
"Kurasa kau harus berhenti dari pekerjaanmu itu, Noelle," usul Alan.
Noelle yang baru saja dari dapur untuk mengambil makanan dan minuman kemudian menatap tajam mata Alan. Omongannya tak semudah membalikkan telapak tangan.
"Tidak semudah itu, Alan! Memangnya kau mau merekrut aku bekerja di tempatmu. Ehm, maksudku di tempat tuan Darrell."
"Tentu, kalau kau mau. Aku akan menyampaikan ini pada tuanku. Walaupun aku pria yang sensitif katamu, tapi aku tidak tega melihat wanita dihinakan seperti kemarin. Dia pikir semua wanita bisa diperlakukan seperti itu!"
"Sudahlah, lupakan saja. Makan dan minumlah dulu. Maaf, seadanya," ucap Noelle sembari menyerahkan semangkok sereal dan susu. Kali ini Noelle mau menikmati sarapan paginya dengan sesuatu yang simpel.
Alan menerimanya kemudian memakannya. Sejak pagi memang dia belum memakan apapun karena masih berada di rumah sakit. Dia hanya minum air mineral yang dibelinya semalam.
"Terima kasih," ucap Alan setelah menghabiskan serealnya. Dia mengembalikan mangkok ke atas meja kemudian mengambil segelas air putih. Dia meneguknya sampai habis dan meletakkan kembali gelasnya.
"Kalau sudah sarapan, sebaiknya kamu pulang. Aku akan beristirahat." Noelle mengusir Alan. Badannya memang sangat lelah sekali.
"Dasar psikopat cinta!" seru Alan. Dia bangkit dari tempat duduknya kemudian berjalan keluar. Sebelum benar-benar keluar dari ruang tamu, Alan menengok sejenak.
"Apa lihat-lihat?" tanya Noelle.
"Dasar orang aneh!" Alan membanting pintu karena kesal.
Noelle malah cekikikan. Rasanya puas sekali sudah mengerjai asisten Darrell. Walaupun rasanya tubuhnya masih sakit seperti ini.
"Ck, baru kali ini aku menemukan pria psiko seperti itu. Mana bekasnya sakit sekali. Huft, untung saja aku punya sahabat baik. Ternyata bermanfaat juga. Tiba-tiba aku rindu sekali padanya." Noelle mengambil ponsel yang ada di tasnya. Gara-gara daddy sialannya itu, semua barang-barangnya tertinggal di apartemen termasuk ponselnya.
Noelle mengetik pesan kemudian hendak mengirimkan pesan, tetapi diurungkannya.
"Ah, tidak sekarang. Mungkin Sharron sedang sibuk mengurusi rencana pernikahannya. Apalagi Darrell berada di sini." Noelle meletakkan kembali ponselnya. Dia beralih mengambil salep kulit pereda nyeri di kulit mulusnya.
Saran dari Alan sedang dipertimbangkan. Kemungkinan setelah pernikahan Sharron, Noelle akan memintanya untuk tinggal di sini saja. Setidaknya Noelle akan tetap bersamanya walaupun tidak satu apartemen lagi.
...***...
Butik terbesar di Roma, Italia, menghadirkan banyak pilihan gaun pengantin yang berkelas. Sharron sampai bingung harus memilih yang mana. Allegra membebaskannya untuk memilih apapun yang disukainya.
Selain mendapatkan keluarga baru, orang tua calon suaminya sangat baik. Sharron merasa seperti putri kerajaan yang menikmati kebahagiaannya.
__ADS_1
"Kamu bingung?" tanya Allegra.
"Iya, Ma. Semuanya bagus."
"Santai saja. Pilih yang menurutmu cocok."
Bagi Sharron, Allegra bukan sekadar calon mama mertua saja, tetapi sudah seperti mamanya sendiri. Perhatian dan kasih sayangnya nyata.
Saat fokus pada salah satu gaun pengantin, rasanya Sharron sudah tertarik dengan gaun itu. Gaun pengantin dengan belahan dada yang tidak terlalu menonjol, berlengan panjang, mengekspos bagian punggung dengan sempurna, dan bagian bawahnya model mermaid yang tidak terlalu menjuntai panjang.
"Ma, Sharron boleh ambil gaun itu?"
"Yang mana, Sayang?"
"Yang modelnya simpel, tapi--"
"Tapi apa, Sayang? Punggungnya terlalu terekspos?" tanya Allegra.
"Iya, Ma."
"Baik, Ma."
Sharron sedang konsultasi dengan desainer, sementara Allegra sedang mencarikan pakaian untuk putranya. Ini kali pertamanya Allegra terlibat langsung dengan pernikahan Darrell. Rasanya seperti menikahkan anak gadisnya. Allegra sangat sibuk sekali.
"Andaikan kamu masih ada, Maggia. Mama rasanya akan menjadi orang pertama yang akan mengurus pernikahanmu," ucap Allegra lirih. Dia sempat menitikkan air matanya. Dalam sepenggal harapan terselip doa untuk kembalinya sang putri. Andai waktu menghendakinya, dia akan menjadi orang pertama yang akan memeluknya kemudian memberikan kehangatan kehidupan.
Sharron menepuk pundak Allegra, tetapi wanita paruh baya itu tidak merespon dengan baik. Lebih tepatnya fokus pada lamunannya yang menggenggam jas pengantin pria tepat di bagian lengannya.
"Ma! Mama!" panggil Sharron dengan suara yang sedikit tinggi.
"Eh, iya. Ada apa, Sharron?"
"Mama kenapa? Masih melamunkan Maggia?"
Allegra mengangguk. "Andaikan dia masih ada. Pasti seumuran denganmu dan pastinya dia juga cantik. Mama sedang membayangkan euforianya menikahkan anak gadis. Pasti rasanya berbeda dengan anak laki-laki."
Kini Sharron yang bersedih. Tidakkah orang tuanya mencari keberadaannya? Atau, dia anak yang tidak pernah diharapkan kelahirannya? Sungguh miris sekali disaat Allegra berusaha mencari anak kandungnya, sedangkan orang tua Sharron yang sebenarnya tidak pernah berusaha mencarinya. Mungkin seperti itu yang dirasakan Sharron saat ini.
__ADS_1
"Maggia sangat bersyukur sekali memiliki orang tua seperti Mama. Sedangkan aku, jangankan tahu siapa orang tuaku, dicari saja tidak pernah."
"Makanya kita bisa cepat akrab, Sayang."
Sharron menggenggam erat tangan Allegra. Dia mencurahkan segala kerinduannya pada orang tuanya yang didapatkan dari Allegra.
"Kita mau terus bersedih seperti ini atau memilih lagi gaun pengantin untukmu," ucap Allegra.
"Memangnya mau pakai berapa gaun pengantin, Ma?" tanya Sharron.
"Ambil dua model, Sayang."
"Memang konsep pernikahannya akan seperti apa, Ma?" Pemikiran Sharron, satu gaun pernikahan saja sudah cukup. Ternyata dia salah.
"Mama maunya pagi prosesi pernikahan, malamnya wedding party. Itu membutuhkan dua gaun yang berbeda, Sayang. Bisa, kan?"
"Iya, Ma. Nanti aku pilih satu lagi. Buat Darrell sudah dapat, Ma?" tanya Sharron yang melihat mamanya masih memilih beberapa baju untuk laki-laki.
"Sebentar lagi, Sayang. Mama masih memilih beberapa lagi. Sekalian buat papa juga. Pilih satu gaun lagi untuk konsep wedding party dengan pesta dansa yang meriah. Mama ingin kamu dan Darrell berdansa."
Allegra memang sekalian mencari baju untuk anaknya, suami, dan juga dirinya sendiri. Setelah hari ini, Allegra akan sibuk mengurusi persiapan wedding party dengan segala kelengkapannya. Termasuk makanan dan minuman yang akan disajikan serta konsep pesta dansa yang sudah direncanakan sejak lama jika anak gadisnya ketemu.
Bayangan gaun yang akan dipilih Sharron sudah terlintas di benaknya. Dia belajar banyak hal dari Noelle mengenai pemilihan gaun.
"Ma, satunya aku ambil gaun warna merah, boleh?"
"Pilih sesuka hatimu, Sayang. Mama yakin kalau kamu bisa memadu padankan gaunnya."
Bersama Allegra rasanya seperti terbang ke angkasa. Sharron tidak hanya menjadi Cinderella untuk semalam, tetapi mulai hari ini dia telah menjadi calon ratu yang akan meneruskan keturunan keluarga Wesley. Sharron sangat bahagia sekali.
Sudah menemukan gaun yang dimaksud, Allegra pun sudah mengumpulkan baju-baju yang dipilihnya hari ini kemudian ke kasir untuk meminta pengepakan semua gaunnya dengan baik. Lantas pihak butik akan mengirimkannya ke mansion sesuai waktu yang ditentukan. Nantinya kalau mendekati hari H ada sedikit perubahan, pihak butik akan datang lagi untuk membenahi ukuran atau apapun yang diperlukan.
...πΊπΊπΊ...
Hai kakakku semuanya. Jangan lupa mampir karya teman Emak. Terima kasih π
__ADS_1