
Alan yang baru saja memejamkan mata harus terbangun lagi ketika mendengar suara ponselnya berbunyi. Dia mendapatkan kabar bahwa tuannya mengalami kecelakaan. Dia juga harus menghubungi orang tua Darrell yang saat ini masih ada di mansion tuannya.
Sebelum ke rumah sakit dengan penampilan buruknya karena baru saja bangun tidur. Dia membersihkan diri sejenak kemudian mengganti baju dengan pakaian yang terlihat sedikit santai.
Suasana rumah sakit pada malam hari terlihat sangat sepi. Hanya saja kedatangan orang tua Darrell membuatnya sedikit terhibur.
"Bagaimana kejadiannya?" tanya Javer.
"Menurut saksi mata yang sudah menginformasikan ke pihak yang terkait, ini hanya kecelakaan tunggal, Tuan. Mungkin saja keduanya sedang bertengkar atau tuan Darrell yang tidak berkonsentrasi."
"Mana mungkin putraku tidak konsentrasi, Alan? Bisa saja kan Callie sengaja melakukan ini. Maksudku, bisa saja terjadi pertengkaran di antara keduanya. Akhir-akhir ini hubungan mereka sedang tidak baik." Allegra tidak yakin kalau putranya itu terdengar bersikap sembrono.
Lama menunggu di depan ruang gawat darurat, ketiganya harap-harap cemas dengan kondisi putranya. Hanya pria yang ditunggu kabarnya. Sedikit egois memang karena Callie memang telah melukai hati Allegra.
"Alan, setelah ini aku minta tolong padamu," ucap Allegra.
"Minta tolong apa, Nyonya ok 0?"
"Aku akan membawa Darrell jauh dari Callie. Setidaknya memisahkannya dari wanita itu. Aku akan memberikan kehidupan baru pada putraku. Semua usahanya di sini bisa kamu lanjutkan, Alan. Kamu bisa, kan?"
Kepercayaan yang begitu besar buat Alan. Sebagai seorang asisten mendadak mendapatkan kepercayaan penuh untuk mengurus perusahaan. Bukan perkara yang mudah. Apalagi nanti kalau diminta Allegra untuk memindahkan seluruh perusahaan ke Italia atau ke manapun atas permintaan Allegra.
Sementara Allegra sendiri memberikan keputusan secara sepihak. Belum tentu Darrell setuju dengan keputusannya. Namun, demi kebahagiaan yang akan diberikan pada putranya, keputusan ini harus diambil.
...****************...
Pagi terasa sunyi, semilir angin dingin menghembus disela-sela keheningan beberapa manusia. Kabar dari pihak rumah sakit menyatakan kalau Callie telah meninggal dunia. Namun, ada keanehan yang terjadi sehingga membuat Alan terkejut.
"Maaf, Tuan. Nyonya Callie tidak bisa diselamatkan. Karena benturan yang cukup keras pada perutnya sehingga membuat rahimnya rusak."
Deg!
Setahuku kalau Callie itu sudah angkat rahim. Lalu, mengapa dokter malah menjelaskan kalau rahimnya rusak? Apa sebenarnya yang disembunyikan Callie selama ini?
__ADS_1
"Baik, dokter. Aku akan segera mengurus pemakamannya."
Semua tentang keputusan mengenai Darrell maupun Callie diserahkan kepada Alan. Sementara Allegra dan Javer menyiapkan tempat tinggal di Italia untuk putranya. Selama proses recovery, sebaiknya pria itu dijauhkan dari kabar buruk mengenai meninggalnya Callie.
"Apa Nyonya akan membawa Tuan pergi ke Italia? Tidakkah Anda menuntaskan mengikuti pemakaman Nyonya Callie," tanya Alan.
"Urus saja semuanya, Alan. Aku akan membawa Darrell secepatnya. Jangan sampai dia tahu mengenai kabar ini. Lagi pula ini murni kecelakaan, bukan karena kesengajaan Darrell." Allegra sudah tidak sabar untuk membawa Darrell kembali bersamanya.
Javer sendiri akan menyiapkan perusahaan yang biasa dipimpinnya untuk diserahkan pada Darrell. Semua surat kuasa di Meksiko sudah diurus oleh Alan karena sejak lama Darrell selalu menggantikan posisinya kepada Alan. Beberapa dokumen kuasa pun sudah diserahkan padanya.
Pemakaman dilangsungkan secara khidmat tanpa kehadiran kedua orang tua Darrell. Mereka sedang menyiapkan keberangkatan putranya yang sudah diperbolehkan untuk pulang.
...----------------...
Tiga bulan telah berlalu begitu cepat. Kehidupan Darrell sudah membaik. Dia tinggal di Italia bersama kedua orang tuanya.
"Ma, sejak kecelakaan itu, mengapa aku tidak pernah tahu kabar Callie? Aku masih memiliki janji pada papanya."
"Maksud Mama?"
"Kau tidak tahu kan kabar terakhir yang didapatkan Alan?" Allegra sangat kesal pada putranya. Kecintaannya terlalu dalam pada Callie membuat putranya itu semakin bodoh menurutnya.
"Callie itu sudah membohongimu."
"Aku tahu itu, Ma. Dia bohong karena menyembunyikan hubungan dengan Marcello, kan? Sekarang, aku sudah sembuh. Aku ingin menemuinya. Sudah lama sekali Mama bilang kalau Callie menjalani pengobatannya di Meksiko. Izinkan Darrell menemui istriku, Ma. Aku ingin melihatnya."
Javer yang baru bergabung di meja makan sempat mendengar perbincangan putranya. Dia sudah tidak tahan untuk menyampaikan kabar yang sebenarnya. Sejak pertama kali diputuskan untuk membawa Darrell ke Italia, Allegra selalu meminta Javer untuk menyembunyikan seluruh kejadian yang terjadi. Mereka terus saja mengarang cerita kalau wanita itu baik-baik saja.
"Callie sudah meninggal, Darrell."
Ucapan Javer membuat Allegra membulatkan matanya. "Pa! Mengapa kau lakukan ini?"
"Ma, sudah saatnya Darrell tahu yang sebenarnya. Kita tidak bisa menyembunyikan terlalu lama."
__ADS_1
"Benarkah? Lalu, mengapa kalian tidak ada yang memberitahukan padaku?" Sesal jelas dirasakan Darrell. Bagaimanapun Callie pernah hadir di dalam kehidupannya.
"Untuk apa, Darrell? Untuk membuktikan bahwa kebohongan wanita itu sangat banyak padamu? Rahimnya rusak sehingga dia meninggal."
Bagaimana bisa? Bukankah dia sudah menjalani operasi pengangkatan rahim? Apa sebenarnya yang disembunyikan dariku?
"Itu mustahil, Ma! Callie sudah mengangkat rahimnya beberapa bulan sebelum kejadian naas itu," balas Darrell sedikit kebingungan juga.
"Kau bisa pergi ke Meksiko. Tanyakan pada Alan. Dia sudah mengurus semuanya setelah kau ikut Mama ke sini."
Alan, Callie, dan Sharron. Ketiga orang berbeda yang menempati hati dan pikiran Darrell dengan berbeda-beda pula.
Callie, jelas Darrell sudah tahu mengenai kabar terakhir istrinya. Alan, dia sudah menjalankan perusahaan dengan baik. Yang terakhir, Sharron, wanita di masa lalunya itu hilang entah ke mana. Tidak ada kabar sedikitpun perihal gadisnya itu.
"Mama mengizinkan?" Darrell tahu kalau selama ini mamanya sudah melarang ke manapun dia pergi tanpa izin.
"Tentu saja. Mama rasa kamu sangat merindukan Alan. Berikan dia kesempatan untuk menentukan jodohnya!" jelas Allegra lagi.
"Ehm, kalau kau mau kembali ke perusahaanmu di Meksiko, Papa akan mengizinkan," sahut Javer. Pria paruh baya ini tahu bahwa Meksiko tidak bisa dipisahkan dengan Darrell. Walaupun kenyataannya masih banyak tempat tinggal yang bisa ditempati dari keluarga Javer.
Sebenarnya perasaan Darrell sudah biasa saja ketika mendapatkan kabar bahwa Callie sudah meninggal. Sebagai suaminya, ada sedikit rasa sedih teringat ulahnya sendiri yang telah membuatnya celaka sampai meninggal.
Aku memang sedikit terkejut, Callie. Bukan berarti aku yang telah membunuhmu. Seandainya malam itu kau tidak melakukan kebodohanmu, maka kamu tidak akan pergi secepat ini. Di sisi lain, janjiku padamu telah usai. Izinkan aku mencari kebahagiaanku sendiri.
"Mama akan membantumu menyiapkan segala keperluan yang kamu butuhkan. Pasport mu akan Mama kembalikan." Selama ini Allegra lah yang menyimpan surat penting milik putranya. Dia juga yang melarang Alan atau siapapun memberikan informasi perihal Callie.
Suasana hati Darrell sudah lega. Dia tidak terikat lagi dengan janji yang diberikan mendiang papa Callie. Rasanya dia akan pergi ke Meksiko untuk melupakan masa lalunya dan menata masa depannya.
...🌹🌹🌹...
Sambil menunggu update, jangan lupa mampir ke rekomendasi keren berikut
__ADS_1