
Cinta sejatinya menyatukan dua hati yang saling bertaut. Rasa ingin memandang, memeluk, dan memberikan sentuhan hangat pada pasangannya juga merupakan perwujudan cinta itu sendiri. Jika cinta terkadang berjalan untuk tidak saling memiliki asalkan pasangannya bahagia, maka tidak dengan rumus yang digariskan Darrell.
Bagi Darrell, cinta baginya adalah nyata. Nyata bahwa dia mencintai Sharron. Dia ingin selalu bersama wanita itu tanpa jeda waktu. Sayang, orang tuanya lebih paham pikiran mesum pria yang sudah memasuki puber keduanya itu.
Pesawat yang membawa Darrell telah mendarat sempurna di bandara Meksiko. Suasana di sana sore menjelang malam. Tujuannya kali ini tidak pulang ke mansion melainkan ke apartemen miliknya.
Sore hari di kala suasana para pekerja telah pulang ke tempat tinggal masing-masing, Darrell sudah menunggu Alan di depan unit apartemen asisten miliknya.
"Huft, lama sekali. Apa perusahaanku sangat menyibukkan baginya?" gerutu Darrell.
Alan yang baru saja mencapai depan unit apartemen membuatnya terkejut. Dia melihat tuannya di sana.
"Tuan, mengapa Anda di sini? Bukankah Anda akan menikah di Italia?" tanya Alan.
"Tidak bisakah kau membiarkanku masuk, lalu kita berbincang di dalam?"
"Maaf, Tuan."
Alan lekas membuka kode unit apartemennya. " Silakan masuk, Tuan," ucapnya lagi.
Darrell pun menuruti permintaan asistennya itu. Kemudian dia mengambil tempat duduk di sudut sofa. Itupun setelah Alan mempersilakannya.
"Tumben Tuan kembali lagi? Apa di Italia ada masalah? Ehm, maksudku, apakah Nona muda itu membuat rumit kehidupan Tuan?"
Darrell menyandarkan kepalanya. "Bukan dia yang membuat rumit, tetapi orang tuaku. Gara-gara persiapan pernikahanku yang akan digelar dua minggu lagi, mereka memintaku untuk bekerja di sini."
Alan bisa sedikit bernapas. Pasalnya, selama tuannya tidak memimpin perusahaan, dia sangat sibuk sekali. Jangankan untuk bercinta dengan wanita, mencarinya saja dia tidak ada waktu. Sungguh membuat Alan pusing sekali. Harapannya ingin agar Darrell lekas kembali ke perusahaan kemudian melanjutkan bisnisnya yang sudah berkembang pesat saat ditinggalkan.
"Aku harus berterima kasih pada tuan dan nyonya Wesley."
Deg!
"Kenapa, Alan? Apa kamu bosan bekerja di perusahaanku?"
"Bukan seperti itu, Tuan. Aku pikir akan mudah mencari perempuan, nyatanya benar-benar sulit."
__ADS_1
"Huft, andai saja--"
"Kenapa, Tuan?" tanya Alan.
Bayangan Darrell teringat pada Maggia. Seandainya adik perempuannya itu ada, Darrell tidak akan susah-susah untuk mencarikan jodoh asistennya itu.
"Andai Maggia masih hidup," ucap Darrell lirih.
Alan memang paham betul siapa keluarga Darrell. Namun, dia tidak pernah tahu rahasia yang lainnya. Sangatlah wajar karena orang tua maupun Darrell pun tidak pernah bercerita. Mungkin saja mereka tidak ingin mengingatkan luka lama yang selama ini di pendamnya.
"Siapa Maggia?"
"Adikku, Alan."
Deg!
Alan pikir bahwa Darrell satu-satunya putra tunggal dari keluarga Wesley. Nyatanya dia masih memiliki adik.
"Tapi, aku hanya tahu kalau keluarga Wesley hanya memiliki satu anak. Itu hanya Tuan saja."
Darrell pun menceritakan bagaimana Allegra menyembunyikan Darrell di ruang bawah tanah. Sayang, adiknya sudah keburu dibawa perampok itu. Entah, nasib adiknya sekarang seperti apa. Darrell pun tidak tahu. Tapi, pihak keluarga Wesley sudah menyatakan bahwa Maggia sudah meninggal saat kejadian itu. Setiap tanggal itu selalu diperingati sebagai tanggal kematiannya.
"Maggia pasti sangat cantik," puji Alan.
"Iya. Mama selalu membayangkan bahwa Maggia itu mirip sepertinya. Cantik dan selalu bersikap energik. Mama menyukai wanita yang seperti itu."
"Termasuk Nona Sharron?" tanya Alan.
"Ck, sebaiknya malam ini kamu bersiap. Kita akan pergi ke klub malam. Aku merindukan tempat itu sebelum Sharron melarangku."
Sangat lucu. Pria yang biasanya gila kerja dan tidak mudah tertarik dengan wanita mendadak meminta sesuatu yang tidak biasa. Sudah lama sekali mereka tidak pergi ke klub malam.
"Anda jangan nakal, Tuan. Nona Sharron pasti akan menghukum Anda lebih keji lagi," canda Alan. Dia tahu betul bagaimana Darrell menghormati pernikahannya. Kekhilafan masa lalunya dengan Sharron bukan tanpa alasan. Kalaupun Darrell berusaha meniduri wanita itu, itupun tidak dengan cinta.
Kebiasaan yang membuat mereka saling mencintai. Kebiasaan untuk saling memberi dan menerima. Sehingga suatu saat dipisahkan oleh jarak dan waktu. Sampai pada akhirnya Darrell kembali mencarinya.
__ADS_1
Alan termasuk asisten yang cepat dan tanggap. Apalagi ada kegiatan yang bisa melemaskan otak dan pikiran. Siapa tahu malam ini dia akan menemukan wanita idamannya.
Darrell selalu memanfaatkan momen terbaiknya. Dia tidak mau pergi ke klub dengan menggunakan mobil pribadi. Akan lebih nyaman kalau menggunakan mobil asistennya.
Dentuman musik klub yang begitu dahsyat telah memekakkan telinganya. Sambutan pertama kali ketika mereka baru sampai di pintu masuk klub yaitu wanita-wanita manja yang ingin uang dan tentunya sentuhan nakal para pria tampan.
"Tuan, sebaiknya kita ke sana dulu!" ajak Alan dengan berteriak. Dia harus mencari tempat yang nyaman untuk tuannya.
"Apa Alan? Aku tidak mendengar!" teriak Darrell juga.
Alan tak ambil pusing. Dia menarik tangan tuannya layaknya seorang pria pada kekasihnya. Darrell pun tidak bisa menolak sehingga mereka duduk di sebuah kursi dengan beberapa bartender yang melayani mereka.
Mata Darrell menyapu setiap ruangan kalau-kalau menemukan seseorang yang mungkin dikenalnya.
Setelah mendapatkan snifter glass wiski di tangannya. Gegas Darrell meneguk minuman beralkohol itu sampai habis.
"Tuan, tolong jangan sampai mabuk," pinta Alan. Rupanya bukan malah membuat Alan bebas, nyatanya dia semakin setres. Dia khawatir kalau tuannya sampai mabuk kemudian dimanfaatkan oleh wanita ****** yang ingin mendapatkannya.
Darrell tidak menghiraukannya. Dia malah terus fokus menegak minumannya. Alan tidak tahu pemicu tuannya itu sampai mabuk seperti ini. Racauan mulai tidak jelas. Panggilan nama Sharron terus saja keluar dari mulut pria itu.
Sampai suatu hal menyita perhatian Alan. Dia melihat wanita yang dikenalnya selama ini. Wanita itu ditarik oleh seorang pria secara kasar. Sesaat pria itu terlihat seperti sebuah geng yang kejam. Tidak hanya menarik tangannya, Alan pun melihat mereka menarik rambutnya.
Rasa kasihan pun muncul di lubuk hatinya yang paling dalam.
Oh, ya ampun. Aku harus mengamankan yang mana dulu? Kalau aku menunggu memindahkan Darrell ke mobil, aku tidak akan sempat menolong gadis itu. Tunggu! Mengapa dia diperlakukan seperti itu?
Wanita itu tidak hanya ditarik tangan maupun rambutnya. Seorang pria yang terlihat mengerikan malah mengambil beberapa puntung rokok kemudian menyatukannya. Bara panas rokok yang terkumpul itu malah dibenamkan tepat di telapak tangan wanitanya.
"Keterlaluan!" teriak Alan. Dia mengabaikan bosnya yang sedang meracau itu. Dia tidak mungkin menyelamatkan dua orang sekaligus. Pilihannya cuma satu. Darrell atau wanita itu.
Alan mencoba mendekatinya, tetapi salah satu anak buah pria itu malah membentaknya.
"Hei! Mengapa kau mengganggu kesenangan bos kami?" Pria berperawakan tinggi itu mendorong tubuh Alan mundur.
Sementara pandangannya tak jauh dari wanita yang sedang merintih karena kesakitan yang dideritanya. Bisa dibilang wanita itu terlihat sangat kuat di matanya. Pemandangan inilah yang meluluhkan hati Alan untuk tetap maju.
__ADS_1
"Berikan wanita itu padaku!" teriak Alan.