Belenggu Cinta Hot Daddy

Belenggu Cinta Hot Daddy
Bab 114. Terungkap


__ADS_3

Berada di dalam penjara tidak membuat Blair jera. Jeruji besi itu malah membuatnya semakin murka. Kebetulan tempatnya saat ini hanya dihuni oleh seorang saja.


"Ck, kurasa Bellatrix yang sudah melakukan semua ini. Tujuannya untuk apa? Mengambil lagi perusahaan yang seharusnya menjadi miliknya? Atau, sengaja mendepak aku supaya bisa mewarisi perusahaan papanya?"


Blair merasa kalau Bellatrix tidak sendirian. Ada orang dibalik semua ini yang menyokongnya. Kalaupun sendirian, rasanya dia tidak mampu. Selama ini Bellatrix adalah orang yang selalu menuruti permintaannya. Tidak hanya itu, semua perintahnya pun selalu dilakukan olehnya. Selama menjalani hubungan pernikahan atas dasar kekuasaan, Blair tidak membuat semua orang curiga bahwa dirinya menikah hanya dengan kepalsuan semata.


Hubungan yang dibangun tanpa dasar cinta, tetapi atas kekuasaan yang bertahta di atasnya. Sejak meninggalnya kedua orang tua Bellatrix, semula pernikahan yang begitu indah berkamuflase menjadi sesuatu yang berbeda. Blair hanya menunjukkan sisi romantis di hadapan semua orang. Kenyataannya pernikahannya tak ubah seperti sebuah neraka pernikahan.


"Blair, ada tamu untukmu," ucap sipir penjara.


Blair mengira kalau yang datang adalah Bellatrix, tetapi ternyata salah. Yang datang adalah penjaga kepercayaannya di perusahaan. Lebih tepatnya orang-orang yang direkrut oleh Blair.


"Ada apa?" tanya Blair.


"Tuan, perusahaan dirampok."


Deg!


"Apa maksudmu?" Blair meradang. Dia mengira selama di dalam penjara semuanya akan baik-baik saja. Ternyata dia salah. Justru banyak hal yang terjadi setelah dia mendekam di dalamnya.


"Beberapa penjaga telah dilumpuhkan, Tuan. Mereka merampok barang-barang yang ada di dalam ruangan Tuan, tetapi anehnya tidak ada barang penting perusahaan yang hilang."


Kurasa ini adalah ulah Bellatrix. Sial! Harusnya aku tidak membiarkan mereka masuk ke sana. Semua arsip penting ada di sana. Kurang ajar sekali mereka.


"Ada berapa perampoknya?"


"Kami rasa lebih dari dua orang. Bahkan, kami tidak mengenalinya sama sekali, Tuan."


"Sial!" Berbagai umpatan kasar dilontarkan.


Sebentar lagi Blair akan mendapatkan ganjarannya. Beberapa puluh tahun sudah menguasai AX Corporation, kini dia akan jatuh. Sebelum itu, dia mencoba mencari cara untuk mengamankan semuanya.


"Pergilah ke kantor! Amankah beberapa surat berharga atas namaku. Kau tahu kan di mana harus mencarinya?"


"Baik, Tuan. Aku akan segera melakukannya."


Blair tetap tidak tenang. Dia tidak terlalu mempercayai orang-orang kepercayaannya. Jangankan orang kepercayaannya, istrinya pun telah berkhianat.


...🍓🍓🍓...

__ADS_1


Malam telah berganti menjadi pagi yang cerah. Semalam, Bellatrix belum mau mengakui apa pun sehingga Darrell mengembalikannya ke dalam ruang bawah tanah. Setelah itu, Darrell, Alan, Sharron, dan Noelle lah yang mencoba membuka misteri AX Corporation selama ini.


"Sayang, boleh aku tanya satu hal?" tanya Sharron.


"Hemm, katakan!"


"Aku masih kepikiran dengan kode pintu aksesnya. Mengapa seolah itu tidak asing bagiku?"


"Tentu saja. Itu adalah tanggal lahir anak tuan Samuel. Hanya saja karena Blair menjabat di tahun yang berbeda, dia hanya mengubah angka akhirnya saja," jelas Darrell.


"Memangnya berapa kode aksesnya?" tanya Noelle.


"111107."


"Itu seperti tanggal lahirmu, Sharron. Walaupun aku jarang mengingatnya, tetapi itu tidak asing bagiku."


"Nah, kurasa anak tuan Samuel yang hilang adalah Anda, Nyonya," sahut Alan.


"Tidak, aku belum yakin. Pasalnya aku hanya mendapati nama Alexandria saja ketika di panti. Apa seseorang sudah mengubah namaku?"


Darrell sedang mengamati sebuah foto dengan bingkainya. Inilah yang diambil Sharron pertama kali. Di dalam bingkai itu ada sepasang suami istri dan menggendong seorang bayi. Tampak sangat bahagia sekali. Ada beberapa nama di sana, sayangnya yang bisa dibaca hanyalah Samuel Alexander.


"Kenapa kamu seyakin itu, Sayang?"


"Karena kamu menggemaskan," jawabnya.


"Ck, rayuan klasik. Harusnya Kakak itu mencoba hal yang berbeda. Daripada sekadar melihat foto itu, lebih baik kalau kita membuka hal lain. Aku masih tidak percaya dengan Bellatrix. Dia sepertinya enggan untuk bekerja sama dengan kita. Walaupun sudah sepakat, tetapi aku masih ragu bahwa dia akan mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri," jelas Noelle.


"Darimana kau bisa seyakin itu, Nona?" tanya Alan.


Noelle menceritakan bagaimana caranya Javer dan Allegra membawanya pergi. Serta paksaan Allegra yang rupanya bersyarat itu.


"Jadi, mama melakukannya dengan sebuah syarat?" selidik Darrell.


"Iya, Kak. Dia meminta bagian saham AX Corporation yang selama ini dikuasai oleh Blair. Sebenarnya sejak awal Mama tidak setuju, tetapi papa memiliki pandangan sendiri. Akhirnya memaksa mama untuk menyetujuinya."


Penjelasan Noelle sudah lebih dari cukup. Kini giliran Darrell membuka buku harian yang terlihat sangat rahasia itu. Tidak mudah memang. Buku itu juga memiliki sebuah kunci berupa angka-angka supaya bisa masuk ke dalamnya.


"Kurasa ini yang akan menjadi kendala kita," ucap Alan.

__ADS_1


"Coba gunakan kode yang sama!" perintah Darrell.


"Kurasa itu tidak mungkin, Sayang. Dia pasti akan menggunakan kode yang lainnya. Karena kupikir kalau ini bukanlah milik Blair, melainkan orang lain," sahut Sharron.


Buku itu terlihat usang. Sangat lama sekali, tetapi Sharron tetap membawanya. Dia sangat tertarik pada model bukunya yang sudah tidak pernah lagi dijumpai saat ini.


"Seperti buku harian zamanku masih kecil saja," sahut Alan.


"Iya, tapi ini sudah modern sekali. Buku harian orang kaya pasti modelnya seperti brankas. Pakai kode segala. Berarti isinya sangat rahasia sekali," sahut Noelle.


Sharron membolak-balikkan buku itu. Iseng-iseng dia membuka buku itu dengan kode tanggal lahir dan tahunnya yang lengkap.


11111997.


Klik!


Buku harian tersebut merespon dan terbuka.


"Sayang, kode apa yang kamu gunakan?" telisik Darrell.


"Kode kelahiranku, Sayang."


"Nah, kurasa kamu memang anaknya tuan Samuel. Lekaslah kamu buka isinya!" pinta Noelle.


Sharron langsung membuka halaman paling akhir. Di sana dia membaca sebuah paragraf yang memilukan hati.


Ini adalah milik kami. Kalian tidak berhak mengambilnya dari kami. Anakku perempuan. Tidak masalah kalau dia harus melanjutkan perjalanan AX Corporation, tapi tolong jangan seperti ini. Kita bisa bicarakan baik-baik. Janganlah melukai aku ataupun keluargaku. Aku selalu mencintai kalian. ❤️Philipia Maureen & Alexandria.


"Sharron, kau kenapa?" tanya Noelle.


"Kurasa namaku hanya Alexandria saja," ucapnya sendu.


"Hei, jangan menangis seperti itu. Mungkin penambahan namamu itulah yang menyelamatkanmu dari orang-orang yang hendak mengambil alih perusahaan daddymu."


Alan dan Darrell berpandangan. Sebagai seorang pria sebenarnya mereka pun mengerti, tetapi sebagai seorang sahabat, Noelle jauh bisa memahami ini semua.


"Apa yang harus kulakukan selanjutnya, Sayang? Kurasa memang benar bahwa aku adalah anak dari Samuel Alexander."


"Kita akan menemui pengacara. Kita selesaikan di sana. Alan, panggil pengacara. Kita selesaikan ini secara hukum. Kalaupun pihak Blair melaporkan kita, tidak ada salahnya kita melawan. Demi Sharron dan penerus AX Corporation," ucap Darrell.

__ADS_1


Bukti ini sudah cukup untuk dibawa pada pengacara. Apalagi kasus pencurian mereka untuk mengungkapkan bukti bahwa yang berhak memiliki AX Corporation adalah Sharron. Namun, nanti tetap akan dilakukan investigasi lebih lanjut.


__ADS_2