Belenggu Cinta Hot Daddy

Belenggu Cinta Hot Daddy
Bab 66. Wedding Party


__ADS_3

Selepas pengucapan janji suci, siang ini semua orang makan siang bersama, termasuk sepasang pengantin. Buket bunga yang dipegang oleh Sharron tidak akan dilemparkan siang ini melainkan nanti malam saat pesta dansa digelar.


Meja khusus untuk kedua orang tua Darrell, sepasang pengantin, Noelle, dan Alan berada di meja makan yang sama. Khusus meja makan mereka, pelayan yang menyiapkan. Sementara tamu undangan yang lainnya bisa memilih sendiri makanannya di stand makanan yang sudah di sediakan. Jangan salah, kali ini Allegra memang menyediakan sesuatu yang berbeda. Dia sengaja menyiapkan beberapa foodtruck makanan kelas atas dan juga beberapa tempat yang dikhususkan untuk bartender.


Siang hari saja sudah berkonsep seperti ini. Maklum kalau keluarga Wesley selalu memberikan sesuatu yang berbeda.


"Ma, kenapa bisa kepikiran seperti ini?" tanya Darrell.


"Mamamu ingin menikmati suasana luar kalau dikumpulkan ke dalam area mansion akan seperti apa hingar-bingarnya. Papa sampai tidak percaya konsep pernikahanmu ini kombinasi berbagai macam gaya. Yah, kamu bisa lihat kan, gaya elegan dengan gaun yang kalian pakai, gaya pengusaha telah membawa beberapa foodtruck terkenal di Italia ke halaman mansion seluas ini, dan yang terakhir adalah gaya hiburan dan liburan. Kalian bisa berdansa sepuasnya dan bisa menikmati berbagai macam minuman yang ada. Mamamu pasti selalu menyediakan berbagai macam minuman dari yang biasa sampai yang memabukkan." Javer tersenyum puas melihat kebahagiaan yang dirasakan oleh istrinya.


"Tumben Papa detail sekali. Ini murni Mama yang menyiapkan atau Papa yang merekomendasikan acara seperti ini? Oh ya, Pa, hari ini Noelle dan Alan akan menginap di sini. Boleh?" ucap Darrell.


"Tidak, Darrell! Aku akan menginap di hotel tempat kami menginap," ucap Noelle beralasan. Dia tidak akan nyaman tinggal di rumah orang asing seperti ini.


"Noelle, kamu bisa temani aku, kan?" rayu Sharron.


"Ish, mana bisa. Kamu sudah menikah! Darrell dong yang harus temani kamu," ucap Noelle.


Beberapa orang yang ada di meja itu lantas tertawa mendengar obrolan absurd dua orang sahabat, yang dipertemukan dalam momen bahagia seperti ini.


"Kita bisa menginap di sini, Noelle. Tak perlu susah-susah kembali ke hotel. Tuan dan Nyonya Wesley tidak mempermasalahkan. Kita bisa ambil beberapa barang di sini," bujuk Alan. Dia harus menyelesaikan misi pada malam ini yaitu untuk berbincang langsung dengan Javer Wesley.


"Tapi, aku--"


"Noelle, kamu datang ke sini bersamaku. Jadi, kuharap kamu mau mematuhi apapun permintaanku. Oke?" Alan tetap pada pendiriannya. Ini kesempatan langka bisa berbincang langsung dengan keluarga Wesley. Demi melancarkan misi yang akan dijalankan setelah pernikahan ini.


"Noelle, tinggallah di sini. Tante juga ingin berbincang denganmu," sahut Allegra. Ketertarikannya pada Noelle sangat kuat sekali.


"Nah, Mamaku yang memintanya langsung. Tolong kabulkan! Jarang sekali dia memaksa orang lain seperti memaksamu dan Sharron." Darrell mencoba memberikan pengertian.


"Ehm, Darrell, akan aku pertimbangkan," balas Noelle.


Mereka kemudian melanjutkan makan siangnya bersama. Masih ada waktu beberapa jam sampai pesta dansa itu dimulai. Namun, pandangannya terpecah manakala sebuah mobil memasuki halaman mansion. Mereka langsung bisa melihat karena siang ini suasana belum terlalu ramai.

__ADS_1


"Siapa yang datang?" tanya Darrell.


"Oh, itu sepertinya Marcello. Dia sudah menelepon Papa sebelum datang kemari," jawab Javer.


Glek!


Suasana makan siang yang semula tenang mendadak berubah menjadi aneh karena kedatangan Marcello. Darrell berusaha setenang mungkin untuk menikmati hari bahagianya. Begitu juga dengan Sharron. Dia tidak boleh memberikan kesempatan pada pria itu untuk masuk ke dalam kehidupannya. Bagi Sharron, momok terbesar dalam hidupnya adalah pria kedua. Apalagi sikap Marcello itu sudah bukan seperti laki-laki yang baik alias pemaksa.


"Apakah aku terlambat?" tanya Marcello. Sudah jelas kalau semua orang sudah berkumpul. Sepasang pengantin pun jelas sudah melangsungkan janji suci.


"Duduklah, Marcell! Kita makan siang bersama," ucap Javer.


Tentunya hal itu tidak malah membuat sepasang pengantin senang, tetapi terlihat mengerucutkan bibirnya. Seolah kedatangan Marcello merupakan masalah terbesar dalam kehidupan mereka.


"Sharron, selamat yah. Semoga bahagia. Kalau tidak bahagia, kau tahu kan ke mana harus pergi?" ucap Marcello.


Hal itu membuat kegaduhan di meja makan. Tatapan tidak suka paling mencolok adalah Darrell. Sementara Sharron sendiri berusaha untuk tidak menanggapinya. Namun, Noelle keburu kesal dengan sikap pria yang baru saja datang itu. Dia pun juga tahu kalau itu Marcello.


"Noelle," panggil Sharron.


"Kenapa, Sharron? Kamu malu? Ini hari besarmu. Kalau ada orang lain tiba-tiba datang kemudian menghancurkan suasana hatimu, apa kamu akan diam saja?" tanya Noelle tanpa memandang bahwa di sana ada Javer dan Allegra.


"Sayang, Marcello hanya bercanda. Sudah, lupakan saja! Duduk!" ucap Allegra.


"Maaf, Tante. Aku tidak bermaksud merusak suasana hari ini," balas Noelle.


"Tidak apa-apa, Noelle. Tante suka gaya bicaramu," puji Allegra.


Marcello akhirnya duduk tepat di samping Noelle. Makan siang pun masih berlanjut.


Keputusan Alan untuk menginap di mansion keluarga Darrell akhirnya disetujui oleh Noelle. Sebelum wedding party berlangsung, keduanya kembali ke hotel untuk mengambil beberapa barang. Kemudian kembali lagi ke mansion.


...****************...

__ADS_1


Malam yang ditunggu telah tiba. Darrell dan Sharron berada di kamar pengantin. Kamar Darrell yang sudah disulap sedemikian indahnya sehingga siapapun yang melihatnya pasti akan tertarik dan betah berlama-lama di sana.


Persiapan Sharron pun sedang berlangsung. Gaun berwarna mencolok yang dipilihnya. Gaun warna merah dengan tatanan rambut yang dibuat sesederhana mungkin, tetapi terlihat sangat cantik.


"Apakah ini konsep pesta dansa yang kamu buat?" tanya Darrell.


"Bukan aku, tapi Mama. Entahlah, mungkin sudah lama mansion ini kosong, jadi ketika ada acara dibuat seheboh mungkin. Kupikir dengan memilih satu gaun saja sudah cukup. Nyatanya aku salah."


"Tidak masalah. Mari kita keluar. Semua orang pasti sudah menunggunya."


Darrell meletakkan tangannya di pinggang sehingga membuat ruang bagi Sharron untuk menautkan tangannya di sana. Selain itu, dia juga membawa buket bunga pengantin yang berbeda lagi. Nantinya sebelum pesta dansa digelar akan ada acara pelemparan buket bunga mawar seperti acara pernikahan pada umumnya.


Sepasang pengantin keluar menuju ke tempat yang sama, tetapi suasana yang berbeda. Hingar-bingar musik seperti di sebuah klub malam. Beruntung suasana mansionnya jauh dari rumah yang lainnya. Sehingga pesta semeriah apapun tidak akan membuat kebisingan di malam hari.


"Wow, cantik sekali!" seru para tamu undangan yang semakin malam ternyata semakin banyak. Ini kali pertamanya mansion Wesley mengadakan pesta sebesar ini. Gaun yang mereka pakai pun sesuai dengan drescode yang sudah disematkan di dalam undangan.


Darrell dan Sharron lantas menuju ke pelaminan yang sudah dihiasi sedemikian rupa. Beberapa orang yang awalnya menari-nari mengikuti alunan musik mendadak berhenti karena kehadiran sepasang pengantin.


Tak ingin membuang waktu lama, Darrell dan Sharron harus melakukan pelemparan buket bunga. Baru setelah itu akan dilanjutkan pesta dansa seperti yang dimaksud. Beberapa orang yang semula sudah memegang Wine, langsung diteguknya terlebih dahulu.


"Kau akan maju?" tanya Alan pada Noelle.


"Tidak. Kau saja!" jawab Noelle. Kali ini Noelle menggunakan gaun berwarna soft pink di atas lutut dan bagian atasnya tanpa lengan sebelah sehingga memperlihatkan salah satu pundak mulusnya. Terlihat seksi dengan high heels-nya.


Sebenarnya gaya busana antara Noelle dan Sharron itu tidak beda jauh. Namun, tetap saja Sharron tidak terlalu berani seperti Noelle. Sikap mereka pun bertolak belakang.


Saat semua orang ikut berkumpul untuk menunggu buket bunga pengantin, dua orang malah berseteru untuk tidak ikut. Siapa lagi kalau bukan Alan dan Noelle, tetapi Marcello malah ikut bergabung dengan keduanya.


"Kalian akan berdebat atau maju?" tanya Marcello.


Tentu saja hal itu membuat Noelle kesal. Pria itu seolah menjadi orang yang suka membuat suasana hati orang lain kacau.


Cuih, menyebalkan. Memangnya dia siapa? Baik, aku akan maju.

__ADS_1


__ADS_2