
Kecanggungan yang luar biasa dirasakan Sharron. Sebelum perbincangan berlanjut, seorang pelayan datang membawa nampan berisi cangkir.
"Terima kasih," ucap mama Darrell.
Darrell sejak tadi belum berani memandang Sharron. Perlahan dia mulai memfokuskan pandangannya padanya.
Cantik dan anggun. Itulah gambaran yang disampaikan Darrell saat ini. Namun, hanya di dalam hatinya saja dia mampu berucap. Saat ini, Darrell pun sedang menghadapi persidangan keluarganya karena sesuatu hal. Mendadak dia menyampaikan pada orang tuanya kalau dia akan melamar seorang gadis yang dicintainya.
"Apa kamu yakin akan menikahi gadis yang jarak usianya cukup jauh darimu?" tanya mamanya sebelum pertemuan ini berlangsung.
"Ma, aku mencintainya. Aku yakin kalau gadis ini mampu memberikan keturunan untuk keluarga kita."
"Kalau kau memang yakin, bawa dia ke sini! Kita akan bicarakan bersama," sahut papanya.
"Itu artinya mama dan papa sudah setuju?" tanya Darrell mencoba mendapatkan kepastian.
"Tidak! Sebelum papa bertemu dengannya, kata sepakat belum terbentuk. Ingga itu!" ucap papanya.
Itulah mengapa Darrell sempat tertunduk. Dia takut kesempatan ini akan hilang karena papa dan mamanya tidak setuju. Dari segi kekeluargaan, jelas Sharron tidak masuk karakteristik yang dibutuhkan oleh keluarga besar Wesley. Namun, dari segi karier, orang tuanya pasti bisa mempertimbangkan. Mungkin hanya itu yang akan menjadi pro dan kontra di dalam hubungannya dengan Sharron.
"Siapa namamu?" tanya papa Darrell.
"Sha-rron, Tuan," ucapnya terbata karena gugup.
"Jangan gugup. Suamiku baik, kok," sahut mama Darrell dengan senyum yang meyakinkan bahwa dia akan baik-baik saja.
"Apakah keluargamu mengizinkan datang kemari?" tanya papa Darrell lagi.
Deg!
Sharron bingung. Dia sendiri tidak memiliki keluarga lengkap alias sebatang kara. Dia mulai takut kalau sampai ini menjadi kenyataan bahwa dia akan terusir sebelum semuanya selesai.
"A-aku--"
"Sharron tidak mempunyai keluarga, Pa," jawab Darrell tegas.
Javer melirik putranya. Tatapan yang sulit diartikan bagi Darrell maupun Sharron. Yang membuat Darrell terperanjat, bukan karena papanya terus mendesak siapa keluarga Sharron walaupun pria paruh baya itu sudah tahu, tetapi ada pertanyaan lainnya lagi.
"Apa pekerjaanmu?"
Ini seperti sebuah interview yang dilakukan antara seorang bos di sebuah perusahaan dengan calon karyawannya.
"Model, Tuan."
"Kau seorang model? Di mana? Mengapa aku tidak tahu bahwa kau seorang model?"
__ADS_1
Sekilas terdengar sangat menyakiti hati Sharron. Namun, dia akan mencoba menerima konsekuensinya kalau memang ditolak.
"Pa, dia model junior di Austria. Wajar kalau Papa tidak mengenalinya," sahut Darrell. Dia ingin secepatnya melalui hari ini dengan baik supaya rencana untuk menikahi Sharron lekas terwujud.
"Pa, kurasa putra kita sudah lebih banyak tahu, bukan?" sahut mama Darrell. "Oh ya, Sharron. Perkenalkan suamiku, Javer, pria yang kucintai selama ini. Dan, aku Allegra, mamanya Darrell." Allegra menyadari kalau wanita muda ini belum mengenal keluarganya sama sekali.
"Salam kenal Nyonya dan Tuan," balas Sharron.
Tidak ada ucapan apapun setelah itu, tiba-tiba Javer dan Allegra meninggalkan ruang tengah. Hanya tersisa Sharron dan Darrell di sana.
"Bagaimana ini?" tanya Sharron berbisik.
"Aku tidak tahu. Entah, kali ini mengapa mereka meminta ikut campur dalam urusan percintaanku!"
"Benarkah?" tanya Sharron semakin penasaran. Mungkinkah orang tua Darrell semakin selektif?
"Iya. Mereka yang terus memaksaku untuk membawamu kemari. Sekarang, keduanya malah kabur tanpa pesan. Ini sungguh menyebalkan. Setuju atau tidak, kita akan tetap menikah!" Kalau orang tuanya bisa memberikan keputusan sepihak, Darrell pun bisa memutuskan kehidupannya sendiri.
Satu jam.
Dua jam.
Hampir tiga jam, orang tua Darrell belum juga kembali. Rasanya suhu ruangan ber-AC itu mendadak menghangat kemudian semakin panas. Rasanya benar-benar seperti berada di pengadilan karena sebentar lagi hakim akan mengetuk palu memutuskan hubungan mereka.
"Mama? Dari mana saja? Kami menunggu Mama sejak tadi," protes Darrell yang sudah tidak tahan dengan situasi seperti ini.
"Maafkan Mama, Darrell. Mendadak papamu lupa kalau harus menghadiri pertemuan sebentar. Mengapa kalian diam saja. Silakan tehnya di minum," ucap Allegra.
Astaga. Coba bayangkan betapa dinginnya teh itu. Tiga jam yang lalu posisinya masih panas, mungkin perlahan menghangat karena AC ruangan sudah sangat dingin. Tuan rumah baru mempersilakannya untuk meminumnya setelah suhunya mendekati pembekuan. Rasanya sungguh aneh.
"Mama! Kau membiarkan aku dan tamuku tidak melakukan apapun karena kepergian kalian," protes Darrell yang dilayangkan bertubi-tubi.
Sedang menyerang Allegra dengan protes yang bertubi-tubi, Javer datang lagi dengan penampilan yang sedikit lebih santai. Jika tadi dia menggunakan pakaian resmi, maka kali ini sudah terlihat santai dengan pakaian kasualnya.
"Mengapa terus protes sama mamamu?" tanya Javer.
"Pa, mengapa kau meninggalkan kami?" Serangan selanjutnya ditujukan pada papanya.
"Sebaiknya kalian berdua makan malam dulu. Mama dan Papa sudah makan. Pergilah!" ucap Allegra.
Hati Sharron semakin berkedut tidak karuan. Permainan takdir yang bagaimana untuk hari ini?
"Hei, kenapa diam? Lekas di makan!" pinta Darrell ketika berada di meja makan.
"Kurasa orang tuamu tidak setuju dengan hubungan kita, Darrell. Selain alasan aku tidak memiliki keluarga, aku seorang model. Sepertinya model sangat aneh di telinga mereka."
__ADS_1
Entahlah. Terkadang pikiran Darrell tidak sejalan dengan kedua orang tuanya. Namun, mereka tidak pernah melarang apapun keputusan yang dibuat olehnya. Keputusannya untuk menikahi Sharron harus melalui tahapan dari orang tuanya. Ini sungguh aneh dan tidak biasa.
"Makan dulu! Setelah itu aku akan mengantarmu ke kamar. Malam ini menginap lah di sini."
"Darrell, sebaiknya aku menginap di hotel saja. Aku tidak masalah. Lagi pula orang tuamu terlihat tidak menyukaiku," ucapnya sembari memutar garpu tanpa memakan makanannya.
Darrell menarik napas panjang kemudian menghembuskannya. Jelas ini sesuatu yang membingungkan. Niatnya mengajak Sharron ke Italia untuk mendapatkan persetujuan dari orang tuanya, tetapi sampai detik ini belum mendapatkan jawaban apapun.
"Makanlah dulu. Setelah itu kita akan menginap di hotel," ucap Darrell.
"Mengapa terburu-buru, Darrell?" tanya Allegra.
"Mama, kami akan menginap di hotel untuk beberapa waktu," ucap Darrell.
"Kau selalu terburu-buru, Sayang. Bagaimana kalau papa menemukan anaknya berduaan dengan wanita lain yang bukan istrinya? Dia bisa marah."
Deg!
Sharron semakin ketakutan. Bagaimana kalau orang tuanya tidak setuju karena tahu bahwa Darrell dan dirinya sudah melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak boleh dilakukan? Akankah Sharron diizinkan untuk menikahi putranya?
Keringat dingin membanjiri Sharron. Dia sangat ketakutan.
"Mama, Sharron tidak mau menginap di sini," ucap Darrell.
"Persiapkan diri kalian. Seminggu lagi pesta pertunangan kalian akan diselenggarakan."
Deg!
Sharron dan Darrell rasanya ingin mengungkapkan kebahagiaan yang tidak terduga ini. Ternyata orang tuanya sudah setuju. Mereka malah meminta pertunangan dipercepat.
"Secepat itu, Ma?" tanya Darrell.
"Kurasa kamu tidak akan tahan kalau menunggu terlalu lama dengan gadis cantik ini," sahut Javer.
Darrell yang semula duduk, kini berdiri untuk menyambut papanya kemudian memberikan pelukan hangat. Hal yang sama pun dilakukan Sharron. Agak canggung untuk memberikan pelukan hangat pada mama Darrell, tetapi Allegra telah menyiapkan dirinya untuk memeluk calon tunangan putranya.
"Terima kasih, Sayang. Kau wanita yang baik. Mama yakin kalau kau mampu mengendalikan sikap putraku yang kadang menyebalkan," ucap Allegra.
Malam ini merupakan malam bahagia untuk sepasang pria dan wanita yang seminggu lagi akan melangsungkan pesta pertunangan.
...🌺🌺🌺...
Sambil menunggu update, yuk mampir karya keren ini. Jangan lupa tinggalkan jejaknya
__ADS_1