
Jadwal kepulangan Darrell dan Sharron semula masih beberapa hari lagi terpaksa harus dimajukan. Darrell menerima kabar dari Alan bahwa Noelle kecelakaan. Dia tidak memberitahukan pada Sharron karena ditakutkan istrinya itu akan cemas berlebihan.
Bandara Meksiko terlihat lengang karena mereka baru tiba malam hari. Darrell meminta Alan yang menjemput ke bandara. Semula Alan hendak menolak karena harus mengurus pekerjaan yang diberikan oleh Javer kepadanya. Namun, Allegra tahu kalau Darrell akan pulang, sehingga wanita itu mengizinkan Alan untuk menjemputnya.
"Alan, bagaimana kondisinya?" tanya Darrell. Dia lupa bahwa kesengajaannya menyembunyikan kondisi Noelle dari istrinya.
"Kondisi apa, Sayang? Kenapa aku seperti tidak tahu apapun?" protes Sharron.
Deg!
Alan tahu mengapa tuannya bersikap seperti itu. Supaya penerbangan dari Swiss ke Meksiko berjalan lancar tanpa hambatan apapun.
"Nanti kamu akan tahu sendiri, Sayang," jawab Darrell santai. Jangan sampai dia ribut di bandara seperti ini.
"Ehm, Tuan, kita langsung ke rumah sakit atau ke apartemen?" Pertanyaan Alan cukup masuk akal. Malam menjelang dini hari. Tidak mungkin kan mereka besuk ke rumah sakit saat ini.
"Apartemen. Besok pagi-pagi sekali antar kami ke rumah sakit."
"Darrell, apa ini semua? Keadaan, apartemen, rumah sakit, sebenarnya siapa yang sakit? Mengapa perasaanku semakin tidak enak seperti ini? Apa yang kalian berdua sembunyikan? Alan, kau mau mengaku atau tidak?" Sharron tidak tahan. Dia ingin agar ada kejelasan keputusan bulan madu yang dipercepat.
"Nanti kita bicarakan di apartemen. Biarkan Alan membawa kita pulang lebih dulu. Oke?" bujuk Darrell.
Bom waktu sebentar lagi akan meledak di dalam kamar apartemennya. Darrell harus bersiap dengan apapun yang akan terjadi. Bisa saja Sharron akan sangat marah sekali. Kemungkinan kedua, malam ini dia pasti ingin pergi ke rumah sakit secepatnya. Dia ingin segera melihat kabar Noelle. Itu sudah pasti.
Terdiam dalam waktu yang cukup lama membuat Darrell was-was. Kini, mereka sudah sampai di kamar apartemen masing-masing. Alan sudah berpamitan pada tuannya untuk lekas beristirahat karena esok hari banyak pekerjaan yang sudah menunggu.
"Sayang, apa yang kamu sembunyikan dariku?" tanya Sharron. Dia sudah tidak sabar untuk menunggu hari esok. Malam ini dia harus mengetahui segalanya.
"Besok pagi saja. Aku langsung mengajakmu ke sana. Oke?" Lagi-lagi upaya Darrell membujuk Sharron.
"Sayang, kamu kira aku anak kecil yang bisa kamu bohongi terus-menerus? Kalau kamu tidak mau mengaku, maka aku akan mencari informasi ini sendiri. Katakan malam ini, atau aku akan pulang ke apartemen Noelle," ancam Sharron.
Satu kali tarikan napas panjang kemudian dihembuskan oleh Darrell. "Noelle kecelakaan."
__ADS_1
"Apa?" Sharron terduduk di lantai kamarnya. "Kenapa ini bisa terjadi, Darrell? Noelle bukan tipikal wanita yang ceroboh sepertiku. Dia selalu bertindak sesuai dengan hitungan yang matang. Kenapa, Darrell? Kenapa?"
Sharron masih terduduk dengan air mata dan tangisnya yang tiada henti. Darrell mencoba membangunkan Sharron untuk tidak berada di lantai.
"Sayang, jangan seperti itu. Ini hanya kecelakaan. Ayolah, Noelle pasti tidak suka kalau kamu bersedih seperti ini. Istirahatlah! Besok pagi kita pergi ke rumah sakit."
"Kecelakaan katamu? Noelle sudah tidak berdaya kau masih bisa bilang seperti itu? Jahat kamu!"
Sharron berdiri. Dia hendak keluar kamar untuk pergi ke rumah sakit. Dia tidak peduli lagi dengan suaminya.
"Sharron, kau mau ke mana?" teriak Darrell.
"Rumah sakit."
"Berhenti kataku! Kalau kau teruskan tanpa izinku, aku bisa bertindak nekad, Sharron. Jangan bodoh!" bentak Darrell.
...🍄🍄🍄...
Suasana mobil yang hening karena Darrell dan Sharron sedang tidak baik-baik saja. Mereka diam lantaran semalam tidak ada yang mau meminta maaf terlebih dahulu. Alan yang hendak bertanya kemudian mengurungkan niatnya.
Sampailah mereka di rumah sakit. Kedua orang yang sedang berseteru itu berjalan mengekor Alan menuju ke ruang rawat Noelle. Rupanya di sana masih ada Allegra dan Javer.
"Sayang, kalian baik-baik saja?" sapa Allegra. Dia sangat merindukan anak dan menantunya.
"Mama di sini?" tanya Sharron. Dia juga terkejut mengapa mertuanya yang menjaga sahabatnya itu.
"Iya, Sharron. Mama yang menyaksikan kejadian malam itu," jelasnya.
Darrell yang tidak mengerti detail masalahnya kemudian memandang lekat ke arah Alan. Alan pun memberikan kode bahwa yang tahu segalanya adalah orang tua Darrell sendiri.
"Papa dan Mama kenapa bisa menjaga Noelle?" tanya Darrell.
Allegra yang menceritakan detail masalahnya. Mulai dari tujuannya pertama kali datang ke Meksiko, kemudian makan malam di restoran hotel, dan melihat Noelle seperti disakiti oleh seseorang.
__ADS_1
"Alan, apakah ini karena Blair?" bisik Darrell.
"Sepertinya begitu, Tuan. Mungkin dia merasa terancam sehingga melakukan hal seperti itu."
"Sudah kau dapatkan semua buktinya?" Darrell tidak tahan lagi untuk melawan pria itu. Walaupun mereka terlibat hubungan kerja sama, Darrell tidak peduli lagi.
Alan menggeleng. "CCTV hotel sengaja di rusak oleh seseorang, Tuan. Aku sudah memintanya dari pihak hotel, tetapi mereka menunjukkan padaku bahwa CCTV-nya rusak."
Sedih sekali. Akan sangat sulit menjerat Blair masuk ke penjara. Satu-satunya cara adalah menunggu Noelle sadar supaya gadis itu bisa bercerita.
Setiap pagi, Allegra dan Javer menunggu kabar yang diberikan dokter yang sedang visit kamar Noelle. Walaupun bisa terlihat dari luar, tetapi gadis itu masih tertidur pulas. Beberapa menit berada di dalam, dokter lekas keluar memberikan kabar baik.
"Selamat pagi semuanya. Nona Noelle beruntung sekali memiliki keluarga seperti kalian. Oh ya, kabar pagi ini, Nona Noelle sudah memberikan respon positif. Dia terlihat mulai menggerakkan jarinya. Sebentar lagi dia pasti sadar," ucap dokter yakin.
"Bisakah kami melihatnya?" tanya Allegra. Antusias wanita paruh baya itu terlihat sangat jelas seperti keluarganya yang sakit. Bukan orang lain.
"Tentu, Nyonya. Anda bisa bergantian," jawab dokter.
"Kalau aku masuk sekarang, apa sudah diizinkan, dokter?" tanya Allegra lagi.
Darrell dan Sharron sempat tidak percaya dengan sikap Allegra.
"Tentu saja, Nyonya. Hanya satu persatu, supaya tidak menggangu ketenangan pasien. Mungkin dengan Anda masuk ke dalam, bisa mempercepat proses kesadarannya."
Allegra masuk ke dalam tanpa meminta izin lagi pada suami dan anaknya. Semenjak pengajuan tes DNA antara Noelle dan Javer, rasa penasarannya semakin tinggi.
Allegra duduk di kursi. Dia menggenggam erat tangan Noelle. Kemudian dia mengatakan ucapan yang membuat semua orang terharu ketika mendengarnya.
"Noelle ... tante memang tidak tahu siapa sebenarnya orang tuamu. Tapi, tante meyakini satu hal bahwa pertemuan kita yang kesekian kalinya bukan sebuah kebetulan semata." Allegra mengecup tangan sahabat menantunya itu.
"Sebelumnya tante minta maaf. Tanpa seizin darimu, kami mengambil sampel dari tubuhmu. Kami akan melakukan tes DNA antara kamu dan suamiku. Rasanya agak aneh, kamu yang notabene hanyalah orang lain, tetapi telah membuatku tertarik. Kau tahu Noelle, jika ini hasilnya negatif, permainan takdir Tuhan kepadaku belum berakhir. Begitu pun sebaliknya. Alan lah yang meyakinkan kami mengenai tanda lahir itu. Walaupun aku belum bisa melihatnya secara langsung, tetapi kalau tanda itu sama adanya, mengapa aku ragu? Aku hanya tinggal menambah bukti untuk menguatkannya, bukan?"
Allegra menahan matanya untuk tidak menitikkan air mata, tetapi akhirnya gagal juga. Air matanya jatuh mengenai punggung tangan Noelle. Seakan mendapatkan kekuatan penuh, perlahan Noelle menggerakkan tangannya kemudian matanya. Pertama kali wajah yang dilihat ketika sadar adalah wajah wanita yang tidak pernah ada di dalam benaknya yaitu wajah Allegra.
__ADS_1