Belenggu Cinta Hot Daddy

Belenggu Cinta Hot Daddy
Bab 9. Kecupan Pertama


__ADS_3

Mobil Alan sudah sampai di mansion tuan Blair. Dia masuk kembali untuk menjemput Darrell. Ya, pria itu sudah tidak sadarkan diri karena mabuk.


"Alan, tuanmu cukup payah! Begitu saja sudah mabuk parah," ucap Blair dengan tawanya. Aroma alkohol jelas tercium dari mulutnya.


"Iya, Tuan. Tuan Darrell memang tidak bisa meminum alkohol yang terlalu tinggi kadarnya."


"Alan, bawa Darrell ke tempatmu! Aku tidak mau mencium aroma alkohol itu. Aku benar-benar mual," ucap Callie yang melihat suaminya sudah tertidur akibat mabuk.


Alan merasa sedikit tenang. Itu artinya Darrell tidak mengucapkan apapun yang membahayakan dirinya berikut Alan, asistennya.


"Baiklah, Nyonya. Mari langsung ke mobil. Aku akan mengantar Nyonya pulang ke Mansion," ucap Alan. Dia hendak memapah tuannya untuk masuk ke mobil.


"Tidak perlu, Alan! Aku akan pulang naik taksi saja. Bawa suamiku itu ke tempatmu. Besok, pastikan dia bisa datang ke rumah sakit," bisiknya pada Alan.


"Baiklah. Jam berapa, Nyonya?"


"Jam dua. Pastikan Darrell tidak ada rapat sehingga dia bisa datang lebih awal. Aku akan menunggunya di sana."


Sebagai tuan rumah yang baik, Bellatrix tidak membiarkan tamunya itu pulang naik taksi. Dia meminta sopir untuk mengantarkan tamunya pulang. Sementara mobil Darrell tetap terparkir rapi di mansion tuan Blair.


Alan buru-buru membawa tuannya ke mobil. Dia menidurkan pria itu di bangku penumpang. Dia tidak lagi melihat Callie karena sopir Nyonya Bellatrix lebih dulu mengantarkannya. Bergegas Alan membawa tuannya ke apartemen baru yang ditinggali Sharron saat ini. Apartemen baru yang dibelikan Darrell untuk Sharron menggunakan nama Alan Clarence.


"Huft, aku yang kena getahnya sekarang. Bagaimana kalau Sharron semakin marah padaku karena membawa daddynya ke apartemen dalam kondisi seperti ini?"


Aroma alkohol itu menguar cukup kuat di dalam mobilnya. Untung saja Alan terbiasa dengan aroma alkohol. Walaupun dia jarang sekali mabuk, tetapi aroma ini bukan masalah untuknya.


Mendekati apartemen yang dituju, Alan semakin cemas. Walaupun dia tahu kode akses masuk dan kartu akses milik tuannya masih berada di tangannya, tidak mungkin mendadak masuk menggunakan kartu itu.


Sampailah mobilnya berada di basemen apartemen. Alan lekas turun untuk membawa Darrell masuk ke unit apartemen Sharron. Dengan susah payah Alan membawa Darrell menuju unit lantai tujuh. Melewati beberapa lorong, sampai harus menaiki lift. Sungguh, Alan harus meminta bayaran lebih untuk urusan seperti ini.

__ADS_1


Alan sampai tepat di depan unit 11. Apartemen yang baru saja ditinggali Sharron, wanita simpanan tuannya. Alan menekan bel. Sebenarnya dia bisa langsung masuk, tetapi malah akan membuat masalah baru lagi.


Tak lama, Sharron membukanya. Dia melihat kedatangan Alan dan Darrell.


"Kenapa kau bawa ke sini?" tanya Sharron ketika melihat Darrell yang dipapah oleh Alan.


"Sudah, jangan banyak tanya. Aku akan membawanya ke kamar kalian," ucap Alan yang langsung menyelonong masuk.


Tak sulit menemukan kamar utama karena Alan sengaja membeli unit apartemen yang hanya menyediakan single bed. Harganya pun tidak terlalu mahal. Kalaupun Callie curiga, itu sangat sulit karena Alan menjalankan dengan cukup rapi.


Alan membaringkan Darrell di ranjang king size. Sharron yang melihat kedatangan Darrell dalam kondisi mabuk membuatnya kesal pada Alan.


"Alan! Harusnya kamu bawa Darrell ke mansionnya. Aku ingin beristirahat dengan tenang malam ini," protesnya pada Alan yang saat ini berada di ruang tamu.


Alan sebenarnya ingin beristirahat dengan tenang juga. Namun, hari sudah cukup larut. Bisa saja dia akan terlambat untuk masuk ke kantor keesokan harinya.


"Rawat tuan Darrell. Aku mau pulang kemudian beristirahat." Alan secepatnya meninggalkan Sharron yang masih kesal pada dirinya.


"Awas kau, Alan!"


Sharron membiarkan Darrell tertidur dengan nyenyak. Dia lebih memilih untuk meringkuk di sofa dengan selimut yang baru diambilnya dari lemari pakaian. Mengenai kelengkapan apartemen benar-benar lengkap sehingga Sharron tidak merasa kekurangan sama sekali. Yang menjadi masalahnya hanyalah baju ganti yang sudah disiapkan Alan untuknya.


...***...


Pagi menjelang. Darrell masih tertidur pulas. Begitu juga dengan Sharron. Dia masih tenggelam di alam mimpinya.


Darrell yang merasa cukup dengan waktu istirahatnya, perlahan mulai membuka matanya. Pakaian yang digunakan semalam masih melekat di tubuhnya. Hanya sepatu saja yang sudah terlepas. Dia tidak tahu siapa yang melepaskan sepatunya semalam.


"Callie, Callie ... bangunlah!" ucap Darrell. Dia mengira kalau semalam pulang ke mansionnya.

__ADS_1


Sharron perlahan membuka matanya karena mendengar orang memanggil, tetapi bukan namanya.


"Darrell, kau sudah bangun?" tanya Sharron yang baru saja duduk di sofa. Dia masih menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Kau?" Darrell terkejut. "Kenapa aku ada di tempatmu?"


"Harusnya aku yang bertanya padamu. Mengapa asistenmu itu membawamu ke sini? Dan, satu lagi. Katakan padanya kalau menyiapkan baju untuk perempuan itu yang normal saja. Kau tahu, semua isi lemari pakaian hanya dibelikannya lingerie berbagai warna dan model yang berbeda. Ini apartemen atau rumah pela--"


"Sssttt!" Darrell mencoba mengingat sesuatu.


Beberapa detik kemudian dia baru ingat untuk memerintahkan Alan menyiapkan apartemen barunya. Dia juga meminta Alan untuk mengisi lemari pakaian untuk Sharron.


"Ya, aku yang memintanya, tetapi mengenai isi lemari pakaian, aku tidak memintanya untuk mengisi semuanya dengan pakaian pembangkit ga--"


"Kau dan asistenmu itu sama saja, Darrell. Hari ini aku mau pulang ke apartemen sahabatku saja." Sharron beranjak dari sofa untuk mengambil tas dan sepatunya.


"Kemarilah sebentar!" panggil Darrell.


Sharron sebenarnya malas. Dia teringat surat perjanjian yang baru di tandatangani beberapa hari terakhir ini membuatnya maju mendekat. Aroma alkohol masih saja tercium dari tubuh Darrell.


"Tidak! Aku mau langsung pulang saja." Sharron yang awalnya sudah maju, mendadak mundur lagi.


"Sharron! Kemarilah!" Nada Darrell lebih tinggi dari biasanya.


Sharron akhirnya maju lagi. Darrell merengkuh wanita itu untuk duduk di pangkuannya. Agak kesusahan karena Sharron masih menggunakan gaunnya semalam. Sepersekian detik napas keduanya memburu. Darrell mencoba memberikan kecupan pertama pada Sharron. Dia menempelkan bibirnya pada bibir Sharron. Tidak ada aktivitas apapun selain adegan bibir yang masih menempel tanpa melakukan pergerakan.


Degup jantung Sharron memburu. Dia takut kalau pagi ini menjadi pagi terakhirnya untuk menjaga keperawanannya. Dia berharap kalau Darrell tidak melakukannya sekarang. Dia mencoba melupakan rencana yang akan dilakukan Darrell padanya.


Irama jantungnya tidak terkondisikan sehingga Sharron mendorong Darrell untuk mundur.

__ADS_1


"Kau tidak sopan, Daddy! Harusnya kau meminta izin terlebih dahulu." Wajah Sharron bersemu merah.


Darrell merasa ada yang aneh dengan dirinya. Sejak mengecup bibir Sharron untuk pertama kalinya, Darrell merasakan sengatan yang berbeda. Mungkinkah ini pertanda bahwa dia mulai tertarik pada Sharron?


__ADS_2