
Hari ini Sharron memutuskan untuk tetap tinggal di apartemen. Itu atas permintaan Darrell. Namun, sepertinya ini hanya sebuah janji belaka karena mendadak Darrell memutuskan untuk pulang ke mansionnya.
"Sharron, sebelumnya aku minta maaf padamu. Malam ini aku harus pulang karena Callie mendadak ingin ditemani jalan-jalan," ucap Darrell.
Mau marah, jelas itu tidak mungkin. Bagaimanapun Sharron hanyalah wanita kedua setelah Callie. Sebagai wanita kedua, tentu saja Sharron tidak bisa berharap lebih. Apalagi selalu mendapatkan perhatian utama. Itu mustahil. Sekuat apapun Sharron mencobanya, dia tetap akan menjadi yang kedua.
"Pergilah! Aku memang hanyalah wanita simpanan yang bisa didatangi kapanpun Daddy mau."
Darrell merasakan sakit pada ulu hatinya ketika mendengarkan hal itu. Namun, Darrell berusaha tetap tenang untuk tidak terpengaruh keadaan. Callie memang lebih penting malam ini adalah karena ada alasan khusus. Wanita itu akan mengajak Darrell menemui seseorang yang selama ini disembunyikan olehnya. Maka dari itu, karena rasa penasarannya yang cukup tinggi, Darrell menyetujui ajakan Callie.
"Baby, besok aku akan menyediakan waktu untuk kita berdua. Percayalah, aku akan membuatmu bahagia. Malam ini aku harus pulang ke mansion. Oke?" Darrell memaksanya.
Sharron pun memutuskan untuk pulang ke apartemen yang ditinggali bersama Noelle. Dia akan merasa lebih nyaman berada di sana daripada di apartemen yang dibelikan Darrell untuknya. Alasannya memang sangat menarik. Sharron tidak akan menempati apartemen ini jika Darrell tidak bersamanya.
Sharron mulai egois. Dia tidak akan membiarkan dirinya dipermainkan lagi oleh Darrell. Dia harus satu langkah lebih maju daripada sugar daddynya itu.
"Kamu tidak jadi menginap di apartemen?"
"Untuk apa, Dad? Aku sendirian. Apa boleh aku memanggil Noelle untuk menemaniku di sini?"
"Tidak! Apartemen ini hanya aku, kamu, dan Alan yang boleh tahu. Selebihnya tidak! Apa kau lupa bahwa hanya Alan yang akan menjadi nama Sugar Daddy-mu? Bagaimana kalau Noelle tahu kenyataannya kamu tinggal bersama Darrell, bukan dengan Alan. Apa yang akan kamu jelaskan padanya? Kamu mau membuka hubungan kita? Setelah itu, Callie segera mengendus hubungan ini. Begitu?"
Sharron malas berdebat. Seharusnya yang berhak marah adalah dirinya. Ini malah kebalikannya, Darrell sangat kesal pada Sharron karena sebuah usulan yang akan membahayakan hubungan mereka.
"Oke, Dad. Aku malas berdebat. Sebaiknya aku pulang sekarang," pamitnya.
"Alan akan mengantarmu. Aku sudah mengirimkan pesan padanya."
"Tidak perlu! Aku bisa pulang sendiri. Taksi masih banyak daripada aku harus merepotkan Alan."
Kesal, malas berdebat, dan mencoba ingin dimengerti adalah hal yang wajar untuk hubungan Sharron dan Darrell. Menjadi wanita simpanan risikonya selalu menjadi yang kedua.
...***...
__ADS_1
Callie sedang bersiap. Malam ini merupakan malam spesial bertepatan dengan wedding anniversary-nya yang keenam. Dia meminta Darrell pulang dengan cepat hanya untuk merayakan anniversary dan bertemu dengan seseorang yang juga spesial di dalam kehidupan Callie.
"Sayang, kau baru datang?" tanya Callie.
"Ya, Sayang." Darrell mengecup kening istrinya.
"Lekaslah bersiap. Aku akan menunggumu. Kita makan malam di restoran Belen. Aku sudah reservasi atas namaku," jelas Callie.
"Baiklah. Tunggu 10 menit."
...***...
Restoran Belen jam delapan malam telah menantinya. Darrell mengendarai mobil sport mewah untuk sampai di sana. Dia memang menggunakan mobil sport-nya hanya untuk kepentingan mendadak seperti ini. Apalagi ini merupakan mobil favorit istrinya.
Terlambat setengah jam bukan jadi masalah penting bagi keduanya. Setelah turun dari mobil, Darrell tetap memperlakukan Callie bak seorang Ratu di dunia nyata maupun di hatinya.
"Siap, Sayang?" tanya Callie. Ya, dia yang akan memberikan kejutan pada suaminya. Beberapa kali terlalu sibuk di kantor sehingga dia melupakan bahwa hari ini adalah wedding anniversary yang keenam.
"Tentu, Sayang."
Sebuah konsep candle light dinner disuguhkan di sana. Sudah tersedia kue dan ucapan yang menempel di dinding bertuliskan Happy Sixth Wedding Anniversary.
"Wow, ini kejutan untukku, Sayang," ucap Darrell. Callie rupanya bisa lebih romantis darinya.
"Untuk kita. Happy Sixth Wedding Anniversary, Sayang. I love you," ucap Callie.
"I love you too, Callie. Maaf, aku melupakan hadiah untuk acara hari ini."
"Tidak masalah, Sayang. Kehadiranmu sudah lebih dari cukup. Oh ya, kita tidak akan makan malam berdua saja. Aku sudah mengundang seseorang yang ingin kuperkenalkan padamu. Bolehkah?"
Deg!
Ternyata makan malam kali ini tidak hanya berdua saja, melainkan ada orang lain. Darrell ingin menolaknya karena merasa tidak nyaman. Namun, Callie memaksanya bahwa ini bukan dengan orang lain, melainkan sahabat dekat Callie selama ini.
__ADS_1
Darrell merasa agak canggung. Selama menikah dengan Callie, ini pertama kalinya dia tahu perihal sahabat istrinya. Yang menjadi pertanyaan, sejak kapan istrinya mempunyai sahabat?
Pintu ruangan VVIP diketuk, kemudian masuklah seorang pria yang membawa buket bunga mawar merah. Pria itu menghampiri Callie kemudian mengucapkan selamat padanya.
"Selamat, Call. Pernikahan kalian luar biasa," ucap pria tersebut. "Ini untukmu." Pria itu menyerahkan buket bunga pada Callie.
Tatapan mata cemburu terlihat jelas di mata Darrell. Callie yang melihat suaminya sudah dalam mode cemburu akhirnya mulai memperkenalkan pria di hadapannya.
"Sayang, jangan cemburu seperti itu, dong. Ini sahabatku, namanya Marcello Phoenix. Dia lama tinggal di luar negeri. Bahkan, dia sering sekali mengirimkan hadiah ke mansion kita," jelasnya.
Marcello mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan suami sahabatnya. Namun, agaknya suami sahabatnya itu terlihat sangat kaku berhadapan dengannya.
Marcello memundurkan tangannya. "Maaf, mungkin aku datang disaat yang tidak tepat," ucap Marcello.
"Tidak masalah. Aku Darrell Wesley, suaminya Callie. Silakan duduk!" ucap Darrell. Walaupun dia terlihat sedikit kesal, tetapi mengingat pria di hadapannya ini adalah tamu istrinya, Darrell tidak bisa mengusirnya.
"Terima kasih, Darrell."
Kini saatnya Darrell dan Callie meniup lilin yang ada di atas kue ulang tahun pernikahannya. Sebelum itu, Callie meminta tolong Marcello untuk mengabadikan momen istimewa ini. Tentu saja sebagai sahabat, Marcello tidak menolaknya.
Seusai meniup lilin kemudian memotong kue sebagai simbolis rasa syukur atas apa yang diperolehnya selama ini, mereka langsung ke inti acara. Mereka mulai menikmati hidangan makan malam dalam diam. Hanya dentingan sendok, garpu, dan sesekali pisau makanan.
"Sudah lama mengenal Callie?" tanya Darrell disela makannya.
"Iya, kami sudah mengenal sejak Callie belum menikah denganmu, Darrell. Kebetulan aku berada di luar negeri saat kalian menikah. Sebagai gantinya, aku selalu mengirimkan hadiah ke mansion."
Darrell terkejut. Selama ini dia tidak tahu kalau istrinya sering menerima hadiah dari sahabatnya.
"Wah, pantas saja lemari istriku penuh dengan banyak barang. Kupikir dia sengaja berbelanja untuk hal-hal seperti itu. Ternyata kau yang mengirimnya," balas Darrell dengan sedikit canggung.
"Iya, Sayang. Kau sudah mengetahuinya? Maaf, aku jarang sekali cerita mengenai hadiah itu. Kupikir itu hanya hadiah, lagi pula kau juga sedang sibuk dengan urusan kantormu, kan?" jelas Callie.
"Tidak masalah, Sayang. Pada akhirnya kau juga mempertemukan kami," balas Darrell. "Oh ya, Marcello, kapan kau bisa datang ke mansion? Mungkin sebaiknya istriku yang akan merencanakan makan malam bersama sebagai penyambutan kedatanganmu ke negara ini."
__ADS_1
"Tidak perlu disambut secara berlebihan, Darrell. Aku di sini untuk beberapa lama karena mengikuti pekerjaanku."
Sebagai sahabat istrinya, Darrell tidak sepatutnya curiga berlebihan. Ini masih dalam konteks wajar menurutnya. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa Callie akan berbuat macam-macam, bukan? Sebaiknya Darrell mengantisipasi hal-hal buruk yang akan menimbulkan keributan di dalam rumah tangganya.