
Malam semakin larut. Tuan Blair mengajak Alan dan Darrell untuk minum terlebih dahulu. Ya, tuan Blair menyiapkan alkohol termahal untuk dinikmati bersama. Namun, agaknya hanya Alan yang menolak. Dia tidak mungkin bisa mengemudikan mobilnya dalam keadaan mabuk.
"Maaf, Tuan Blair. Aku memiliki tanggung jawab untuk mengantarkan Tuan Darrell dan kekasihku. Aku tidak bisa minum sekarang." Alan lebih memilih menjauh untuk mengawasi Sharron yang sedang bercengkrama dengan Callie dan Bellatrix.
Sharron lebih banyak diam karena dia merasa tidak memiliki nyali untuk berbincang dengan dua wanita kaya di hadapannya. Dia cuma bisa tertunduk, tetapi Alan menegurnya.
"Alexa, jangan diam seperti itu! Ajak bicara Nyonya Callie dan Nyonya Bellatrix!" ucap Alan.
Rasanya Sharron ingin mengumpat. Alan membuatnya semakin kesal. Kalau terus seperti ini, dia akan terjebak drama rumit. Apalagi berada di hadapan Callie, istri Sugar Daddy-nya.
Mendadak Sharron memijit pelipisnya. Suasana lampu temaram membuatnya semakin pusing.
"Maaf, Nyonya. Bolehkah aku pulang lebih dahulu? Mendadak kepalaku pusing," ucap Sharron.
Alan sebenarnya ingin membantu Sharron, tetapi dia ingat ucapan Darrell bahwa tidak selamanya harus dengan menyentuh wanita yang sudah menjadi miliknya. Sentuh kalau memerlukan saja, atau dalam kondisi genting. Kali ini dia melihat Sharron memijit pelipisnya, Alan tidak tega. Dia harus menahannya.
"Silakan, Alexa. Makan malam memang sudah selesai. Tinggal suamiku yang ingin bersenang-senang," jawab Bellatrix. Kebiasaan Blair setelah makan malam selalu mengajak tamunya untuk minum-minum. Bellatrix tak pernah melarangnya karena hal itu selalu dilakukan di mansionnya.
"Alan, setelah mengantarkan kekasihmu, kembalilah ke sini! Jemput kami. Kurasa Darrell pasti akan mabuk," ucap Callie.
"Baik, Nyonya." Alan mencoba memapah Sharron. Posisinya serba salah. Kalau kenyataannya Sharron benar-benar sakit, tentunya Alan tidak tega membiarkannya sendiri. Namun, jika Sharron hanya berpura-pura, bisa-bisa dia mendapatkan masalah dengan Darrell.
Sharron tidak menepis tangan Alan. Sebenarnya dia sangat kesal padanya. Sangat sulit sekali mencari alasan untuk keluar dari mansion itu, apalagi memandang wajah Callie. Ada perasaan bersalah pada wanita itu.
Valet parking lantas mengantarkan mobilnya ke hadapan Alan. Alan lekas membukakan pintu kemudian membantu Sharron untuk duduk di depan. Dia menyandarkan tubuh wanita itu pada kursinya. Sharron masih bersabar.
Tibalah giliran Alan masuk ke dalam mobil. Dia memulai menstarter mobilnya supaya keluar dari mansion. Melewati pintu gerbang, Sharron bernapas lega.
__ADS_1
"Huft, akhirnya keluar juga."
"Jadi, kau hanya berpura-pura?" tanya Alan sembari melirik sejenak ke arah Sharron.
"Memangnya aku harus apa, Tuan Alan? Terjebak di dalam Mansion tuan Blair dengan istri Sugar Daddy-ku. Yang benar saja! Kalau aku khilaf, kemudian mendekati tuan Darrell kemudian aku memeluk dan menciumnya, bagaimana dengan Nyonya Callie?"
Deg!
Terkadang Alan melihat Sharron seperti wanita polos yang belum mengerti apapun. Namun, mendengar ucapannya barusan, Alan merasa kalau Sharron adalah wanita yang kuat. Keterpaksaannya untuk menjadi Sugar Baby tuannya masih dalam penyelidikan.
"Lho, mengapa jalannya berbeda, Tuan? Ini bukan menuju ke apartemen tempat tinggalku selama ini. Aku mau kau bawa ke mana, Tuan?" Sharron tentu saja tidak terima. Asisten Sugar Daddy-nya sudah membuat bingung malam ini.
"Tuan Darrell memintamu untuk tinggal di apartemen baru."
"Tapi,--"
"Semua kebutuhanmu sudah tersedia di sana. Oh ya, jangan pernah sekalipun mengganti kode akses masuk ke apartemen barumu. Tuan Darrell yang sudah memberikan kodenya."
Deg!
"Oh ya, satu lagi. Jangan sekali-kali menginformasikan pada siapapun tentang apartemen barumu itu. Tidak untuk keluargamu ataupun teman dekatmu. Tuan Darrell tidak suka!"
Glek!
"Ish, dia posesif sekali. Ini tidak boleh, itu tidak boleh. Memangnya dia siapa bisa memperlakukan aku seperti ini?" gerutu Sharron, tetapi masih terdengar jelas di telinga Alan.
"Tuan Darrell nantinya yang akan menjadi ayah biologis anak yang akan kau lahirkan."
__ADS_1
Glek!
Alan tahu semuanya. Mungkin di hadapan Alan, Sharron adalah wanita yang kotor. Dia menjual dirinya demi harta dan apapun yang diinginkannya.
"Cukup, Alan! Jangan katakan semua itu di hadapanku! Aku kesal padamu!" Sharron benar-benar muak. Dia menjadi Sugar Baby Darrell, tetapi harus bersikap seolah dia kekasih Alan. Alan pun tahu semuanya mengenai rencana Darrell. Dirinya merasa seperti ditelanjangi oleh dua orang pria.
"Maaf." Hanya itu yang Alan sampaikan.
Sharron merasa kalau kehidupannya tidak akan mudah. Sudah jelas jika Darrell masih sah menjadi suami orang. Dirinya hanyalah mesin pencetak anak yang sengaja dicari Alan untuk Darrell, tuannya.
"Mengapa bukan kau saja, Alan? Mengapa harus Darrell? Kau tahu, aku seperti wanita simpanan yang dilempar ke sana ke mari. Katakan pada tuanmu, kita lakukan malam ini agar semuanya lekas berakhir!" Banyak umpatan yang Sharron ucapkan. Dia kesal pada Darrell. Dia juga kesal pada Alan. Kedua pria itu membuat hidupnya rumit sekarang. Dia juga seolah dijauhkan dari Noelle. Bagaimana bisa dia hidup tanpa sahabatnya itu?
"Akan kusampaikan, Nona. Tolong bersikaplah biasa saja. Jangan seperti itu! Mungkin, malam ini tuan Darrell akan menginap di apartemen. Besok sampai seminggu ke depan, tuan Darrell berada di mansionnya. Dia harus menemani is--"
"Cukup, Alan! Aku tidak mau tahu apapun tentang tuanmu. Mau dia datang ke apartemen atau tidak, aku tidak peduli."
Alan diam. Ini sudah diprediksi pasti terjadi. Kesalahan tuannya adalah membuat Sharron harus pergi bersamanya, dan bukan dengan Darrell. Selain itu, untuk apa Sharron harus dipertemukan langsung dengan istri Darrell?
Mobil Alan mulai memasuki area apartemen. Tujuannya sekarang masuk ke basemen kemudian turun untuk menuju unit apartemen tuannya yang baru. Apartemen yang dikhususkan untuk Sharron dan Darrell ketika berduaan. Tidak mungkin Darrell akan membawa Sugar Baby-nya itu pindah dari hotel satu ke hotel yang lainnya. Darrell juga perlu privasi agar orang lain tidak mengetahui rencananya.
"Katakan di unit mana aku harus masuk? Berapa kode aksesnya? Kau tak perlu mengantar aku sampai ke sana. Aku bisa sendiri!" ucap Sharron setelah keluar dari mobil Alan.
Alan mengeluarkan kartu akses kemudian memberikan pada Sharron. "Tanggal lahir Anda, Nona. Tuan Darrell sudah memiliki duplikatnya. Jadi, jangan sekali-kali untuk mengganti password-nya!"
Sharron menerimanya. "Lantai berapa dan nomor unitnya?"
"Lantai 7, unit 11," jawab Alan.
__ADS_1
"Terima kasih," ucapnya. Walaupun Sharron kesal pada Alan, dia juga harus mengucapkan terima kasih padanya. Terutama untuk jasanya mengantar jemput dirinya sehingga bisa sampai di apartemen barunya.
Alan menggeleng. Dia kembali ke mobilnya untuk bersiap menjemput tuan Darrell bersama istrinya. Sudah bisa dipastikan kalau Darrell akan mabuk malam ini. Pasalnya, tuan Blair selalu membeli alkohol mahal yang kadarnya cukup tinggi. Alan secepatnya kembali. Dia khawatir kalau Darrell kelepasan berbicara saat mabuk.