
Sharron baru saja keluar kamar dalam keadaan segar. Ini masih pagi, suasana mansion keluarga Wesley pun masih sepi. Perlahan dia bergeser ke meja makan. Rupanya di sana sudah ada Allegra bersama beberapa pelayan yang sedang menyiapkan sarapan pagi.
"Pagi, Sayang. Bagaimana tidurmu? Nyenyak?" sapa Allegra.
"Nyenyak, Ma. Ada yang bisa kubantu?" Berada di lingkungan orang baru membuat Sharron tidak nyaman.
"Duduklah, Sayang. Sebentar lagi papa akan bergabung di sini," ucap Allegra.
Hari ini dia berencana untuk pergi ke butik dan jalan-jalan bersama calon menantunya. Sebenarnya Javer sudah melarang Allegra untuk pergi, tetapi dia sudah lama tidak keluar mansion.
"Selamat pagi semuanya," sapa Javer.
"Pagi, Pa," balas Sharron.
"Kau memang cocok sekali menemani mamamu itu. Lihat, auranya begitu ceria. Ini jarang terjadi di mansion ini. Selama ini dia kesepian, Sharron," ucap Javer yang baru saja duduk.
"Aku juga senang, Pa. Kalian bisa menerimaku dengan baik."
"Sama-sama, Nak," jawab Javer.
Makanan sudah siap. Anggota keluarga Wesley menikmati sarapan pagi bersama. Sementara pelayan dan seluruh pekerja mansion memiliki tempat khusus untuk menikmati makanannya.
"Ceritakan saat kau bertemu putraku!" pinta Javer.
Glek!
My goodness, cobaan apalagi ini? Apa iya aku harus menceritakan bahwa kami menjalin hubungan sebagai baby dan daddynya? Yang benar saja. Bahkan, kami dipisahkan supaya tidak tidur bersama. Apa katanya kalau aku jujur? Ini sangat meresahkan!
"Sharron, kenapa kamu diam?" tanya Allegra.
"Ehm, aku bertemu Darrell saat acara makan malam di mansion tuan Blair. Aku pergi bersama Alan karena kebetulan kami saling kenal," ucap Sharron. Entah, alasan ini benar atau tidak benar hanya Javer yang tahu.
"Wah, rupanya putraku jatuh cinta pada pandangan pertama," sahut Javer dengan senyuman khas pria paruh baya yang memukau. Tahu sendirilah kalau Javer pria tampan. Anaknya saja sangat rupawan.
"Sudahlah, Pa. Lebih baik biarkan Sharron menikmati sarapan paginya." Allegra menambahkan makanan di piring suaminya sembari menyenggol lengan pria itu. "Jangan terlalu didesak. Putramu pasti sudah berbuat diluar kendali," bisiknya pada sang suami.
Javer cuma tersenyum. Namun, Sharron pun tidak tahu apa yang dibicarakan sepasang suami istri itu. Sharron pun menanggapinya dengan tersenyum.
__ADS_1
Seusai sarapan pagi, Allegra dan Sharron pergi menuju ke butik untuk mencari gaun pengantin. Sengaja jauh-jauh hari untuk mempersiapkan supaya semua terlihat sempurna.
"Mama senang kalau kamu akan mendampingi putraku. Setelah menikah, boleh Mama minta satu hal?" tanya Allegra saat berada di mobil. Keduanya pergi diantarkan sopir mansion.
"Katakan saja, Ma."
"Jangan tunda kehamilan. Mama ingin lekas mendapatkan cucu. Sukur-sukur kalian bisa program kehamilan bayi kembar. Mama akan bahagia karena mansion semakin ramai dengan kehadiran anak kecil."
Glek!
Rasanya Darrell akan berusaha dengan keras sampai bisa mewujudkan keinginan mamanya. Bagaimana dengan Sharron sendiri? Apakah dia siap tancap gas pol rem blong supaya lekas mewujudkan keinginan mama mertuanya?
"Ehm, doakan saja, Ma. Aku harap juga demikian," ucap Sharron asal. Padahal dari dalam lubuk hatinya paling dalam, dia tidak tahu nantinya akan seperti apa.
Sepanjang perjalanan hidupnya, Sharron pun membayangkan memiliki suami dan keluarga yang utuh, anak-anak yang lucu, dan tidak pernah kekurangan suatu apapun. Walaupun Sharron tidak pernah tahu masa lalunya, setidaknya sekarang masa depannya jelas di depan mata.
...***...
Sebuah rumah sakit menjadi saksi bagaimana seorang Noelle dan Alan bertengkar. Semalaman keduanya berada di ruang rawat. Noelle menolak untuk diobati karena merasa bisa melakukannya sendirian di apartemen. Ini bukan pertama kalinya dia mendapatkan luka yang mengerikan seperti ini.
"Sudah kukatakan bukan kalau aku tidak mau datang ke rumah sakit ini? Mereka selalu menginterogasiku seperti orang yang tersiksa saja," ucap Noelle.
Mereka hanya pergi berdua ke rumah sakit. Darrell kembali ke apartemen menggunakan taksi pada malam itu. Pagi ini, Noelle sudah diizinkan pulang karena sebenarnya dia hanya membutuhkan penanganan luka luar saja.
"Sudah kubilang kan kalau ini hanya luka kecil. Lihat, aku sudah boleh pulang hari ini. Kau terlalu berlebihan, Alan!"
"Kau ini tidak paham. Tuanku bisa rugi karena--" Alan tidak mungkin melanjutkan ucapannya.
"Apa? Kau takut kalau Sharron akan memakimu lebih dari makianku hari ini?"
"Aku hanya berusaha menyelamatkan hubungan seseorang karenamu."
"Maksudmu?" tanya Noelle.
"Dengarkan aku! Bagaimana kalau sampai Sharron tahu bahwa sahabatnya disiksa orang lain di hadapan calon suaminya. Kemudian calon suaminya tidak mau menolong dan membiarkan penyiksaan demi penyiksaan didapatkan oleh sahabatnya? Apa tidak kamu pikir bagaimana perasaan Sharron jika melihatmu seperti ini?"
Alan, asisten Darrell sangat cerewet sekali. Noelle sampai bosan mendengar ocehannya. Kadang memang ucapannya itu benar, tetapi sikapnya yang terlalu berlebihan itu yang membuat Noelle ingin menutup rapat telinganya. Darrell memang menolongnya dengan memberikan sejumlah uang untuk menggantikan ganti rugi pria brengsek yang membelinya.
__ADS_1
Noelle dijadikan bahan taruhan oleh daddynya karena kalah taruhan bermain judi dengan ketua geng itu. Itulah mengapa Noelle bersama pria itu.
"Ya, Sharron memang sangat mengkhawatirkan aku. Kami seperti keluarga padahal tidak ada hubungan sama sekali. Sudahlah, apa kita akan berdebat terus seperti ini? Antarkan aku pulang ke apartemen!"
"Huft, untung saja tuanku akan menikahi Nona Sharron. Kalau sampai tertukar dengan wanita ini, bisa saja suasana mansion seperti mengalami gempa," gerutu Alan.
"Apa yang kau katakan?" tanya Noelle yang sempat mendengar ucapannya.
"Kau cerewet sekali!" balas Alan karena sudah tidak tahan.
Perbincangan masih berlanjut di dalam mobil. Noelle dan Alan sama-sama keras kepala. Pada dasarnya Darrell pun demikian. Namun, ketika Alan bersama Darrell, asistennya itu bisa mengalah. Tetapi dengan Noelle, rasanya mengalah itu hal yang tidak seru sekali.
Sampailah mereka di depan unit apartemen Noelle. Dia menekan kode akses masuk kemudian mempersilakan Alan masuk.
"Silakan masuk dan cari tempat duduk ternyaman di apartemenku. Jangan sampai kamu kena ranjau yang sudah kupasang di sana," ucap Noelle.
"Kau ini wanita atau psikopat?" tanya Alan. Ini sungguh di luar dugaan. Sikapnya yang terlalu blak-blakan itu mampu menggaet pengusaha besar. Untung saja tuannya tidak terjebak dalam permainan Noelle.
"Kalau aku bilang bahwa aku psikopat cinta, bagaimana? Apa kau tidak takut?"
"Hemm, tidak."
"Aku bisa mematahkan hati setiap pria."
"Tapi, kau masih kalah dengan pria jelek itu," cibir Alan. Yang dimaksud pria jelek adalah pria yang menyiksa Noelle saat di klub kemarin malam.
"Aku tidak kalah. Kau saja yang terlalu kepedean jadi pahlawan kesiangan!"
Glek!
Astaga! Kau ini manusia macam apa, Noelle! Bisa-bisanya mengataiku seperti itu. Kalau bukan karena kami menebusnya, kamu tidak akan bisa berada di apartemen hari ini.
"Ck, kau sensitif sekali, Alan. Iya, iya, aku berterima kasih. Dia memang pria bejat!" seru Noelle mengingat kekejaman pria pada malam itu.
...🌺🌺🌺...
Sambil menunggu update, yuk mampir karya keren berikut ini.
__ADS_1