
Berada di kamar yang sama dengan status yang berbeda membuat suasana menjadi berbeda pula. Makanan yang dipesan pun sudah datang.
"Kamu mau makan dulu atau membersihkan diri, Sayang?" tanya Sharron yang sudah menyiapkan beberapa makanan di atas piring.
"Makan dulu. Aku sudah sangat lapar."
"Baiklah."
Sharron juga menyiapkan teh hangat permintaan suaminya. Malam ini suasana apartemen menjadi berbeda. Darrell telah menikah. Sehingga pria itu tak perlu khawatir lagi untuk kehilangan Sharron. Satu-satunya yang menjadi ancamannya saat ini hanyalah Marcello. Pria itu seolah selalu saja membayangi kehidupannya.
"Sayang, kenapa melamun?" tanya Sharron.
"Aku kepikiran Marcello. Bagaimana kalau dia merebutmu dariku?"
"Kenapa sekhawatir itu? Aku tidak menyukainya."
"Kamu memang tidak menyukainya, tetapi dia menyukaimu. Dia akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkanmu kembali. Dia tidak peduli kalau kamu sudah menjadi milik orang lain."
"Sebaiknya kamu makan dulu! Jangan buat suasana hatimu semakin rumit karena memikirkannya."
"Terima kasih."
Darrell menyuapkan makanan ke mulutnya kemudian mengunyah dengan pelan. Sesekali pandangannya terpaku pada Sharron, istrinya. Dia tidak menyangka takdir telah membawanya untuk mengikat hubungan sejauh ini.
Sharron pun sedang menikmati makanannya. Sesekali pandangan mata mereka bertemu. Sharron hanya membalasnya dengan senyuman.
"Aku mau mandi dulu," pamit Darrell setelah makan malam usai.
"Sayang, setelah makan tidak baik kalau kamu langsung mandi. Tunggulah 15 atau 20 menit." Sharron membereskan bekas makannya.
"Hemm, terima kasih. Aku akan menunggu di dalam kamar saja. Lekaslah menyusul ke sana."
"Baiklah."
Darrell menyandarkan tubuhnya di sofa kamar. Dia sudah melepaskan kemeja yang dipakainya. Dada sixpack khas pria tampan sepertinya selalu menggoda.
Tak lama Sharron pun menyusul. Dia hendak merapikan koper untuk mengalihkan perhatiannya semula tertuju pada Darrell kemudian beralih pada koper.
"Biarkan saja, Sayang! Besok saja kamu susun. Kamu pasti juga lelah. Kemarilah!" pinta Darrell.
Aroma keringat Darrell yang selalu menjadi candu bagi Sharron tak akan dilewatkan begitu saja. Dia mendekati suaminya bahkan menempelkan badannya di sana.
__ADS_1
"Kamu tahu kalau pernikahan kita bukanlah pernikahan biasa, Sharron. Maksudku, rentang usia kita yang cukup jauh dan status yang berbeda. Aku menikahimu sebagai seorang duda, sedangkan kamu wanita singel yang bebas. Sejujurnya agak sulit untuk membangun hubungan rumah tangga yang serba instan seperti ini."
"Maksudnya?" tanya Sharron. Dia tidak memahami sama sekali ucapan suaminya.
"Begini, Sayang, terkadang aku lelah ketika pulang dari bekerja. Sebisa mungkin kamu harus tahu situasinya. Jika aku terlihat sedang tidak baik, tolong jangan mendekat. Aku takut bisa lepas kontrol. Kamu paham, kan?"
Deg!
Apakah yang dimaksud Darrell mengenai lepas kontrol ini akan melakukan kekerasan dalam diri Sharron?
Sharron menggeleng. "Aku tidak paham. Bisa jelaskan yang paling simpel?"
"Begini, Sayang, urusan pekerjaan di kantor terkadang membuatku emosional. Seandainya aku pulang ke apartemen dalam kondisi yang tidak baik-baik saja, kamu bisa menghindar. Tidak masalah, kan?"
Sharron mengangguk.
Begini rumitnya kah hubungan rumah tangga yang sebenarnya? Jujur, aku memang belum mengenal Darrell seutuhnya. Mungkinkah dia akan kasar kepadaku?
"Bagus! Jadilah wanitaku yang penurut."
Deg!
"Kamu duluan saja," ucap Sharron.
Sharron mencoba mencerna ucapan suaminya. Dari segi kematangan usia, Darrell jauh lebih matang. Itulah sebabnya Sharron perlu banyak belajar untuk mengimbangi suaminya itu. Mungkin juga banyak kesalahan yang akan dilakukan nantinya, tetapi itu bukan masalah.
Darrell keluar dari kamar mandi masih menggunakan bathrobe-nya. Dia melihat Sharron melamun di sofa.
"Kamu masih kepikiran dengan ucapanku barusan?" tanya Darrell yang sedang memilih baju tidurnya.
"Iya, seperti itulah. Rumit yah menjalani rumah tangga seperti ini."
"Sama-sama belajar, Sharron. Lekas mandi sana!"
Sharron beranjak ke kamar mandi. Sebelum itu, dia mengambil baju gantinya supaya bisa keluar dalam keadaan bersih dan rapi. Dia malu kalau harus ganti baju di hadapan suaminya.
Ketika Sharron keluar, Darrell sudah merebahkan dirinya di ranjang. Dia melihat Sharron mulai mengeringkan rambutnya yang basah itu.
"Sayang, jangan pakai hair dryer!" pinta Darrell.
"Kenapa? Rambutku masih basah, Darrell."
__ADS_1
"Biarkan begitu saja. Aku ingin menghirup aromanya. Boleh?"
Lucu sekali permintaan Darrell barusan. Sebenarnya Sharron agak risih juga dengan rambutnya yang masih basah itu. Walaupun sudah hampir mengering, rasanya tetap saja tidak nyaman. Demi suaminya dia rela meletakkan kembali hair dryer-nya. Dia naik ke ranjang kemudian bersanding dengan suaminya.
"Kemarilah!" Darrell menunjuk dada bidangnya.
Sebagai istri yang baik, Sharron menurut saja permintaan suaminya.
"Jangan takut padaku, Sharron! Aku bukan suami yang kejam. Bersandarlah di sini!" Darrell menunjuk lagi dada bidangnya.
Barulah Sharron menyandarkan kepalanya di sana. Darrell menghirup aroma rambut Sharron yang wangi dengan shampo yang dipakainya sehari-hari. Sangat wangi sekali sehingga membuat mood Darrell semakin naik.
"Aku tidak memberikanmu hadiah pernikahan mewah. Kamu pun tidak memintanya. Apakah kamu menginginkan berbulan madu?" tanya Darrell.
"Darrell, mengapa setelah menikah hubungan kita terasa aneh?" Bukannya malah menjawab, Sharron mengajukan pertanyaan lainnya.
"Berpacaran dan pernikahan itu memang beda, Sharron. Komitmen dan tanggung jawab yang terbentuk sudah beda. Penyatuan dua kepala yang memilki ego masing-masing. Kita bisa memulainya dari awal, Sharron. Banyak yang belum aku ketahui dari kamu dan sebaliknya. Hubungan pernikahan tak seindah yang semua orang bayangkan, tetapi kalau kita bisa saling melengkapi, itu akan jauh lebih baik, Sayang."
Darrell melingkarkan tangannya tepat di perut Sharron. "Jadi, kamu ingin pergi ke mana?"
"Aku tidak tahu. Kemanapun kamu pergi, aku ikut saja."
"Kamu tidak ingin pergi ke Austria? Kurasa di sana kamu bisa mengenang masa-masa indahmu menjadi seorang model."
Usulnya memang bagus. Lagi pula di sana banyak sekali tempat yang bisa dikunjungi. Selain itu mereka bisa mampir ke Italia untuk membawakan oleh-oleh mertuanya.
"Aku bingung. Sebenarnya aku ingin ke sana, tetapi untuk beberapa waktu kita di sini saja. Kata mama, kita harus secepatnya memberikan kabar baik. Aku ingin berkonsultasi ke dokter. Bagaimana menurutmu?"
"Kalau kamu memang sudah siap. Aku setuju saja. Jangan sampai kamu menyesal karena belum siap untuk memiliki anak."
"Ish, aku bukan wanita seperti itu, Darrell. Harusnya aku bersyukur kalau bisa hamil. Tidak semua orang bisa beruntung."
Sharron benar. Darrell teringat betul bagaimana perjuangannya untuk memiliki anak bersama Callie. Sayang, wanita itu banyak sekali membuat kebohongan yang entah Darrell tidak tahu apa hubungannya. Bisa jadi setiap kebohongan Callie di masa silam masih ada hubungannya dengan foto yang diberikan Marcello padanya.
"Yakin kamu tidak mau pergi honeymoon?"
"Entahlah. Aku ragu!"
"Pikirkan ulang, Sayang. Kalau memang kamu menginginkannya, kabari aku."
Rencana untuk berbulan madu belum diputuskan. Namun, itu bukan penghalang untuk keberlangsungan hubungan pengantin baru ini. Darrell semakin mengeratkan pelukannya sebagai rasa syukur bisa menikah dengan wanita sebaik Sharron.
__ADS_1