Belenggu Cinta Hot Daddy

Belenggu Cinta Hot Daddy
Bab 44. Hanya Seorang Pelayan


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian, Sharron sudah memutuskan untuk mencari pekerjaan. Dia tidak mungkin mengharapkan belas kasihan Darrell lagi. Dia juga sudah mengembalikan debit card yang pernah diberikan padanya beberapa bulan yang lalu melalui Alan. Dia juga meninggalkan pesan untuk pria beristri itu bahwa tidak perlu lagi mencarinya.


"Kau sudah mengembalikan semuanya, Sharron?"


"Iya, Noelle. Mau bagaimana lagi? Harga diriku jauh lebih tinggi. Aku tidak mau lagi mengharapkan apapun darinya. Hubungan kita sudah berakhir."


"Kau mau bekerja di restoran? Daddy-ku memberikan penawaran bagi siapapun yang ingin bekerja di restoran miliknya. Aku akan membantumu, tetapi sebagai seorang pelayan. Bagaimana?"


"Tidak masalah, Noelle. Aku akan membuat surat lamaran pekerjaannya. Oh ya, kapan aku bisa pergi ke restoran tersebut?" tanya Sharron lagi. Sebelum kepastian didapatkan, dia tidak harus bolak-balik ke restoran itu.


"Kau bisa mengirimkannya via email. Daddy-ku yang mengatakan seperti itu. Bagaimana?"


"Baiklah. Berikan alamat emailnya. Aku akan menuliskannya sekarang."


Noelle mengambil laptop yang sedang dibuka oleh Sharron. Dia mengetikkan alamat email di sana, tak lama Sharron melanjutkan ketikan surat lamaran pekerjaannya. Setelah melampirkan beberapa identitas dan foto, barulah Sharron mengirimkannya.


"Noelle, kapan aku bisa menerima kabar baik ini?"


Semenjak tidak ada hubungan lagi dengan Darrell, Sharron banyak berubah. Dia kembali pada kehidupan lamanya yang semakin berhemat. Dia tidak mungkin menghabiskan uangnya yang tersisa sedikit itu.


Memang lewat orang dalam semuanya akan menjadi mudah. Daddy yang menjadi pasangan Noelle saat ini membuktikan bahwa Sharron bisa masuk ke restoran miliknya dengan cepat tanpa melalui seleksi yang ketat. Dari segi penampilan, Sharron masih terlihat sangat cantik. Mengenai pengalaman pekerjaan, tidak diragukan lagi kalau Sharron bisa menghandle pekerjaannya dengan sangat baik.


Hari pertama dan selanjutnya tidak mempersulit Sharron untuk berinteraksi dengan rekan kerja barunya dan beberapa pengunjung restoran. Sharron terlihat cekatan sekali melayani semua tamu yang datang.


Sebenarnya hari ini Noelle mengajaknya untuk jalan-jalan. Sudah lama keduanya tidak menikmati kebersamaan.


"Noelle, aku sebenarnya ingin ikut. Tapi, aku hari ini mendapatkan shift ke dua. Jadi, aku minta maaf."


"Oh ayolah, Sharron. Aku akan meminta izin pada daddy-ku bahwa hari ini kamu izin tidak masuk. Hanya sehari kamu tidak akan dipecat," rayu Noelle.


"Sayang, maafkan aku," canda Sharron. "Aku pelayan baru yang tidak boleh seenaknya berlibur sesuka hati. Nanti kalau aku libur, kita baru jalan-jalan. Bagaimana? Oh ya, aku akan mentraktirmu dengan gaji pertamaku. Setuju?"


"Ya, baiklah. Kalau begitu aku akan pergi dengan daddy-ku saja."

__ADS_1


"Ya, itu lebih baik." Senyum Sharron mengembang di bibirnya. Kali ini dia tidak akan menyia-nyiakan uangnya untuk keperluan yang belum terlalu penting.


Noelle lah yang mengantarkan Sharron sampai ke depan pintu masuk restoran. Sementara Noelle sendiri menunggu daddynya keluar dari restoran. Pria paruh baya itu sempat berpapasan sebentar dengan Sharron sebelum meninggalkan restoran. Bagi Sharron, ini sudah bukan saatnya menghujat Noelle karena memilih pria berumur. Namun, tuntutan kehidupan yang menyebabkan dia seperti ini.


Sharron menuju ke tempat ganti. Dia mengganti baju biasa dengan seragam pelayan restoran. Tak lupa dia mengikat rambutnya sedikit lebih tinggi dari biasanya sehingga menampilkan leher jenjangnya.


"Hai, Sharron. Sudah siap bekerja malam ini?" tanya rekan kerjanya.


"Tentu. Memangnya kenapa? Sepertinya ada sesuatu yang istimewa?" tanya Sharron.


"Hari ini tugas kita melayani tamu VVIP. Ada candle light dinner. Kau tahu, mereka biasanya memberikan tips yang lumayan besar apabila pelayanan kita memuaskan."


"Wah, benarkah? Memangnya siapakah yang akan makan malam romantis?"


"Aku baru tahu dari manager kalau yang makan malam adalah CEO perusahaan dan istrinya. Duh, aku jadi penasaran."


Sharron tidak heran lagi. Silih berganti restoran ini dipakai untuk acara romantis seperti itu. Malam ini bukan tamu pertama yang akan menempati ruangan VVIP. Begitu juga dengan Sharron. Dia bukan yang pertama kalinya diberikan tugas untuk mengurus tamu penting sepertinya.


Waktu yang ditunggu tiba. Semua karyawan restoran yang sudah ditugaskan harus bekerja keras. Bukan hanya menyusun makanan yang sudah dipesan, tetapi juga dekorasi ruangan.


Memang rumor makan malam romantis ini karena permintaan suaminya untuk menyiapkan kejutan cincin. Cincinnya sudah dikirim lebih dahulu supaya ditata di piring hidang sebuah puding. Bukan diletakkan di dalam pudingnya, tetapi di samping puding yang di tata sedemikian rupa cantiknya.


Itu yang akan menjadi makanan penutup bagi sepasang suami-istri itu. Sampailah waktu yang dinantikan tiba. Ternyata yang bertugas mengantarkan puding adalah Sharron. Dia yang dipilih langsung oleh semua rekan kerjanya.


"Harus aku?" tanya Sharron sembari menunjuk dirinya sendiri.


"Iya. Kamu harus melakukannya. Apalagi kamu yang paling paham di sini," jelas salah seorang rekan kerjanya.


Menarik napas panjang kemudian mengeluarkannya. Dia mulai memegangi troli makanan yang sudah berisi puding yang sangat indah. Cincin yang indah pula, tetapi harus ditutup dengan tudung saji supaya menjadi kejutan.


Perasaannya semakin tidak menentu ketika mulai mendekati pintu ruangan VVIP. Dia mengetuk pintu sejenak kemudian masuk membawa trolinya. Darahnya berdesir ketika melihat sepasang suami istri yang dikenalnya.


Deg!

__ADS_1


Dua pasang mata saling bertatapan sejenak. Pandangan Sharron tertuju pada meja dengan buket bunga mawar yang sangat indah dengan beberapa hadiah lainnya.


"Sayang, mana kejutannya?" tanya Callie kepada Darrell yang saat ini terlihat mematung. Callie pun menoleh sejenak untuk melihat kedatangan pelayan. "Sepertinya aku mengenalmu."


Callie tak lagi basa-basi. Namun, Sharron bisa menguasai dirinya untuk meletakkan makanan itu di meja kedua tamunya.


"Maaf, Nyonya. Aku ke sini untuk mengantarkan dessert sesuai pesanan suami Anda." Perlahan Sharron meletakkan masing-masing piring di hadapan pria dan wanita itu. Setelah itu, dia hendak beranjak pergi. Dia tidak bisa terlalu lama berada di ruangan ini. Ketika berbalik hendak pergi, Callie menahannya.


"Tunggu, Sharron! Sekian lama kita bertemu lagi. Ehm, di sini saja sebentar. Oh ya, suamiku, mana kejutan yang akan kau berikan padaku?" tanya Callie.


"Lihatlah dessert di hadapanmu!" ucap Darrell lirih.


Sharron yang masih terpaku terasa hawa yang panas sekali. Ada sekelebat rasa cemburu mengusiknya. Bagaimanapun orang kedua akan kalah dengan yang pertama.


Callie merasakan kebahagiaan yang luar biasa karena mendapatkan sebuah cincin indah pemberian suaminya.


"Sayang, tidak mungkin kan aku yang harus memasangnya sendiri? Tolong pasangkan hadiah indah ini di jari manisku," pinta Callie.


Tanpa banyak bicara, Darrell langsung melakukan perintah istrinya sehingga membuat Callie semakin besar kepala.


"Kau tahu, Sharron, bahwa selera suamiku tetaplah wanita berkelas sepertiku. Jadi, jangan terlalu berharap lebih karena kamu hanyalah seorang pelayan. Tidak akan mungkin pelayan menjadi ratu mansion yang besar itu. Kalau kamu masih bermimpi, lebih baik bangun lebih cepat dan menyadari mimpimu itu tidak akan pernah terwujud."


Glek!


Merasa harga dirinya direndahkan, Sharron pun membela dirinya.


"Maaf, Nyonya. Sebaiknya Anda tidak mengurusi hidupku. Lebih baik Anda urus perasaan suamimu itu setelah ucapan Anda barusan. Kurasa, kami sudah tidak ada hubungan apapun, Nyonya. Namun, tanyakan bagaimana perasaan suamimu terhadapku? Kalau aku, tidak memiliki perasaan apapun padanya. Maaf."


Sharron lekas meninggalkan sepasang suami istri itu dengan gemuruh dada yang sangat sesak. Callie memang benar. Dia harusnya menyingkir sejauh mungkin.


...🌲🌲🌲...


Sambil menunggu update, yuk kepoin karya keren berikut ini. Terima kasih

__ADS_1



__ADS_2