda. Apakah dia mulai mencintai wanita itu? Atau, hanya sekadar obsesi saja?
"Kamu tidak mau menikah denganku?" tanya Darrell. Pertanyaan yang sudah jelas jawabannya itu lolos begitu saja dari mulutnya.
Sharron tertawa. "Daddy aneh! Memangnya aku tega mengirimkan Nyonya Callie ke surga lebih cepat?"
Sejujurnya Darrell pun memikirkan hal yang sama, tetapi pilihan hidup itu hanya dua. Kalau bukan dia yang meninggal lebih dulu, bisa jadi Callie yang lebih dulu. Tetapi, mereka juga tidak akan tahu permainan takdir seperti apa? Kalaupun Callie memutuskan selingkuh lebih dulu, ikatan pernikahan mereka akan tetap seperti sebelumnya. Hanya saja, hati mereka yang sudah berubah dengan mengisinya dengan nama lain.
"Hemm, kurasa kamu tidak akan sejahat itu," balas Darrell.
"Tentu, aku memang tidak jahat, Dad. Kalaupun aku jahat, aku bisa saja membuka hubungan ini di hadapan Nyonya Callie. Namun, tolong peringatkan Nyonya Callie supaya tidak memaksaku untuk hamil."
Deg!
Ingatan kata hamil membuat Darrell pusing. Seminggu lagi orang tuanya akan datang. Apa yang akan disampaikan pada mereka?
"Baby, Callie memintaku untuk mencari rahim pengganti dalam waktu seminggu lagi," keluh Darrell.
__ADS_1
"Katakan saja apa adanya. Jangan lemah! Cinta boleh, bodoh jangan!"
Glek!
Lagi-lagi ucapan Sharron mengena sekali di hatinya.
"Apa kamu pikir aku bodoh?" tanya Darrell.
"Sangat! Daddy sih, kurang tegas sama istri. Jadi pria itu jangan lembek seperti itu! Bisanya cuma menggertakku saja," ucap Sharron. Namun, diakhir kalimat, ucapan Sharron mulai sedikit pelan.
"Ish, diakhir kata kamu meledekku, Baby!"
"Mau bertaruh kalau kamu dan Nyonya Callie itu kalah telak dalam bertindak. Kupikir Nyonya Callie jauh lebih cepat mengatur strateginya daripada kamu, Dad."
"Yah, mau bagaimana lagi, Baby! Aku selalu menyayanginya."
Sedikit sakit mendengar ucapan Darrell barusan. Memang sangat sulit meluluhkan pria beristri seperti Darrell. Sharron harus tahu posisinya sekarang.
...***...
"Hai, Baby! Sebahagia inikah kamu?" tanya pria yang bersamanya.
"Tentu, Honey. Aku merasakan kebebasanku ini mahal harganya. Kamu tahu kan, cita-citaku menjadi model itu sangat tinggi. Sayang, suamiku tidak pernah mendukungnya," keluh Callie.
"Operasi angkat rahim yang kamu umumkan di depan suamimu, bagaimana? Apa dia percaya?" tanya pria itu lagi. Seolah semua kehidupan Callie, dia mengetahuinya.
"Iya, dia sangat percaya. Sejujurnya aku memang tidak mau hamil, Pho." Pho adalah panggilan sayang Callie pada Marcello Phoenix sahabat sekaligus kekasih jarak jauhnya.
"Kenapa? Bukankah Darrell Wesley itu pria paling kaya di negaranya? Kalian juga menikah atas dasar cinta." Marcello tidak pernah bisa cemburu pada Callie. Hubungan yang terjalin diantara keduanya hanyalah friendzone.
Marcello selalu menjadi pria yang mau mendengarkan seluruh curhatan yang disampaikan oleh Callie. Bisa dibilang kalau dia adalah pendengar yang baik.
"Aku memang mencintainya. Itulah mengapa aku menikah dengannya, Pho." Callie bermanja di dada bidang Marcello.
__ADS_1
"Apakah dia bisa memberikan kebahagiaan seperti aku memberikan kebahagiaan padamu?" tanya Marcello.
"Kamu dan Darrell itu sama-sama pria terhebat di dalam hidupku, Pho. Apa kamu cemburu?"
"Tidak, Baby! Aku akan selalu memperlakukanmu dengan sangat baik. Lalu, rencanamu untuk menjadi model, bagaimana?"
Callie memainkan bulu-bulu halus di dada bidang Marcello yang membuat pria itu semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku belum menyampaikan ini pada Darrell, Honey. Kurasa dia tidak akan setuju pada keputusanku. Apalagi aku juga sudah berjanji untuk membawa orang tuanya ke mansion. Rencanaku ingin agar Darrell itu menghamili wanita lain. Dan, selanjutnya kamu tahu kan apa rencanaku untuk itu?"
"Ya, aku tahu, Baby! Perjuanganmu untuk menaklukkan hati Darrell tidaklah mudah. Kamu juga menginginkan kebebasan sebagai seorang model yang dikenal banyak orang. Aku sudah berulang kali menyampaikan padamu kalau aku akan mendukungmu."
"Honey, tapi aku tidak mau kehilangan Darrell. Aku sangat mencintainya, begitu pun denganmu. Kamu pria yang selalu bisa mendukung semua keputusanku."
Kalau dibilang serakah, Callie sangat serakah. Dia juga sangat ambisius. Setiap Darrell pergi ke kantor, sebenarnya dia sering keluar masuk mansion secara diam-diam. Demi belajar modeling supaya bisa jadi model seperti apa yang diinginkan selama ini.
Marcello mengecup kening Callie. Memberikan kehangatan padanya.
"Baby, bagaimana kalau hubungan kita terendus oleh Darrell?"
Itu sudah menjadi pertimbangan Callie sejak lama. Semua hadiah yang disimpan di dalam lemarinya, lambat laun akan mulai dilirik oleh Darrell. Pria itu bahkan tidak pernah tahu kalau Callie sering menerima paket. Bukan karena Darrell tidak peduli, pria itu sudah sangat peduli. Namun, Callie selalu beralasan bahwa dia mendapatkan hadiah dari teman-temannya. Terkadang dia mendapatkan dari sahabatnya. Dia juga pernah beralasan bahwa dia titip untuk dibelikan.
"Paling dia akan marah saja. Tidak akan mungkin sampai bercerai. Pernikahan kami akan tetap seperti ini."
"Baguslah kalau begitu. Kau akan tetap menjadi wanitaku. Biarkan dia sibuk dengan rencananya untuk mencari rahim pengganti. Oh ya, kalau dia benar-benar mendapatkan, apa yang akan kamu lakukan? Bukankah kamu berjanji akan merawat anak yang dilahirkan dari wanita itu?"
"Kalau itu sampai terjadi, aku sudah sibuk di dalam dunia model. So, aku akan menolaknya. Lagi pula, wanita mana yang mau dipisahkan dari anaknya, apalagi anak kandung. Bukan begitu, Pho?"
Callie sangat licik. Dia mempermainkan suaminya sampai sejauh ini. Rencana busuknya itu tersusun dengan sangat rapi sampai Darrell tidak menyadarinya.
...🪴🪴🪴...
Sambil menunggu update, yuk mampir karya keren ini. Jangan lupa tinggalkan jejaknya.
__ADS_1